NovelToon NovelToon
Sistem Reward 2× Lipat

Sistem Reward 2× Lipat

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Sistem / Mengubah Takdir / Mafia / Romansa
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Loorney

Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.

Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.

Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Interogasi

Tubuh mereka berubah kaku, mata membulat berusaha mencari celah untuk lolos dari situasi ini. Namun sang "bos besar" yang berdiri di depan mereka hanya tetap tersenyum, dengan tatapan penuh teka-teki yang justru terasa lebih mencekam daripada amarah sekalipun.

Gerard, yang tak sepenuhnya paham dengan dinamika keluarga ini, turut merasakan getar ketakutan—seolah bersalah atas sesuatu yang bahkan tak ia ketahui. Sementara Mawar, terjepit di antara konflik batinnya sendiri: malu, takut, dan cemas bercampur jadi satu.

Wajah Mawar memerah. Ia memalingkan muka, tak sanggup menatap langsung baik ke ibunya maupun ke Gerard. Tidak, tidak... Ini salahku. Aku keluar tanpa bilang. Kalau sampai Mama menyalahkan Kak Gerard… Pikirannya kalut, sebelum akhirnya berubah menjadi pasrah perlahan.

Dengan berat, Mawar mengangkat kepala, mencoba membaca ketenangan di wajah Linda. "Ma…" suaranya lirih, penuh harap dan was-was.

Namun di seberang, Linda hanya menatapnya, lalu melambai halus. "Sini, Sayang. Mama mau ngomong sesuatu sebentar…" pinta Linda, suaranya lembut namun menyimpan sesuatu yang tak terucap.

Mawar terdiam sejenak, matanya menyelinap ke arah Gerard sebelum akhirnya melangkah pelan mendekati Linda. Langkahnya ragu, jantung berdebar kencang membayangkan berbagai kemungkinan hukuman atau teguran yang akan ia terima. Namun begitu jarak mereka tinggal setengah meter, Linda menarik bahu anaknya mendekat, lalu membisikkan sesuatu dengan suara rendah penuh semangat.

"Itu gebetan kamu? Pantesan kamu bisa kepincut!" desis Linda, berusaha menahan antusiasme yang nyaris meledak. Dari sorot matanya yang berbinar, jelas ia sedang dibuat girang oleh kejutan ini.

Reaksi itu sama sekali tak terduga bagi Mawar. Ekspresinya membeku, wajahnya jelas memperlihatkan betapa terkejutnya ia. Cengkeraman di bahunya terasa semakin kuat, membuat tubuhnya gemetar ringan—berteriak dalam hati atas kejutan yang tak disangka-sangka.

"Ma…" Mawar merintih pelan, berusaha mencari kepastian di balik reaksi ibunya. Tapi semangat yang terpancar dari Linda jelas tak bisa dibohongi. "Kami… nggak ada hubungan apa-apa, kok…"

"Belum ada hubungan!" tukas Linda bersemangat, lalu melepaskan genggamannya. Sebelum pergi, ia membalik sebentar dan berbisik lagi, "Ajak dia masuk, ya? Mama mau siapin kopi sama cemilan!"

Melihat ibunya berjalan masuk dengan langkah riang, Mawar tak sempat lagi bernegosiasi. Ia terdiam cukup lama di tempat, sebelum akhirnya berbalik dengan ragu ke arah Gerard, yang masih duduk di atas motor dengan wajah penuh tanya.

Mawar menelan ludah, lalu melangkah pelan mendekat. Ekspresinya berlapis-lapis, dan Gerard bisa merasakannya. "Anu…" gumamnya ragu.

"Kenapa? Ada apa?" tanya Gerard, suaranya sedikit bergetar penuh kecemasan.

Tapi Mawar hanya tersenyum kecut, energinya tiba-tiba mengempis. "Aku sih nggak apa-apa… Cuma Mama…"

"Memangnya Mama kenapa?" tanya Gerard makin waspada.

Mawar menggeleng kecil, jemarinya memainkan ujung bajunya. "Mama… minta aku ajak kakak masuk. Jadi… hehe…"

Gerard terbelalak. Mulutnya terbuka kecil, jantungnya hampir copot dari dadanya. Siapa sangka, semua adegan dramatis itu hanya untuk satu jawaban kecil. Tapi kemudian, Gerard tersadar, logikanya tiba-tiba saja bekerja dengan baik.

Astaga… Apa Mamanya Mawar mau marahin aku? Ini gawat.

*•*•*

Di dalam ruangan yang tertata cantik dan elegan, Gerard duduk di sofa empuk, diapit oleh tatapan dua wanita yang memancarkan emosi berbeda: khawatir dan antusias. Atau tepatnya, Mawar kini tidak lagi bersemangat seperti sebelumnya—ia hanya menunduk sepanjang waktu, sesekali mencuri pandang ke arah Gerard dengan gelisah.

Linda-lah yang paling bersemangat membuka percakapan. Setelah memastikan Gerard menyesap kopinya, ia sedikit condong ke depan, menatap Gerard dengan sorot penuh selidik dan rasa ingin tahu.

“Mama ingat benar, Mawar tadi pagi bilang mau lari pagi. Tapi kok tiba-tiba pulangnya bareng mas Gerard naik motor, dan Mawar cuma pakai sandal?” ujar Linda dengan nada seperti penyidik yang sedang menginterogasi. Tekanannya terus mengarah pada Gerard, yang bingung harus menjawab apa.

Gerard tidak langsung merespons. Ia diam sejenak mengumpulkan keberanian dan ketenangan, lalu memberanikan diri untuk menatap wanita yang seperti duplikat Mawar itu—atau mungkin sebaliknya.

“Tadi pagi, saat saya mau keluar naik motor buat belanja, saya tidak sengaja lihat Mawar lagi bersiap-siap lari. Kami sempat bertegur sapa. Kebetulan saya butuh bantuan, jadi saya mohon izin untuk mengajaknya ikut. Dan… bantuannya hari ini sangat berharga buat saya,” jelas Gerard, dengan hati-hati menyaring fakta demi kebaikan mereka berdua. Di seberang, Mawar terlihat terkejut dan diam-diam menggeleng, memintanya berhenti.

Gerard hanya diam, mengangguk pelan sambil mengacungkan jempol secara diam-diam sebagai isyarat bahwa semuanya baik-baik saja. Percakapan pun berlanjut, dengan berbagai pertanyaan yang perlahan merambah ke wilayah yang lebih pribadi. Gerard terlihat semakin tak nyaman, tetapi tak ada celah untuk mengelak.

“Ngomong-ngomong, mas Gerard umurnya berapa?” tanya Linda, penasaran sekaligus sudah memiliki tebakan sendiri. Di sampingnya, Mawar juga sedikit mengangkat alis, menyimak dengan fokus di balik sikapnya yang pendiam.

Akhirnya pertanyaan itu muncul. Bagaimana aku harus menjawabnya? Rasanya seperti sedang dihadapkan pada dua pertanyaan sekaligus…

“Umur saya…” gumam Gerard, dengan senyum kaku yang sulit disembunyikan. “Dua puluh enam, Tante…”

Seketika, dua suara langsung menyahut serempak dengan nada yang sama. “Dua puluh enam?!” Keduanya terdengar terkejut, membuat Gerard hanya bisa tersenyum tipis sambil berpikir: Nah, akhirnya data pribadiku terbongkar juga di depan mereka.

“Iya, Tante…”

Gerard tidak berbohong. Entah dari wajah maupun fisik, ia memang masih terlihat seperti anak muda seumuran Mawar. Tentu perlu diingat bahwa kondisi fisiknya saat ini adalah puncak masa muda, jadi wajar jika orang sering keliru menebak usianya. Tapi di hadapannya, dua wanita itu tetap terlihat belum sepenuhnya percaya.

Terutama Mawar. Selama ini ia mengira jarak usia mereka hanya dua tahun. Tapi kalau ini kenyataannya… justru lebih baik! Kedewasaan adalah hal yang paling menarik dalam kriterianya, dan kini tak ada lagi keraguan—lampu kuning sudah berubah menjadi hijau.

Linda memberikan reaksi berbeda. Ia sempat mengerutkan kening, lalu perlahan tersenyum. “Pantas saja. Mama tadi merasa ada yang berbeda. Ajaib juga anak muda seumuran Mawar sudah bisa beli rumah sendiri,” ucapnya, kali ini dengan nada yang lebih hormat.

Syukurlah, bagi Gerard, situasi ini tak semenyeramkan yang ia bayangkan. Tak ada bentakan, amarah, apalagi pengusiran. Yang ada justru percakapan hangat yang terasa begitu kekeluargaan—entah mengapa, hal itu justru membuatnya merasa diterima.

“Tadi kamu bilang rumah masih butuh furnitur baru, kan?” Linda mengalihkan topik percakapan, mencairkan sisa-sisa kecanggungan yang tersisa.

Gerard mengangguk pelan. “Benar, Tante. Saya kurang paham soal ini. Rencananya mau beli bertahap, tapi pasti buang waktu dan tenaga. Jadi saya ingin sekalian beres, semua lengkap dalam sekali pengiriman,” jelasnya, menunjukkan bahwa ia sangat menghargai efisiensi waktu.

Linda mengerti betul maksudnya. Untuk pertama kalinya, mereka sependapat dalam satu hal. “Efisiensi waktu memang penting…” gumamnya sambil mengangguk paham. “Gimana kalau gini: Mama punya kenalan, kebetulan adik Mama sendiri. Kita bisa diskusi dulu soal daftar barang yang dibutuhkan, terus tentukan tanggal pengiriman. Tenang saja, soal biaya pengiriman, Mama yang urus.”

Linda tersenyum tipis, matanya berbinar hangat. Tapi di balik sikapnya yang ramah itu, pikirannya justru berjalan ke arah lain: Ahh… anakku memang jago milih pria. Aku akan buat dia betah dengan kami, lalu… kupersilakan hatinya tinggal di sini.

1
Loorney
Nulis buru-buru emang bikin kacau, update dulu baru revisi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!