Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Titik Balik yang Terlihat
Marcus tidak pernah terbiasa kehilangan kendali. Setiap detik, setiap angka, setiap pola—semua berada dalam genggamannya. Namun malam itu, sesuatu bergerak di luar jangkauan pikirannya.
Sesuatu yang tidak bisa diprediksi, tidak bisa dihitung, dan tidak bisa ia taklukkan.
Ia menatap layar laptopnya lagi, membaca kembali dokumen yang sama untuk ketujuh kalinya. Transfer itu… pola itu… ada satu celah kecil yang muncul di luar sistemnya. Terlalu rapi untuk kebetulan, terlalu disengaja untuk dilewatkan. Marcus menekuk jari-jarinya, mengepalkan tangan di atas meja. Napasnya berat, tetapi tidak ada kemarahan terbuka—hanya ketegangan yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
“Siapa yang bermain di luar aturan?” gumamnya.
Suaranya rendah, hampir tidak terdengar.
Selene mengetuk pintu. “Aku sudah periksa ulang. Tidak ada yang bisa mengakses ini selain kita.”
Marcus menoleh, tatapannya menusuk. “Tidak ada? Tidak ada satupun?”
“Tidak,” balas Selene, suaranya bergetar sedikit. Ia jarang melihat Marcus seperti ini—tenang tapi menakutkan. “Aku bersumpah…”
Marcus menatap layar sekali lagi. Ia tahu sumpah tidak ada artinya jika ada satu orang di luar sana yang menggerakkan bidak tanpa sepengetahuannya. Dan satu nama itu… satu nama yang muncul di dokumen, telah membuat seluruh kerangka kendali yang ia bangun selama bertahun-tahun mulai retak perlahan.
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap lampu kota yang basah hujan. Setiap mobil, setiap pejalan kaki, terlihat begitu damai. Terlalu damai untuk orang yang terbiasa mengendalikan segalanya. Marcus merasakan ketidakpastian itu menjalar ke dalam tulang-tulangnya.
...****************...
Di sisi lain kota, Elena duduk di ruang kecil dengan Adrian. Lampu lampu kota memantul di kaca, membentuk bayangan panjang. Mereka menatap satu sama lain, tanpa kata, hanya dengan pemahaman.
“Kita sudah di titik yang tepat,” kata Adrian akhirnya. Suaranya lembut, tapi tegas. “Dia mulai kehilangan kendali.”
Elena mengangguk tipis. “Aku bisa merasakannya.
Setiap kali ia mengecek, setiap kali ia menatap dokumen… ketegangan itu muncul. Ia tidak lagi menjadi Marcus yang biasa. Ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri.”
Adrian tersenyum tipis. “Dan itu yang kita inginkan.”
Elena mencondongkan tubuh sedikit. “Jangan lupa, Adrian… ia bukan pria biasa. Ia tidak akan menyerah. Tidak sampai semua orang di sekitarnya tunduk pada logikanya.”
“Tidak,” Adrian mengiyakan. “Tapi logika itu tidak bisa mengukur segalanya. Dan ia belum tahu apa yang sudah kita rencanakan.”
...****************...
Malam itu, Marcus kembali ke rumah lebih cepat dari biasanya. Pintu apartemen terasa dingin saat ia membukanya. Semua terlihat rapi, sempurna, hampir seperti menunggu. Namun ada satu hal yang terasa salah—satu aura yang berbeda, yang tidak bisa ia tentukan.
Elena duduk di sofa, matanya menatap ke arah kota, tangannya menyentuh tongkat putih dengan gerakan lembut. Ia tidak menyapa Marcus. Ia tidak perlu. Kehadirannya cukup untuk membuat Marcus menahan napas.
“Kau pulang lebih awal,” katanya akhirnya, suara Marcus rendah, tegas, tapi ada celah keragu-raguan.
Elena menoleh, tersenyum tipis. “Ada yang harus dilakukan.”
Marcus menatapnya, mencoba membaca gerak-gerik yang sama seperti sebelumnya—tatapan, napas, ketegangan di bahu. Tapi tidak ada. Tidak ada yang sama. Elena sekarang seperti bayangan yang bisa ia lihat tapi tidak bisa disentuh.
“Dengan siapa?” tanyanya. Nada suaranya lembut, tapi ada rasa ingin tahu yang tersembunyi di dalamnya.
“Elena tersenyum tipis, matanya tetap fokus pada kota. “Dengan seseorang yang dulu meremehkanku. Sekarang mereka mendengarkan.”
Marcus menelan ludah. Ada sesuatu yang mengencang di dadanya. Ada perasaan yang tidak bisa ia pahami, rasa kehilangan kendali yang semakin nyata. Ia menyadari satu hal: ia tidak lagi menjadi pemburu tunggal di papan catur ini. Ada bidak baru, bergerak di luar penglihatannya, dan bidak itu… Elena.
Sementara itu, di luar apartemen, mobil hitam mengintai dari kejauhan. Kamera kecil terpasang di kaca depan, menangkap setiap gerakan. Tidak ada yang bergerak tanpa pengawasan. Marcus tidak tahu bahwa ia sedang diamati, bahwa langkahnya dianalisis, dan bahwa setiap keputusan yang ia ambil telah diprediksi, setidaknya sebagian.
Di ruang tamu, Marcus bergerak mendekati Elena, mencoba menatap matanya. “Kau berbeda,” katanya akhirnya. “Aku bisa merasakannya.”
Elena mengangkat bahu, tetap tenang. “Aku hanya berhenti hidup dalam versi dirimu tentangku,” katanya lembut. Suara itu menembus keheningan malam, menandai perubahan tak terlihat yang sedang terjadi.
Marcus mundur beberapa langkah. Ada sesuatu yang menekan dada. Ia tidak tahu apakah itu rasa takut, atau kekaguman yang tak bisa diungkapkan.
Di kamar kerjanya, laptop Marcus menampilkan angka yang sama—transaksi yang sama—tetapi Marcus sekarang menyadari satu hal: kendali yang ia bangun, yang selama ini ia anggap mutlak, mulai retak dari dalam. Setiap klik, setiap perintah, setiap pergerakan… bisa menjadi jebakan bagi dirinya sendiri.
Di luar, hujan mulai turun, tipis, lembut. Kota tetap bergerak. Marcus tetap berdiri, tangannya mengepal, mata menatap laptop, namun hatinya tahu satu hal:
Elena bukan lagi perempuan yang bisa ia prediksi. Ia adalah kekuatan yang bergerak sendiri, tepat, dingin, dan sangat berbahaya bagi siapa pun yang percaya terlalu lama pada kendali mutlak.
Dan malam itu, Marcus tidak lagi tahu apakah ia masih pemburu… atau sudah menjadi mangsa yang terlalu percaya pada ilusi kendalinya sendiri.
Marcus menutup laptopnya perlahan, tapi tatapannya tetap menempel pada layar. Ia merasakan denyut jantungnya lebih cepat dari biasanya—bukan karena panik, tetapi karena ketegangan yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
Selama ini, setiap pergerakan, setiap angka, setiap langkah selalu berada di bawah kendalinya. Sekarang, satu celah saja bisa menimbulkan kekacauan yang tidak ia duga.
Ia berjalan ke jendela besar, menatap kota yang basah hujan. Lampu jalan memantul di aspal, membentuk garis-garis panjang. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan, dan itu membuatnya… gelisah. Marcus jarang merasa gelisah. Jarang sekali.
Sementara itu, Elena duduk di kafe kecil, memegang cangkir kopi hangat, tangannya tetap stabil, matanya fokus menatap bayangan di kaca. Adrian duduk di depannya, menatap Marcus dari jauh—tidak benar-benar Marcus, tapi bayangan Marcus yang sedang kehilangan kendali.
“Kita sudah di jalur yang tepat,” Adrian mengulang kata-kata itu. “Ia mulai bergerak, tapi ia belum menyadari pola yang kita ciptakan. Satu langkah lagi… dan semuanya bisa berubah.”
Elena mengangguk. “Aku tahu. Tapi jangan lupa, Adrian… ia bukan pria yang mudah menyerah. Ia akan mencoba membaca semuanya, menghitung semuanya. Ia masih berusaha menjadi pengendali.”
Adrian tersenyum samar. “Dan itu yang membuat permainan ini… menarik.”
...****************...
Di rumah, Marcus menatap Elena duduk di ruang tamu. Tongkat putihnya terlihat seperti properti, tapi Marcus tahu, itu hanyalah kedok. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Elena malam itu.
Ada ketenangan, tetapi bukan ketenangan biasa.
Ada kekuatan yang menyembunyikan niat.
“Kau pulang lebih awal,” katanya, suaranya rendah.
Elena menoleh, tersenyum tipis. “Ada yang harus dilakukan.”
“Kau dengan siapa?” tanya Marcus, mencoba membaca gerak-gerik wanita itu.
“Dengan seseorang yang dulu meremehkanku. Sekarang mereka mendengarkan,” jawab Elena, matanya tetap fokus ke kota.
Marcus menahan napas. Ada sesuatu yang menekan dadanya, tetapi bukan kemarahan. Ada rasa kehilangan kendali yang semakin nyata. Elena bukan lagi perempuan yang bisa ia baca. Ia adalah kekuatan yang bergerak sendiri.
Di kamar kerjanya, laptop Marcus tetap terbuka, menampilkan transaksi yang sama. Marcus tahu satu hal: kendali mutlak yang ia bangun selama bertahun-tahun mulai retak. Setiap klik, setiap perintah, setiap langkah… bisa menjadi jebakan bagi dirinya sendiri.
Ia menatap layar, lalu memejamkan mata sebentar. Napasnya berat. Ia merasakan sesuatu yang asing: ketidakpastian. Selama ini, ia terbiasa memprediksi setiap orang, setiap situasi. Sekarang, Elena telah menjadi variabel yang tidak bisa ia prediksi. Dan itu membuatnya… takut.
Marcus berjalan perlahan ke rak buku. Tangannya menyentuh buku-buku tebal yang biasanya memberinya rasa aman. Tapi malam ini, buku itu tidak memberi jawaban. Tidak ada pola. Tidak ada urutan yang bisa ia kendalikan.