NovelToon NovelToon
Cinta Pandangan Pertama

Cinta Pandangan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Cintapertama
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Lanaiq

Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.

Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jam yang Sama

Aurellia baru menyadari ada yang tidak beres ketika jam dinding kafe menunjukkan pukul empat sore.

Tak ada yang luar biasa terjadi di hari itu.

Kafe masih sama seperti biasanya. Pengunjung datang dan pergi. Mesin kopi mengeluarkan suara pelan. Musik indie terdengar lirih dari speaker kecil di sudut ruangan. Campuran aroma kopi dan karamel berpadu dengan wangi kayu yang hangat.

Namun, pikirannya tidak sepenuhnya hadir di sana.

Jam empat sore.

Aurellia secara tak sadar melirik pintu kaca kafe.

Belum ada siapa-siapa.

Ia mengerutkan wajahnya, lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri.

“Ngapain sih aku? ” bisiknya pelan.

“Ngomong sendiri lagi? ” suara Dimas, barista senior di kafe tersebut, terdengar dari balik mesin kopi.

Aurellia terkejut. “Enggak. ”

Dimas menatapnya dengan curiga. “Aku lihat dari tadi, kamu terus-menerus melirik pintu. ”

“Enggak,” bantah Aurellia cepat.

“Enggak apa? ” Dimas mendekat dengan membawa cangkir espresso. “Enggak nunggu siapa-siapa? ”

Aurellia mendengus. “Lo kebanyakan berasumsi. ”

“Justru aku jarang kepikiran,” jawab Dimas santai. “Makanya terlihat kalau ada orang yang sedang memikirkan sesuatu. ”

Aurellia terdiam. Ia mengambil kain lap dan mulai membersihkan meja kosong, berpura-pura sibuk.

Tetapi Dimas tidak berhenti.

“Cowok yang bawa kamera itu, kan? ” tanyanya pelan.

Aurellia berhenti membersihkan meja.

“Hah? ”

“Yang sering duduk deket jendela,” lanjut Dimas. “Dia datang hampir tiap sore. Pesan americano. Selalu duduk di tempat yang sama. ”

Aurellia mengangkat bahu. “Kenapa? ”

Dimas tersenyum nakal. “Gapapa kok. Cuma jarang ada pelanggan yang begitu konsisten. ”

Aurellia tidak menjawab lagi. Namun, detak jantungnya sedikit lebih cepat.

Dia hafal.

Waktu kedatangannya.

Pesanannya.

Caranya duduk.

Cara dia memandang sekeliling, bukan cuma fokus pada ponselnya seperti kebanyakan orang.

Dan yang paling membingungkan Aurellia—kenapa semua detail itu tiba-tiba terasa berharga.

Sore itu terasa sangat lambat.

Jam lima kurang lima belas.

Belum ada Alvaro.

Aurellia berdiri di balik kasir, tangannya sibuk menata gelas, tetapi matanya terkadang melirik pintu.

“Kalo dia nggak datang hari ini, ya sudah,” bisiknya pelan.

Kenapa aku mikirin dia?

Dia hanya pelanggan.

Hanya cowok yang sering datang.

Hanya fotografer yang pendiam.

Hanya—

Pintu kafe terayun.

Suara bel kecil di atas pintu berbunyi pelan.

Aurellia secara refleks mengangkat wajahnya.

Dan pada detik itu, semua pikirannya berhenti.

Alvaro masuk.

Masih memakai jaket gelap yang sama. Kamera menjuntai di bahunya. Rambutnya sedikit acak-acakan, seolah baru saja tertiup angin. Dia berhenti sejenak di dekat pintu, seperti biasa, seolah memastikan suasana sebelum melangkah lebih jauh.

Aurellia tidak sadar bahwa bibirnya sedikit terangkat.

Jam yang sama.

Dimas meliriknya sambil tersenyum tipis.

Aurellia langsung menunduk.

Alvaro berjalan mendekati kasir.

“Seperti biasa? ” tanya Aurellia sebelum Alvaro berbicara.

Alvaro terlihat sedikit terkejut. “Iya. ”

“Jamnya tepat,” tambah Aurellia sambil mengambil gelas.

“Hah? ” Alvaro mengerutkan kening.

“Waktu kamu datang,” jelas Aurellia santai. “Hampir selalu sore. ”

Alvaro tertawa pelan. “Kedengaran seperti aku punya jadwal tetap. ”

“Emang,” jawab Aurellia ringan. “Kamu selalu datang jam segini. ”

Alvaro terdiam sejenak. “Aku nggak sadar. ”

“Orang lain sadar kok,” kata Aurellia.

Alvaro menatapnya. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Aurellia sedikit gugup.

“Berarti kamu perhatiin aku? ” tanya Alvaro pelan.

Aurellia berhenti menuang kopi.

Dalam sepersekian detik, ia bingung harus menjawab apa.

“Sebagai pegawai kafe,” katanya akhirnya. “Aku harus bisa mengenali pelanggan. ”

Alvaro menyunggingkan senyum tipis. “Itu masuk akal. ”

Namun entah mengapa, senyum tersebut membuat Aurellia merasa bahwa jawabannya tidak sepenuhnya diyakini.

Alvaro duduk di meja yang biasa dekat jendela.

Aurellia menyodorkan kopinya.

“Ini,” ujarnya sambil meletakkan cangkir.

“Makasih, ” sahut Alvaro.

Aurellia tidak segera pergi.

“Gimana sama kerjaan hari ini? ” tanyanya tiba-tiba.

Alvaro mengangkat wajahnya. “Baik-baik aja. ”

“Capek? ”

“Yaaa.... lumayan. ”

Aurellia mengangguk perlahan. “Kerja sebagai fotografer emang bisa bikin capek, ya? ”

“Kadang-kadang,” jawab Alvaro. “Tapi aku bisa nikmatin kerjaan ini. ”

“Kenapa bisa gitu? ”

Alvaro berpikir sejenak. “Karena aku bisa nangkep momen yang orang lain nggak perhatiin. ”

Aurellia duduk di kursi yang kosong di hadapannya, tanpa sadar.

“Apa contohnya? ” tanya Aurellia.

“Kayak ekspresi seseorang saat nggak sadar kalo lagi diperhatiin,” jawab Alvaro sambil tersenyum tipis.

Aurellia langsung berdiri.

“Eh, aku kembali kerja,” katanya dengan cepat.

Alvaro tertawa kecil.

Dari balik kasir, Aurellia masih merasakan tatapan Alvaro.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit… bahagia.

Malam perlahan mulai tiba.

Kafe terlihat agak sepi.

Dimas duduk di bangku bar sambil mengutak-atik ponselnya.

Aurellia berdiri dekat mesin kopi, berpura-pura sibuk.

Alvaro masih duduk di tempat dekat jendela.

Tidak menggunakan ponsel.

Tidak membuka laptop.

Hanya menatap ke luar jendela sambil sesekali melihat kameranya.

Aurellia mengamati dari jarak jauh.

Apa yang bikin pria ini beda?

Umumnya orang datang ke kafe untuk bekerja, bersantai, atau bermain ponsel.

Dia seolah… datang hanya untuk diam.

Dan entah mengapa, Aurellia merasa ketenangan Alvaro bukanlah hampa.

Melainkan penuh.

Beberapa menit kemudian, Alvaro bangkit dan berjalan menuju kasir.

“Apa kamu mau pulang? ” tanya Aurellia.

“Iya,” kata Alvaro. “Takut kemaleman. ”

Aurellia mengangguk.

Alvaro berhenti sejenak, terlihat ragu untuk berbicara.

“Besok aku akan datang lagi,” ujarnya akhirnya.

Aurellia mengangkat alisnya. “Kenapa kamu kasih tau aku? ”

Alvaro tersenyum tipis. “Biar kamu nggak kepikiran aku bakal pindah kafe lagi. ”

Aurellia tertawa kecil. “Aku nggak ada pikiran kayak gitu. ”

“Bohong,” kata Alvaro dengan nada ringan.

Aurellia tidak membantah.

Alvaro melangkah pergi.

Pintu kafe tertutup.

Dan entah mengapa, setelah kepergian Alvaro, suasana kafe terasa sedikit lebih sepi dari biasanya.

Di malam hari, biasanyanya, Aurellia duduk di tepi ranjang sembari memegang ponsel.

Ia membuka jam di layar.

Pukul 22.13.

Kenapa aku terus mikirin dia?

Ia menutup matanya sejenak.

Bayangan Alvaro tiba-tiba muncul.

Cara ia duduk.

Cara ia berbicara dengan lembut.

Cara ia selalu datang pada waktu yang sama.

Tanpa disadari, Aurellia tersenyum tipis.

“Gila,” bisiknya.

Ia baru menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa hangat dan aneh.

Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang kehadirannya ia nantikan—tanpa ia sadari.

Bukan sebagai pelanggan.

Bukan sebagai orang asing.

Melainkan sebagai seseorang yang perlahan-lahan… menjadi kebiasaan.

Dan Aurellia menyadari bahwa kebiasaan bisa menjadi hal yang paling berbahaya dalam sebuah perasaan.

Karena begitu terbentuk, sulit untuk dihilangkan.

Sementara di tempat lain, Alvaro berdiri di balkon kosnya, menatap kota yang berkilau.

Di tangannya, ia memegang kamera.

Dalam pikirannya, tertanam satu nama.

Aurellia.

Waktu yang sama.

Tempat yang sama.

Dan tanpa mereka sadari, jarak di antara mereka semakin mendekat—bukan karena mereka semakin dekat, tetapi karena mereka berhenti menjauh.

1
deepey
semangat kk, salam kenal..
Lanaiq: makasi kak 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!