Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Dua Nafas
ICU ruang anak RS Premier terasa seperti kapal selam yang tenggelam dalam keheningan yang dipenuhi bunyi. Bunyi monitor jantung yang stabil namun mengancam: bip... bip... bip.... Bunyi pompa infus yang mendesis pelan.
Bunyi napas Luna yang dangkal dan tersengal melalui selang oksigen yang menempel di hidung kecilnya. Cahaya lampu neon di langit-langit memberi warna abu-abu kebiruan pada segala sesuatu, menciptakan ilusi waktu yang membeku.
Luna terbaring tak berdaya di atas kasur rumah sakit yang terlalu besar untuk tubuhnya yang kurus. Tangannya yang biasa melukis dengan ceria, kini terpasang jalur infus di punggung tangan, memar keunguan di sekitarnya. Wajahnya yang biasanya cerah, kini pucat dan sedikit bengkak karena efek steroid dosis tinggi.
Matanya tertutup rapat, bulu matanya yang panjang bergetar pelan dalam mimpi yang mungkin penuh dengan monster-monster yang tak terlihat.
Di samping kanan tempat tidur, di kursi plastik keras, duduk Amara. Dia masih mengenakan jeans dan kaus abu-abu yang berbau keringat dan rasa takut sejak tiga hari lalu, ketika Luna pertama kali mengeluh sesak dan demam tinggi yang tak kunjung turun.
Rambutnya diikat sangat kencang, membuat kulit kepalanya terasa sakit, tetapi rasa sakit itu adalah pengingat bahwa dia masih bisa merasakan sesuatu selain mati rasa yang menggerogoti.
Matanya merah, bengkak, tetapi kering sekarang. Air matanya telah habis terkuras dalam 72 jam pertama, menyisakan ruang hampa yang diisi oleh rasa bersalah yang pekat dan tajam seperti besi berkarat.
Di sebelah kiri, duduk Rafa. Dia memakai kaus polo lusuh dan celana cargo, terlihat sepuluh tahun lebih tua. Jenggotnya tak tercukur, lingkaran hitam di bawah matanya begitu dalam.
Tangannya yang besar memegang tangan Luna yang sebelah bebas infus, mengusap-usap kulitnya yang dingin dengan ibu jarinya, sebuah gerakan monoton yang seperti doa atau mantra untuk menenangkan dirinya sendiri.
Tatapannya kosong, tertuju pada garis-garis monitor yang melompat-lompat, mencoba memahami setiap angka sebagai tanda bahwa putrinya masih berjuang.
Mereka telah berjaga bergantian, tetapi malam ini, tanpa disepakati, mereka tetap berada di sana bersama-sama. Kata-kata tak perlu lagi. Hanya ada keheningan yang berat, dipenuhi oleh segala hal yang tidak terucap selama bertahun-tahun.
Seorang perawat masuk dengan langkah sunyi, memeriksa tanda-tanda vital Luna, mencatat sesuatu di chart, lalu memberi mereka pandangan penuh simpati sebelum pergi. Bunyi pintu yang tertutup kembali meninggalkan mereka dalam ruang kedap suara milik mereka bertiga.
Tiba-tiba, monitor berbunyi sedikit berbeda. Kedua orang tua itu langsung tegang, tubuh mereka condong ke depan. Itu hanya alarm kecil karena Luna bergerak sedikit. Nafas mereka yang tertahan keluar bersama-sama.
"Rafa," suara Amara pecah, mengisi keheningan. Suaranya serak, seolah tidak digunakan selama berhari-hari. "Dokter Spesialis Ginjal tadi... dia bilang apa persisnya?"
Rafa menghela napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kata-kata itu.
"Dia bilang... lupusnya sudah menyerang ginjal. Nefritis lupus. Ini yang menyebabkan tekanan darahnya tinggi dan pembengkakan.
Obat-obatan yang sekarang... mereka coba tekan serangannya. Tapi jika tidak bisa dikontrol, atau jika kerusakannya sudah parah..." Dia tercekat.
"Transplantasi," Amara menyelesaikan kalimat itu, kata itu keluar seperti desahan angin dari kuburan. "Dia bilang mungkin butuh transplantasi ginjal di masa depan."
"Ya." Rafa menunduk, dahinya menyentuh tangan Luna yang dingin. "Masa depan... yang mungkin tidak terlalu jauh."
Diam lagi. Bip... bip... bip...
"Semua ini..." Amara memulai, suaranya bergetar. "Apakah ini... hukuman?"
Rafa mengangkat kepala, matanya bertanya.
"Karena kita gagal," Amara melanjutkan, matanya tak berkedip menatap wajah Luna.
"Karena kita merusak rumah kita. Karena kita memberi Luna stres, gen yang buruk dari kita berdua, lingkungan yang... retak. Apa ini konsekuensinya? Apa Luna yang harus membayar harga untuk ketidakdewasaan kita?"
"Jangan, Amara," Rafa berbisik, sakit. "Jangan
berpikir seperti itu."
"Tapi bagaimana tidak?!" suara Amara meninggi, lalu dia segera menekannya, takut membangunkan Luna. Air mata yang dia kira sudah kering tiba-tiba kembali mengalir, panas dan deras.
"Aku melihat ke belakang, Rafa! Setiap pertengkaran kita, setiap kebisuan yang beracun, setiap air mata yang kau buat aku tumpahkan... apakah itu semua meracuni darahnya? Apakah tubuhnya memberontak karena jiwa kecilnya merasakan semua ketidakbahagiaan kita?"
Rafa tidak bisa menjawab. Pertanyaan yang sama telah menghantuinya setiap malam.
"Dan aku... oh Tuhan, Rafa," Amara menyembunyikan wajahnya di tangannya, bahunya mengguncang.
"Aku sibuk dengan egoku! Aku sibuk menjual jiwaku untuk uang, sibuk dengan proyek-proyek seni yang sia-sia, sibuk menolak lamaran orang yang baik karena... karena apa? Karena kebanggaan? Sementara anakku... anakku..."
Dia tidak bisa melanjutkan, tersedak oleh isak tangis yang dalam dan menyakitkan.
Rafa ingin memeluknya. Ingin menghibur. Tapi tangannya terasa seperti batu. Dia merasa tidak punya hak.
"Kau bukan satu-satunya yang bersalah, Amara," suara Rafa akhirnya pecah, berair dan penuh dengan rasa hancur.
"Jika ada yang harus disalahkan, itu aku. Aku adalah awal dari semua kehancuran."
Amara mengangkat wajahnya, melihatnya melalui tirai air mata.
"Aku... aku adalah suami yang tidak setia. Ayah yang tidak hadir. Aku membawa ketidakpastian ke dalam rumahmu. Aku merusak kepercayaanmu, yang adalah fondasi segalanya."
Kata-kata itu mengalir sekarang, seperti bendungan yang jebol, membawa serta lumpur penyesalan yang telah mengendap selama bertahun-tahun.
"Dan bahkan setelah semuanya hancur, aku tidak menjadi lebih baik. Aku menggunakan Val. Aku menggunakan acara amal. Semua untuk... untuk merasa berkuasa lagi."
"Untuk merasa seperti aku masih bisa mengendalikan sesuatu. Tapi lihatlah! Lihat di mana kita sekarang! Di ruang ICU, menunggu putri kita yang tidak tahu apa-apa berjuang untuk hidupnya karena penyakit yang mungkin... MUNGKIN... dipicu oleh stres dari orang tua bodoh seperti kita!"
Dia menangis sekarang. Tangisan seorang pria dewasa yang dalam, tak terbendung, penuh dengan kehancuran diri. Tubuhnya yang besar terguncang-guncang, tangannya masih erat memegang Luna, seolah takut jika dia melepaskannya, Luna akan hilang selamanya.
"Aku gagal, Amara. Aku gagal total. Sebagai suamimu. Dan sekarang, sebagai ayahnya. Aku berjanji akan melindunginya, tetapi malah membawanya ke sini. Ke tempat ini."
Dia memandang sekeliling ruangan yang steril dan menakutkan. "Ini adalah bukti terakhir dari kegagalanku."
Amara mendengarkan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dia tidak melihat musuh, atau mantan suami yang menyebalkan.
Dia melihat seorang pria yang sama hancurnya, sama takutnya, sama tersesatnya seperti dirinya. Musuh mereka bukan lagi satu sama lain. Musuh mereka adalah monster tak bernama di dalam darah Luna, dan ketakutan bahwa mereka telah memberinya makan.
"Kita... kita berdua gagal, Rafa," kata Amara pelan, suaranya seperti kaca pecah.
"Kita gagal membangun rumah yang cukup kuat untuknya. Kita gagal menjadi dewasa sebelum menjadi orang tua. Tapi..." Dia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.
"Menyalahkan diri sendiri sekarang... itu tidak akan menurunkan demamnya. Itu tidak akan menyembuhkan ginjalnya."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Rafa, putus asa.
"Aku merasa tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan. Uang dari acara amal itu tiba-tiba terlihat seperti kertas tak berguna. Koneksiku, kekuatanku yang dulu... semua ilusi. Di depan penyakit ini, aku tidak berdaya. Hanya bisa menonton."
"Kita jaga dia," bisik Amara. Dia menyentuh kaki Luna yang kecil di bawah selimut.
"Kita hadir. Sepenuhnya. Bukan sebagai Amara si seniman atau Rafa si pengusaha. Tapi sebagai... ibu dan ayahnya. Kita dengar setiap napasnya. Kita rayakan setiap kali matanya terbuka. Kita beri dia alasan untuk bertahan."
"Dan jika... jika itu tidak cukup?" Rafa bertanya, pertanyaan yang paling menakutkan.
"Kita cari donor," jawab Amara, suaranya tiba-tara keras, dipenuhi tekad yang baru ditemukan dalam keputusasaan.
"Jika ginjalku cocok, ambil. Ambil keduanya sekaligus. Aku berikan segalanya."
"Aku juga," Rafa segera menyambung. "Tes aku. Aku akan berikan organku, darahku, sumsumku... apapun."
Mereka saling memandang di atas tubuh Luna yang terbaring. Di ruang abu-abu yang penuh dengan kematian itu, sebuah ikatan baru lahir. Bukan ikatan cinta romantis, tetapi ikatan yang lebih primal, lebih dalam: ikatan dua orang yang bersedia mati untuk orang ketiga yang mereka cintai.
"Kita berhenti, Rafa," kata Amara tiba-tiba.
"Kita berhenti saling menyakiti. Berhenti saling menyalahkan. Berhenti menggunakan Luna sebagai medan perang kita. Energi kita... kita butuhkan semuanya untuknya sekarang."
Rafa mengangguk, air matanya masih mengalir.
"Aku setuju. Gencatan senjata total. Aku... aku akan putus dengan Val. Hubungan itu... itu palsu. Dan beracun."
"Dan aku akan fokus hanya pada Luna dan proyek terapinya. Tidak ada lagi drama dengan Sari, dengan NOVAE, dengan siapa pun."
Amara mengusap air matanya. "Kita bersihkan hidup kita dari sampah. Buat ruang hanya untuknya."
Luna bergerak lagi, mengerang pelan. Kedua orang tuanya langsung membungkuk, berbisik pelan.
"Mama... Papa..." suara Luna terdengar seperti angin.
"Sayang, Mama di sini," bisik Amara, mencium dahinya.
"Papa juga di sini, Luna. Selalu," Rafa menambahkan, suaranya bergetar.
Luna membuka matanya, sayu karena obat-obatan. Dia melihat ke sekeliling, lalu fokus pada wajah orang tuanya di kedua sisinya. Bibirnya yang kering mencoba membentuk senyuman kecil yang sangat lemah.
"Kalian... berdua," bisiknya, lalu matanya terpejam lagi, tertidur lebih nyenyak.
Kalimat sederhana itu menghantam mereka seperti pukulan di solar plexus. Kalian berdua. Dalam pikirannya yang sederhana, dalam dunianya yang sedang diserang, kehadiran mereka berdua bersama adalah sebuah kenyamanan. Sebuah normalitas yang selalu dia rindukan.
Rafa menjangkau tangannya di atas tubuh Luna. Bukan untuk menyentuh Amara, tetapi untuk menawarkan gencatan senjata yang resmi. Amara melihatnya sebentar, lalu meletakkan tangannya di atasnya. Tidak ada percikan, tidak ada kehangatan romantis.
Hanya ada kulit yang dingin, lelah, dan sebuah janji yang diukir dalam keputusasaan.
"Untuk Luna," bisik Rafa.
"Untuk Luna," Amara mengulang.
Mereka tetap begitu, tangan mereka bertumpuk di atas selimut tipis yang menutupi dada putri mereka, dijaga oleh bunyi monitor yang stabil. Di luar, dunia dengan segala ambisi, dendam, dan egonya terus berputar.
Tapi di dalam ruang kapal selam ini, mereka baru saja menemukan dasar lautan yang sama. Mereka telah menyentuh dasar kegagalan mereka yang paling dalam, dan dari sana, mungkin, mereka bisa mulai mendorong ke atas, bersama-sama, membawa Luna ke udara, ke cahaya, ke kehidupan.
Malam itu, mereka berjaga bersama. Tidak ada kata-kata lagi yang perlu diucapkan.
Hanya kehadiran. Dua orang yang gagal, yang retak, yang kini bersatu bukan oleh cinta yang lama, tetapi oleh ketakutan yang sama dan cinta yang lebih besar yang mereka miliki untuk anak mereka. Dan dalam keheningan ICU yang menakutkan itu, itu adalah satu-satunya hal yang terasa benar.
karena kan jarak umur mereka jauh..
nanya aja koq 🫰
air mata aku ngalir nih...jadi bikin hidung mampet...😭😭....
cerita kamu bener2 bagus ka...
semangat nulisnya ya..semoga makin banyak yg baca karya kamu...
banyak sisi positif yg bisa diambil...
hncur ber keping"...
knapa sblm brtindak tak kaubfikirkn akibatnya rafa....
km org brpndidikn... punya karir cemerlang n tentunya bnyak dwit....
knapa km tak merangkul istrimu n mncari solusi yg trbaik n masuk akal....
eeeee mlah lbh milih lari ke pembantu...
yg bner aja rafa... msa iya km banting mental istrimu dgn brsaing sm pambantumu...🙄🙄
aku sampe ngga bisa berkata2
cerita kamu bener2 lhoo Kak.....
bikin hati aku mleyot2...
sedihnya dapat banget...
kadang.... keluarga tidak harus ada hubungan darah...😭😭
rafa.... km mnggali kuburanmu sndiri....
brmain api pasti akn trbakar...
selingkuh = khilangan istrimu....
dasar suami tak tau diri🙄🙄
Terimakasih author untuk rangkaian kisah Amara ini
beneran bagus lho ceritanya.. penggunaan kata2nya...😍😍...