Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.
Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu Diagnosis
Pagi itu, suasana kamar utama mansion Aditama masih diselimuti sisa-sisa kehangatan dari percintaan panas semalam. Aroma parfum Brian yang maskulin bercampur dengan harum mawar dari tubuh Arumi, menciptakan atmosfer yang intim di bawah selimut sutra yang masih berantakan.
Namun, ketenangan itu terusik saat fajar baru saja menyingsing. Arumi tiba-tiba terbangun dengan perasaan bergejolak di perutnya. Ia berlari kecil menuju kamar mandi, berusaha menahan suara agar tidak membangunkan suaminya.
Brian, yang biasanya memiliki insting tajam, segera terjaga saat merasakan sisi tempat tidurnya kosong. Ia mendengar suara istrinya yang sedang mual di balik pintu kamar mandi. Dengan cepat, ia menyambar jubah piyamanya dan menghampiri Arumi.
"Sayang? Kamu kenapa?" Brian memijat tengkuk Arumi dengan cemas, wajahnya yang biasanya kaku kini dipenuhi kekhawatiran.
"Aku tidak tahu, Brian... kepalaku sangat pening dan perutku terasa mual sekali," bisik Arumi lemas. Wajahnya pucat pasi, matanya sayu.
Brian tidak mau mengambil risiko. Ia segera menggendong Arumi kembali ke ranjang, menyelimutinya hingga dada, lalu meraih ponselnya. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung menghubungi Dokter Juan, dokter pribadi keluarga Aditama.
"Juan, datang ke mansion ku sekarang. Tidak pakai lama. Istriku sakit," perintah Brian tegas, tidak menerima bantahan meskipun ini masih sangat pagi.
...***...
Tiga puluh menit kemudian, Dokter Juan tiba dengan tas medisnya. Brian berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersilang di depan dada, matanya tak lepas menatap Arumi yang sedang diperiksa. Ruangan itu hening, hanya terdengar suara stetoskop dan gumaman kecil sang dokter.
Setelah beberapa saat, Dokter Juan menarik napas panjang dan tersenyum tipis sambil merapikan alat-alatnya.
"Bagaimana keadaan istriku, Juan? Dia salah makan? Atau kelelahan karena percintaan kami semalam?" tanya Brian tanpa basa-basi, membuat Arumi merona karena suaminya bicara terlalu blak-blakan di depan dokter.
Dokter Juan tertawa kecil sambil melepas kacamatanya. "Tenang, Brian. Tidak ada yang salah dengan makanan atau aktivitas kalian semalam."
"Lalu kenapa dia mual-mual?" desak Brian.
Dokter Juan menatap pasangan itu bergantian, memberikan senyum yang sulit diartikan. "Selamat, Brian. Sepertinya kamu harus mulai menyiapkan kamar baru di mansion ini. Arumi tidak sakit. Dia hanya sedang mengalami morning sickness karena kehamilannya."
Kata-kata Juan berputar di otak Brian. Ia terpaku di tempatnya, matanya membelalak menatap Dokter Juan, lalu beralih ke Arumi yang juga tampak terkejut dengan mulut sedikit terbuka.
"H- hamil?" gumam Brian. Suaranya yang biasanya berat dan berwibawa kini terdengar bergetar. "Maksudmu... Arumi sedang mengandung?"
"Benar. Usianya mungkin baru memasuki minggu keempat atau kelima. Tapi untuk pastinya, kalian harus cek ke rumah sakit besok pagi. Tapi secara klinis, aku berani menjamin, kamu akan menjadi seorang ayah, Brian," jawab Dokter Juan mantap.
Setelah Dokter Juan pamit, Brian masih berdiri mematung. Arumi, yang tadinya merasa mual, kini justru menitikkan air mata haru. Ia menatap perutnya sendiri dengan tangan gemetar.
"Brian... kita... kita akan punya bayi?" bisik Arumi.
Brian perlahan mendekat, ia berlutut di samping ranjang. Tangannya yang besar meraih jemari Arumi dan menciumnya berkali-kali. "Aku tidak menyangka... ini benar-benar kejutan, Sayang."
Brian kemudian meletakkan telinga dan telapak tangannya di atas perut Arumi dengan gerakan yang sangat lembut, seolah takut akan melukai sesuatu yang berharga di sana. Matanya yang biasanya dingin kini tampak berkaca-kaca karena kebahagiaan yang meluap.
"Terima kasih, Arumi. Terima kasih banyak," ujar Brian dengan suara serak. Ia mendongak, menatap istrinya dengan penuh pemujaan. "Ini hadiah terbaik yang pernah aku terima seumur hidupku."
"Aku juga belum tahu, Brian. Aku pikir aku hanya sakit biasa," Arumi tertawa di sela isak tangisnya.
Brian tiba-tiba berdiri dan mengangkat Arumi ke dalam pelukannya, memutar tubuh istrinya pelan di tengah kamar. "Mulai hari ini, tidak ada lagi memegang alat masak. Kamu tidak boleh turun tangga sendirian, dan aku akan memberikan koki khusus untuk nutrisimu!"
"Brian, jangan berlebihan! Dokter bilang aku hanya hamil, bukan sakit parah," protes Arumi sambil tertawa.
"Bagi seorang Aditama, ini adalah keberkahan sayang!" seru Brian bangga. Ia mencium kening Arumi lama, menghirup aroma istrinya dengan rasa syukur yang mendalam. "Penerusku ada di sini, di dalam rahim wanita paling luar biasa yang pernah aku temui."
Malam yang tadinya dingin karena hujan, kini berubah menjadi pagi yang paling hangat bagi mereka berdua. Arumi tidak pernah menyangka, di balik sifat keras dan dinginnya Brian, berita tentang kehidupan kecil ini bisa melunakkan hatinya hingga tak bersisa.
...***...
Suasana di Bandara Soekarno-Hatta begitu riuh. Dona sudah berdiri di depan gerbang keberangkatan dengan paspor di tangan, sementara Frans berdiri di samping wanita itu. Ada sedikit rasa berat di hati mereka karena harus berpisah jarak sementara waktu, meski status mereka kini sudah jelas.
Tiba-tiba, ponsel Frans di saku jasnya bergetar. Ia melihat layar dan sedikit terkejut melihat nama bosnya muncul di sana.
"Tuan Muda Brian menelepon," ucap Frans singkat.
Dona langsung menoleh, wajahnya heran. "Hah? Tumben sekali dia menghubungimu di jam segini? Jangan-jangan dia berubah pikiran? Atau dia mau memarahiku lagi?
Frans tersenyum ia langsung mengangkat telepon itu, "Halo, Tuan Muda?"
Dona mendekatkan telinganya ke ponsel Frans, ingin menguping. Suara Brian di seberang sana terdengar berbeda, tidak ada nada dingin yang biasanya, melainkan suara yang terdengar lebih bertenaga, bahkan hampir terdengar seperti sedang menahan tawa bahagia.
"Frans, atur pesta besar untukku di sini."
Frans mengernyit, "Pesta apa, Tuan?"
"Arumi hamil. Dokter Juan baru saja memeriksanya pagi ini. Aku akan punya ahli waris, Frans!"
Mata Frans membelalak. Ia terdiam seribu bahasa, sementara Dona yang mendengar kata hamil langsung merampas ponsel itu dari tangan Frans dengan tak sabar.
"APA?! KAK BRIAN?! SERIUS?!" teriak Dona kencang, membuat beberapa calon penumpang di sekitarnya menoleh kaget. "Kalian akan punya bayi? Oh my God! Kak Arumi hamil?!"
Di seberang sana, terdengar suara Brian yang mendengus, namun jelas sekali dia sedang senang. "Iya, Dona. Jadi jangan berulah di sana. Cepat selesaikan urusanmu dengan Papi mu,lalu tinggal disini. Aku butuh seseorang yang berisik untuk meramaikan rumah ini saat bayinya lahir nanti."
"AAAAA! AKU SENANG SEKALI!" Dona melompat-lompat kecil di depan gerbang keberangkatan, mengabaikan tatapan heran orang-orang. "Kak, jaga Kak Arumi! Kalau dia sampai lecet atau stres sedikit saja karena sifat kaku Kakak, aku akan langsung terbang balik dan menjambak rambut Kakak! Selamat ya, Kak! Aduh, aku jadi tidak mau berangkat!"
Dona mengembalikan ponsel itu ke Frans dengan tangan gemetar karena antusias. Frans sendiri masih tampak syok namun tersenyum. "Selamat, Tuan Muda. Ini berita paling luar biasa yang saya dengar tahun ini."
Setelah telepon tertutup, Dona langsung memeluk leher Frans dengan sangat erat. "Frans! Kamu dengar kan? Aku akan punya keponakan! Kak Arumi dan Kak Brian... mereka akan menjadi ayah dan ibu!"
Frans tertawa pelan, membalas pelukan Dona dengan satu tangan sementara tangan lainnya masih memegang ponsel. "Iya, Sayang. Sepertinya Tuan Muda Brian akan berubah jadi lebih protektif sekarang."
"Protektif? Dia pasti bakal jadi monster posesif!" Dona tertawa renyah, matanya berbinar-binar. "Aduh, aku jadi semangat sekali ingin cepat-cepat selesaikan urusan di New York. Aku akan membeli semua baju bayi paling bagus dan mahal di sana untuk calon keponakanku!"
Frans mengangguk mencium kening Dona yang senyumannya tak kunjung hilang. Berita kehamilan Arumi seolah menjadi kado perpisahan paling indah yang membuatnya yakin bahwa sekembalinya ia nanti, segalanya akan menjadi jauh lebih baik.