NovelToon NovelToon
ABU DARI SIKLUS ABADI

ABU DARI SIKLUS ABADI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Romansa Fantasi / Action / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 4 - GERBANG DUA DUNIA

Pagi ketiga perjalanan mereka dimulai dengan Ash yang terbangun karena suara burung yang sangat berisik. Atau mungkin bukan burung. Di dunia ini, Ash sudah tidak yakin lagi mana yang hewan biasa dan mana yang monster menyamar.

"Eveline, itu burung atau ayam hasil mutasi nuklir?" tanya Ash sambil menunjuk seekor burung berwarna hijau neon dengan paruh ganda yang sedang hinggap di dahan.

"Itu Screech Crow. Burung biasa. Berisik tapi tidak berbahaya," jawab Eveline sambil memadamkan sisa api unggun semalam.

"Burung biasa punya paruh dua? Di duniaku itu namanya keajaiban alam."

"Di dunia ini itu namanya evolusi. Sekarang bangun dan jalan. Kita sampai sebelum matahari terbenam."

Ash bangkit dengan semangat yang mengejutkan. "Akhirnya! Peradaban! Toilet! Air bersih! Mungkin ada wifi!"

"Apa itu wifi?"

"Ah, lupakan. Yang penting ada kota!"

Mereka melanjutkan perjalanan. Hutan mulai menipis, digantikan oleh semak belukar yang lebih rendah dan jalan setapak yang terlihat lebih sering dilewati orang. Ash bahkan melihat jejak roda gerobak di tanah.

"Liat! Bekas roda! Ini tanda peradaban!" seru Ash girang. "Eveline, kau tau tidak, aku sudah tiga hari tidak mandi. Aku yakin sekarang aku bau seperti kaki goblin yang berkeringat."

"Kau memang bau."

"Kejam sekali perkataanmu."

"Tapi jujur."

Ash cuma bisa tertawa. Entah kenapa, kekejaman verbal Eveline mulai terasa... nyaman. Seperti teman yang suka nge-roast tapi sebetulnya peduli.

Atau mungkin Ash sudah gila. Itu juga kemungkinan.

Setelah berjalan sekitar dua jam, mereka akhirnya sampai di puncak sebuah bukit kecil. Dan pemandangan yang terbentang di depan mata membuat Ash berhenti bernapas sejenak.

Vairlion.

Kota itu terletak di lembah yang luas, dikelilingi tembok batu yang tinggi dan kokoh. Menara-menara pengawas berdiri di setiap sudut, dengan bendera berwarna biru dan putih berkibar di puncaknya. Di balik tembok, Ash bisa melihat atap-atap rumah yang berjejer rapi, beberapa bangunan tinggi yang mungkin katedral atau istana, dan asap-asap tipis yang mengepul dari cerobong-cerobong.

"Wow," gumam Ash. Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, dia benar-benar terpesona. "Ini... ini keren banget. Seperti setting game RPG yang budgetnya unlimited."

Eveline berdiri di sampingnya, menatap kota dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Vairlion. Kota netral. Di sini tidak ada kerajaan yang berkuasa. Hanya guild dan pedagang."

"Kota bebas? Seperti free zone?"

"Kurang lebih. Tempat bagi mereka yang tidak punya tempat lain."

Ada nada aneh dalam suara Eveline saat mengucapkan kalimat terakhir. Ash meliriknya, tapi wanita itu sudah mulai turun bukit.

"Ayo. Gerbang tutup saat matahari terbenam."

Mereka mempercepat langkah. Semakin dekat ke kota, semakin ramai jalan yang mereka lewati. Ada gerobak-gerobak yang ditarik kuda atau hewan mirip kerbau tapi bertanduk empat. Ada pedagang yang membawa karung besar di punggung. Ada bahkan sekelompok petualang bersenjata lengkap yang lewat sambil bercanda keras.

Ash mengamati semuanya dengan mata berbinar. Ini pertama kalinya dia melihat peradaban sejak tiba di dunia ini. Dan ternyata... tidak seburuk yang dia kira.

"Eveline, orang-orang di sini ramah tidak?" bisik Ash.

"Tergantung. Jika kau punya uang, mereka ramah. Jika tidak, mereka acuh."

"Kapitalisme ada di mana-mana ya."

"Apa itu kapitalisme?"

"Sistem di mana uang adalah tuhan."

Eveline menatapnya. "Maka di sini juga ada kapitalisme."

Ash tertawa getir.

Mereka akhirnya sampai di gerbang utama. Dan pemandangan di sana membuat Ash melongo.

Gerbangnya sangat besar. Tingginya mungkin setara gedung lima lantai, terbuat dari kayu tebal yang diperkuat besi. Di kiri kanan gerbang berdiri penjaga dengan armor lengkap dan tombak panjang. Tapi yang membuat Ash terkejut bukan itu.

Yang membuat Ash terkejut adalah keragaman orang-orang yang mengantri masuk.

Ada manusia biasa seperti dia. Tapi ada juga makhluk dengan telinga runcing dan wajah yang terlalu sempurna untuk manusia. Elf, pikir Ash. Ada juga orang-orang pendek bertubuh kekar dengan janggut tebal yang hampir menutupi wajah. Dwarf. Dan bahkan ada orang dengan ciri-ciri binatang, seperti telinga kucing atau ekor yang menjuntai.

"Bestkind," bisik Eveline, memperhatikan arah pandang Ash. "Jangan menatap terlalu lama. Mereka tidak suka."

Tapi Ash sudah tidak bisa menahan diri. "Ini seperti konvensi cosplay tapi nyata! Eveline, ini gila! Lihat! Itu ada orang kucing! Dan itu ada... tunggu, itu tanduknya asli atau aksesoris?"

"Asli. Itu ram-type bestkind. Kuat tapi temperamental."

"Keren banget!"

Mereka mengantri di belakang sebuah gerobak yang penuh dengan karung-karung yang berbau aneh. Ash mencoba tidak bernapas terlalu dalam.

Saat tiba di depan penjaga, salah satunya mengangkat tangan. "Tujuan?"

"Masuk kota," jawab Eveline singkat.

"Alasan?"

"Urusan pribadi."

Penjaga itu mengamati mereka dari ujung kepala sampai kaki. Matanya tertahan sejenak pada belati-belati di pinggang Eveline, lalu beralih ke Ash yang masih sibuk melongo ke kiri kanan.

"Senjata harus dilaporkan. Ada barang berharga atau barang terlarang?"

"Tidak."

"Biaya masuk: dua copper per orang."

Eveline mengeluarkan empat keping tembaga kecil dari kantongnya dan menyerahkannya. Penjaga itu mengangguk, lalu melangkah mundur. "Masuk. Ingat, Vairlion zona netral. Mulut dan tangan kalian kendalikan sendiri."

Pintu gerbang yang lebih kecil di samping gerbang utama dibuka, dan mereka pun melangkah masuk.

Dan dunia baru benar-benar terbuka.

Vairlion di dalam tembok seperti ledakan warna dan suara. Jalanan berbatu lebar dipenuhi orang dari segala ras. Bangunan-bangunan kayu dan batu berdiri berjejalan, beberapa hingga tiga lantai. Spanduk dengan warna-warna cerah terpasang di mana-mana, menampilkan simbol-simbol yang mungkin lambang toko atau guild.

Aroma makanan menggoda dari setiap sudut. Daging panggang, roti segar, rempah-rempah yang asing tapi menggugah selera. Dan suara... ya ampun, suaranya.

Teriakan tawar-menawar, nyanyian pengemis jalanan, derit roda gerobak, dan dari suatu tempat, alunan musik alat gesek yang dimainkan dengan riang.

"Ini... ini luar biasa," gumam Ash, matanya mencoba menangkap semuanya sekaligus.

"Jangan terlihat terlalu terpesona," nasihat Eveline sambil menarik lengan Ash untuk terus berjalan. "Pencuri senang dengan turis yang mudah terdistraksi."

"Tapi ini benar-benar seperti dunia fantasi sungguhan! Eveline, lihat! Itu ada toko yang jual tongkat! Dan itu ada toko armor! Dan itu... tunggu, apa itu toko yang jual kristal mengambang?"

"Toko artifak. Mahal dan sebagian besar palsu."

"Tetap keren!"

Mereka menyusuri jalan utama. Eveline tampak tahu ke mana harus pergi, sementara Ash seperti anak kecil di taman hiburan, kepalanya terus berputar-putar mengamati segala sesuatu.

Dia melihat seorang penyihir dengan jubah ungu sedang berdebat dengan pedagang tentang harga sebuah buku tebal. Dia melihat sekelompok dwarf keluar dari sebuah kedai sambil tertawa keras, membawa mug bir yang masih penuh busa. Dia bahkan melihat seorang elf dengan pakaian mewah berjalan sambil mengangkat dagu tinggi-tinggi, seolah jalanan ini terlalu kotor untuk dia pijak.

"Kenapa elf itu jalannya seperti ada tongkat di pantatnya?" bisik Ash.

"Karena sebagian besar elf memang seperti itu. Mereka merasa lebih superior dari ras lain."

"Rasialis ya."

"Lebih dari yang kau bayangkan."

Mereka akhirnya sampai di sebuah bangunan yang tampak lebih tua dan lebih... murahan dibanding yang lain. Papan nama di atasnya bertuliskan "The Rusty Mug" dengan huruf-huruf yang sebagian sudah pudar.

"Ini penginapan?" tanya Ash sambil menatap bangunan yang miring sedikit ke kiri.

"Ini satu-satunya penginapan yang tidak bertanya banyak hal tentang tamu mereka. Dan murah."

"Murah itu bagus. Tapi miring itu... mengkhawatirkan."

"Kalau kau mau tidur di jalanan, silakan."

"Tidak, terima kasih. Ayo masuk."

Begitu pintu terbuka, bau bir basi, keringat, dan sesuatu yang Ash tidak mau tahu apa itu langsung menyerang hidungnya. Dia hampir mundur, tapi Eveline sudah menariknya masuk.

Di dalam ada sebuah ruangan yang berfungsi sebagai tavern sekaligus resepsionis. Beberapa meja kayu tersebar dengan orang-orang yang minum atau makan dalam sunyi yang mencurigakan. Suasana langsung hening saat Eveline masuk.

Ash merasakan tatapan tajam dari beberapa pria di pojok. Tapi begitu mereka melihat belati-belati di pinggang Eveline, mereka kembali fokus pada minuman mereka.

"Satu kamar. Dua ranjang," ucap Eveline pada penjaga penginapan, seorang pria tua dengan gigi ompong.

"Lima copper semalam."

Eveline menyerahkan koin-koin itu. Si penjaga memberikan kunci besi berkarat.

"Lantai dua. Nomor tujuh. Jangan berisik."

Mereka naik tangga kayu yang berderit mengerikan. Ash yakin tangga ini akan roboh kapan saja.

Kamar nomor tujuh ternyata persis seperti yang dibayangkan Ash: kecil, pengap, dan dengan dua ranjang tipis yang terlihat seperti papan dengan kain.

"Lima copper untuk ini?" keluh Ash sambil menjatuhkan diri ke salah satu ranjang.

KREEEK!

Ranjang itu menjerit protes.

"Ini sudah termasuk murah untuk Vairlion," kata Eveline sambil meletakkan tasnya di sudut. "Besok kita ke guild. Kau butuh identitas resmi agar bisa tinggal di kota ini."

"Guild? Seperti guild adventurer di game?"

"Aku tidak tahu apa itu game. Tapi ya, guild adventurer."

Ash duduk tegak, matanya berbinar. "Jadi aku bakal jadi adventurer resmi? Dapat kartu member? Bisa ambil quest?"

"Kalau kau lulus tes."

"Tes apa?"

"Tes kemampuan dasar. Fisik, mana, dan skill khusus jika ada."

"Oh, gampang! Aku pasti lulus!"

Eveline menatapnya dengan tatapan yang sangat meragukan. "Kau bahkan hampir mati diserang babi."

"Itu namanya strategi! Aku sengaja jadi umpan agar kau bisa strike dari belakang!"

"Itu namanya bodoh."

"Kau ini kejam sekali sih."

Tapi meskipun Eveline bicara dengan nada dingin, Ash bisa melihat sedikit... kelembutan? Di sudut matanya. Atau mungkin hanya wishful thinking.

Malam turun dengan cepat di Vairlion. Dari jendela kecil kamar mereka, Ash bisa melihat kota yang mulai diterangi obor-obor dan lentera ajaib. Suara riuh rendah masih terdengar dari jalanan.

"Eveline," panggil Ash sambil masih menatap keluar jendela.

"Apa?"

"Terima kasih. Untuk semuanya. Untuk tidak meninggalkanku di hutan. Untuk membawaku ke sini."

Eveline diam sejenak. Lalu dia menjawab dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. "Jangan berterima kasih terlalu cepat. Besok kau masih harus membuktikan bahwa kau bukan hanya beban."

"Aku akan buktikan! Tunggu saja! Besok aku bakal dapat rank tertinggi dan jadi legenda!"

"Rank terendah saja sudah bagus untukmu."

"Kau lihat saja nanti!"

Ash berbaring di ranjangnya yang keras. Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, dia merasa... tenang. Ada atap di atas kepala. Ada orang yang, meskipun galak, setidaknya tidak membiarkannya mati. Dan besok, petualangan yang sebenarnya akan dimulai.

Dia memejamkan mata, senyum kecil terpasang di wajahnya.

Di seberang ruangan, Eveline menatap punggung Ash dalam kegelapan. Ada sesuatu tentang pria ini yang... aneh. Bukan hanya rambut peraknya atau cahaya emas yang dia lihat di danau. Tapi caranya melihat dunia. Seperti semuanya adalah permainan. Seperti dia tidak takut mati.

Atau mungkin... dia sudah pernah mati?

Eveline menggelengkan kepala, mengusir pikiran aneh itu. Dia berbaring, mata tetap terbuka, satu tangan memegang gagang belati di bawah bantal.

Kebiasaan lama sulit dihilangkan.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, Eveline merasa... tidak sendirian.

Dan entah kenapa, itu tidak seburuk yang dia kira.

 

Di suatu tempat di kota, di sebuah bangunan megah dengan simbol pedang dan tongkat menyilang, seorang pria berjubah biru sedang membaca laporan.

"Anomali aura terdeteksi tiga hari lalu di hutan timur. Warna emas. Intensitas tidak terukur."

Dia menutup laporan itu, menatap peta besar di dinding.

"Besok mereka akan datang ke sini. Dan kita akan tahu... apa sebenarnya bocah itu."

Guild Master Theron tersenyum tipis.

Vairlion tidak pernah kekurangan misteri.

Tapi yang ini... mungkin yang paling menarik dalam dekade terakhir.

1
anak panda
lantorrr thorrrr
anak panda
🔥🔥🔥
Varss V
Di usahakan secepat, dan sebanyaknya ka, kalo suka tolong kasih rating dan like nya ya🙏
anak panda
upp torre
Varss V
oke, makasih
anggita
ikut ng👍like aja, iklan👆.
anak panda
semangat torr
Varss V: Makasih ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!