"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Nadine menarik tangannya dari jangkauan Nickholes dengan gerakan yang sangat pelan namun penuh penolakan. Ia menatap langit-langit kamar rumah sakit yang putih bersih, seputih masa depannya yang kini ia anggap telah ternoda.
"Tidak akan ada pernikahan, Nick," suara Nadine terdengar sangat tipis, nyaris seperti bisikan maut. "Dan tidak akan ada anak."
Nickholes membeku di posisinya yang sedang berlutut.
"Apa maksudmu, Nadine? Kau tidak serius..."
Nadine menoleh, menatap Nick dengan mata yang tidak lagi memancarkan kebencian, melainkan kekosongan yang jauh lebih menakutkan. "Aku akan pergi ke Swiss besok pagi. Dan hal pertama yang akan kulakukan di sana adalah mendatangi klinik untuk mengakhiri semuanya."
"Nadine, jangan!" Nickholes berteriak, air mata kembali membanjiri wajahnya. Ia bersujud di lantai, memegangi pinggiran tempat tidur Nadine. "Kumohon, hukum aku semuamu, tapi jangan anak itu. Dia tidak berdosa. Aku akan menjagamu, aku akan menjadi ayah yang baik, aku akan berhenti dari segalanya—"
"Kau tidak mengerti, Nick," potong Nadine, kini suaranya meninggi dan emosinya mulai pecah.
"Setiap kali aku melihat perutku nanti, aku akan teringat bagaimana kau mencium Clarissa di depan ribuan orang. Setiap kali anak itu menangis, aku akan teringat bagaimana aku menangis di toilet stadion sementara kau berpesta dengan duniamu. Aku tidak ingin ada jejakmu dalam hidupku lagi!"
Nadine terisak hebat, memegangi perutnya yang terasa kram karena stres.
"Aku tidak ingin kau menyakitiku lagi lewat anak ini. Aku ingin bebas, Nick. Aku ingin kau benar-benar hilang dari ingatanku!"
Victoria Saville yang sedari tadi menyaksikan dengan wajah sedingin es, melangkah maju. Ia meletakkan tangannya di bahu Nadine, memberikan dukungan yang belum pernah ia berikan sebelumnya.
"Kau dengar itu, Nickholes?" ucap Victoria dengan nada mengancam. "Keputusannya sudah bulat. Putriku lebih memilih kehilangan janinnya daripada harus terikat selamanya dengan pria pengecut sepertimu. Sekarang, keluar dari sini sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu keluar!"
Nickholes menatap Nadine dengan tatapan yang sangat hancur. Ia melihat wanita yang paling ia cintai kini benar-benar ingin menghapus keberadaannya—bahkan darah dagingnya sendiri, hanya agar tidak perlu lagi merasa sakit.
Malam itu, Nickholes ditarik paksa keluar dari rumah sakit. Ia duduk di trotoar di depan gedung medis tersebut, diguyur hujan deras, menunggu dan berharap Nadine akan berubah pikiran. Namun, ia tidak tahu bahwa Victoria telah mengatur penerbangan jet pribadi dari pintu belakang rumah sakit.
Pukul empat pagi, Nadine dibawa dengan kursi roda menuju ambulans privat yang akan mengantarnya ke bandara. Sebelum masuk ke dalam mobil, Nadine sempat menatap ke arah gerbang rumah sakit.
Ia tahu Nick ada di sana, hancur dan berantakan.
Hatinya perih. Sebenarnya, ia mencintai janin ini. Ia sangat menginginkannya. Namun, rasa takut akan pengkhianatan Nick di masa depan jauh lebih besar daripada cintanya. Ia lebih memilih membunuh mimpinya sendiri daripada memberikan Nick kesempatan untuk menghancurkannya untuk kesekian kalinya.
Pesawat jet itu lepas landas menuju Swiss, membawa Nadine menjauh dari New York dan dari pria yang menjadi satu-satunya cinta sekaligus luka terbesarnya.
Setelah jet pribadi itu membelah awan menuju Swiss, New York menjadi penjara yang menyesakkan bagi Nickholes Teldford. Pria yang dulunya adalah "Raja Kampus" yang arogan, kini hanyalah cangkang kosong yang berjalan tanpa arah.
Nickholes tidak pulang ke rumah. Ia tidak kembali ke asrama. Ia menghabiskan malam-malamnya di apartemennya yang gelap, dikelilingi oleh botol-botol minuman yang tidak mampu menumpulkan rasa sakit di dadanya. Setiap sudut ruangan itu mengingatkannya pada Nadine, suara tawa malunya, aroma parfumnya yang lembut, dan tempat di mana ia pernah membisikkan janji-janji palsu yang kini berbalik menghancurkannya.
Ia tidak lagi masuk kuliah. Pelatih tim sepak bola datang menggedor pintunya, mengancam akan mencabut beasiswanya karena ia melewatkan pertandingan penting.
"Persetan dengan pertandingan itu!" teriak Nick dari balik pintu dengan suara parau. Tanpa Nadine di tribun, sorak-sorai ribuan orang terasa seperti kebisingan yang tidak berarti.
Suatu sore, Clarissa datang dengan percaya diri, mengira bahwa perginya Nadine adalah kemenangannya. Ia masuk ke apartemen Nick menggunakan kunci cadangan yang belum sempat Nick ganti.
"Nick, sayang... sudahlah. Dia sudah pergi. Sekarang kita bisa benar-benar bersama tanpa gangguan si kutu buku itu," ucap Clarissa sambil mencoba membelai wajah Nick yang kini dipenuhi jambang tipis dan mata yang cekung.
Nick menyentak tangan Clarissa dengan kasar. Tatapannya begitu dingin hingga membuat Clarissa mundur selangkah karena ketakutan.
"Keluar," desis Nick rendah.
"Tapi Nick—"
"KELUAR DARI SINI, CLARISSA! DAN JANGAN PERNAH MENAMPAKKAN WAJAMU LAGI!" raung Nickholes hingga urat lehernya menonjol.
"Kau tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. Karena kebodohanku meladeni permainanmu, aku kehilangan wanita yang kucintai dan anakku sendiri! Pergi, sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kau sesali!"
Clarissa lari terbirit-birit, menyadari bahwa Nickholes yang ia kenal telah mati bersama perginya Nadine.
Nick tidak berhenti begitu saja. Ia menggunakan seluruh koneksi dan sisa uangnya untuk mencari tahu di mana Nadine berada di Swiss. Ia menyewa detektif swasta, namun kekuasaan Victoria Saville terlalu kuat, keberadaan Nadine disembunyikan di balik dinding-dinding klinik eksklusif yang tak tertembus.
Setiap malam, Nick hanya bisa menatap foto Nadine di ponselnya. Ia mengirimkan ratusan pesan setiap hari, meskipun ia tahu nomor itu sudah tidak aktif.
"Nadine, aku tidak peduli jika kau membenciku. Tolong, jangan lakukan itu pada bayi kita. Biarkan aku yang pergi, tapi biarkan dia hidup."
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu sampai rasanya aku ingin mati."
Marcus Teldford, ayahnya, akhirnya menemukan Nick dalam keadaan mengenaskan di lantai apartemen. Sang ayah yang keras itu tidak pernah melihat putranya sehancur ini.
"Bangun, Nick! Kau mempermalukan nama Teldford!"
"Nama Teldford sudah mati bagi saya, Ayah," jawab Nick sambil menatap kosong ke jendela. "Nadine membawa seluruh hidupku bersamanya ke Swiss. Jika dia benar-benar membunuh bayi itu, maka dia juga membunuhku."
Nickholes kini hidup dalam penyesalan yang abadi. Ia tetap di New York, namun jiwanya sudah terbang ke Swiss, mengemis di depan pintu yang tak terlihat, berharap pada sebuah keajaiban yang mungkin tak akan pernah datang.
Beberapa bulan kemudian...
Nickholes yang kini lebih pendiam dan tertutup sedang berada di sebuah kafe saat ia menerima sebuah email anonim tanpa teks, hanya sebuah foto. Foto itu menunjukkan siluet seorang wanita dari belakang yang sedang duduk di tepi danau di Swiss, dengan perut yang sudah membuncit besar.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰😍😍