Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Jejak-Jejak yang Tertukar
Di depan pagar rumah sederhana milik keluarga Alisha, Rendy sudah berdiri dengan raut wajah yang tampak layu karena cemas.
Begitu sosok yang ia kira Alisha muncul, Rendy langsung menghambur dan menggenggam kedua tangan wanita itu.
Aruna, yang kini berbalut pakaian sederhana milik Alisha, menarik napas dalam. Ia sudah mempelajari setiap detail tentang Alisha, termasuk bagaimana cara gadis itu menatap Rendy. Dengan akting yang nyaris sempurna, Aruna memulas senyum lembut, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan dalam hidupnya.
"Maafkan aku, Rendy. Ponselku mati dan aku sangat sibuk dengan urusan kontrak pekerjaan baruku," ucap Aruna dengan nada suara yang sengaja dilembutkan.
Rendy mengembuskan napas lega.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa, Sha. Oh ya, aku ingin memberi kabar baik. Adikku... kondisinya mulai membaik setelah cuci darah kemarin. Dokter bilang dia cukup stabil sekarang."
Aruna menatap Rendy. Ia tahu betapa berat beban laki-laki di depannya ini. Mengikuti naluri peran yang ia pelajari, Aruna menyentuh lengan Rendy pelan.
"Itu kabar yang hebat, Rendy. Kamu harus tetap kuat, ya? Dia pasti akan sembuh kalau melihat kakaknya bersemangat seperti ini. Aku akan selalu mendukungmu."
Rendy tersenyum tulus, merasa energinya kembali pulih berkat kata-kata "Alisha". Gadisnya ini selalu bisa membuatnya merasa lebih tenang. Tanpa ia tahu bahwa ayang dihadapannya bukanlah Alisha kekasihnya melainkan orang lain dengan wajah serupa.
Aruna merasa sedikit aneh di hatinya, ia baru saja memberikan harapan palsu pada laki-laki baik ini, namun demi misi, ia harus terus melangkah.
Keesokan paginya, di kediaman mewah Ardiansyah.
Alisha terbangun di atas kasur yang begitu empuk hingga ia merasa seolah tenggelam. Mbak Sari sudah ada di sana, menyiapkan pakaian rumah yang nyaman namun tetap terlihat berkelas. Sesuai instruksi Sari, Alisha diminta tetap di tempat tidur untuk memulihkan tenaga.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Gathan masuk dengan setelan kantor yang sangat rapi dan berwibawa, sementara Sari mengekor di belakang membawa nampan berisi sarapan sehat.
"Bagaimana tidurmu, Na?" tanya Gathan sembari duduk di tepi ranjang.
"Tidurku... sangat nyenyak dan nyaman, Kak," jawab Alisha pelan, masih merasa sedikit canggung memanggil pria itu 'Kakak'.
Gathan tersenyum puas. Ia merapikan sedikit selimut Alisha sebelum berpamitan.
"Kakak berangkat ke kantor dulu. Jangan banyak pikiran, biarkan Mbak Sari yang mengurus semuanya."
Sebelum beranjak, Gathan membungkuk, mengelus rambut Alisha sebentar, lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat dan hangat di keningnya. Alisha mematung, matanya mengerjap kaget. Meski ini bukan pertama kalinya, sensasi kasih sayang itu selalu membuatnya tersentak. Apakah memang rutinitas pemuda ini sebelum berpisah Dnegan adiknya adalah mencium kening sang adik?
Melihat reaksi adiknya, Gathan terkekeh kecil.
"Kenapa masih kaget? Ini rutinitas pagi kita sejak dulu. Waktu Mama dan Papa masih ada, kamu selalu menuntut dicium setiap pagi. Setelah mereka pergi, Kakak yang harus menggantikan peran itu."
Alisha menelan ludah, mencoba memaksakan senyum meski terasa sangat kikuk.
"Ya... aku... aku akan membiasakannya lagi."
"Kakak akan pulang cepat sore ini," tambah Gathan sembari berjalan menuju pintu.
"Setelah itu, kita akan berkeliling rumah. Kakak ingin membantumu mengingat semuanya perlahan-lahan."
Setelah kepergian Gathan dan sarapan selesai, Alisha segera beranjak ke ruang ganti pakaian. Ia kembali mengaktifkan layar tersembunyi di balik lemari untuk menghubungi Aruna.
"Aruna, Gathan baru saja berangkat. Dia bilang sore ini akan mengajakku berkeliling rumah," lapor Alisha.
Wajah Aruna di layar tampak serius.
"Bagus. Tapi sebelum itu, buka laci paling bawah di sebelah kiri rak sepatuku. Ada sebuah jam tangan di sana."
Alisha menemukan jam tangan bermodel simpel namun terlihat sangat elegan.
"Pakai itu," perintah Aruna.
"Jam itu bukan sekadar aksesoris. Di dalamnya tertanam kamera mikro yang terhubung langsung ke monitor ini, juga pelacak GPS paling mutakhir. Selama kamu memakainya, aku bisa melihat apa yang kamu lihat dan melacak keberadaanmu. Jam itu juga benda yang 'Aruna' asli selalu pakai, jadi tidak akan ada yang curiga."
Alisha melingkarkan jam itu di pergelangan tangannya. Ia merasa seolah sedang memakai borgol tak kasatmata. Ia menyadari, dengan alat ini, Aruna akan mengawasinya setiap detik, memastikan bahwa tidak ada satu inci pun rahasia di rumah Ardiansyah yang luput dari pantauan mereka.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊