Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: KEBANGKITAN SANG PEMBURU
#
Benny menatap Bayu. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
Bocah yang tadi hampir mati itu sekarang berdiri tegak. Napasnya stabil. Matanya... matanya berubah. Bukan lagi mata orang yang ketakutan.
Mata pembunuh.
"Lu... lu apaan sih sebenernya..." gumam Benny pelan.
Bayu nggak jawab. Dia cuma melangkah maju. Pelan. Tapi setiap langkahnya terasa berat. Seperti predator yang lagi ngintai mangsa.
Benny mundur lagi. Tangannya terangkat, siap bertahan.
"JANGAN MAIN-MAIN, BOCAH!"
Dia ayunkan tinju kanan. Keras. Cepat.
Tapi Bayu lebih cepat.
Kepalanya miring sedikit. Tinju Benny meleset. Hanya sesenti dari wajah Bayu.
Lalu... Bayu bergerak.
Tangan kirinya menangkap pergelangan tangan Benny yang masih terayun. Genggaman kuat. Jari-jarinya menancap kayak cakar.
"Apa..."
Sebelum Benny selesai bicara, Bayu putar pergelangan tangannya. Paksa. Berlawanan arah.
KRAK!
Tulang patah. Suara retakan keras terdengar jelas.
"AAARRRGGGHHH!"
Benny berteriak. Wajahnya meringis kesakitan. Tangannya menggantung lemas. Patah total.
Penonton terdiam. Nggak ada yang teriak lagi. Semua menatap nggak percaya.
Bayu belum selesai.
Dia tarik tangan Benny yang patah itu. Paksa Benny condong ke depan.
Lalu lututnya meluncur ke atas. Keras. Tepat ke wajah Benny.
BRAK!
Hidung Benny pecah. Darah muncrat. Gigi depannya copot. Jatuh ke lantai ring.
Benny terhuyung. Matanya berputar. Tapi dia masih berdiri.
"M-monster... lu monster..."
Suaranya keluar terbata. Darah keluar dari mulut.
Bayu menatapnya dingin. "Monster? Lu yang bunuh tiga orang di ring. Gue cuma... balikin aja."
Dia maju lagi.
Benny mencoba tendang dengan kaki kanan. Tapi gerakannya lambat. Terlalu lambat.
Bayu tangkap kakinya dengan dua tangan. Angkat tinggi.
Lalu dia putar tubuhnya. Keras. Memutar Benny di udara kayak gasing.
Dan dia bantingkan Benny ke lantai ring.
BRAK!
Lantai ring bergetar. Debu beterbangan. Benny terbaring telentang. Napasnya tersengal. Matanya kosong.
Tapi Bayu nggak berhenti.
Dia injak dada Benny. Keras. Sampai tulang rusuk retak.
"GGHKKK!"
Benny muntah darah. Tubuhnya kejang.
"L-lepas... kumohon... lepas..."
Bayu menatap dari atas. Matanya masih dingin. Nggak ada belas kasihan.
"Lu minta ampun? Lu yang bilang mau bunuh gue. Lu yang bilang gue bakal jadi yang keempat."
Dia tekan kakinya lebih keras. Rusuk Benny patah tambah banyak.
"AAAHHH!"
"Sekarang... gue kasih lu pilihan." Bayu condong ke bawah. Suaranya pelan tapi jelas. "Mati cepat... atau mati pelan."
Benny menatapnya. Air mata keluar dari matanya. Bukan air mata kesakitan fisik. Tapi air mata ketakutan.
Ketakutan menghadapi kematian.
"K-kumohon... aku punya anak... punya istri..."
Kata-kata itu keluar terbata.
Bayu terdiam sebentar. Sesuatu di dadanya terasa... sesak.
Memori Kenzo muncul lagi.
Kenzo kecil. Nangis sendirian di kamar. Mencoba telepon ibunya yang udah meninggal. Berharap dia masih ada.
"Ibu... kenapa kau pergi... aku butuh kau..."
Tapi telepon nggak nyambung. Karena orang mati nggak bisa ditelpon.
Kenzo nangis sampai kehabisan air mata. Sampai dia nggak bisa nangis lagi.
Dia tumbuh tanpa ibu. Tanpa ayah yang peduli. Tanpa keluarga yang sayang.
Dan sekarang...
Bayu menatap Benny yang masih nangis.
Punya anak. Punya istri.
Sesuatu yang Kenzo nggak pernah punya.
Tapi...
"Lu udah bunuh tiga orang. Mereka juga mungkin punya keluarga."
Suara Bayu keluar dingin.
"Dan lu nggak kasih ampun."
Dia angkat kakinya. Benny napas lega sebentar.
Tapi cuma sebentar.
Karena Bayu melompat. Tinggi. Lalu turun dengan kaki terangkat.
Tumit kakinya menghantam leher Benny.
KRAK!
Leher patah. Tulang belakang putus.
Benny masih menatap ke atas. Matanya terbuka lebar. Mulutnya terbuka. Tapi nggak ada suara keluar.
Tubuhnya kejang beberapa detik. Lalu... diam.
Mati.
Hening.
Total.
Arena yang tadi rame sekarang sunyi kayak kuburan.
Bayu berdiri di atas mayat Benny. Napasnya masih stabil. Matanya masih tajam.
**[MODE PEMBUNUH: NONAKTIF]**
**[MISI SELESAI]**
**[HADIAH DITERIMA: REGENERASI CEPAT TINGKAT 1 + 1000 POIN]**
Sesuatu berubah lagi. Seperti sakelar dibalik balik.
Rasa sakit kembali. Semua rasa sakit. Rusuk retak. Lengan luka. Hidung patah.
"Argh..."
Bayu jatuh berlutut. Napasnya ngos-ngosan. Keringat bercucuran.
Tubuhnya gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena kelelahan luar biasa.
Mode pembunuh itu... nguras tenaga semua.
Dia menatap tangan-tangannya. Penuh darah. Darah Benny.
Gue... gue baru bunuh orang lagi.
Bukan pembunuh bayaran yang nyerang gue.
Tapi orang yang lagi bertarung.
Sesuatu di dadanya terasa... berat.
Ini bener? Ini jalan yang bener?
Tapi suara lain di kepalanya menjawab.
Dia mau bunuh lu. Lu cuma bertahan hidup.
Iya. Bertahan hidup.
Penonton mulai bersuara. Pelan dulu. Lalu makin keras.
"DIA... DIA BUNUH BENNY..."
"BRUTAL BENNY... MATI..."
"SIAPA BOCAH ITU?!"
Lalu... tepuk tangan. Satu orang. Lalu dua. Lalu puluhan. Ratusan.
Tepuk tangan menggelegar. Penonton bersorak histeris.
"BAYUUU! BAYUUU! BAYUUU!"
Bayu masih berlutut. Nggak peduli sorak-sorai itu. Dia cuma menatap mayat Benny di depannya.
Punya anak. Punya istri.
"Maaf..." bisik Bayu pelan. Sangat pelan. "Tapi gue... gue harus bertahan hidup."
Pak Guntur naik ke ring. Wajahnya... nggak marah. Nggak sedih.
Dia tersenyum. Senyum lebar.
"PEMENANGNYA... BAYU!"
Sorak-sorai makin keras.
Pak Guntur berjalan ke Bayu. Bantu dia berdiri. "Lu... lu bukan manusia biasa, anak muda."
Bayu menatapnya lelah. "Apa maksud lu?"
"Gue udah liat ribuan petarung. Tapi belum pernah liat orang yang bisa berubah kayak lu tadi." Pak Guntur menatap matanya. "Mata lu... berubah. Aura lu... berubah. Seperti lu jadi orang lain."
Bayu diam. Nggak tau harus jawab apa.
Pak Guntur menepuk bahunya. "Tapi gue nggak peduli lu apa. Yang penting... lu menang. Dan itu bikin gue untung besar."
Dia tertawa. Lalu bisik pelan. "Taruhan malam ini tembus tiga ratus juta. Dua puluh lima persen buat lu. Tujuh puluh lima juta. Nggak buruk buat malam pertama."
Tujuh puluh lima juta.
Angka itu mengulang di kepala Bayu.
Itu... banyak banget.
"Besok uangnya gue transfer. Sekarang... istirahat. Lu kelihatan mau mati." Pak Guntur turun dari ring.
Bayu berdiri sendirian. Menatap penonton yang masih bersorak.
Mereka senang. Mereka terhibur.
Padahal ada orang yang baru mati.
"Dunia... emang gila."
Gumaman itu keluar pelan.
Bayu turun dari ring dengan langkah goyah. Setiap langkah terasa berat kayak timah.
Dia naik tangga besi ke kamarnya. Buka pintu. Masuk. Kunci dari dalam.
Lalu dia jatuh ke kasur. Tubuhnya nggak kuat lagi.
Matanya menatap langit-langit yang gelap.
Gue menang.
Gue dapet uang.
Tapi...
Kenapa gue nggak merasa menang?
Air mata keluar tanpa sadar. Mengalir pelan ke pelipis.
Bukan air matanya. Tapi air mata Kenzo yang masih tersisa.
Kesedihan yang nggak pernah hilang.
"Maaf, Kenzo... gue... gue jadi monster buat bertahan hidup..."
Bisikan itu hilang ditelan kegelapan.
Matanya perlahan menutup.
Dan malam itu... dia tidur dengan darah orang lain masih nempel di tangannya.
Tidur dengan mimpi buruk yang nggak akan pernah berhenti.