NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelahiran Anti Dao

Kesadaran kembali kepada Lu Daimeng bukan seperti cahaya fajar yang menyingsing, melainkan seperti seseorang yang ditarik paksa dari dasar sumur berlumpur yang dalam.

Hal pertama yang dia rasakan adalah bau.

Bau manis yang menjijikkan. Bau fermentasi daging. Bau kematian yang sudah matang di bawah kelembapan hutan.

Lu Daimeng membuka matanya.

Sepasang mata itu terbuka di kegelapan celah akar pohon. Tiga pupil nya berputar menandakan berkumpulnya kesadarannya, dan di dalam masing-masing mata, tiga pupil hitam berputar perlahan, saling bertumpuk secara geometris.

Tatapan ganda dari Triple Pupil itu langsung membedah cahaya remang yang masuk. Dia melihat partikel debu, dia melihat spora jamur yang melayang, dan dia melihat panas yang membusuk dari mayat di dekatnya.

Tubuhnya kaku. Sendi-sendinya berderit seperti engsel pintu besi yang berkarat karena tidak digerakkan dalam waktu lama.

Dia mencoba duduk. Debu dan tanah kering berjatuhan dari rambut panjangnya yang kusut.

Dia menoleh ke arah pintu masuk celah akar itu. Di sana, tergeletak mayat pemimpin kelompok dari Sekte Awan Biru yang dia bunuh dengan tusukan jantung.

Mayat itu tidak lagi segar. Wajahnya bengkak, kulitnya berwarna hijau kehitaman, dan perutnya telah pecah karena gas pembusukan. Lalat-lalat iblis seukuran jempol berkerumun di sana, berpesta pora.

"Seminggu," suara Lu Daimeng serak, seperti gesekan dua batu kasar. Tenggorokannya kering kerontang. "Setidaknya tujuh hari aku mati suri."

Dia hidup. Racun neurotoksin ganda di jarum itu gagal mematikan otak monsternya. Sebaliknya, tubuhnya yang telah bermutasi sepertinya telah memetabolisme racun itu, menjadikannya bagian dari sistem kekebalan tubuhnya yang semakin menyimpang.

Lu Daimeng merangkak keluar dari lubang persembunyiannya. Sinar matahari yang terbias kabut menyengat keenam pupil matanya sejenak, namun iris emasnya segera menyusut untuk beradaptasi.

Dia lapar. Lapar yang bukan sekadar keinginan perut, tapi tuntutan seluler yang menjerit.

Dia berjalan mendekati mayat pemimpin sekte itu. Tanpa membuang waktu untuk merasa jijik pada belatung yang menggeliat, Lu Daimeng berlutut.

Dia menggunakan tanduk kelincinya untuk membedah perut yang sudah membusuk itu.

Bau busuknya luar biasa, cukup untuk membuat manusia biasa pingsan. Tapi Lu Daimeng tidak berkedip. Dia mencari satu hal.

Dantian.

Meskipun daging membusuk, Dantian adalah wadah energi yang ulet. Lu Daimeng menemukannya—sebuah simpul jaringan yang mulai layu, namun masih menyimpan sisa-sisa esensi Pembentukan Qi Tahap 6.

Dia mengambilnya. Lendir hijau menetes dari jari-jarinya.

Makan.

Dia memasukkannya ke mulut. Menelan tanpa mengunyah.

GLUK.

Sensasi dingin menjalar di perutnya. Singularitas—kekosongan di dalam dirinya—bergetar senang. Sisa energi itu diserap, ditarik ke dalam vakum, dan diubah menjadi abu yang memperkuat tulangnya.

"Masih ada dua lagi," gumamnya, kedua matanya bersinar redup.

Dia berjalan menelusuri jejak pertarungan seminggu yang lalu. Dia menemukan mayat pria gempal (kerangka kering di tanaman merambat) dan mayat pria kurus.

Dia mengambil sisa Dantian mereka yang sudah mengering seperti buah kismis. Memakannya.

Sedikit demi sedikit, tenaganya kembali. Kepadatan ototnya pulih.

Sekarang, waktunya menjarah harta benda.

Dia mengumpulkan tiga Cincin Spasial dari jari-jari mayat yang kaku. Dia mengikatnya menjadi satu kalung bersama cincin Kapten Chu. Empat cincin. Empat gudang harta yang terkunci.

"Kunci brankas tanpa kode," gumamnya, meraba cincin-cincin dingin itu di dadanya.

Tapi dia menemukan barang lain yang tidak disimpan di dalam cincin.

Di pinggang mayat pemimpin, dia menemukan sebuah pedang hitam.

Pedang ini berbeda. Bilahnya bukan baja biasa. Warnanya hitam matte, tidak memantulkan cahaya. Bahannya terasa dingin, menyerap panas dari tangan Lu Daimeng.

"Baja Meteorit Dingin," Lu Daimeng mengenali bahannya dengan penglihatan Mata Dewanya. Struktur atom logam ini sangat padat. "Berat. Tajam. Konduktor energi yang buruk bagi Qi biasa, tapi sangat keras."

Dia menyimpannya.

Lalu, dia menemukan kantong kulit kecil.

Di dalamnya ada tiga botol porselen putih dan dua butir batu yang bersinar redup.

Botol pertama: Pil Pengumpul Qi (Permen energi).

Botol kedua: Pil Pemulih Luka Besar (Sangat berguna).

Botol ketiga: Berisi cairan kental berwarna ungu. Racun Peluruh Tulang.

Dan di dasar kantong itu... dua butir Batu Roh Tingkat Rendah (Low-Grade Spirit Stones).

Mata uang dunia kultivasi. Sumber energi murni yang terkristalisasi.

Lu Daimeng memegang satu batu itu di depan kedua matanya. Enam pupilnya berputar, melihat pusaran energi padat di dalamnya. Makanan murni yang terkompresi.

"Mereka menyerap uapnya," kata Lu Daimeng, mengingat teori kultivasi ortodoks. "Mereka duduk, memejamkan mata, dan menghirup energinya sedikit demi sedikit seperti minum teh panas agar meridian tidak rusak."

Dia membuka mulutnya lebar-lebar.

"Terlalu lambat."

KRAK!

Lu Daimeng menggigit Batu Roh itu.

Bunyinya seperti mengunyah kaca tebal. Gigi gerahamnya—yang telah berevolusi menjadi sekeras batu—beradu dengan kristal padat itu.

Serpihan kristal pecah di mulutnya.

Seketika, ledakan energi murni meledak di lidahnya. Rasanya seperti menelan petir cair. Ozon, listrik statis, dan rasa logam murni membanjiri indra perasanya. Gusi berdarah karena tajamnya pecahan kristal, tapi dia tidak peduli.

Energi liar itu membanjir masuk tanpa disaring. Bagi kultivator biasa, ini bunuh diri. Meridian mereka akan meledak.

Tapi Lu Daimeng tidak punya meridian.

Dia mengunyah dengan brutal. Krak. Krek. Krup.

Dia menelan serbuk kristal dan energi liar itu ke dalam perutnya.

Perutnya—tungku pembakaran biologisnya—menerima tantangan itu. Asam lambungnya mendesis. Singularitas di dalam dirinya berputar gila-gilaan, menyedot "banjir" tiba-tiba ini.

Tubuh Lu Daimeng memanas. Uap putih keluar dari pori-porinya. Kulitnya memerah.

"Lagi," desisnya.

Dia memakan batu kedua.

Energi ini tidak membuatnya naik tingkat kultivasi. Energi ini diserap oleh sel. Mitokondria di dalam selnya bermutasi, membengkak, dan memadat untuk menampung kapasitas energi yang lebih besar.

Setelah kedua batu itu habis, Lu Daimeng merasa seperti baru saja meminum magma. Dia butuh pendingin. Atau lebih tepatnya, katalisator evolusi.

Dia melihat botol racun ungu dan botol pil pemulih.

Otaknya yang jenius dan gila mulai merangkai hipotesis.

Pil Pemulih mempercepat regenerasi sel. Racun membunuh sel. Jika aku meminum keduanya bersamaan saat metabolisme tubuhku sedang di puncaknya karena Batu Roh...

...Aku akan memaksa tubuhku melakukan Seleksi Alam instan di tingkat sel.

Hanya sel terkuat yang boleh hidup di tubuh Lu Daimeng.

Lu Daimeng tidak ragu. Dia membuka botol racun. Baunya tajam, menyengat hidung.

Dia menuangkan racun itu ke mulutnya. Lalu segera menelan segenggam pil pemulih.

GLUK.

Tiga detik hening.

Lalu...

"ARGHHHHHHHHH!!!"

Lu Daimeng jatuh berguling di tanah.

Sakitnya melampaui apa pun yang pernah dia rasakan. Ini bukan sakit dipukul atau ditusuk. Ini adalah sakit di mana setiap sel di tubuhnya sedang berperang saudara.

Dia merasa darahnya mendidih. Dia merasa tulangnya mencair lalu membeku lagi. Dia muntah darah hitam (sel mati), lalu darah merah (sel hidup), lalu cairan bening (Qi yang menolak untuk masuk ketubuhnya).

Dia mencakar tanah hingga kuku-kukunya patah dan tumbuh lagi dalam hitungan menit.

Mata Tiga Pupil-nya berputar liar, melihat aura tubuhnya sendiri yang bergejolak antara hijau (penyembuhan) dan ungu (kehancuran).

Proses itu berlangsung selama satu jam. Satu jam neraka.

Ketika akhirnya berhenti, Lu Daimeng terbaring telentang, menatap langit-langit hutan.

Dia masih hidup.

Dia mengangkat tangannya. Kulitnya terlihat... berbeda. Warnanya putih pucat. Teksturnya halus tapi sangat padat. Urat-urat di bawah kulitnya tidak lagi biru, melainkan gelap samar.

Dia mencoba mengepalkan tangan. Udara di dalam genggamannya meletup karena tekanan.

Dia bangkit duduk. Tubuhnya terasa ringan, namun setiap gerakan memiliki bobot yang menakutkan.

Dia memejamkan kedua matanya, memusatkan perhatian ke dalam. Ke perutnya.

Di sana, di tempat Dantian seharusnya berada, kekosongan itu telah berubah.

Dulu, itu hanya "ruang kosong" yang pasif. Seperti wadah yang bocor.

Sekarang, karena dipaksa menelan begitu banyak energi (Dantian, Batu Roh) dan bertahan dari kehancuran (Racun + Obat), kekosongan itu telah runtuh ke dalam dirinya sendiri.

Kekosongan itu menjadi Padat.

Itu adalah sebuah paradoks dao. Ketiadaan yang memiliki massa.

Seperti Lubang Hitam mikroskopis. Sebuah titik singularitas yang stabil, berputar pelan berlawanan arah jarum jam.

Lu Daimeng melihatnya dengan mata batinnya. Titik itu tidak memancarkan cahaya. Titik itu menarik segala sesuatu di sekitarnya. Qi alam yang masuk ke tubuhnya tidak disimpan, tapi dihancurkan oleh titik itu.

Dan hasil penghancurannya—residu entropi—disimpan sebagai tenaga di setiap serat ototnya.

"Ini bukan Dantian," bisik Lu Daimeng. "Dantian adalah kolam kehidupan, tempat menanam benih keabadian. Ini adalah... Kuburan."

Dia tersenyum. Senyum itu mengerikan di wajahnya yang kini tampan namun pucat seperti mayat hidup.

"Aku menamakanmu Anti-Dao."

Dia menamakan organ barunya itu. Sebuah organ yang menentang hukum langit. Dia tidak mengikuti Dao (Jalan), dia menghancurkan Jalan.

"Dan energi ini..."

Dia mencoba menarik sesuatu dari titik hitam itu. Bukan Qi yang hangat dan mengalir. Yang keluar adalah energi berwarna hitam transparan, dingin, sunyi, dan meresahkan. Energi yang terasa seperti akhir dari sesuatu.

"Aku akan menamaimu. Dark Null," ucapnya.

Lu Daimeng mengambil pedang hitam barunya (Baja Meteorit Dingin).

Dia mencoba mengalirkan Qi biasa (seperti kultivator konvensional lain). Tidak bisa. Titik hitamnya menolak menciptakan Qi.

"Baiklah. Mari kita coba Dark Null."

Dia mengalirkan energi ketiadaan itu ke lengannya, lalu ke gagang pedang.

Seketika, bilah pedang hitam itu tidak bersinar. Sebaliknya, pedang itu tampak menjadi lebih gelap. Bayangan di sekitar bilah pedang itu tampak "termakan". Cahaya matahari yang menyentuh bilahnya tidak memantul, melainkan lenyap, seolah diserap ke dimensi lain.

Bilah pedang itu kini dilapisi oleh Dark Null.

Lu Daimeng mengayunkan pedang itu ke arah batu besar di depannya. Pelan saja. Tanpa tenaga fisik berlebih.

Sreeet.

Tidak ada suara benturan keras. Tidak ada percikan api.

Pedang itu menembus batu seperti pisau panas memotong mentega.

Tapi anehnya, tidak ada serpihan batu yang jatuh. Bagian batu yang bersentuhan dengan bilah pedang itu... hilang. Menjadi debu mikroskopis yang lenyap di udara.

Dark Null tidak memotong. Dark Null menghapus materi yang disentuhnya. Ia memutuskan ikatan atom dengan menghilangkan materi tersebut.

Lu Daimeng menarik pedangnya. Ada lubang tipis yang sempurna di batu itu. Lubang yang sangat halus, seolah bagian itu tidak pernah ada.

Dia menatap pedangnya, lalu menatap tangannya. Pupil di kedua matanya berputar, menganalisis fenomena itu.

Dunia kultivator berlomba-lomba memahami Dao. Mereka ingin menjadi satu dengan aturan dan jalan alam semesta.

"Aku tidak ingin menjadi satu dengan aturan," kata Lu Daimeng dingin. "Karena Aku sudah di keluarkan oleh sistem kultivasi dunia ini sejak lama. Aku akan menjadi anti dao."

Dia menyarungkan pedang hitamnya.

Aura di sekelilingnya berubah total.

Jika sebelumnya dia terasa seperti binatang buas yang ganas, kini dia terasa seperti... lubang di lukisan alam semesta. Kehadirannya membuat tidak nyaman. Auranya dingin, apatis, dan menyerap kehangatan di sekitarnya. Binatang-binatang kecil di sekitar lari menjauh bukan karena takut dimakan, tapi karena takut dihapus.

Dia bukan lagi sekadar manusia yang bermutasi.

Dia adalah Anti-Daoist pertama.

"Sekte Awan Biru..." Lu Daimeng menatap ke arah luar hutan dengan pandangan ganda Triple Pupil-nya yang menembus kabut. "Mari kita lihat, domba jenis apa yang akan mereka kirim."

Lu Daimeng melangkah maju. Evolusi tahap pertama selesai. Sekarang, saatnya berburu dengan cara yang benar-benar baru.

Anti Dao tahap pertama.

Setara Pembentukan Qi tahap 5

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!