“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Pintu itu terbuka setengah.
Cukup untuk membuat dunia Ridho runtuh sekali lagi.
Ning berdiri di ambang pintu, kruk di tangan kirinya. Wajahnya pucat seketika, seperti seseorang yang baru saja melihat masa lalu berdiri hidup-hidup di depannya. Bibirnya bergetar, matanya membesar, lalu refleks tangannya mencengkeram pegangan pintu lebih kuat.
“Mas… Ridho?”
Suaranya pelan. Hampir ragu.
Ridho berdiri terpaku. Jarak mereka hanya dua langkah, tapi terasa seperti jurang yang tak mungkin diseberangi. Ia ingin melangkah, ingin mengatakan begitu banyak hal—namun kakinya seolah membeku.
“Iya,” jawabnya lirih. “Aku… aku cuma ingin lihat kamu baik-baik saja.”
Ning menunduk cepat. Tatapannya jatuh ke lantai, seolah takut mata mereka bertemu terlalu lama. Ia tak membuka pintu lebih lebar. Tak juga menutupnya.
“Mas… maaf,” katanya pelan. “Mas tidak bisa masuk.”
Kalimat itu sederhana. Tapi Ridho langsung paham.
Batas.
Adab.
Dan status.
"Suami Ning enggak ada di rumah."
“Iya… Mas ngerti,” kata Ridho cepat, nyaris tergesa, seolah takut Ning merasa ia memaksa. “Mas nggak akan masuk.”
Hening menyelinap di antara mereka. Angin pagi menggerakkan ujung jilbab Ning. Tangannya sedikit bergetar di atas kruk.
Ridho menoleh ke teras, di mana di sana ada kursi kayu dan bangku. "Mas duduk di sini saja," katanya seraya berjalan dan duduk di kursi.
Ning diam, tetap berdiri di ambang pintu. Yuda sedang tak ada di rumah, dia tak ingin ada pandangan buruk jika nanti ada yang melihat dia menerima tamu.
“Kamu…,” Ridho menelan ludah, “sehat?”
Ning mengangguk kecil. Tak menjawab dengan kata-kata.
“Kakimu?”
Diam.
Ridho menatap kruk itu. Dadanya seperti diremas. “Masih sakit?”
Ning menggeleng. Kali ini lebih pelan. Tangannya menguat mencengkeram pegangan kruk, seolah itulah satu-satunya penyangga yang ia punya.
"Ning udah terbiasa dengan ini," katanya.
Ridho menarik napas panjang. “Ning… Mas... Mas sudah ingat semuanya, Ning.”
Kepala Ning terangkat seketika. Matanya membulat. Wajahnya yang semula tertunduk kini menatap Ridho dengan kaget yang tak bisa disembunyikan.
“Ingat…?” suaranya bergetar.
“Iya,” Ridho tersenyum pahit. “Semuanya... Malam itu... Lamaranku padamu... Dan... Semua kenangan kita...”
Ning refleks mundur setengah langkah. Tangannya menempel di dada, napasnya sedikit memburu.
“Mas…”
Ia berhenti. Lalu menggeleng pelan. “Mas, Ning sudah menikah.”
Kalimat itu seperti pisau yang masuk pelan-pelan, tapi tepat di jantung.
“Iya, Mas tahu,” jawab Ridho cepat. “Mas lihat sendiri tadi pagi.”
Ning terdiam. Wajahnya memucat, bukan karena sakit, tapi karena luka yang lama ia pendam ikut tersentuh.
"Sepertinya... Kamu bahagia..."
Ning diam...
“Kenapa Mas ke sini?” tanyanya pelan. “Mas tahu rumah Ning dari mana?”
Ridho menatap wajah itu lama. Wajah yang dulu ia jaga, ia lindungi dalam diam.
“Mas cuma tahu,” jawabnya jujur. “Mas hanya tau saja, Ning.”
Ning tak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk kecil, seolah memilih percaya tanpa ingin membuka luka lama lebih dalam.
“Mas… Ning mau pergi,” katanya akhirnya. “Ning nggak bisa lama-lama menemani tamu di luar begini.”
Ridho tersenyum tipis. Sadar kini tengah diusir halus. “Iya. Mas juga harus pergi.”
Ia bangkit dari duduknya, maju selangkah. Dadanya sesak, tapi ia menunduk sopan. “Maaf sudah ganggu pagi kamu.”
Ning mengangguk pelan. Ridho mulai melangkah walau merasa berat untuk pergi, tapi dia harus. Kaki sudah menapaki tangga terakhir teras kontrakan. Ada keinginan untuk ditahan, atau sekedar panggilan namanya dari bibir Ning. Ridho tersenyum kecut, apa yang dia harapkan?
“Mas Ridho…”
Panggilan itu datang, ada rasa yang tiba-tiba menyusup di dada yang membuat bibirnya sedikit tertarik ke atas. “Iya?”
Ridho menoleh.
“Hiduplah dengan baik.”
Itu saja.
Satu kalimat sederhana.
Tapi cukup untuk membuat Ridho nyaris runtuh.
Ia mengangguk. “Kamu juga.”
Ridho berbalik. Melangkah pergi tanpa menoleh lagi, karena ia tahu, jika ia menoleh sekali saja, ia tak akan sanggup pergi.
Di balik pintu, Ning menutupnya perlahan. Punggungnya bersandar pada kayu yang dingin. Napasnya bergetar.
“Ya Allah…” bisiknya.
Ada luka yang baru terbuka. Dan luka lama yang kembali berdarah. Rasa yang ia miliki pada Ridho tak seperti dulu, namun masih ada.
"Ning... Sekarang, Mas Yuda lah suamimu. Dialah imammu sekarang."
****
Dalam perjalanan, Ridho diam... Diam... Menangis... Rasa sakitnya kini jauh lebih lebar dan dalam setelah melihat Ning...
Matanya mengabur, pipinya basah, tapi... Tak ada suara yang keluar dari bibirnya.
Dari rumah Ning, ia langsung menuju kantor. Ia sempatkan mencuci wajahnya di toilet kantor. Walau hati hancur, pikiran ruwet, dia tetap harus terlihat baik-baik saja di tempat kerja. Setelah mengganti kemejanya, Ridho berjalan di lorong menuju ruang kantor devisinya.
Tiba-tiba saja, Dewi sudah berdiri di depan menahan langkahnya.
“Kamu dari mana, Mas?” tanyanya tajam. “Semalam kamu tidur dimana?”
Ridho tak menjawab, dia tetap melanjutkan langkahnya ke mejanya.
“Kamu sama siapa semalam, Mas?” tanya Dewi makin menuntut. “Kamu beneran ke rumah Ning? Kamu sama dia?”
Ridho berhenti bergerak. Menoleh perlahan. Tatapannya dingin—asing.
“Itu bukan urusanmu,” katanya pelan.
Dewi tersentak. “Kamu ketemu dia, ya? Kamu beneran ketemu sama dia, Mas?!”
Ridho menatap lurus. “Aku nggak ingin lihat kamu sekarang, Dewi.”
“Kamu suamiku!” Dewi meninggikan suara. “Aku istrimu, Mas! Aku berhak untuk tau!”
Ridho tersenyum dingin. “Tenang saja. Status itu bisa berubah.”
Dewi lemas. Lututnya hampir tak menopang tubuhnya.
"Maksud kamu..." napasnya cepat, matanya melebar.
“Kamu… kamu mau ninggalin aku?” suaranya pecah.
Ridho tak menjawab. Ia duduk, membuka laptop, seolah Dewi tak ada.
"Kamu enggak bisa ninggalin aku, Mas!"
****
Siang itu, Dewi gelisah. Kepalanya penuh kebencian pada satu nama.
"Ning. Ini semua gara-gara dia! Udah nikah saja masih mau ganggu mas Ridho!" gumamnya dengan gigi bergemelutuk."Lihat saja. Aku enggak akan diam saja, Ning!"
Dewi menepuk meja. "Pikir! Pikir Dewi! Apa yang harus dilakukan agar mas Ridho tak meninggalkan!"
Siang itu, saat waktunya makan siang, ia keluar kantor . Sengaja makan di sebuah resto, hanya untuk menemui seorang teman lama yang sedang hamil.
“Kamu yakin hamil?” tanya Dewi mendadak.
“Ya… dua bulan,” jawab temannya ragu.
“Tesnya ada?”
Temannya mengangguk. “Kenapa?”
“Ini.” Dewi mengeluarkan sebuah testpack baru yang dia beli tadi. "Lakukan tes sekarang."
“Dewi...”
“Aku bayar.” Dewi menyelipkan uang ke tas temannya. “Aku tau kamu lagi butuh uang kan? Kamu hanya melakukan test itu saja.”
Wajah temannya tampak ragu, tapi kemudian mengangguk juga.
Di kantor, setelah ia kembali dari makan siang, Dewi menggenggam alat tes itu. Ia memandang benda pipih dengan garis dua yang sangat jelas.
Sore hari, ia menghadang Ridho di parkiran.
“Aku hamil,” katanya tiba-tiba, menyodorkan alat tes.
Ridho menatapnya lama. Lalu tertawa pelan.
Bukan bahagia.
Tapi hancur.