Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE TIGA PULUH SATU
Sementara di tempat lain, di sebuah bangunan tua yang dari luar nampak terbengkalai namun di dalamnya justru sangat mewah, duduklah seorang wanita paruh baya yang wajahnya masih terlihat cantik. Tubuh rampingnya terbalut gaun hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Di sampingnya berdiri seorang wanita muda yang tak kalah cantik.
Mereka adalah Delta dan Violet, istri dan putri dari dokter sekaligus pebisnis, Harvey Grayson.
Delta menyilangkan kaki dengan santai di kursi kulit besar itu. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja kaca di depannya.
Seorang pria masuk dengan langkah cepat lalu berhenti beberapa meter dari mereka.
“Madam.” Sapa pria itu
Delta tidak langsung menoleh. Ia masih menatap cairan merah di dalam gelas yang ia pegang.
“Ada apa?” tanyanya datar.
Pria itu menunduk sedikit.
“Orang kita yang semalam melakukan penyerangan gagal menyelesaikan pekerjaannya.”
Gerakan tangan Delta berhenti.
Violet dengan cepat menoleh ke arah pria itu.
“Maksudmu dia masih hidup?” tanya Violet.
Pria itu mengangguk pelan.
“Ya, Nona.”
Ruangan itu hening beberapa detik.
“Bagaimana bisa?” suara Violet terdengar sedikit kesal.
Pria itu menarik napas sebelum melanjutkan.
“Dua orang yang kita kirim menyerangnya semalam. Salah satunya berhasil kabur. Tapi yang satu lagi ditangkap oleh Bastian.”
Kali ini Delta perlahan menoleh. Matanya menatap pria itu dengan tajam.
“Ditangkap?” ulangnya pelan.
“Ya, Madam.”
Violet mendengus pelan. “Bodoh sekali.”
Namun Delta justru tertawa kecil.
Bukan tawa yang hangat. Lebih seperti seseorang yang sudah menduga hasilnya.
“Aku sudah bilang,” gumamnya sambil menyesap wine-nya. “Bastian tidak semudah itu mati.”
Pria itu tetap menunduk.
“Ada satu hal lagi, Madam.” Ia terdiam sejenak menimbang-nimbang seolah ragu untuk mengatakan sesuatu.
Delta mengangkat alisnya tipis. “Apa lagi?”
“Seseorang sedang menuju ke rumahnya pagi ini.”
Delta menyipitkan mata sedikit. “Siapa?”
“Seorang wanita bernama Siena.”
Kali ini Delta benar-benar terdiam. Sementara, Violet yang berdiri disamping ibunya mengerutkan sedikit dahinya.
“Siena?” ulangnya pelan.
Senyum tipis perlahan muncul di sudut bibir Delta.
“Menarik…” gumamnya pelan, ia meneguk sisa wine di gelasnya, lalu meletakkannya perlahan di atas meja.
“Jadi setelah diserang semalam, dia masih punya waktu menerima tamu?".
Nada bicaranya ringan, tapi jelas ada sesuatu yang dingin di dalamnya.
Pria di hadapan mereka tetap menunduk. Tidak berani banyak bicara.
Violet menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Wanita itu siapa?” tanyanya pada pria tersebut.
“Sepertinya wanita yang dijaga oleh Bastian, Nona,” jawab pria itu hati-hati.
Violet mendengus pelan.
“Kekasih Bastian?”
Delta tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan pria suruhannya itu lebih lama.
“Ada lagi?” tanya Delta pelan
Pria itu terlihat ragu sepersekian detik. Dan, Delta langsung menyadarinya.
“Katakan.”
Pria itu menelan ludah.
“Satu orang yang tertangkap sudah buka suara madam". Ucapnya lirih
Ruangan itu langsung terasa lebih sunyi.
Violet menoleh cepat menatap ibunya. Sementara, Delta tidak bergerak. Tapi jemarinya yang memegang gelas wine berhenti di udara.
“Dia bilang apa?” tanya Delta akhirnya.
“Dia menyebut nama Madam.”
Hening.
Sontak, Violet langsung berdiri dari kursinya.
“Apa?!”
Namun Delta justru tersenyum kecil. Bukan senyum marah justru senyum yang terlihat sangat tenang.
“Dan Bastian?” tanyanya lagi pada pria itu.
“Dia menyuruh kami menyampaikan pesan.”
Sekarang Delta benar-benar tertarik.
“Pesan?”
Pria itu menunduk lebih dalam sebelum berbicara.
“Dia bilang sampaikan pada Delta, permainan ini baru dimulai.”
Mendengar itu, tanpa sadar Violet mengepalkan tangannya.
“Berani sekali dia mom, anak pungut itu harus segera disingkirkan”. Geram Violet
“Tunggu,” potong Delta lembut.
Anehnya, wajah Delta sama sekali tidak terlihat marah saat mendengar ucapan pria pesuruhnya itu. Ia malah tertawa pelan.
“Sudah lama sekali aku tidak melihat anak itu menggonggong seperti ini.”
Delta berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan menuju jendela besar.
Dari luar bangunan ini tampak seperti gedung tua yang tak terpakai. Tapi di dalamnya ini adalah tempat di mana banyak keputusan gelap dibuat.
“Jadi dia akhirnya tahu,” gumam Delta.
Violet menatap ibunya dengan bingung.
“Mommy tidak khawatir?”
Delta menoleh sedikit. Tatapannya berubah tajam.
“Kalau dia hanya tau, itu tidak masalah.” Delta menjeda ucapannya lalu kembali menyesap wine di gelasnya. "Yang berbahaya jika sampai anak itu benar-benar memulai permainan nya".
“Kalau begitu lebih baik kita segera singkirkan dia segera mom". Ucap Violet
“Tidak perlu terburu-buru.” ucap Delta santai. “Kalau dia mati sekarang, justru akan menimbulkan terlalu banyak pertanyaan.”
Mendengar itu, Violet mengerutkan kening tipis. “Lalu, apa rencana mommy?"
Delta berbalik badan sebelum akhirnya menjawab.
“Kita biarkan dia tetap hidup untuk sementara.”
Tatapan matanya berubah menjadi dingin.
“Lagipula, kakek tua itu masih terlalu menyayanginya.”
Ruangan itu hening sejenak. Lalu Delta kembali tersenyum tipis.
“Sebelum aku benar-benar menghancurkannya, aku ingin memastikan satu hal dulu.”
Violet mencondongkan tubuh sedikit. “Apa itu mom?”
Delta meletakkan gelasnya di meja.
“Semua yang dimiliki keluarga Grayson harus jatuh ke tangan kita.”
.
.
Sementara itu, di sebuah apartemen sederhana di pusat kota.
Bastian berdiri di dekat jendela dengan ponsel yang masih berada digenggaman tangannya. Tirai tipis bergerak pelan tertiup angin pagi.
Apartemen itu tidak besar. Hanya ruang tamu kecil, dapur sederhana, dan satu kamar tidur. Jauh berbeda dari mansion megah yang selama ini ia tempati.
Namun justru tempat seperti ini jauh lebih masuk akal untuk seorang bodyguard.
Bastian menurunkan ponselnya perlahan.
Percakapannya dengan Siena beberapa menit yang lalu masih terngiang di kepalanya.
Ia mengatakan sudah pindah.
Dan wanita itu hanya terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab singkat.
“Baik. Kirim alamatnya.”
Tidak banyak tanya.
Tidak juga memaksa.
Itu justru membuat Bastian sedikit mengernyit.
Dengan gerakan tenang ia membuka laci meja kecil di samping sofa, mengambil sebuah pistol hitam, lalu memeriksa magazinenya.
Klik.
Magazine itu kosong tak ada isi peluru didalam nya.
Ia menutupnya kembali dan meletakkan senjata itu di bawah meja. Langkah kaki Bastian kemudian berhenti di depan cermin kecil di dinding. Tatapannya turun pada luka di lengannya yang masih terbalut perban.
Serangan semalam bukan hal besar baginya. Yang lebih mengganggu justru satu hal lain.
Delta.
Bastian sudah tahu siapa yang berada di balik semua ini.
Dan jika wanita itu sudah mulai bergerak, berarti permainan yang selama ini ia hindari tidak bisa ditunda lagi.
Tiba-tiba suara mesin mobil terdengar dari luar gedung. Sontak, Bastian langsung menoleh ke arah jendela.
Beberapa detik kemudian, sebuah mobil berhenti di depan bangunan apartemen itu.
Bastian sangat mengenali Mobil itu. Itu adalah mobil milik Siena.
Bastian itu menghembuskan napas pelan lalu tersenyum tipis.
“Cepat sekali…” gumamnya.
.
.
.
Bersambung.....
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut