Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Malam kembali turun tanpa permisi. Di luar kamar, hujan mulai turun perlahan, membasahi jendela, seolah menangisi luka yang tak terlihat. Lampu kamar rawat inap redup, hanya menyisakan cahaya kekuningan yang jatuh lembut di wajah pucatnya.
Kayla terbaring miring, punggungnya menghadap pintu. Selang infus masih terpasang di tangannya, perban melingkari kepalanya. Dadanya naik turun perlahan, tetapi matanya tak terpejam. Ia tak bisa tidur.
Setiap kali kelopak matanya hendak menutup, api kembali menyala di pelupuknya. Jeritan kembali bergema.
Kayla menarik napas pendek, dadanya terasa sesak. Jarinya mencengkeram seprai putih hingga buku-buku jarinya memutih.
Di sofa kecil di samping ranjang, Fattan, Fattah, dan Nayla tertidur berdesakan. Nayla masih menggenggam ujung baju Kayla seolah takut kakaknya menghilang jika ia melepaskannya.
Kayla menoleh perlahan. Melihat wajah polos ketiga adiknya, air matanya kembali mengalir tanpa suara.
“Aku hidup, tapi rasanya seperti terseret kembali dari neraka,” bisiknya lirih.
Bayangan pengalaman ketika koma kembali menghantam pikirannya. Ia ingat panas membara di telapak kakinya, bau asap yang menyesakkan, tangan-tangan yang memohon pertolongan. Lalu, yang paling menyakitkan, ia ingat tatapan keluarganya yang penuh luka dan kekecewaan.
Kayla menutup wajahnya dengan satu tangan, menahan isak yang ingin pecah. “Ya Allah, apakah itu peringatan-Mu?” gumamnya tercekat.
Di hatinya, sesuatu retak, lalu runtuh. Untuk pertama kalinya sejak ia terjerumus ke dunia malam, Kayla benar-benar merasa ketakutan akan dosanya sendiri.
Bukan takut pada manusia. Bukan takut pada polisi. Bukan takut pada hinaan. Ia takut pada Allah. Takut pada akhir hidupnya. Takut benar-benar jatuh ke tempat mengerikan itu.
Kayla menoleh ke arah jendela, memandang tetesan hujan yang mengalir seperti air mata.
“Aku ingin berhenti,” gumam pelan, hampir tak terdengar.
Air matanya mengalir semakin deras.
“Aku ingin bertobat. Aku ingin bersih lagi, Ya Allah.”
Pagi harinya, pintu kamar terbuka perlahan. Seorang wanita berdandan tebal masuk dengan langkah anggun, tumit sepatunya beradu dengan lantai rumah sakit yang mengilap. Aroma parfum mahal langsung memenuhi ruangan. Rambutnya disanggul rapi, bibirnya merah menyala, matanya tajam namun penuh perhitungan.
Mami Rose, mucikari yang menjadi perantara Kayla dengan para kliennya.
Kayla langsung menegang begitu melihatnya. Tiga adiknya terbangun. Nayla mengucek mata, menatap wanita asing itu dengan bingung. Fattah berdiri sedikit di depan, nalurinya seperti merasakan sesuatu yang tidak nyaman.
Mami Rose tersenyum tipis, senyum yang tampak manis, tetapi dingin.
“Queen … kamu sudah bangun?” tanya Mami Rose dengan suaranya lembut, tetapi ada nada kepemilikan di sana.
Kayla menggunakan nama Queen sebagai nama samaran. Hanya segelintir orang yang tahu nama aslinya.
Kayla mengalihkan pandangan, menatap seprai. “Jangan panggil aku begitu, Mi. Sekarang ini aku tidak sedang bekerja.”
Senyum Mami Rose sedikit memudar. “Oh? Sejak kapan kamu keberatan dengan nama itu? Queen itu brand-mu. Identitasmu. Asetku.”
Kayla menelan ludah, dadanya bergejolak. “Aku mau berhenti, Mi.”
Keheningan jatuh seketika.
Tiga adiknya menoleh ke arah Kayla, tidak sepenuhnya mengerti, tetapi merasakan ketegangan.
Mami Rose tertawa kecil, pendek, tanpa humor. “Berhenti? Kamu baru sadar hidup itu tidak semudah dongeng?”
Kayla menggenggam seprai erat-erat. “Saat aku hampir mati. Aku melihat suatu tempat yang mengerikan. Aku tidak mau kembali ke jalan itu.”
Wajah Mami Rose mengeras. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di samping ranjang Kayla. Nada suaranya berubah lebih dingin, lebih tegas.
“Dengar baik-baik, Kayla. Kamu tidak ada di posisimu sekarang kalau bukan karena aku.”
Kayla menutup mata, air mata mengalir di pelipisnya.
“Aku menampungmu saat kamu tidak punya apa-apa. Aku memberimu pekerjaan. Aku memberimu nama. Queen bukan sekadar perempuan malam, tapi dia bintang.”
Kayla menggeleng pelan. “Bintang apa, Mi? Bintang dosa?”
Mami Rose mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah namun tajam. “Jangan sok suci sekarang. Kamu butuh uang. Mereka—” matanya melirik tiga anak kecil yang ada di sana—“butuh makan, butuh sekolah, butuh tempat tinggal.”
Nayla bergeser mendekat ke Kayla, memeluk lengannya ketakutan.
Kayla menahan napas, hatinya seperti terbelah.
“Aku akan cari jalan lain,” kata Kayla pelan tetapi mantap.
Mami Rose tertawa sinis. “Jalan lain? Jalan apa? Jadi pelayan? Jadi kasir? Gajimu tidak akan cukup untuk biaya hidup tiga anak itu, apalagi hutang rumah sakitmu.”
Kalimat itu menghantam Kayla telak. Ia terdiam, bibirnya bergetar.
Mami Rose meluruskan tubuhnya, kembali memasang senyum profesionalnya. “Beristirahatlah dulu, Queen. Jangan buat keputusan emosional. Kamu adalah maskot rumah bordirku. Tanpamu, banyak pelanggan akan pergi.”
Kayla mengepalkan tangan di bawah selimut, kukunya menekan telapak tangan sendiri.
“Aku bukan barang, aku bukan aset!” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Mami Rose sudah berbalik, melangkah menuju pintu.
Di balik pintu ruang rawat, Ashabi berdiri membeku. Ia datang untuk menjenguk Kayla, membawa buah dan sarapan. Namun, sebelum ia sempat mengetuk, ia mendengar suara perdebatan itu. Tangannya yang hendak mengetuk pintu perlahan turun. Ia mendengar semuanya.
Tentang “Queen”. Tentang rumah bordir. Tentang Kayla yang ingin berhenti, tetapi ditahan oleh Mami Rose.
Jantung Ashabi terasa diremas. Ia teringat wajah tiga anak kecil ketika menunggu di ruang operasi. Ia teringat air mata Kayla ketika sadar. Ia teringat jeritan ketakutan di matanya saat terbangun. Tanpa sadar, tangannya mengepal.
Ketika pintu terbuka, Mami Rose keluar dengan langkah anggun, menatap Ashabi sekilas dari ujung kepala sampai kaki.
“Teman Kayla?” tanyanya singkat.
Ashabi mengangguk kaku.
Mami Rose tersenyum tipis, lalu berlalu tanpa berkata apa-apa lagi.
Ashabi berdiri di depan pintu beberapa detik, menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pelan.
“Masuk,” ucap Kayla dengan suara terdengar lemah dari dalam.
Ashabi membuka pintu perlahan. Ia melihat Kayla terbaring, wajahnya pucat, mata merah karena menangis. Tiga adiknya menatapnya penuh rasa ingin tahu.
Ashabi meletakkan buah dan bunga di meja kecil di samping ranjang. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya hati-hati.
Kayla tersenyum tipis, senyum yang penuh luka. “Masih hidup.”
Keheningan singkat tercipta. Ashabi menatap tangannya sendiri, ragu. Namun, bayangan percakapan yang ia dengar tadi terus berputar di kepalanya.
“Kayla,” ia mulai, suaranya pelan. “Aku, mendengar sedikit pembicaraanmu tadi.”
Kayla menegang. Wajahnya berubah, campuran malu, takut, dan pasrah.
“Aku minta maaf,” lanjut Ashabi cepat. “Aku tidak bermaksud menguping. Tapi, aku tidak bisa pura-pura tidak tahu.”
Kayla memalingkan wajah, air matanya kembali mengalir. “Aku jijik pada diriku sendiri,” katanya lirih.
Ashabi menggeleng cepat. “Jangan bilang begitu. Kamu bertahan hidup. Kamu menjaga adik-adikmu.”
Kayla tertawa kecil, getir. “Dengan cara yang salah.”
Ashabi menatapnya dalam-dalam. Di hatinya, sesuatu tumbuh perasaan simpati yang begitu kuat hingga hampir menyakitkan.
Perlahan, Ashabi berkata, “Kalau kamu mau keluar dari dunia prosti*tusi aku akan bantu.”
Kayla menoleh kaget, menatapnya dengan mata basah.
“Apa?”
Ashabi menghela napas, suaranya lebih mantap. “Aku tidak tahu caranya sekarang, tapi aku tidak ingin kamu kembali ke dunia itu. Kamu pantas punya kesempatan untuk hidup bersih.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Nayla menatap Ashabi dengan mata berbinar polos. “Om mau nolong Kak Kayla?”
Ashabi tersenyum kecil, berlutut agar sejajar dengan gadis kecil itu. “Iya, Sayang. Om mau coba.”
Kayla menatap Ashabi lama antara ragu, takut, dan berharap. Di dalam dadanya, untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, secercah cahaya kecil menyala.
Namun di kejauhan, bayangan Mami Rose dan dunia gelap yang mengikatnya masih membentang seperti jurang. Dan Kayla tahu jalan menuju tobat tidak akan semudah membalikan tangan.
dan ahh masih bikin bgg
trus duit dr mna dia apa g di lertanyakan sm org tuanya ya
nnti ada wktunya itu klo sudah autornya berkehendak 🙈🙈🙈
kemasa saja ini orang knp baru muncul aja
trus se enak nya ya
ini baru permulaan ya