NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / Psikopat itu cintaku / Mafia / Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 3

Langkah kakiku terasa berat saat menyusuri lobi mewah menuju pintu keluar. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya luruh juga. Setiap gesekan gaun yang pria itu berikan di kulitku terasa seperti duri yang mengingatkanku pada kejatuhanku semalam.

Tepat di ambang pintu keluar, dua pria berjas hitam dengan tubuh tegap menghadang jalanku.

"Sial, apa lagi ini?" desisku kasar.

Emosiku meledak. Tanpa pikir panjang, kusambar Glock yang tadi sempat kurebut dari meja Brad sebelum aku keluar. "Minggir, atau kuhancurkan kepala kalian sekarang juga!" teriakku.

Mereka tak bergeming, tetap berdiri kokoh seperti tembok beton karena tak ada perintah dari tuan mereka. Amarahku mencapai puncak. Aku menarik pelatuk, dan—

DOOORR!

Sebuah guci porselen mahal di sudut ruangan hancur berhamburan.

Suara langkah kaki yang tenang terdengar dari arah tangga spiral. Bradley muncul di sana, menatap puing-puing gucinya dengan ekspresi datar yang menyebalkan.

"Biarkan dia pergi," perintahnya pada patung bernapas di hadapanku. Aku tidak menunggu sedetik pun untuk lari dari sana. Aku harus pergi sebelum aroma pria itu benar-benar menelan kewarasanku.

Ini adalah hari ketiga aku di London. Aku datang dengan membawa lencana dan mandat negara. Target kami adalah The Obsidian Syndicate yang dipimpin oleh Bradley Brown.

Sudah lebih dari lima tahun pria itu menjadi incaran utama CIA, namun ia selalu berhasil lolos. Bradley bukan sekadar mafia, ia adalah hantu. Catatan kotornya mencakup segalanya, mulai dari perdagangan senjata ilegal hingga menjadi mesin pencuci uang kotor bagi para petinggi militer.

Aku bergerak di bawah komando gabungan CIA-MI6 di London Station. Awalnya, aku merasa tugas ini adalah kehormatan besar, sebuah batu loncatan untuk karierku di Langley. Namun, aku salah. Aku tidak sedang memburu hantu, aku justru menyerahkan diriku pada sang predator.

Sekarang, setelah malam terkutuk itu, mampukah aku menatap cermin tanpa melihat seorang pengkhianat? Bradley tidak hanya merampas tubuhku, ia merampas kehormatanku sebagai agen negara.

***

Aku melangkah masuk ke kantor pagi ini dengan topeng yang paling sempurna. Gaun merah marun dari Bradley sudah kuganti dengan pakaian dinas yang kaku dan rapi, namun hatiku tidak sedisiplin penampilanku.

Semua mata menatapku. Aku menyapa mereka dengan senyum yang kurajut sebisanya. Aku duduk di mejaku, menyalakan laptop yang langsung menampilkan profil Bradley Brown. Wajah pria itu menatapku dari layar, seolah mengejekku.

Aku tak bisa fokus. Setiap kali melihat garis rahangnya di foto itu, aku teringat bagaimana kulitnya terasa di kulitku semalam.

Tok, tok, tok…

Pintu ruanganku diketuk. Aku menoleh dan mendapati Sean Miller berdiri di sana. Sean adalah atasan sekaligus tunanganku yang sudah bertugas lebih dulu di London Station. Pria yang mencintaiku dengan cara yang begitu tulus hingga membuatku merasa mual karena pengkhianatanku semalam.

"Megan… Kami mencarimu semalam setelah operasi penggeledahan markas Brown, tapi kau menghilang tanpa jejak," suara Sean lembut, penuh kecemasan.

"Aku langsung pulang ke apartemen. Maaf, aku terlalu lelah untuk ikut meeting evaluasi," dustaku, bibirku bergetar membentuk senyum palsu.

"Aku sangat mengkhawatirkanmu, Meg," kata Sean, melangkah mendekat. Tatapan matanya begitu hangat, tatapan yang dulu selalu menjadi sandaran bagiku. Namun sekarang, saat Sean meraih tanganku, aku secara refleks menariknya kembali. Rasa asing yang dingin menyusup ke jantungku.

"Kamu kenapa, Meg?" Sean mengerutkan kening, tangannya menggantung di udara.

"Aku baik-baik saja, Sean. Jangan khawatir," jawabku cepat, mencoba mengatur napas.

"Aku hanya merasa kurang enak badan. Mungkin kelelahan."

"Kamu sakit? Wajahmu pucat sekali," Sean mencoba menyentuh dahiku, tapi aku kembali menghindar dengan alasan merapikan berkas.

"Aku hanya butuh menyesuaikan diri dengan udara London yang sedang bersalju , Sean. Aku butuh waktu sendiri."

Sean terdiam sebentar, menatapku dengan sorot mata yang terluka, namun ia tetap bersikap sebagai kekasih yang pengertian. "Istirahatlah jika kau lelah. Aku akan menjemputmu untuk makan malam nanti."

Aku hanya mengangguk tanpa menatap matanya. Begitu Sean keluar, aku jatuh terduduk di kursi. Aku mencintai Sean, atau setidaknya aku pikir begitu. Tapi kenapa setelah semalam, kehadiran pria sebaik Sean justru terasa seperti ancaman yang ingin melenyapkanku?

****

Malam itu, London diselimuti salju yang turun perlahan, menghias jalanan dengan warna putih yang dingin. Sesuai janjinya, Sean datang menjemput Megan. Meski Megan ingin sekali meringkuk di bawah selimut untuk menghapus sisa trauma, tapi ia tak bisa menolak saat melihat wajah Sean yang penuh harap.

Sean adalah pria yang terlalu baik untuk disakiti, dan Megan tidak ingin kecurigaan muncul lebih awal. Megan mengenakan mantel wol tebal dan melilitkan syal di lehernya, berusaha menutupi hawa dingin dan mungkin, menutupi rasa malu yang masih membekas.

Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah restoran mewah di pusat kota. Cahaya lilin dan denting dawai harpa seharusnya menciptakan suasana romantis, namun bagi Megan, atmosfer itu justru terasa mencekik.

Dengan penuh perhatian, Sean memotong daging di piringnya dan berniat menyuapi Megan. "Ayo, Meg. Kau harus makan sedikit."

Megan memalingkan wajahnya, menolak suapan itu. "Maaf, Sean. Aku benar-benar tidak nafsu makan."

Sean meletakkan garpunya, matanya menatap Megan dengan cemas. "Meg, kau kenapa? Kau tampak aneh seharian ini. Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?"

"Aku hanya... sedikit pusing. Mungkin kurang tidur," Megan beralasan, berusaha menghindari kontak mata.

"Setelah ini kita ke dokter, ya? Aku takut terjadi sesuatu padamu. Ayahmu menitipkanmu padaku, Meg. Aku tidak akan memaafkan diriku jika kau sakit," ucap Sean tulus.

Megan baru akan menyesap minumannya saat ponsel di atas meja bergetar. Sebuah pesan singkat muncul di layar.

“Selamat malam, Agen Ford. Kebetulan macam apa ini? Kita sedang berada di tempat yang sama.”

Megan tersedak. Cairan hangat itu seolah membeku di tenggorokannya. Ia segera menyapu pandangan ke setiap sudut ruangan, mencari sosok pengirim pesan itu. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging.

Matanya berhenti di sebuah meja pojok dekat jendela. Di sana, Bradley Brown duduk dengan tenang. Ia mengenakan overcoat hitam yang elegan dengan kacamata berbingkai tipis yang bertengger di hidungnya, membuatnya tampak seperti pengusaha sukses buka seorang pemimpin mafia.

Sial. Tahu dari mana dia nomor ponselku? batin Megan geram.

Seolah bisa membaca pikiran Megan, ponsel itu menyala lagi.

“Jangan heran jika aku tahu nomor ponselmu. Aku bahkan tahu warna pakaian dalam yang kau kenakan saat ini.”

Darah Megan mendidih. Ia menoleh lagi ke arah meja pojok dan seketika membeku. Bradley sedang memegang sesuatu berwarna merah marun yang sangat ia kenali, itu adalah pakaian dalam miliknya yang tertinggal semalam. Ia menghirupnya dalam-dalam dengan mata terpejam, seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.

“Bangsat kau, Brad!” balas Megan dengan jari gemetar.

"Sayang? Kamu kenapa?" Suara Sean menyentak Megan kembali ke realitas. Megan tersadar ia sedang bersama tunangannya, bukan dengan sang predator.

"Um... aku..."

"Kau pucat sekali, Meg," potong Sean, tangannya meraih kening Megan.

"Ya... sepertinya aku benar-benar butuh ke toilet sebentar," tanpa menunggu jawaban, Megan bangkit dan berjalan tergesa menuju toilet restoran.

Megan masuk ke lorong toilet yang sepi, namun ia menyadari langkah kaki berat mengikutinya. Sebelum ia sempat mengunci pintu bilik, sebuah tangan kekar merengkuh pinggangnya dan menyeretnya masuk ke dalam bilik yang lebih luas.

"Apa yang kau lakukan, brengsek!" Megan memberontak, namun Bradley sudah menguncinya di dinding bilik.

"Ini tempat umum, Meg. Aku bisa datang ke sini sesukaku," bisik Brad, suaranya parau dan menggoda.

"Lepaskan aku! Sean ada di depan!"

"Suka atau tidak, kau milikku, Meg. Dan lencana di luar sana tidak punya hak atas dirimu," Brad mengklaim Megan dengan tatapan posesif yang tak ingin di bantah.

Megan terkekeh sinis, "Jangan mimpi, kau pria bangsat."

Tanpa aba-aba, Bradley membungkam makian Megan dengan ciuman kasar. Megan mencoba melawan, namun tubuhnya justru memberikan reaksi lain. Ia memejamkan mata, ciuman yang semula kasar itu kini menjadi lembut seiring dengan Megan yang tidak memberontak, Megan membiarkan oksigennya dirampas oleh pria yang seharusnya ia benci.

Saat Brad merasa Megan sudah kehabisan napas, barulah ia melepaskan tautan bibir mereka. "Kau tidak bisa menolakku, Meg. Tubuhmu bicara lebih jujur daripada mulutmu," bisik Brad sombong.

DOR! DOR! DOR!

"Meg? Kau di dalam? Kau baik-baik saja?"

Suara Sean terdengar keras menggedor pintu toilet luar. Megan tersentak, matanya membelalak panik. Bradley hendak membuka suara, namun dengan cepat Megan membungkam mulut pria itu dengan telapak tangannya. Matanya memberi isyarat memohon sekaligus mengancam. Jika kau bicara, kita berdua mati.

"Meg..." sekali lagi suara Sean terdengar, kali ini lebih cemas.

"Ya! Aku baik-baik saja, Sean! Tunggu sebentar, perutku sedikit bermasalah!" teriak Megan seserak mungkin agar terdengar seperti orang sakit.

Di bawah telapak tangan Megan, Bradley justru menjilat telapak tangan wanita itu, menatap Megan dengan kilat mata nakal yang seolah berkata 'Permainan baru saja dimulai, Nona Ford.'

1
Senja
eh kali ini bener kata Bradley
Senja
sekarang aja udah stress mala jadi ibu dari anak2, katanya 😔 bener kata Matthew& Clara, emang gila Bradley 😭
Senja
Aduh😭😭😭😭
Bintang Kejora
wah gila sih Arthur Ford... beneran megan menyelamatkam kehormatan ayahnya dengan memgorbankan dirinya
😔
Bintang Kejora
kayak nonton film action hollywood 🤭
Bintang Kejora
Tuh kan bener jadi begini kan? Bradley ga tau megan mempertaruhkan nyawanya demi mencari jawaban tapi bradley tetap ga mau kasih tahu. teka teki banget sih thor
Bintang Kejora
Nekat amat Megan. memilih nyelamitin bradley dari pada Bayinya 😪
Senja
Astaga... Megan benar2 benci sama Bradley sampe2 dia ga mikirin nyawanya sendiri. lebih baik mati 😭
Senja
Apalah Bradley selalu punya cara buat ngikat Megan...😔
Senja
ya ampun ini dari drama ngidam mangga muda sampe ngidam rawon... rawon go international 🤭😄 Anaknya Brad emang agak lain..
Senja
😄😄😄 Hantu London takluk sama mangga muda...
Senja
Ayo kesempatan kabur Megan 😄
Senja
Jadi gadis yang ada di bayangan Bradley itu, Alice kah? Tadi Alice nangis juga di rumah Arthur... benangnya kusut banget. Aku beneran ga bisa nebak. 🤭
Mawar Berduri
kamu itu sebenarnya siapa nya Megan sih Brad? kadang kalem kadang garang🤔🤔
Mawar Berduri
Megan mati❎
Megan hamil ✅
🤭🤭
Bintang Kejora
Ihh Bradley ini siapa sih? misterius banget. kamu kenal megan?
SarSari_
baca juga ceritaku ya kak, suamiku ternyata janji masa kecilku.🙏
Mawar Berduri
Wah ada apa dengan Bradley? kenapa mendadak berubah setelah mendengar cerita Megan?
Senja
Alpha Male si Bradley, bagus aku suka novel dengan genre mafia psikopat. Semoga ke depan lebih menantang.
Mawar Berduri
Bagus untuk openingnya, melibatkan Agen dan Mafia. Lanjut author untuk aksi menegangkan di next chapter. Semangat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!