NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:204.8k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

Pintu itu terbuka setengah.

Cukup untuk membuat dunia Ridho runtuh sekali lagi.

Ning berdiri di ambang pintu, kruk di tangan kirinya. Wajahnya pucat seketika, seperti seseorang yang baru saja melihat masa lalu berdiri hidup-hidup di depannya. Bibirnya bergetar, matanya membesar, lalu refleks tangannya mencengkeram pegangan pintu lebih kuat.

“Mas… Ridho?”

Suaranya pelan. Hampir ragu.

Ridho berdiri terpaku. Jarak mereka hanya dua langkah, tapi terasa seperti jurang yang tak mungkin diseberangi. Ia ingin melangkah, ingin mengatakan begitu banyak hal—namun kakinya seolah membeku.

“Iya,” jawabnya lirih. “Aku… aku cuma ingin lihat kamu baik-baik saja.”

Ning menunduk cepat. Tatapannya jatuh ke lantai, seolah takut mata mereka bertemu terlalu lama. Ia tak membuka pintu lebih lebar. Tak juga menutupnya.

“Mas… maaf,” katanya pelan. “Mas tidak bisa masuk.”

Kalimat itu sederhana. Tapi Ridho langsung paham.

Batas.

Adab.

Dan status.

"Suami Ning enggak ada di rumah."

“Iya… Mas ngerti,” kata Ridho cepat, nyaris tergesa, seolah takut Ning merasa ia memaksa. “Mas nggak akan masuk.”

Hening menyelinap di antara mereka. Angin pagi menggerakkan ujung jilbab Ning. Tangannya sedikit bergetar di atas kruk.

Ridho menoleh ke teras, di mana di sana ada kursi kayu dan bangku. "Mas duduk di sini saja," katanya seraya berjalan dan duduk di kursi.

Ning diam, tetap berdiri di ambang pintu. Yuda sedang tak ada di rumah, dia tak ingin ada pandangan buruk jika nanti ada yang melihat dia menerima tamu.

“Kamu…,” Ridho menelan ludah, “sehat?”

Ning mengangguk kecil. Tak menjawab dengan kata-kata.

“Kakimu?”

Diam.

Ridho menatap kruk itu. Dadanya seperti diremas. “Masih sakit?”

Ning menggeleng. Kali ini lebih pelan. Tangannya menguat mencengkeram pegangan kruk, seolah itulah satu-satunya penyangga yang ia punya.

"Ning udah terbiasa dengan ini," katanya.

Ridho menarik napas panjang. “Ning… Mas... Mas sudah ingat semuanya, Ning.”

Kepala Ning terangkat seketika. Matanya membulat. Wajahnya yang semula tertunduk kini menatap Ridho dengan kaget yang tak bisa disembunyikan.

“Ingat…?” suaranya bergetar.

“Iya,” Ridho tersenyum pahit. “Semuanya... Malam itu... Lamaranku padamu... Dan... Semua kenangan kita...”

Ning refleks mundur setengah langkah. Tangannya menempel di dada, napasnya sedikit memburu.

“Mas…”

Ia berhenti. Lalu menggeleng pelan. “Mas, Ning sudah menikah.”

Kalimat itu seperti pisau yang masuk pelan-pelan, tapi tepat di jantung.

“Iya, Mas tahu,” jawab Ridho cepat. “Mas lihat sendiri tadi pagi.”

Ning terdiam. Wajahnya memucat, bukan karena sakit, tapi karena luka yang lama ia pendam ikut tersentuh.

"Sepertinya... Kamu bahagia..."

Ning diam...

“Kenapa Mas ke sini?” tanyanya pelan. “Mas tahu rumah Ning dari mana?”

Ridho menatap wajah itu lama. Wajah yang dulu ia jaga, ia lindungi dalam diam.

“Mas cuma tahu,” jawabnya jujur. “Mas hanya tau saja, Ning.”

Ning tak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk kecil, seolah memilih percaya tanpa ingin membuka luka lama lebih dalam.

“Mas… Ning mau pergi,” katanya akhirnya. “Ning nggak bisa lama-lama menemani tamu di luar begini.”

Ridho tersenyum tipis. Sadar kini tengah diusir halus. “Iya. Mas juga harus pergi.”

Ia bangkit dari duduknya, maju selangkah. Dadanya sesak, tapi ia menunduk sopan. “Maaf sudah ganggu pagi kamu.”

Ning mengangguk pelan. Ridho mulai melangkah walau merasa berat untuk pergi, tapi dia harus. Kaki sudah menapaki tangga terakhir teras kontrakan. Ada keinginan untuk ditahan, atau sekedar panggilan namanya dari bibir Ning. Ridho tersenyum kecut, apa yang dia harapkan?

“Mas Ridho…”

Panggilan itu datang, ada rasa yang tiba-tiba menyusup di dada yang membuat bibirnya sedikit tertarik ke atas. “Iya?”

Ridho menoleh.

“Hiduplah dengan baik.”

Itu saja.

Satu kalimat sederhana.

Tapi cukup untuk membuat Ridho nyaris runtuh.

Ia mengangguk. “Kamu juga.”

Ridho berbalik. Melangkah pergi tanpa menoleh lagi, karena ia tahu, jika ia menoleh sekali saja, ia tak akan sanggup pergi.

Di balik pintu, Ning menutupnya perlahan. Punggungnya bersandar pada kayu yang dingin. Napasnya bergetar.

“Ya Allah…” bisiknya.

Ada luka yang baru terbuka. Dan luka lama yang kembali berdarah. Rasa yang ia miliki pada Ridho tak seperti dulu, namun masih ada.

"Ning... Sekarang, Mas Yuda lah suamimu. Dialah imammu sekarang."

****

Dalam perjalanan, Ridho diam... Diam... Menangis... Rasa sakitnya kini jauh lebih lebar dan dalam setelah melihat Ning...

Matanya mengabur, pipinya basah, tapi... Tak ada suara yang keluar dari bibirnya.

Dari rumah Ning, ia langsung menuju kantor. Ia sempatkan mencuci wajahnya di toilet kantor. Walau hati hancur, pikiran ruwet, dia tetap harus terlihat baik-baik saja di tempat kerja. Setelah mengganti kemejanya, Ridho berjalan di lorong menuju ruang kantor devisinya.

Tiba-tiba saja, Dewi sudah berdiri di depan menahan langkahnya.

“Kamu dari mana, Mas?” tanyanya tajam. “Semalam kamu tidur dimana?”

Ridho tak menjawab, dia tetap melanjutkan langkahnya ke mejanya.

“Kamu sama siapa semalam, Mas?” tanya Dewi makin menuntut. “Kamu beneran ke rumah Ning? Kamu sama dia?”

Ridho berhenti bergerak. Menoleh perlahan. Tatapannya dingin—asing.

“Itu bukan urusanmu,” katanya pelan.

Dewi tersentak. “Kamu ketemu dia, ya? Kamu beneran ketemu sama dia, Mas?!”

Ridho menatap lurus. “Aku nggak ingin lihat kamu sekarang, Dewi.”

“Kamu suamiku!” Dewi meninggikan suara. “Aku istrimu, Mas! Aku berhak untuk tau!”

Ridho tersenyum dingin. “Tenang saja. Status itu bisa berubah.”

Dewi lemas. Lututnya hampir tak menopang tubuhnya.

"Maksud kamu..." napasnya cepat, matanya melebar.

“Kamu… kamu mau ninggalin aku?” suaranya pecah.

Ridho tak menjawab. Ia duduk, membuka laptop, seolah Dewi tak ada.

"Kamu enggak bisa ninggalin aku, Mas!"

****

Siang itu, Dewi gelisah. Kepalanya penuh kebencian pada satu nama.

"Ning. Ini semua gara-gara dia! Udah nikah saja masih mau ganggu mas Ridho!" gumamnya dengan gigi bergemelutuk."Lihat saja. Aku enggak akan diam saja, Ning!"

Dewi menepuk meja. "Pikir! Pikir Dewi! Apa yang harus dilakukan agar mas Ridho tak meninggalkan!"

Siang itu, saat waktunya makan siang, ia keluar kantor . Sengaja makan di sebuah resto, hanya untuk menemui seorang teman lama yang sedang hamil.

“Kamu yakin hamil?” tanya Dewi mendadak.

“Ya… dua bulan,” jawab temannya ragu.

“Tesnya ada?”

Temannya mengangguk. “Kenapa?”

“Ini.” Dewi mengeluarkan sebuah testpack baru yang dia beli tadi. "Lakukan tes sekarang."

“Dewi...”

“Aku bayar.” Dewi menyelipkan uang ke tas temannya. “Aku tau kamu lagi butuh uang kan? Kamu hanya melakukan test itu saja.”

Wajah temannya tampak ragu, tapi kemudian mengangguk juga.

Di kantor, setelah ia kembali dari makan siang, Dewi menggenggam alat tes itu. Ia memandang benda pipih dengan garis dua yang sangat jelas.

Sore hari, ia menghadang Ridho di parkiran.

“Aku hamil,” katanya tiba-tiba, menyodorkan alat tes.

Ridho menatapnya lama. Lalu tertawa pelan.

Bukan bahagia.

Tapi hancur.

1
bibuk Hannan & Afnan
hayuh loh, kalian semuanya knp tdk jujur sedari awal saat Ranu sadar siuman dr koma mengenalkan Ning sebagai anggota keluarga baru status nya istri Yudha biar tdk ada kesalah pahaman
Agunk Setyawan
Ning dimanfaatin Bu anggun orangvtua egois Yuda juga aneh knp g jujur
sutiasih kasih
knapa g jujur aj bu anggun... demi kbaikan smua org....
krn klo diam & mnyembunyikan fakta.... yg ada semakin mnmbah masalah...🙄🙄
Ariany Sudjana
muak lama-lama dengan keluarga Yuda, apalagi Bu anggun, uang ada, tapi menyodorkan Ning untuk menemani Ranu terapi, dan ga mau jujur kaalu Ning itu istrinya Yuda
Sapna Anah
kenapa ga jujur aja sebelum terlambat makin d tutupi justru makinmenyskitkan bagi Ranu dan ning
muthia
bu Anggun egois, kasian ning😭
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
smakin ngeselin in novel, banyak ahli terapys knp nyusahin ning, udh gt si anggun jg gak bil kl ning istri yuda, bodohnya lg ning juga gak bilang kl sdh nikah, ah
Bunda Juna
ibunya goblok greget bnget knpa gak jujur dari awal .....
Sri Rahayu
knp sih ngga terus terang ma Ranu...kl Ning itu istri nya Yuda...ya resiko lah apa yg akan Ranu rasakan, drpd.bohong trs nanti terlalu dlm perasaan Ranu pd Ning... lanjut Thorr😘😘😘
mama
bu anggun soplak.. greget bgt.. tak skip aja lah nunggu semuanya kebongkar aj baru tau rasa.. buat ning ny pergi jauh thor setelah tau semuanya.. biar Yuda sama anggun kalang kabut nyari🤣.. enk aj ning mau di manfaatin cuma buat kesembuhan ranu.. gk mikir ati ny ning blas km yud sm bu anggun😭
Arin
Mending jujur sekarang sebelum terlalu jauh. Daripada nunggu nanti-nanti Bu Anggun
Arieee
sembunyikan terus biar anak u saling benci😡😡😡😡😡😡
Nurmaulida Zahra
satu kata egois untuk keluarga yuda
Sri rahayu
demi anaknya hidup dia menghancurkan anaknya yg lain .sungguh kejam Bu anggun .seharusnya setelah Ranu bangun jujur sebenarnya Ning udah menikah dengan Yuda .jadi Ranu tidak mengharap Ning terlalu dalam
Sri rahayu
kasihan Ning tidak tau sekenario orang tua Yuda dan Yuda sendiri .dia seperti pion yg diumpankan kepada Ranu supaya Ranu mau berusaha tetap hidup dan berjalan seperti sedia kala .mungkin nanti Ning di suruh menikah dengan Ranu .dan Ning tidak tau sekenario yg mereka ciptakan
sutiasih kasih
mna ktegasanmu dbg suami yud....
jgnlah krna ibumu km tega mmbuat ning dlm posisi sulit... pdhl km pun jga merasakn ancaman dlm rmh tanghamu...
boleh bakti trhdp org tua yud.... tpi mnolak hal yg akn mmbuat rmh tanggamu hncur jga suatu keharusan yuda........
krna prmintaan ibumu itu konyol... & mrmaksakn khendaknya...🙄🙄
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Arieee
demi anak yang sakit anak yang sehat ditekan sampai sakit hati🤧🤧🤧🤧
Ariany Sudjana
Yuda bodoh, ga mau bicara sama Ning, apa yang dirasakan. Ning juga bodoh, suami pulang kerja, kok tetap urus Ranu, suaminya dulu yang diprioritaskan. Bu anggun juga bodoh, kan orang kaya, kenapa Ning yang disuruh jadi terapisnya Ranu? ini yang akan menghancurkan rumah tangga Yuda dan Ning
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!