Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.
Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.
Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?
#areakhususdewasa ⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 (Part 1) Topeng yang Retak di Balik Renda
Sore itu, langit di atas Jakarta berubah menjadi warna ungu keabuan, seolah mencerminkan suasana hati Kella yang makin kalut. Setelah keberanian kecilnya menggertak Sarah di halte, ia merasakan sisa-sisa adrenalin yang membuat tangannya sedikit bergetar. Kella tahu, ia baru saja menyulut api di sarang lebah. Sarah bukan tipe orang yang akan diam jika harga dirinya terusik, apalagi jika menyangkut Reno.
Namun, fokus Kella tidak boleh terpecah. Langkah kakinya membawa dirinya kembali keAmai Memories - Maid & Butler Cafe. Ia tidak punya waktu untuk beristirahat. Malam ini adalah sesi pengarahan dari agensi pelayan untuk acara pesta besar di kediaman Alangkara yang akan diadakan tiga hari lagi.
...
Pukul 18.30 WIB – Lantai Dua Amai Memories - Maid Butler Cafe.
Di ruang staf yang sempit, Pak Heru berdiri bersama seorang wanita paruh baya berpakaian rapi namun berwajah ketus bernama Bu Sandra. Beliau adalah koordinator agensi penyalur tenaga kerja paruh waktu yang sering bekerja sama dengan keluarga elit.
"Dengar semuanya," suara Bu Sandra tajam, membelah kesunyian ruangan. Di sana ada Kella dan dua pelayan lainnya dari kafe. "Keluarga Alangkara bukan klien sembarangan. Satu kesalahan kecil, satu piring yang retak, atau satu tatapan mata yang terlalu lama pada tamu, maka bukan hanya kalian yang dipecat, tapi agensi saya juga tamat. Paham?"
"Paham, Bu," jawab mereka serempak.
Bu Sandra membagikan selembar kertas berisi peraturan ketat. Kella membacanya dengan saksama.
* Dilarang berbicara kecuali ditanya.
* Dilarang memasuki area lantai tiga (area pribadi).
* Wajib mengenakan masker selama acara berlangsung.
Poin ketiga adalah keberuntungan bagi Kella. Masker itu akan melindunginya dari kemungkinan dikenali oleh tamu-tamu sekolah yang mungkin hadir, seperti orang tua Sarah atau teman-teman bisnis Bramantyo.
"Kella," panggil Pak Heru setelah Bu Sandra keluar dari ruangan. "Kamu yakin mau mengambil shift ini? Kamu terlihat sangat lelah beberapa hari terakhir. Kalau soal uang, Bapak bisa bantu—"
"Bukan soal uang, Pak," potong Kella lembut, ia menyentuh lengan pria tua itu. "Saya hanya... ingin melihat tempat itu sekali saja. Tempat di mana Gabriel seharusnya tumbuh besar."
Pak Heru menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca. "Hati-hati, Nak. Rumah itu megah, tapi di dalamnya banyak bayangan yang bisa menelanmu."
"ya aku tahu,"
...
Setelah pulang dari kafe, Kella tidak langsung tidur. Ia membersihkan meja kecilnya dan membentangkan denah rumah Alangkara yang dikirimkan Gala lewat email terenkripsi.
Denah itu sangat rumit. Rumah itu lebih mirip labirin daripada tempat tinggal. Ruang kerja Bramantyo terletak di sayap barat lantai dua, terpisah dari kamar-kamar tidur. Gala memberi catatan merah: "Ada dua CCTV di lorong barat. Sensor gerak aktif setelah jam 12 malam."
Kella memejamkan mata, mencoba menghafal setiap belokan. Ia mengambil sebuah jam tangan bekas milik Gabriel yang sudah mati sebagai alat latihan. Ia harus bisa melepas jam tangan dari pergelangan tangan seseorang tanpa orang itu menyadarinya.
Ia teringat teknik yang pernah ia baca di sebuah buku tentang seni sulap jalanan, distraksi. Ia harus menciptakan momen di mana perhatian Bramantyo teralih sepenuhnya ke arah lain, sementara tangannya bergerak secepat kilat.
"Gila... ini benar-benar gila," gumam Kella pada kegelapan kamarnya. Ia adalah seorang siswi SMA yang malang, bukan mata-mata profesional. Namun, dendam dan kebenaran adalah bahan bakar yang sangat kuat.
...
Keesokan Harinya – Pukul 07.30 WIB (Sekolah)
Suasana di SMA Wijaya Kusuma pagi ini terasa aneh. Biasanya, saat Kella masuk kelas, ia akan disambut dengan sorakan atau tawa mengejek. Namun hari ini, kelas justru sunyi meskipun sudah hampir penuh.
Di baris tengah, Sarah sedang duduk dengan wajah sembab, sementara tangannya sibuk mengotak-atik ponselnya. Di sampingnya, Reno tampak gelisah, sesekali melirik ke arah Gala yang sedang membaca buku di mejanya seolah-olah dunia di sekitarnya tidak ada.
Kella berjalan menuju kursinya. Saat melewati Sarah, gadis itu tiba-tiba berdiri.
"Lo... apa yang lo bilang kemarin ke gue?" desis Sarah, suaranya parau.
Kella berhenti, ia menatap Sarah dengan tenang. "Aku cuma menyarankanmu untuk bertanya pada Reno. Sudah kamu lakukan?"
Sarah melemparkan ponselnya ke meja dengan kasar. "Reno bilang lo cuma mau mengadu domba kita! Dia bilang lo kesel karena dia selalu gangguin lo!"
Kella melirik ke arah Reno. Pria itu memberikan tatapan mengancam, seolah berkata: Kalau lo bicara lagi, lo mati.
Namun, Kella tidak takut lagi. Ia sudah melihat sisi rapuh Gala, dan ia sudah memegang kartu memori yang lebih berbahaya daripada sekadar foto-foto sampah di ponsel Gala.
"Kalau begitu, kenapa Reno terlihat sangat takut sekarang?" tanya Kella santai.
Gala tiba-tiba menutup bukunya dengan suara keras.
Brak!
"Bisa diam nggak? Gue mau baca," suara Gala dingin, mematikan perdebatan itu seketika.
Gala kemudian menoleh ke arah Reno. "Ren, ponsel gue yang kemarin... lo udah hapus semua datanya kan sebelum lo balikin? Gue nggak mau ada 'sampah' yang ketinggalan di perangkat lain."
Reno menelan ludah, jakunnya naik turun. "U-udah, Gal. Beres."
Gala menyeringai tipis—sebuah seringai yang hanya Kella tahu artinya. Jebakan malware itu sudah bekerja. Gala sekarang kemungkinan besar sedang memantau semua isi ponsel Reno melalui laptopnya di bawah meja.
Sepanjang pelajaran pertama, Kella merasa ada seseorang yang mengawasinya dari jendela kelas. Saat ia menoleh, ia melihat seorang pria berpakaian hitam berdiri di koridor luar, berpura-pura sedang menelpon. Pria itu memiliki perawakan yang sama dengan orang suruhan Bramantyo di panti asuhan semalam.
Jantung Kella berdegup kencang. Apakah mereka melacakku?
Ia melirik Gala. Gala tampaknya juga menyadari keberadaan pria itu. Gala merogoh saku celananya, lalu melemparkan sebuah gulungan kertas kecil ke arah meja Kella saat guru sedang menulis di papan tulis.
Kella membukanya di bawah meja.
'Jangan keluar kelas pas istirahat sendirian. Orang itu mata-mata bokap gue. Dia lagi nyari tahu siapa "cewek" yang sering bareng gue di luar sekolah.'
Kella meremas kertas itu. Taruhannya semakin tinggi. Jika Bramantyo tahu bahwa Kella adalah orang yang sama dengan gadis di panti asuhan, rencana mereka akan hancur sebelum dimulai.
...