Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8. Pengawal Lama
Setelah kepergian Ray Zen, satu setengah tahun yang lalu, Han Yu, Tiger dan Trile telah menjadi orang-orang kepercayaan Kaisar Jack Zen. Mereka juga telah sering mengikuti rapat-rapat penting kekaisaran, berdiskusi bersama para petinggi-petinggi lainnya.
Selain itu, Han Yu, Tiger dan Trile juga adalah Komandan Pasukan Khusus Istana selama Ray Zen pergi. Mereka melatih dan mendidik para pasukan khusus sebaik mungkin. Bahkan dalam beberapa misi penting kekaisaran, mereka terkadang memimpin langsung pasukan khusus untuk menyelesaikannya.
Berkat mereka, pasukan khusus menjadi sangat kuat dan pilih tanding. Banyak misi rahasia yang dapat mereka selesaikan dengan mudah. Peningkatan kultivasi pasukan khusus juga sangat pesat, berkat pil-pil dan sumber daya lainnya, yang telah Ray Zen tinggalkan pada Han Yu sebelum ia pergi.
Han Yu tersenyum lebar, lalu menoleh ke arah Ray Zen. “Nak, akhirnya kau kembali. Istana ini terasa sepi tanpamu.”
Tiger yang biasanya tenang, tertawa keras. “Benar tuan! Bahkan latihan pasukan khusus terasa hambar.”
Trile mengangguk, sambil tersenyum kecil dengan wajah cantiknya.
Bear segera menghampiri mereka. “Kalian ini… masih saja berisik. Tidak berubah sama sekali.”
Bai Hu tertawa kecil. “Tapi kau pasti sangat merindukan mereka, Bear.”
Kelima pengawal lama dan baru itu segera bercampur, bercanda dan bercerita seolah-olah mereka berada di halaman latihan, bukan di aula kekaisaran. Virdrax dan Navhara menyimak dengan tenang, dan tanpa sadar, suasana di sekitar mereka menjadi lebih hangat.
“Dua orang itu?” Han Yu melirik Virdrax dan Navhara, lalu tersenyum. “Jika mereka adalah orang pilihan Ray Zen, maka kami percaya sepenuhnya.”
Ucapan itu spontan membuat beberapa orang terdiam.
Kaisar Jack Zen memperhatikan semua itu dengan mata tajam. “Paman Han,” katanya, “kau telah memimpin pasukan khusus istana selama Ray Zen pergi. Bagaimana kondisi mereka sekarang?”
Han Yu berdiri tegap. “Yang Mulia, pasukan khusus yang berjumlah seribu orang kini telah hadir di luar aula. Aura mereka meningkat pesat. Mereka siap melayani di bawah komando Pangeran Ray Zen kapan pun.”
Pintu aula terbuka sedikit, memperlihatkan barisan prajurit dengan aura kuat dan disiplin sempurna. Gelombang energi mereka membuat banyak pejabat terkejut.
“Mustahil…” seseorang berbisik.
Permaisuri Mue Che terlihat sangat kesal, ia menggenggam lengan kursinya, mencoba mengubah alur pembicaraan. “Namun tetap saja,” katanya tajam, “dua orang asing itu—”
“Cukup.”
Suara Kaisar Jack Zen memotong tajam.
Semua langsung terdiam.
“Aku tahu kekhawatiran kalian,” ujar sang kaisar dengan nada tegas. “Dan aku mengerti ketidakpercayaan itu. Oleh karena itu, demi ketertiban istana kekaisaran, aku memutuskan: Virdrax dan Navhara tidak diperkenankan keluar-masuk istana tanpa izin langsung dariku.”
Beberapa orang tampak puas. Sementara sebagian lagi tidak.
Ray Zen melangkah maju dan membungkuk hormat. “Ayahanda Kaisar, aku mengerti dengan keputusan Ayahanda. Aku berjanji, mereka hanya akan bermalam di istana malam ini. Besok, aku sendiri yang akan mencarikan tempat tinggal di luar istana untuk mereka.”
Virdrax menunduk sopan. “Kami akan mematuhi titah Kaisar.” Navhara menundukkan kepala, matanya berkilat singkat, penuh hormat.
Permaisuri Mue Che mendengus pelan, jelas belum puas dengan keputusan itu, namun ia tidak berkata apa-apa lagi.
“Baik,” kata Kaisar Jack Zen. “Dengan demikian, acara penyambutan ini akan dilanjutkan.”
Musik kembali mengalun. Tarian istana dimulai. Tawa dan percakapan memenuhi aula.
Di sudut aula, Lia Zen terus berada di sisi kakaknya, menggenggam lengan Ray Zen erat-erat.
“Kakak jangan pergi lagi,” katanya pelan, matanya berkaca-kaca.
Ray Zen tersenyum lembut. “Kakak disini sekarang, adik kecil.”
Mei Ling mendekat, memegang tangan Ray Zen. “Ibu hanya ingin kau aman, anakku.”
Ray Zen menggenggam tangan ibunya. “Aku akan tetap aman ibu.”
Di balik kemegahan, senyum, dan meriahnya acara itu, benih-benih konflik mulai tumbuh perlahan. Tatapan sinis masih bertebaran, ketidakpercayaan dan kecurigaan belum sepenuhnya padam.
Tapi yang pasti, hari itu, setidaknya untuk sementara, Istana Kekaisaran Awan Putih dipenuhi kegembiraan.
Hingga malam hari pun telah benar-benar turun di Istana Kekaisaran Awan Putih, menyisakan acara penyambutan Ray Zen yang telah sejak tadi berakhir. Langit berwarna biru gelap bertabur bintang, sementara bulan separuh menggantung tenang, memantulkan cahaya lembut ke seluruh bagian Istana Kekaisaran.
Di taman kediaman Permaisuri Mei Ling, angin malam berembus pelan, membawa aroma bunga yang bermekaran di sepanjang jalur batu putih. Suasana begitu hening dan damai, seolah-olah hiruk-pikuk penyambutan megah beberapa jam lalu hanyalah mimpi yang telah berlalu.
Di tengah taman itu, sebuah gazebo kayu giok berdiri anggun di atas kolam kecil yang airnya berkilau memantulkan cahaya bulan. Lentera-lentera kecil tergantung di setiap sudut atap gazebo, menyala temaram dan hangat.
Di sanalah Ray Zen duduk bersama para pengawalnya.
Bai Hu bersandar santai pada tiang gazebo, lengan terlipat di dada, wajahnya tenang namun sorot matanya tajam. Han Yu duduk dengan tenang, memperlihatkan wajahnya yang sudah tua namun tegas. Tiger duduk bersila sambil sesekali tertawa pelan, sementara Trile—wanita dengan wajah cantik dan sorot mata penuh semangat—duduk di sisi Bear.
Han Yu, Tiger dan Trile menjelaskan bagaimana situasi Istana Kekaisaran sekarang. Dimana setelah kabar kepahlawanan Ray Zen, terdengar sampai ke Istana Kekaisaran, orang-orang yang tidak menyukai Ray Zen menjadi sangat marah.
Fui Che menjadi frustasi, dan memutuskan untuk berlatih di Istana Kekaisaran Awan Oren, mengikuti saudaranya yang lain. Ia berangkat bersama adiknya Rin Che yang langsung di antarkan oleh Jendral utama Gan Che.
Tidak lama setelah kepergian Fui Che, utusan dari Kekaisaran Awan Merah datang, menuntut pertanggungjawaban Kaisar Jack Zen, atas hancurnya Sekte Kuil Obat.
Kaisar Jack Zen pun setuju dengan kompensasi yang mereka tawarkan. Hingga saat utusan itu kembali, Permaisuri Zu Xia, dan putrinya Zee Xia ikut bersama mereka, berkunjung ke Istana Kekaisaran Awan Merah.
Sekarang Istana Kekaisaran benar-benar sepi dari para pangeran dan putri kaisar. Tersisa Lia Zen dan Bei Yi. Dengan kepulangan Ray Zen, jumlahnya menjadi sedikit bertambah.
(Cerita tentang kepergian Fui Che dan Zee Xia terdapat pada Chapter 123 dan Chapter 133 di Season 1).
Perbincangan mereka pun terus berlanjut, hingga Bear menjadi pusat perhatian mereka.
Dengan wajah penuh ekspresi dan gerakan tangan yang berlebihan, ia berbicara tanpa henti.
“—jadi bayangkan saja!” suara Bear menggelegar namun tertahan agar tidak menarik perhatian penjaga istana. “Hutan Larangan itu benar-benar gila! Binatang buas ratusan ribu tahun di mana-mana! Kalau bukan karena pasukan bayangan tuan Ray, aku sudah jadi makanan mereka!”
Tiger terkekeh. “Kau selalu bilang begitu. Tapi lihat dirimu sekarang. Tubuhmu bahkan lebih keras dari tembok istana.”
Bear tertawa lebar. “Itu karena aku rajin berlatih!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss.....
Selamat Membaca.....
reader yg setia masih menanti update yg terbaru