NovelToon NovelToon
Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Duda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CMK#17

“Hai.”

Ayunda hanya tersenyum kecil menjawab sapaan dari Zayan. Jantungnya seakan berhenti sejenak melihat pria yang ada di hadapan nya kini.

Siapa sangka mereka akan bertemu saat Ayunda bersama adiknya pergi ke mini market.

“Apa kabar?”

“Baik.”

“Ay, aku mau ngomong sesuatu. Ada waktu?”

Ayunda menggelengkan kepala pelan. Dia kembali berjalan menyusuri lorong, mencari makanan yang hendak dia beli. Ayunda mendadak lupa hendak membeli apa.

“Aku mau jelasin tentang perempuan yang waktu itu ketemu. Dia—“

“Aku tahu, Kak. Kak Alex ngasih tau aku kalau kalian gak pacaran. Tapi pacaran atau nggak, bukan urusan aku. Kakak bebas mau jalan sama siapa aja, gak usah peduli lagi sama aku.”

“Alex? Siapa dia? Apa dia laki-laki yang waktu itu sama kamu?”

“Ya, dia temen nya mas Elang.”

“Kalian juga sepertinya sangat akrab ya. Dia bahkan menggenggam tangan kamu waktu itu.”

Ayunda menghela nafas dalam.

“Kak, kita udah lama putus. Aku, kakak, atau siapapun diantara kita mau deket sama siapapun tuh gak ada hubungannya lagi. Ah, bahkan kita tidak pernah putus. Pacaran aja nggak kan.”

Gadis itu segera pergi meninggalkan mini market tanpa membeli satupun makan yang sudah dia pikirkan sejak dari rumah.

“Kak, pamit ya.” Inggit masih berusaha ramah pada Zayan.

Semarah-marah nya Ayunda pada Zayan, nyatanya melupakan cinta yang selama bertahun-tahun bersemi dan diperjuangkan itu tidak lah mudah dilupakan begitu saja. Perasaan Ayunda bahkan tidak pernah berubah sedikit pun pada laki-laki itu.

Berkali-kali ayunda menghela nafas sambil mengerjapkan mata agar air matanya tidak keluar.

“Hah? Terus kamu gak ladenin kan?” Tanya syifa terkejut mendengar cerita ayunda yang bertemu dengan Zayan.

“Ya enggak lah, ya kali.”

“Bagus! Perempuan harus punya harga diri. Cukup sekali aja kamu menjatuhkan harga diri kamu mengejar dia selama bertahun-tahun. Ke depan nya jangan.”

“Sakit banget tapi. Susah banget mau lupain dia. Bayangkan aja, Zayan ada di depan aku. Hati aku ingin memeluk tapi otak aku melarang.”

“Iya, aku juga gak akan berani bilang buat kamu bisa melupakan dia secepatnya. Cuma, kamu harus inget kalau dia gak suka sama kamu. Dia menolak pertunangan kalian.”

Ayunda menyeka air matanya yang perlahan luruh.

...***...

“Ada apa? Dari tadi senyum-senyum terus. Nonton video lucu?” Tanya Bela, tante dari Alex.

“Baru kali ini tante lihat kamu senyum bahagia kayak gitu,” ujarnya sambil duduk dan minum kopi yang dia bawa tadi dari dapur.

Alex menyembunyikan ponselnya saat Bela memiringkan kepalanya untuk melihat video yang membuat keponakan nya tersenyum bahagia setelah sekian lama tidak pernah dia lihat.

“Ih, kenapa? Rahasia banget ya sampai tante gak boleh lihat?”

Alex menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.

“Lex, sampai kapan kamu mau mengurus usaha kamu yang gak seberapa itu? Ayolah join sama om kamu aja. Setidaknya urus klinik yang dibangun ibu kamu.”

“Jangan bahas ini lagi ya, Tan. Alex mohon.”

Bela menghela nafas. Dia tidak bisa memaksa keponakan yang selalu saja dianggap sebelah mata oleh kakak nya.

“Udah punya calon baru belum? Udah hampir lima tahun loh ini.”

Alex menyandarkan tubuhnya di kursi.

“Entahlah,” ujarnya berat.

Bela tersenyum sambil melirik Alex. Dia yakin jika keponakannya sedang jatuh cinta.

“Orang mana?”

“Apanya yang orang mana, Tan?”

“Yang bikin kamu senyum-senyum itu.”

“Video tadi cuma… em, anak monyet yang sedang naik pohon kelapa.”

“Hmmm? Memangnya kenapa dengan anak monyet itu samapai kamu tersenyum bahagia? Pasti cantik ya anak monyetnya?”

“Emmm, dia manis. Nggak cantik tapi, enak aja dilihatnya.”

“Warna bulunya abu-abu apa hitam?”

“Bulu? Bulu apa?”

“Anak monyet lah, apa lagi memang?”

“Dia bukan mony—“

Bela tertawa melihat sikap Alex yang rada planga polong karena tingkahnya sendiri.

“Aku tidur duluan.”

Tawa bela masih terdengar saat Alex merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia kembali melihat video aktifitas nya saat di kampung halaman Elang.

“Masa iya gue suka sama anak ini? Apa gak termasuk kategori pedofil? Ah, mustahil. Kamu bahkan bertemu baru beberapa kali.”

Alex terus bergumam sendiri sambil menonton video cukup lama.

“Lo kapan balik kampung?” Tanya Alex saat dia bertemu dengan Elang di sebuah kafe.

“Gak tau, nanti paling kalau sodara gue nikahan.”

“Gue ikut.”

“Ngapain? Tumben amat.”

“Sumpek banget gue di sini.”

“Kenapa lagi? Disuruh ngurus klinik lagi?”

Alex menoleh. Meski bukan itu alasannya, tapi dia tidak punya alasan lain selain mengiyakan.

“Seminggu lagi lah gue balik. Anak uwa gue mau nikahan. Nikahnya keluar kota, jadi nanti kita ikut nganter. Biar lo juga tau gimana acara nikahan di kampung gue.”

“Emang beda ya sama kawinan di kota?”

“Lihat aja entar. Siapa tahu jodoh lo orang kampung, sekalian buat referensi.”

Alex merasa wajahnya panas. Meski dia tahu Elang tidak bermaksud menunjukkan seorang gadis yang berasal dari desanya.

Alex memijit keningnya yang tidak sakit.

“Udah lah, bro. Jangan terlalu dipikirkan. Bagaimanapun juga, klinik itu memang hak lo sebagai anak tunggal nyokap lo.”

“Hah?”

Elang menepuk bahu Alex.

“Ah, iya. Thanks, bro.”

“Kadang gue mau pulang tuh malu. Di umur segini gue masih aja jomblo. Bingung kalau kumpul keluarga, mereka pada nanyain, membandingkan dengan temen gue yang lain.”

“Gue juga bingung kenapa lo belum nikah. Kerjaan oke, tampang juga oke. Apa lagi?”

“Entahlah, gue masih belum nemu cewek yang cocok aja.”

“Memangnya di desa gak ada yang pas? Bukannya cewek di sana pada santun, baik, dan cantik?”

“Banyak. Cuma dulu orang tua gue, maunya gue nikah sama Ayubda, tapi—“

Ucapan Elang terpotong saat tiba-tiba Alex batuk. Dia bahkan mengambil air untuk teman nya itu.

“Nelen apaan sih sampe keselek gitu?”

Alex menggelengkan kepala sambil batuk kecil.

“Terus kenapa lo gak nikah sama dia?” Tanya Alex saat batuknya reda.

“Di desa gue, tidak ada orang yang gak tau bagaimana ayunda mencintai Zayan.”

“Cowok yang waktu itu di swalayan?”

Elang mengangguk. “Yups!”

Alex terdiam.

“Semisal Ayunda udah gak suka sama Zayan, memangnya lo mau nikah sama dia?”

Elang menggelengkan kepala.

“Gue udah berasa dia tuh adek gue sendiri. Suka dan rasa sayang gue sama dia, cuma sebatas itu. Lagian dia masih bocil banget.”

Alex tersenyum.

“Lagi pula impossible banget ayunda bisa melupakan Zayan.”

Alex menundukkan kepalanya, menatap makanan yang ada di meja.

“Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Seseorang bilang sama gue, kalau suatau saat kita pasti akan bertemu dengan jodoh kita, di manapun dan entah kapanpun itu.”

Elang menatap Alex lekat, sebisa mungkin dia menahan tawanya.

Alex yang nampak serius mengatakan hal tersebut, membuat Elang merasa geli melihat wajah Alex yang mengira elang tidak tahu apa-apa.

1
Sit Tiii
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!