Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 – Bangkitnya Kekuatan yang Terkubur
Kekuatan yang tercipta dari sentuhan kristal itu segera menyelimuti gua dengan cahaya yang membutakan. Begitu terang, seakan seluruh dunia ikut terhisap ke dalamnya. Defit merasakan sebuah dorongan kuat yang mengalir melalui tubuhnya, seakan seluruh keberadaannya disatukan dalam satu titik energi yang tak terukur. Bahkan jantungnya berdegup lebih cepat, seakan setiap detak adalah ledakan yang semakin besar.
Maya terhuyung mundur, matanya terpejam, seakan mencoba menahan perasaan yang begitu kuat dan mengganggu. Namun, meskipun ia menutup matanya, ia bisa merasakan kehadiran sesuatu yang begitu besar di sekeliling mereka. Sebuah kekuatan yang menguasai, yang mulai meresap ke dalam setiap inci tubuh mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Maya dengan suara parau, hampir tak mampu menahan ketakutan yang mencengkeram jiwanya. "Kenapa ini terasa begitu begitu menakutkan?"
Defit terengah-engah, tubuhnya terasa panas seperti terbakar, namun di dalam rasa sakit itu, ada sesuatu yang lebih kuat sebuah kekuatan yang selama ini tersembunyi dalam dirinya. "Aku aku tidak tahu," jawabnya, suaranya berat, hampir tercekik. "Tapi ini ini berasal dari dalam diriku. Dari dalam darahku."
Wuras, yang sejak awal berdiri di belakang mereka, menatap dengan wajah yang penuh kekhawatiran. "Kekuatan itu… sudah mulai bangkit," katanya, suaranya penuh penyesalan. "Kalian sudah menyentuhnya, Defit. Kalian sudah membuka jalan yang tidak bisa ditutup lagi."
Defit menggigil, meskipun tubuhnya masih terhangat dengan energi yang mengalir. "Tapi aku tidak tahu aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Wuras!" serunya, suaranya dipenuhi kebingungan dan ketakutan. "Aku hanya hanya ingin berhenti!"
Wuras menggelengkan kepalanya, wajahnya penuh kesedihan. "Itu tidak bisa dihentikan, Defit. Kekuatan itu sudah ada dalam dirimu. Kalian berdua telah dipilih, dan sekarang kalian harus menghadapi konsekuensinya."
Sesuatu yang lebih besar mulai terbangun, dan Defit bisa merasakannya sesuatu yang seperti bayangan gelap yang merayap di balik cahaya yang menyilaukan. Ketakutan itu mulai merasuk, bukan hanya karena kekuatan yang mengalir dalam dirinya, tetapi juga karena apa yang akan terjadi jika kekuatan ini dilepaskan sepenuhnya. Bayangan itu, yang mengintai dari kedalaman sejarah, mulai mengungkapkan dirinya.
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari dalam kegelapan gua, memecah keheningan yang menekan. Suara itu mengalir begitu dalam, seakan berasal dari sebuah tempat yang sangat jauh. Suara itu berbisik, penuh ancaman dan penyesalan.
"Defit… Maya… kalian adalah kunci yang telah lama hilang. Kalian adalah penerus yang ditunggu. Kalian akan membawa kehancuran, atau kebangkitan. Pilihan kalian akan menentukan nasib dunia."
Defit merasakan tubuhnya semakin terikat, seakan suara itu berbicara langsung ke dalam jiwanya. Suara itu terasa begitu dekat, begitu akrab, seakan ia sudah mendengarnya sebelumnya, jauh di masa lalu. "Siapa siapa yang berbicara?" serunya, tubuhnya gemetar.
"Tidak ada yang bisa melarikan diri dari takdir," suara itu kembali terdengar, lebih dalam dan lebih mengerikan. "Kekuatan kalian tidak akan bisa dikendalikan. Kalian akan menjadi perantara bagi kehancuran, atau kalian akan menjadi penyelamat yang sejati."
Maya, yang sejak awal terdiam, akhirnya berbicara dengan suara yang penuh dengan kecemasan. "Apa yang kita harus lakukan, Defit? Kita tidak bisa melawan semua ini. Ini terlalu besar, terlalu kuat."
Defit menggigit bibirnya, merasakan segala emosi yang bercampur dalam dirinya. Ketakutan, kebingungan, dan rasa tak berdaya semuanya bercampur aduk, membentuk gelombang yang tak bisa dihentikan. Namun, di tengah-tengah kekacauan itu, ada satu hal yang lebih kuat dari segalanya: cinta yang ia miliki untuk Maya, dan tekad untuk melindunginya, apapun yang terjadi.
"Kita harus menghadapi ini bersama, Maya," kata Defit, suaranya lebih tenang dari yang ia rasakan. "Kita sudah sampai sejauh ini. Kita tidak bisa mundur sekarang. Kita harus memilih, dan apa pun yang terjadi, kita harus tetap melangkah."
Maya menatapnya, matanya penuh dengan air mata yang tak bisa ia tahan lagi. "Defit, aku takut. Aku takut kita tidak bisa mengendalikan semua ini. Aku takut kita akan kehilangan segalanya."
"Jika kita kehilangan segalanya," jawab Defit dengan suara penuh keyakinan, "maka kita akan melawan. Kita tidak akan membiarkan kekuatan ini menguasai kita. Kita akan melawan sampai akhir."
Maya mengangguk perlahan, meskipun air mata masih mengalir di pipinya. "Aku akan bersamamu, Defit. Selama kita bersama, aku akan bertahan."
Wuras, yang mendengar kata-kata mereka, akhirnya mengangkat kepalanya, matanya penuh dengan kesedihan. "Kalian sudah memilih, bukan?" katanya pelan. "Keputusan kalian sudah membuatnya tidak bisa ditarik kembali. Sekarang, kekuatan itu akan menguji kalian. Jangan biarkan dunia ini jatuh ke dalam kegelapan."
Dengan sebuah langkah tegas, Defit mengarahkan tangannya ke arah kristal yang bersinar di atas altar. Begitu ia menyentuhnya, seluruh gua bergetar hebat, dan cahaya yang begitu terang menyelimuti tubuhnya dan Maya. Sebuah energi besar mulai mengalir, lebih kuat dari yang pernah mereka rasakan. Mereka merasakan seakan seluruh dunia terhubung dengan mereka energi itu bukan hanya kekuatan, tetapi juga penderitaan, harapan, dan penyesalan yang telah terpendam selama berabad-abad.
Kekuatan yang ada dalam diri mereka mulai terlepas. Defit bisa merasakannya sesuatu yang begitu besar, sesuatu yang lebih kuat dari dirinya sendiri, yang kini mengalir melalui tubuhnya. Namun, meskipun kekuatan itu begitu menakutkan, ia juga merasakan sebuah harapan yang tak bisa dihentikan. Mereka memiliki pilihan dan pilihan itu ada di tangan mereka.
"Apapun yang terjadi," kata Defit, suara penuh tekad, "kita akan menghadapinya. Kita akan menghentikan kegelapan ini. Kita akan menjadi cahaya."
Dan dengan itu, mereka melangkah ke dalam kegelapan yang semakin dalam, menuju takdir yang tak bisa mereka hindari, siap untuk menghadapi apa pun yang menanti di depan mereka.
terus menarik ceritanya 👍