NovelToon NovelToon
Jejak Cinta Nirmala

Jejak Cinta Nirmala

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama / Berondong
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawa Histeris yang Tertutup Selendang

Suasana di butik "Nirmala’s Couture" berubah menjadi ladang kecemasan. Lampu-lampu kristal yang biasanya menyiratkan kemewahan kini terasa seperti mata-mata yang dingin dan membisu. Januar Suteja berdiri di tengah ruangan, wajahnya mengeras seperti pahatan batu granit. Di sekelilingnya, para pegawai butik menunduk gemetar, tak berani menatap mata pria yang memancarkan aura kegelapan itu.

"Bagaimana mungkin seorang pemilik butik menghilang dari tempat kerjanya sendiri tanpa ada satu pun dari kalian yang melihatnya?!" suara Januar menggelegar, memantul di dinding-dinding yang dihiasi manekin tanpa nyawa.

"Maaf, Tuan Januar... Nona Nirmala waktu itu menerima telepon dan langsung keluar lewat pintu belakang. Kami kira beliau hanya ingin mencari udara segar setelah pemakaman," ucap Maya dengan suara mencicit, nyaris terisak.

Januar menendang sebuah kursi beludru hingga terjungkal. Amarahnya memuncak. Baginya, hilangnya Nirmala bukan sekadar kehilangan tunangan, melainkan hilangnya kunci brankas raksasa yang sudah di depan mata. Jika Nirmala tidak ditemukan dalam dua puluh empat jam, posisi Januar di Dizan Holding akan berada di ujung tanduk.

****

Beberapa kilometer dari sana, di gedung pusat Dizan Holding, suasana mencekam dengan cara yang berbeda. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) sedang berlangsung. Ruangan itu dipenuhi pria-pria bersetelan gelap yang saling berbisik, namun pusat perhatian tertuju pada kursi kosong di ujung meja—kursi milik mendiang Marwan Dizan.

Rini Susilowati duduk di sisi meja dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja memenangkan perang saudara. Selendang sutra hitamnya tidak lagi disampirkan di bahu, melainkan ia gunakan untuk menutupi mulut dan sebagian wajah bawahnya.

Secara lahiriah, ia tampak seperti seorang bibi yang sedang berduka sedalam lautan, menyembunyikan isak tangis di balik kain mahal. Namun, di balik lipatan sutra itu, otot-otot wajah Rini tertarik ke atas secara ekstrem. Ia sedang berjuang setengah mati untuk tidak meledakkan tawa histerisnya tepat di depan wajah para pemegang saham.

“Bodoh... mereka semua bodoh,” batin Rini bersorak.

Melalui selendangnya, ia menghirup aroma kemenangan. Skenario yang ia susun bersama Elias berjalan tanpa cela. Dengan absennya Nirmala secara misterius, Rini berhasil meyakinkan dewan bahwa Nirmala mengalami gangguan jiwa akibat trauma dan tidak cakap secara hukum untuk mewarisi hak suara mayoritas saat ini.

"Karena Nona Nirmala Dizan tidak hadir dan tidak dapat memberikan kuasa secara sah, maka sesuai pasal 14 anggaran dasar, hak kelola sementara jatuh kepada kerabat darah terdekat, yaitu Tuan Elias Dizan," ucap pimpinan rapat sambil mengetuk palu.

Tok! Tok! Tok!

Suara palu itu terdengar seperti musik surgawi di telinga Rini. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya bergetar. Orang-orang di sekitarnya mengira ia sedang menangis tersedu-sedu. Elias menyentuh punggung tangan istrinya, memberikan tatapan "kita berhasil".

Rini menundukkan kepala lebih dalam, menekan wajahnya ke dalam selendang sutra hingga kain itu basah oleh air mata—bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan yang meluap hingga ia merasa sesak napas. Ia telah mengunci pintu perusahaan untuk Januar Suteja. Pria itu kini hanyalah orang asing yang memegang cincin pertunangan tanpa nilai saham sedikit pun.

****

Kembali ke butik, Januar baru saja akan meninggalkan tempat itu ketika asisten pribadinya, Malkom, mendekat dengan langkah terburu-buru. Wajah Malkom tampak tegang, ia menyodorkan sebuah gawai yang menampilkan rekaman CCTV dari sebuah toko kelontong di dekat jembatan layang.

"Tuan, kami sudah melacak koordinat terakhir mobil Nona. Seseorang membawanya pergi dari lokasi jembatan," lapor Malkom dengan suara rendah.

Januar menyambar gawai itu. Di layar yang buram, ia melihat seorang pemuda tegap dengan jaket universitas sedang memapah Nirmala naik ke atas motor tua.

"Siapa dia?" tanya Januar, suaranya sedingin es di kutub.

"Namanya Aleandra Nurdin, Tuan. Biasa dipanggil Ale. Mahasiswa tingkat akhir jurusan Pendidikan Olahraga di Universitas Negeri. Dia tidak punya latar belakang kriminal, tapi dia dikenal sebagai aktivis kampus yang cukup vokal," Malkom menjelaskan dengan detail hasil pelacakan cepatnya. "Dia tinggal di sebuah rumah kos di pinggiran Jakarta Timur."

Januar menatap gambar Ale di layar dengan pandangan membunuh. Seorang mahasiswa? Seorang pemuda ingusan yang bahkan tidak mampu membeli ban cadangan mobilnya telah berani mencuri "milik" Januar Suteja?

"Jadi, seekor semut mencoba menyembunyikan gula dari sang raksasa?" Januar tersenyum sinis, sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada kemarahannya. "Dia tidak tahu siapa yang sedang dia hadapi."

Januar meremas gawai di tangannya hingga layarnya retak. "Siapkan orang-orang. Kita tidak akan menjemput Nirmala dengan bunga. Kita akan menjemputnya dengan cara yang akan membuat mahasiswa itu menyesal karena pernah lahir ke dunia ini."

****

Sementara itu, di sebuah kamar kos berukuran empat kali empat meter yang pengap, Nirmala duduk di tepi ranjang kayu yang keras. Ia telah mengganti gaun hitam mahalnya dengan kaos oblong kebesaran milik Ale yang berbau sabun cuci murah namun bersih.

Ale masuk membawa dua bungkus mie instan dan segelas teh hangat. Ia melihat Nirmala yang masih menatap kosong ke arah tembok yang catnya sudah mengelupas.

"Makan," ucap Ale singkat, meletakkan makanan itu di depan Nirmala. "Lo butuh tenaga kalau mau lawan mereka. Kalau lo cuma nangis dan nggak makan, lo cuma bakal jadi mayat cantik di sudut kamar gue."

Nirmala mendongak, menatap Ale dengan mata sembabnya. "Kenapa kamu berani melakukan ini? Kamu tahu siapa Januar? Kamu tahu siapa paman dan bibiku? Mereka bisa menghancurkan hidupmu dalam semalam, Ale."

Ale menarik sebuah kursi plastik dan duduk di depan Nirmala. Ia menatap wanita itu tanpa rasa takut sedikit pun. "Hidup gue udah hancur sejak lama, Nona. Gue tumbuh di jalanan sebelum dapet beasiswa atlet. Gue udah biasa berhadapan sama orang-orang yang ngerasa punya dunia cuma karena mereka punya duit banyak."

Ale mendekatkan wajahnya, suaranya terdengar serius. "Gue nggak nolong lo karena gue pengen jadi pahlawan. Gue nolong lo karena gue benci ngelihat orang kayak mereka menang. Sekarang pilihannya ada di lo: mau terus jadi putri yang ilang arah, atau mau gue ajarin cara bertahan hidup di dunia yang nggak punya belas kasihan?"

Nirmala terdiam. Di luar, suara guntur kembali menggelegar. Di gedung pencakar langit sana, para iblis sedang merayakan kemenangannya, namun di kamar sempit ini, sebuah api kecil mulai menyala di mata Nirmala Dizan.

****

Suasana di gang sempit daerah Jakarta Timur itu mendadak mencekam. Deru mesin mobil-mobil hitam mewah yang kontras dengan lingkungan kumuh tersebut memecah kesunyian malam. Januar Suteja turun dari mobilnya dengan langkah yang memancarkan kuasa dan kemarahan. Sepatu pantofelnya yang mengkilap menginjak genangan air kotor, namun ia tak peduli.

"Gedor setiap pintu! Cari mahasiswa bernama Ale itu!" perintah Januar dingin kepada enam orang pria berbadan tegap yang menyertainya.

Pintu kayu rapuh di ujung koridor kos digebrak hingga hancur. Januar melangkah masuk ke dalam kamar sempit milik Ale, namun ia hanya mendapati dua mangkuk mie instan yang masih mengepulkan uap tipis. Jendela di sudut ruangan terbuka lebar, membiarkan angin malam masuk membawa aroma hujan.

"Brengsek! Mereka baru saja pergi!" teriak Januar, urat lehernya menegang. "Kejar! Mereka tidak mungkin jauh dengan motor tua itu!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!