Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Perencanaan dan Latihan Darurat
Going Merry berlabuh di teluk tersembunyi beberapa mil dari Nanohana. Kami semua berkumpul di dek kapal dengan wajah serius—sangat berbeda dari suasana ceria yang biasanya.
Pertarungan melawan Crocodile tadi menunjukkan dengan jelas: kami tidak siap.
Chopper—yang kami temukan di Drum Island dan bergabung sebagai dokter kapal—sedang sibuk merawat luka Luffy. Lengan Luffy yang terkena hook Crocodile masih mengering, kulitnya keriput seperti mumi.
"Ini buruk," kata Chopper dengan wajah khawatir sambil membungkus lengan Luffy dengan perban. "Crocodile menyerap hampir semua cairan di lenganmu. Kau butuh banyak minum air dan istirahat. Kalau tidak, lenganmu bisa rusak permanen."
"Aku baik-baik saja, Chopper," kata Luffy sambil mencoba tersenyum—meskipun jelas dia kesakitan.
"KAU TIDAK BAIK-BAIK SAJA, BODOH!" Nami menggebrak kepala Luffy. "Kau hampir mati tadi! Kalau Marine tidak datang, Crocodile akan membunuh kita semua!"
Luffy terdiam, tidak bisa membantah.
Aku duduk di sudut dek, menatap tanganku yang gemetar. Pertarungan tadi... aku bahkan tidak bisa menyentuh Crocodile dengan benar. Armament Haki ku masih terlalu lemah. Dan meskipun aku bisa menahan Desert Grande Spada dengan bantuan Robin, itu hampir menghabiskan semua energiku.
"Aku masih terlalu lemah," gumamku dengan frustrasi.
"Kita semua masih terlalu lemah," kata Zoro yang duduk di sampingku. Dia membersihkan pedangnya dengan wajah serius. "Pedangku bahkan tidak bisa memotong tubuh pasir Crocodile. Aku butuh Haki untuk bisa melukai dia."
Sanji menyalakan rokok dengan tangan yang sedikit gemetar—pertama kalinya aku melihat Sanji terlihat gugup. "Diable Jambe ku sedikit efektif karena panas, tapi tidak cukup untuk mengalahkan dia. Aku butuh serangan yang lebih kuat."
Usopp duduk dengan lutut dipeluk, wajahnya pucat. "A-aku bahkan tidak bisa melakukan apapun... aku terlalu takut untuk bergerak..."
"Jangan salahkan dirimu sendiri, Usopp," kata Vivi dengan lembut. "Crocodile adalah Shichibukai. Bahkan Marine ragu untuk melawannya langsung. Wajar kalau kita takut."
"Tapi takut tidak akan menyelamatkan Alabasta," kata Nami sambil membuka peta besar di atas meja. "Kita harus punya rencana. Kita tidak bisa hanya menyerbu dan berharap menang."
Robin berdiri dan berjalan ke depan, menatap kami semua. "Aku tahu rencana Crocodile. Aku sudah bekerja dengannya cukup lama untuk mengetahui setiap detail."
Semua mata tertuju padanya.
"Crocodile merencanakan untuk memicu perang sipil besar-besaran di Alabasta," jelas Robin. "Dia sudah menyebarkan rumor bahwa Raja Cobra menggunakan Dance Powder untuk menciptakan hujan di ibukota sambil membuat daerah lain kekeringan. Rakyat sudah marah. Rebel Army yang dipimpin oleh Koza sudah siap untuk menyerang ibukota."
"Koza..." Vivi menggigit bibirnya. "Dia teman masa kecilku. Aku harus menghentikannya sebelum terlambat!"
"Tidak semudah itu," kata Robin. "Baroque Works punya ribuan agents tersebar di seluruh Alabasta. Mereka akan menghalangi siapapun yang mencoba menghentikan perang. Dan bahkan kalau kau sampai ke Koza, dia mungkin tidak akan percaya padamu. Dia sudah terlalu marah pada Raja."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Nami dengan frustrasi.
Robin menatap peta Alabasta yang terbentang di meja. "Ada tiga langkah yang harus kita lakukan."
Dia menunjuk ke beberapa titik di peta.
"Pertama, kita harus menghentikan bom. Crocodile menempatkan bom waktu raksasa di bawah alun-alun ibukota Alubarna. Saat perang sipil mencapai puncaknya dan rakyat berkumpul di alun-alun, bom akan meledak dan membunuh semua orang—rakyat dan tentara kerajaan sekaligus. Crocodile akan menyalahkan Raja, dan dia akan mengambil alih kerajaan sebagai 'penyelamat'."
Semuanya terdiam dengan wajah horror.
"Bom... yang bisa membunuh ribuan orang..." gumam Sanji dengan wajah pucat.
"Kedua," lanjut Robin. "Kita harus menghentikan Rebel Army sebelum mereka menyerang ibukota. Kalau perang sipil benar-benar terjadi, ribuan orang akan mati meskipun kita berhasil menghentikan bom."
"Dan ketiga?" tanya Zoro.
Robin menatap kami semua dengan serius. "Kita harus mengalahkan Crocodile. Selama dia masih hidup, dia akan terus membuat masalah. Dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan."
"Ancient Weapon Pluton," gumamku sambil mengingat pengetahuan dari kehidupan lamaku. "Itu yang sebenarnya dia cari, kan?"
Robin menatapku dengan mata terbelalak. "Kau... kau tahu tentang itu?"
"Aku pernah mendengar tentang Ancient Weapon," jawabku dengan hati-hati. "Senjata kuno yang bisa menghancurkan dunia. Dan Alabasta menyimpan Poneglyph yang mencatat lokasi Pluton, benar?"
Robin terdiam lama, lalu mengangguk pelan. "Ya. Itu sebabnya aku bekerja dengan Crocodile. Aku mencari Poneglyph... karena alasanku sendiri."
"Alasan apa?" tanya Nami dengan curiga.
Robin tersenyum sedih. "Itu cerita untuk lain waktu. Yang penting sekarang adalah menghentikan Crocodile sebelum dia menemukan Poneglyph dan mendapatkan Pluton."
Luffy tiba-tiba berdiri dengan wajah serius—wajah yang sangat jarang terlihat. "Baiklah. Inilah yang akan kita lakukan."
Dia menatap kami semua satu per satu.
"Vivi, kau dan Karoo akan pergi ke Koza dan Rebel Army. Coba hentikan mereka dengan cara apapun. Jelaskan kebenaran tentang Crocodile."
Vivi mengangguk dengan tekad. "Aku akan melakukannya!"
"Nami dan Usopp, kalian berdua cari dan hentikan bom itu. Gunakan kepintaran kalian."
"Ba-baik!" Usopp gemetar tapi mengangguk.
"Zoro, Sanji, kalian berdua akan menghadapi officer agents Baroque Works yang menghalangi. Kalahkan sebanyak mungkin."
"Akhirnya aku bisa bertarung dengan serius," Zoro menyeringai.
"Dengan senang hati," Sanji tersenyum.
"Robin, kau guide kami ke tempat Crocodile. Kau yang paling tahu tentang dia."
Robin mengangguk. "Understood."
"Dan Kenji," Luffy menatapku. "Kau akan bertarung bersamaku melawan Crocodile."
Aku terkejut. "Aku? Tapi Luffy, aku—"
"Kau satu-satunya yang bisa menggunakan Haki selain aku yang mungkin bisa suatu saat," kata Luffy dengan serius. "Dan aku butuh bantuan untuk melawan Crocodile. Kau akan jadi partnerku."
Aku merasakan beban berat di pundakku. Tapi aku juga merasakan... kepercayaan. Luffy mempercayaiku untuk bertarung di sampingnya melawan Shichibukai.
"Aku mengerti," jawabku sambil mengangguk. "Aku akan melakukan yang terbaik."
"Tapi sebelum itu," Luffy menatap kami semua. "Kita punya dua hari sebelum Rebel Army menyerang ibukota. Dua hari untuk berlatih dan menjadi lebih kuat."
"Dua hari tidak cukup untuk menjadi jauh lebih kuat," kata Zoro dengan realistis.
"Tapi cukup untuk mengembangkan strategi dan meningkatkan kemampuan yang sudah kita punya," jawabku. "Aku akan gunakan dua hari ini untuk melatih Armament Haki ku sampai lebih stabil. Dan aku akan mengembangkan teknik baru dengan jaring ku."
"Aku akan latihan memotong material yang lebih keras," kata Zoro. "Sampai aku bisa memotong baja."
"Aku akan meningkatkan suhu Diable Jambe," kata Sanji. "Sampai bisa melelehkan pasir Crocodile."
"Aku akan... aku akan berlatih menjadi lebih berani!" Usopp berteriak dengan semangat yang tiba-tiba muncul.
Luffy tersenyum lebar—senyuman khas Luffy yang penuh dengan kepercayaan diri. "Yosh! Mulai sekarang, kita semua latihan sampai tidak bisa bergerak! Dan dua hari lagi, kita akan ke Alubarna dan hajar Crocodile!"
"YOSH!" kami semua berteriak bersamaan.
Dua hari berikutnya adalah neraka latihan.
Aku menghabiskan hampir 20 jam sehari berlatih Armament Haki. Robin membantuku dengan memberikan tips dan trik—ternyata dia juga bisa menggunakan Haki meskipun tidak di level advanced.
"Armament Haki bukan tentang kekuatan fisik," kata Robin sambil mengamatiku berlatih. "Ini tentang kemauan. Semakin kuat kemauanmu untuk melindungi atau menyerang, semakin kuat Haki mu."
Aku mencoba menerapkan itu. Setiap kali aku menembakkan jaring, aku membayangkan sedang melindungi nakama ku. Setiap kali aku melapisi jaring dengan Haki, aku membayangkan sedang menyerang Crocodile untuk menyelamatkan Alabasta.
Perlahan tapi pasti, durasi Haki ku meningkat.
Dari sepuluh detik menjadi dua puluh detik. Dari dua puluh detik menjadi tiga puluh detik.
Di hari kedua, aku sudah bisa mempertahankan Armament Haki di jaring ku selama satu menit penuh.
"Bagus, Kenji-kun," kata Robin sambil tersenyum. "Kau berkembang dengan sangat cepat. Tapi ingat—dalam pertarungan sesungguhnya, kau akan panik, kelelahan, dan terluka. Pertahankan Haki mu bahkan dalam kondisi terburuk."
Untuk melatih itu, Robin menyerangku dengan kemampuan Hana Hana no Mi-nya sambil aku mencoba mempertahankan Haki.
Ratusan tangan muncul dari segala arah, mencoba mencengkeram ku, memukulku, menggangguku.
Aku harus menghindar sambil tetap mempertahankan Armament Haki di jaringku.
Berkali-kali aku gagal. Berkali-kali Haki ku hilang karena panik atau terdistraksi.
Tapi aku terus mencoba.
Dan perlahan, aku belajar untuk tetap tenang bahkan saat diserang dari segala arah.
Selain Armament Haki, aku juga mengembangkan teknik baru.
"Spider Web: Multilayer Defense," gumamku sambil menembakkan jaring berlapis-lapis yang saling terhubung. Setiap layer punya fungsi berbeda—layer luar untuk absorpsi impact, layer tengah untuk kekuatan, layer dalam untuk fleksibilitas.
"Spider Thread: Piercing Mode," aku membuat jaring yang sangat tipis tapi dipadatkan dengan Armament Haki, membuatnya bisa menembus pertahanan seperti tombak.
"Spider Domain: Sensor Network," aku menyebarkan jaring tipis di area luas. Setiap jaring terhubung ke Spider Sense ku, membuatku bisa merasakan semua gerakan dalam radius 50 meter.
Aku bahkan mencoba menggabungkan Spider Sense dengan Observation Haki yang baru mulai kubangkitkan.
Hasilnya... menakjubkan.
Aku bisa merasakan tidak hanya bahaya, tapi juga niat musuh. Aku bisa memprediksi gerakan mereka sebelum mereka bergerak.
"Ini... ini kombinasi yang sempurna," gumamku dengan excitement. "Spider Sense memberiku warning tentang bahaya. Observation Haki memberiku info tentang niat dan gerakan musuh. Digabungkan, aku bisa menghindari hampir semua serangan!"
Tapi ada satu teknik yang paling ingin kukuasai.
Teknik yang kulihat Luffy gunakan di masa depan cerita asli.
"Gear," gumamku sambil menatap tubuhku. "Luffy bisa meningkatkan kemampuannya dengan Gear Second dan Gear Third. Apa aku juga bisa melakukan sesuatu yang mirip dengan Spider Fruit?"
Aku mulai bereksperimen.
Spider Fruit memberiku kekuatan fisik yang meningkat—kecepatan, kekuatan, refleks. Tapi apa aku bisa meningkatkan itu lebih jauh?
"Bagaimana kalau... aku meningkatkan aliran darah ku seperti Gear Second?" pikirku.
Tapi itu berbahaya. Aku bukan manusia karet seperti Luffy yang bisa menahan tekanan darah tinggi.
"Kalau begitu pendekatan yang berbeda," gumamku sambil berpikir. "Laba-laba punya kemampuan khusus—mereka bisa bergerak dengan sangat cepat dalam jarak pendek dengan kontraksi otot yang eksplosif. Apa aku bisa meniru itu?"
Aku mencoba mengkontraksikan ototku dengan cara tertentu—mengumpulkan energi, lalu melepaskannya dalam burst.
WHOOSH!
Tubuhku meledak maju dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari biasanya!
Aku hampir menghantam dinding kapal!
"Whoa!" aku berhenti tepat waktu. "Itu... itu berhasil! Tapi aku harus bisa mengontrolnya!"
Aku terus berlatih teknik ini. Berkali-kali aku kehilangan kontrol dan menghantam sesuatu. Tapi perlahan, aku belajar mengatur kekuatan dan arah.
"Spider Burst," aku menamakan teknik ini. "Ledakan kecepatan dalam jarak pendek. Sempurna untuk dodging atau closing distance!"
Malam kedua, kami semua berkumpul di dek untuk makan malam terakhir sebelum pertempuran besar.
Semua orang terlihat lelah tapi mata mereka bersinar dengan tekad.
Zoro menunjukkan pedangnya yang sekarang bisa memotong batu dengan lebih mudah—dia belum bisa memotong baja, tapi dia sudah dekat.
Sanji mendemonstrasikan Diable Jambe yang sekarang lebih panas—kakinya menyala dengan api biru, bukan merah lagi.
Usopp menunjukkan senjata baru yang dia ciptakan—peluru dengan berbagai efek khusus.
Bahkan Nami mengembangkan teknik baru dengan Clima-Tact-nya.
"Besok," kata Luffy sambil menatap kami semua. "Besok kita akan ke Alubarna. Kita akan menghentikan perang. Kita akan menyelamatkan Alabasta. Dan kita akan mengalahkan Crocodile."
Dia mengangkat gelas juice-nya tinggi-tinggi.
"Untuk Alabasta! Untuk Vivi! Untuk nakama!"
"KANPAI!" kami semua mengangkat gelas kami.
Dan besok, pertarungan terbesar kami akan dimulai.