NovelToon NovelToon
CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Misteri
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.

Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.

Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.

Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?

Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?

Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan yang Berat

Malam itu Safira tidak tidur. Bukan karena dia tidak butuh tidur seperti biasanya. Tapi karena otaknya tidak bisa berhenti berpikir.

Tiga bulan.

Arga hanya punya waktu tiga bulan lagi kalau dia tetap bersama Safira.

Tiga bulan.

Sembilan puluh hari.

Lalu Arga akan mati.

Dan itu karena dia. Karena Safira yang egois. Karena Safira yang tidak mau sendiri lagi.

Safira duduk di tepi ranjang, menatap Arga yang tertidur dengan wajah yang sangat pucat. Napasnya pelan, dada naik turun dengan susah payah. Bahkan untuk bernapas pun Arga terlihat kelelahan.

Air mata Safira jatuh lagi. Sudah berapa kali dia menangis malam ini? Sepuluh kali? Dua puluh kali? Dia sudah tidak tahu lagi. Yang dia tahu, air matanya seperti tidak pernah habis.

"Arga..." bisiknya sambil mengusap rambut Arga yang sudah mulai rontok di beberapa bagian. "Aku... aku harus bagaimana?"

Arga tidak menjawab. Tidur dengan wajah yang terlihat tidak nyaman. Kadang dahinya berkerut, kadang napasnya tersengal. Bahkan dalam tidur pun dia terlihat menderita.

Dan itu semua karena Safira.

"Maafkan aku..." Safira menunduk, tangannya yang dingin menggenggam tangan Arga yang juga dingin sekarang. Dulu tangan Arga hangat. Tapi sekarang sama dinginnya dengan tangan Safira. Pertanda buruk. "Maafkan aku yang egois. Maafkan aku yang tidak mau melepasmu walau itu membunuhmu."

Safira berdiri pelan, berjalan keluar kamar dengan langkah gontai. Kakinya terasa berat. Seluruh tubuhnya terasa berat.

Dia keluar rumah, berjalan ke taman belakang. Tempat dia pertama kali bertemu Arga enam bulan lalu. Tempat yang penuh kenangan.

Bulan purnama bersinar terang malam ini. Cahayanya menerangi taman dengan sinar keperakan yang indah tapi menyedihkan.

Safira duduk di ayunan taman yang sudah berkarat. Ayunan yang dulu sering dia pakai saat masih hidup bersama Arjuna lima puluh tahun lalu.

Lima puluh tahun.

Lama sekali.

Tapi kenangan tentang Arjuna sudah memudar. Sudah digantikan oleh kenangan tentang Arga. Arga yang tersenyum. Arga yang tertawa. Arga yang memeluknya dengan hangat walau tubuh Safira dingin.

"Ya Allah..." Safira berbisik sambil menatap bulan. "Hamba mohon petunjuk. Hamba benar-benar bingung. Hamba tidak tahu harus bagaimana lagi."

Angin bertiup pelan. Dingin. Membawa aroma bunga melati yang tumbuh liar di sudut taman.

Lalu Safira merasakan sesuatu.

Kehadiran.

Ada seseorang di belakangnya.

Safira berbalik dengan cepat. Dan dia melihat sosok wanita tua berjilbab putih berdiri di bawah pohon mangga besar. Wajahnya penuh kerutan, matanya sayu tapi tatapannya tajam dan bijak.

"Nenek Aminah..." bisik Safira dengan suara gemetar.

Wanita tua itu tersenyum lembut. Dia melangkah maju dengan tongkat kayu di tangannya. Setiap langkahnya pelan tapi penuh wibawa.

"Sudah lama kita tidak bertemu, Safira," kata Nenek Aminah dengan suara yang lembut tapi terdengar bergema. "Terakhir kali aku melihatmu, kamu masih bersama Arjuna. Sebelum kebakaran itu."

Safira bangkit dari ayunan, berlutut di depan Nenek Aminah dengan hormat. "Nenek... nenek datang."

"Aku merasakan kesedihanmu dari jauh," Nenek Aminah mengusap kepala Safira dengan lembut. "Kesedihan yang sangat dalam. Kesedihan yang membuat langit ikut menangis."

"Nenek..." Safira menangis di kaki Nenek Aminah. "Hamba... hamba tidak tahu harus bagaimana lagi. Hamba mencintai manusia. Dan cinta itu membunuhnya perlahan. Hamba... hamba tidak mau dia mati. Tapi hamba juga tidak sanggup melepasnya."

Nenek Aminah menghela napas panjang. Dia duduk di ayunan yang tadi Safira duduki, menepuk-nepuk tempat duduk di sampingnya. "Duduk, nak. Ceritakan pada nenek."

Safira duduk di samping Nenek Aminah. Dan dia menceritakan semuanya. Tentang Arga yang patah hati. Tentang pertemuan mereka. Tentang jatuh cinta. Tentang pernikahan. Tentang kebahagiaan yang singkat. Dan tentang penyakit Arga yang semakin parah.

Nenek Aminah mendengarkan dengan seksama. Tidak memotong. Hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

Setelah Safira selesai cerita, Nenek Aminah terdiam cukup lama. Matanya menatap bulan dengan tatapan yang sangat dalam.

"Kamu tahu, nak," katanya akhirnya. "Aku pernah juga jatuh cinta pada manusia. Seratus tahun yang lalu. Tapi aku tidak berani menikah dengannya. Karena aku tahu konsekuensinya. Dan aku... aku melepaskannya. Membiarkan dia hidup bahagia dengan wanita manusia lain."

Safira menatap Nenek Aminah dengan mata berkaca-kaca. "Nenek... nenek menyesal?"

Nenek Aminah tersenyum sedih. "Setiap hari. Sampai sekarang. Tapi setidaknya dia hidup panjang. Punya anak. Punya cucu. Bahagia. Dan itu... itu cukup membuatku tenang walau hatiku hancur."

"Tapi hamba tidak sekuat nenek," Safira menangis. "Hamba sudah menikahi dia. Hamba sudah merasakan bahagia bersamanya. Bagaimana hamba bisa melepasnya sekarang?"

"Kamu harus," jawab Nenek Aminah dengan tegas tapi lembut. "Kalau kamu benar-benar mencintai dia. Lepaskan dia. Biarkan dia hidup."

"Tapi... tapi hamba tidak sanggup hidup tanpa dia, Nenek. Lima puluh tahun hamba sendiri sudah membuat hamba gila. Kalau hamba harus sendiri lagi..."

"Makanya ada pilihan lain," Nenek Aminah memotong pelan.

Safira mengangkat wajahnya yang basah. "Pilihan lain?"

Nenek Aminah menatap Safira dengan tatapan yang sangat serius. "Kamu bisa menjadi manusia."

Jantung Safira berhenti sedetik. "Me... menjadi manusia? Bagaimana caranya?"

"Ada satu cara," Nenek Aminah berdiri, berbalik menatap Safira. "Tapi sangat sulit. Sangat menyakitkan. Dan tidak ada jaminan berhasil."

"Hamba... hamba mau tahu, Nenek. Apapun caranya."

Nenek Aminah menghela napas panjang. "Kamu harus melepaskan semua kekuatanmu. Semua ingatan tentang kehidupan lamamu. Semua yang membuatmu menjadi jin. Dan... dan kamu harus dilahirkan kembali sebagai bayi manusia."

Safira membeku. "Dilahirkan... kembali?"

"Ya," Nenek Aminah mengangguk. "Prosesnya seperti reinkarnasi. Tapi bukan reinkarnasi biasa. Ini transformasi total. Jiwa jin-mu akan dihancurkan. Dan jiwa manusia baru akan diciptakan dari puing-puing jiwa lamamu. Kamu akan menjadi manusia sepenuhnya. Dengan tubuh manusia. Dengan kehidupan manusia yang baru."

"Tapi..." Safira merasakan dadanya sesak. "Tapi kalau hamba dilahirkan kembali sebagai bayi... berarti hamba akan kehilangan semua ingatan tentang Arga?"

"Ya," jawab Nenek Aminah dengan wajah sedih. "Kamu tidak akan ingat siapa dia. Tidak akan ingat cinta kalian. Tidak akan ingat apapun. Kamu akan jadi manusia baru. Dengan kehidupan baru. Tanpa ikatan dengan masa lalu."

"Dan... dan Arga?" Safira bertanya dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Apa... apa hamba akan bertemu dia lagi?"

Nenek Aminah menggeleng pelan. "Tidak ada jaminan. Mungkin ya. Mungkin tidak. Kamu akan lahir sebagai bayi. Butuh bertahun-tahun untuk tumbuh dewasa. Dan saat kamu dewasa, Arga mungkin sudah menikah dengan wanita lain. Mungkin sudah punya anak. Mungkin sudah melupakan kamu."

Safira jatuh terduduk di tanah. Tangannya mencengkram dada yang terasa sangat sakit. "Berarti... berarti hamba harus merelakan dia? Merelakan dia hidup tanpa hamba? Bahkan mungkin dia akan mencintai wanita lain?"

"Ya," Nenek Aminah menjawab dengan nada yang sangat lembut. "Itu konsekuensinya. Tapi setidaknya dia akan hidup. Sehat. Bahagia. Tanpa tersiksa karena ikatanmu."

Safira menangis dengan sangat keras. Seluruh tubuhnya gemetar. "Kenapa, Nenek? Kenapa harus begini? Kenapa cinta hamba dan Arga harus dibayar dengan harga yang sangat mahal?"

"Karena kalian dari dua alam yang berbeda, nak," Nenek Aminah berlutut di samping Safira, memeluknya dengan lembut. "Alam semesta punya aturannya sendiri. Dan cinta antara jin dan manusia... sayangnya melanggar aturan itu."

"Tapi hamba mencintainya, Nenek..." Safira menangis di pelukan Nenek Aminah. "Hamba sangat mencintainya. Lebih dari apapun."

"Aku tahu, nak. Aku tahu."

Mereka berdiam diri cukup lama. Safira menangis di pelukan Nenek Aminah. Sementara wanita tua itu hanya mengusap punggung Safira dengan lembut, membiarkan gadis itu melepaskan semua kesedihannya.

Lalu setelah tangisan Safira mereda, Nenek Aminah melepaskan pelukan. Menatap wajah Safira yang hancur.

"Jadi... apa keputusanmu, nak?"

Safira mengusap air matanya dengan punggung tangan. Napasnya masih tersenggal karena menangis terlalu keras. Matanya menatap rumah di kejauhan. Rumah tempat Arga tidur. Rumah yang penuh kenangan mereka.

"Kalau... kalau hamba pilih jadi manusia," kata Safira dengan suara yang gemetar. "Arga akan... akan sembuh?"

"Ya," jawab Nenek Aminah. "Ikatan kalian akan putus secara otomatis saat kamu berubah jadi manusia. Energi hidupnya tidak akan tersedot lagi. Dia akan sembuh perlahan."

"Dan... dan dia akan melupakan hamba?"

"Mungkin," Nenek Aminah menjawab jujur. "Atau mungkin tidak. Tapi setidaknya dia bisa hidup normal lagi. Menikah lagi. Punya keluarga."

Safira merasakan dadanya seperti dirobek mendengar itu. Membayangkan Arga menikah dengan wanita lain. Bahagia dengan wanita lain. Melupakan Safira.

Tapi... tapi setidaknya Arga hidup.

Setidaknya Arga sehat.

Setidaknya Arga tidak mati karena Safira.

Dan itu... itu sudah cukup.

Safira menarik napas dalam. Mengusap air matanya yang tidak berhenti mengalir. Lalu dia menatap Nenek Aminah dengan tatapan yang penuh tekad walau hancur.

"Hamba... hamba rela, Nenek."

Nenek Aminah tersentak. "Kamu yakin, nak?"

"Ya," Safira mengangguk sambil menangis. "Asal Arga bisa hidup bahagia. Asal... asal dia tidak mati karenaku. Hamba rela kehilangan semua ingatan. Hamba rela dilahirkan kembali. Hamba rela... hamba rela tidak pernah bertemu dia lagi."

Suara Safira pecah di akhir kalimat. Tangisannya meledak lagi, lebih keras dari sebelumnya.

Nenek Aminah memeluk Safira dengan erat. "Kamu... kamu sangat berani, nak. Atau sangat bodoh. Atau mungkin keduanya."

"Hamba cuma... hamba cuma mencintainya, Nenek," Safira menangis di bahu Nenek Aminah. "Dan karena cinta itu, hamba harus melepasnya. Walau... walau itu membunuh hamba."

Nenek Aminah menangis juga mendengar itu. Air matanya jatuh membasahi jilbab putihnya. "Nak... kamu tahu ini tidak bisa dibatalkan, kan? Kalau kamu sudah memutuskan, tidak ada jalan kembali."

"Hamba tahu," jawab Safira dengan suara yang sangat pelan. "Dan hamba sudah memutuskan. Kapan... kapan prosesnya bisa dimulai?"

Nenek Aminah melepaskan pelukan, menatap Safira dengan tatapan yang sangat sedih. "Kapan pun kamu siap. Tapi... tapi aku sarankan kamu pamit dulu pada Arga. Walau dia tidak akan tahu. Setidaknya kamu bisa bilang selamat tinggal."

Safira mengangguk sambil menangis. "Hamba... hamba akan pamit malam ini. Sebelum hamba tidak punya keberanian lagi."

"Baiklah," Nenek Aminah berdiri, membawa tongkatnya. "Aku akan tunggu kamu di sini. Besok malam. Saat bulan purnama sempurna. Itu waktu terbaik untuk transformasi."

"Besok malam..." Safira mengulangi dengan suara yang sangat pelan. "Berarti... berarti hamba hanya punya satu hari lagi bersama Arga."

"Ya," Nenek Aminah mengusap kepala Safira untuk terakhir kali. "Gunakan waktu itu sebaik mungkin, nak. Karena setelah itu... kamu tidak akan ingat apapun."

Nenek Aminah berjalan menjauh. Tubuhnya perlahan memudar, menyatu dengan bayangan malam. Meninggalkan Safira sendirian di taman itu.

Safira jatuh terduduk lagi. Memeluk lututnya sendiri. Menangis dengan sangat keras sampai tidak ada suara lagi yang keluar. Hanya isak yang pecah, air mata yang mengalir tanpa henti.

"Maafkan hamba, Arga..." bisiknya pada angin malam. "Maafkan hamba yang harus meninggalkanmu. Tapi... tapi ini satu-satunya cara agar kamu bisa hidup. Dan hamba... hamba rela kehilangan segalanya asal kamu sehat."

Safira menatap bulan yang bersinar terang. Bulan yang menyaksikan cinta mereka dari awal. Bulan yang sekarang akan menyaksikan perpisahan mereka.

"Satu hari lagi," gumamnya sambil menangis. "Hamba hanya punya satu hari lagi bersamamu. Satu hari lagi untuk mengingat senyummu. Suaramu. Pelukanmu. Sebelum... sebelum hamba melupakan semuanya."

Dan malam itu, Safira menangis sampai fajar menyingsing.

Menangis untuk cinta yang harus dia korbankan.

Menangis untuk kebahagiaan yang harus dia lepaskan.

Menangis untuk Arga yang sangat dia cintai.

Tapi harus dia tinggalkan.

Selamanya.

1
Cimol krispy
wah mereka bisa sentuhan dong. bahkan pelukan
Cimol krispy
50 th berarti sejak sebelum nenek Sarinah tinggal di sana sudah ada kejadian itu ya.
Cimol krispy
Arga... ayo move on bareng mbak Kun
Leoruna: ngeri2 sedep klo Arga bisa berpaling sama mbak kun🤣
total 1 replies
Cimol krispy
Serem banget astaga. ini si Arga beneran bisa cepet move on sih kataku, dunianya langsung teralihkan sama mbak-mbak Kunti😅
Cimol krispy: iya lagi, ih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!