Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan Makan Malam
Tuan Pratama memang seorang manipulator ulung. Alih-alih kekerasan fisik, ia memilih perang psikologis yang jauh lebih kotor. Ia mengundang Zayden makan malam dengan dalih ingin mengenal lebih jauh, namun di balik keramahan palsu itu, ia telah menyiapkan jebakan maut.
Zayden datang dengan kemeja rapi yang menutupi lebam di tubuhnya. Ia duduk di meja makan mewah itu dengan punggung tegak. Di hadapannya, Tuan Pratama menuangkan jus jeruk ke dua gelas.
Memberikan obat perangsang dosis rendah ke gelas Zayden, lalu membiarkan Zayden berduaan dengan Amy di ruang santai untuk melihat apakah Panglima itu akan menerjang putrinya seperti binatang atau tetap menjaganya.
Namun, takdir berkata lain. Saat Tuan Pratama menerima telepon penting, Amy yang merasa haus secara tidak sengaja menukar gelasnya dengan gelas yang seharusnya untuk Zayden.
"Amy, jangan diminum..." Zayden terlambat bersuara. Amy sudah meneguknya hingga habis.
Sepuluh menit berlalu. Suasana berubah drastis. Wajah Amy yang biasanya seputih porselen kini berubah merah padam. Napasnya mulai memburu, dan matanya menatap Zayden dengan pandangan yang tidak biasa, penuh kabut nafsu yang tidak terkendali akibat zat kimia tersebut.
"Zayden... panas. Aku merasa aneh," rintih Amy. Ia mulai melonggarkan kancing atas gaunnya, tangannya gemetar mencari pegangan.
Zayden menyadari ada yang salah. Ia melihat gelas yang kosong dan tawa tipis Tuan Pratama dari kejauhan sebelum pria itu menghilang ke ruang kerja.
"Gila... Papa kamu beneran gila, Amy!"
Zayden segera membopong Amy masuk ke kamar mandi di area tamu, mengunci pintunya rapat-rapat. Ia tidak ingin pengawal atau ayahnya melihat kondisi Amy yang memprihatinkan.
Di dalam kamar mandi yang luas itu, Amy benar-benar kehilangan kontrol. Ia menarik kerah kemeja Zayden, memohon dengan suara serak yang menyayat hati. "Zayden, tolong... aku butuh kamu, Jangan tinggalin aku sekarang."
Amy mulai meraba dada Zayden, bahkan tangannya secara tidak sengaja menyentuh bagian bawah perut Zayden, membuat "Si Pitter" (panggilan konyol Zayden untuk juniornya) mendadak bangun dan berteriak protes karena tekanan yang luar biasa.
"Aduh, Pitter! Diem lo! Jangan sekarang!" umpat Zayden pada dirinya sendiri. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Hasratnya meledak, namun rasa kasihannya pada Amy jauh lebih besar. Ia tidak mau mengambil kesempatan dalam kondisi Amy yang sedang diracuni.
Zayden dengan cepat menyalakan pancuran air dingin (shower). Tanpa melepas baju Amy, ia membiarkan air dingin mengguyur tubuh gadis itu.
"Dingin, Zayden! Dingin!" Amy menangis sambil memeluk pinggang Zayden erat, tubuhnya yang basah kuyup menempel sempurna pada tubuh Zayden.
"Tahan, Sayang. Tahan sebentar. Aku di sini, tapi aku nggak mau ngerusak kamu," bisik Zayden parau. Ia memeluk Amy dengan tangan gemetar, menahan gejolak di bawah sana yang rasanya ingin meledak. Ia memandikan Amy dengan air dingin, mencoba mematikan api kimiawi yang membakar tubuh gadis itu.
Amy terus menggoda, bibirnya mencari bibir Zayden dengan liar. Zayden tahu, jika ia membiarkan ini berlanjut ke hubungan intim, ia akan menang secara nafsu tapi kalah secara martabat di depan Tuan Pratama.
Akhirnya, untuk menenangkan Amy yang terus merintih kesakitan karena hasrat yang tidak tersalurkan, Zayden menarik Amy ke pelukannya. Ia memberikan sebuah ciuman panjang yang sangat dalam, sebuah ciuman yang mengalirkan semua rasa sayangnya, bukan sekadar nafsu.
Zayden kemudian berlutut di depan Amy yang masih bersandar di dinding kamar mandi. Dengan penuh rasa hormat namun penuh gairah, ia memilih untuk memuaskan Amy dengan mulutnya, memberikan pelepasan yang dibutuhkan gadis itu tanpa harus merusak kesucian yang selama ini ia jaga mati-matian.
Setelah badai itu mereda, Amy jatuh lemas di pelukan Zayden. Efek obat itu perlahan luruh bersama air yang mengalir di lantai.
Zayden menyandarkan kepalanya di bahu Amy yang basah, napasnya tersengal-sengal. "Amy... jangan pernah bilang ke Papa kamu soal ini. Biar ini jadi rahasia paling gila antara aku, kamu, dan Si Pitter yang malang ini."
Di luar pintu, Tuan Pratama berdiri diam. Ia tidak mendengar suara ranjang yang berderit atau tanda-tanda perzinaan yang ia harapkan sebagai bukti untuk mengusir Zayden. Ia hanya mendengar suara air dan bisikan pelan Zayden yang sedang menenangkan putrinya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 😍🥰😍🥰