Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Ingat, kalau ada apa-apa segera hubungi Mas!" Madha memperingati adiknya yang akan turun.
Hana kembali mengangguk. "Ya sudah, Mas Madha hati-hati! Daaaaa....."
Mobil Madha sudah melaju kembali. Hana baru memegang gerbang, belum sampai berniat menarik, ada mobil dari arah belakang yang sudah berhenti depanya.
Hana urungkan niatnya. Dahinya berkerut, menanti siapakah sosok dibalik kemudi itu.
"Pak Danish...." bisik Hana mendapati sang Majikan lah yang turun.
Danish melepas kacamatanya. Ia tarik napas dalam, seolah menatap Hana membutuhkan niat yang benar-benar terkumpul.
"Bapak ngapain datang kesini?" tanya Hana penuh selidik.
Danish kini menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil. Menatap Ibu susu putrinya penuh telisik. "Kamu sudah pulang sidang, kan?" tanyanya memastikan.
"Iya, baru aja! Rencananya sih, sama mau masuk, cuci muka, makan siang, santai bentar, baru ke rumah sakit! Tapi, Bapak tiba-" kalimat itu menggantung kesal.
Danish bergerak cepat menarik lengan Hana, memutari mobil, lalu segera membuka pintu sisi kiri menyuruh Hana masuk.
"Pak Danish mau bawa saya kemana?" tanya Hana ragu. Suaranya sedikit bergetar, namun wajahnya dipaksa tegas.
Danish tak menghiraukan. Ia lebih memilih menjalankan kembali mobilnya, meninggalkan keraguan Hana yang menggantung. Kali ini suara pria itu cukup lembut, namun lebih tajam dari pisau. "Kamu sudah terikat kontrak dengan saya. Jadi, saya tidak akan membiarkan kamu bersantai, sementara putri saya menangis menginginkan makananya! Ingat, Hana... Semua yang kamu lakukan itu saya bayar!"
Hana tercekat. Tak mengira pria penyabar itu akan melontarkan kalimat yang cukup membuat dadanya sesak. Namun, ia sudah terlanjur nyaman dekat dengan Keira.
Mengurangi rasa sesak itu, Hana berkali-kali membuang napas dalam. Sebegitu tidak berharga kah dirinya dimata setiap orang.
"Saya tahu, Pak!" jawab Hana dingin. Antara sesak dan luka berpadu menguar.
"Bagus! Sampai 2 tahun itu Keira akan saya latih meminum susu formula! Lagian, dia juga sudah mendapat makanan pendamping. Saya hanya tidak ingin, putri saya malah terbiasa dengan kamu!" tekan Danish menatap lurus. Wajahnya datar.
Hana perlahan menoleh. Pertahanannya runtuh bersamaan air matanya. "Pak...." suara kecil itu bergetar, "Tidak perlu anda ingatkan lagi, saya juga tau batasan. Saya hanya kasian saja dengan putri Anda yang masih membutuhkan Asi. Dan akan saya pastikan, setelah 2 tahun itu saya akan pergi!"
Danish tak lagi menanggapi. Namun napasnya tertahan oleh bunyi isakan kecil yang tak mampu keluar. Ia hanya ingin menjaga hatinya bersama Keira, jika pun terluka tidak akan separah waktu lalu.
Mobil mewah itu semakin melaju kencang. Berhenti pasti didepan rumah sakit.
"Hari ini kamu berjaga dengan Bik Inem! Ibu ada meting. Dan, menurut informasi, Keira nanti sore sudah boleh pulang. Saya akan menjemput kalian selesai bekerja!"
Hana tak bereaksi. Kalimat Danish hanya terbang melewati telinganya. Turun tanpa ragu, lebih memilih diam, Hana menutup pintu itu dengan mantab.
Danish memukul kuat setir mobilnya. Wajahnya frustasi. Mulutnya bergumam sendiri, "Ini semua gara-gara kamu, Rani!" teriaknya. Namun tak lama suaranya kembali melemah. "Jika saja kamu tidak pergi dari hidupku... Pasti hidup kita akan sangat bahagia melihat tumbuh Keira hari ke hari. Dan... Aku juga tidak serumit ini kembali mengenal wanita untuk kelangsungan hidup Keira!"
Melepaskan kemarahan yang mengikis hatinya, barulah Danish kembali melajukan mobilnya.
*
*
"Bik... Apa Keira tidur?"
Bik Inem menoleh, Hana sudah masuk sambil menutup pintu. Wanita berusia 55 tahun itu tersenyum hangat, baru saja selesai merapikan pakaian Keira.
"Mbak Hana... Kok langsung kesini, nggak istirahat dulu?"
Hana menepuk lengan Bik Inem. Pandanganya jatuh pada ranjang luas yang ditiduri bayi 2 bulan itu. "Niatnya seperti itu, tapi tanggung jawab saya kepada Keira lebih utama, Bik!" tawanya tanpa suara.
Langkah kakinya membawa mendekat. Hana tatap lebih dalam wajah serba tipis itu. Tanganya terulur, batinya berbisik, "Kamu sudah Tante anggap sebagai putri Tante sendiri, Keira. Terlepas bagaimana sikap Papahmu kepada Tante. Yang jelas, selama 2 tahun kedepan ini... Tante akan memberikan Asi yang terbaik untukmu!"
Cup!
Keira terusik ketika kecupan hangat itu mendarat di kepalanya. Hana lebih dulu menepuk pelan paha menggemaskan itu hingga kembali terpejam.
"Oh ya, Bik... Katanya nanti sore Keira sudah di bolehkan pulang?" Hana menoleh, memastikan tubuh Keira hangat dengan selimut.
Bik Inem menyudahi packingnya. Ia kini mendekat, mengingat penuturan Dokter Ama tadi pagi. "Iya, Mbak Hana... Ini juga berkat Asi yang Mbak Hana berikan. Kesehatan Non Keira berangsur membaik."
Hana meletakan tasnya diatas nakas. Begitu sudah duduk, wajahnya terkejut dengan banyaknya makanan diatas meja. Tidak hanya satu kotak, ada bermacam dessert dan juga juice yang sudah tersaji dengan pipet diatasnya.
"Bik...." Hana mendongak, suaranya menyapa Bik Inem. "Ini kok banyak banget makanannya? Kok masih utuh? Bibi nggak makan?"
Bik Inem berjalan mendekat. Ia menyembunyikan senyum kecilnya. "Bibi sudah makan tadi, Mbak Hana. Ini semua Den Danish yang nyiapin buat Mbak Hana. Katanya, biar Asi Mbak Hana lebih berkualitas."
Hana sampai melongo. Sementara Bik Inem menyembunyikan senyum kikuknya.
Sedikit gengsi ingin memakan, namun perut Hana mendesak agar tanganya menggapai sekotak dessert itu. Wajah cantik itu sengaja memaling, namun tanganya berhasil membuka kotak desert tadi.
Aroma cream chess berpadu selai strawbery, ditambah potongan buah strawbery yang menghiasi atasnya, sungguh Hana tidak dapat diam dengan keindahan di tanganya kini. Gigitan pertama, Hana merasakan kelembutan yang berpadu dalam mulutnya. Matanya terpejam, ekspresi wajahnya sudah menjawab se'enak apa dessert tadi.
Upsss!
Seorang pria yang tiba-tiba masuk, kini menarik langkahnya, menatap sekitar, wajahnya memastikan apakah dirinya salah atau tidak.
Sementara Hana, ia juga ikut tersentak dengan mulut mengembang. Keduanya saling bertatap bingung, lalu pandanganya beralih pada Bik Inem yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ya Allah, Den Lukman... Apa kabar? Kok tahu darimana?" Bik Inem mendekat, tanganya mengusap lengan kekar itu.
Pria bernama Lukman itu tersenyum kuda tanpa suara. "Saya hampir bingung cari kamar Keira, Bik," katanya penuh rasa lelah.
Hana segera bangkit. Bergegas menyambar tisu untuk mebersihkan sisa cream pada mulutnya.
Bik Inem menatap Hana. "Mbak Hana, kenalin... Ini Den Lukman, putra ke dua Bu Ana. Baru saja tiba siang ini."
Lukman, pria berusia 28 tahun yang memiliki sikap hangat, tampan dari segi bentuk wajahnya, seketika mengulas senyum sopan. Lalu kembali menatap Bik Inem, sorot matanya bertanya-tanya.
"Den... Namanya Mbak Hana, Ibu susunya Non Keira," jawab Bik Inem santai.
Lukman melongo. "Apa? Ibu susu? Ibu susu bagaimana?" si paling anti perempuan, begitu mendengar kalimat yang menyangkut daerah inti wanita, Lukman merasa itu sebuah ancaman. Terdengar geli, dan mencoba menolak.
Bik Inem terkekeh. "Den... Mau sampai kapan? Kelak Aden juga akan menangani masalah seperti ini jika sudah menjadi suami. Apalagi, kalau Istri Aden melahirkan. Aden di wajibkan masuk kedalam, menyaksikan Istri Den Lukman berjuang mengeluarkan bayi Aden," goda Bik Inem.
Wajah Lukman tersentak. Putra ke-2 keluarga Morez itu paling anti mengenal wanita, bersentuhan. Apalagi sampai menikah dan menemani Istrinya berjuang dalam mengeluarkan anaknya. Itu semua tidak pernah terdaftar dalam jurnal hidupnya selama ini.
"Tidakkkkk!" pekiknya.
Hana bahkan sampai membekap telinganya sendiri. Pikiran negatif itu spontan muncul, hatinya sibuk menerka yang tidak-tidak.
"Den, jangan keras-keras, nanti Non Keira bangun!" Bik Inem menimpuk lengan kekar itu, berlalu mendekat kearah ranjang.
Lukman berdiri terpaku. Ia menatap Hana sekilas, tersenyum sopan kembali, lalu kembali menyusul Bik Inem kearah ranjang.