"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: IDENTITAS YANG TERBELAH
Hujan di Distrik 9 tidak pernah terasa seperti berkah; ia terasa seperti air mata dari kota yang sudah lama membusuk. Ambulans yang kami curi kini teronggok di sebuah gang buntu yang sempit, tersembunyi di balik barisan kontainer berkarat yang mengeluarkan aroma logam dan sampah basah. Mesinnya baru saja dimatikan, meninggalkan kami dalam keheningan yang menyesakkan, hanya ditemani oleh suara sisa-sisa hujan yang menghantam atap logam ambulans dengan irama yang tak beraturan.
Julian pingsan di kursi penumpang. Wajahnya yang tegas kini pucat pasi, namun napasnya masih ada, meski tersengal dan pendek. Aku duduk di kursi kemudi, mencengkeram lingkar setir hingga buku-buku jariku memutih dan kaku. Tapi bukan luka fisik yang membuatku menderita. Bukan pula memar di bahuku akibat benturan tadi.
Di dalam kepalaku, sebuah badai sedang berkecamuk. Ruang batiniahku tidak lagi sunyi.
“Ah... raga ini. Aku bisa merasakan aliran darahnya yang hangat, Valerie. Begitu halus, begitu... lapar,” suara Zura merayap seperti ular yang baru saja menemukan kulit baru. Suaranya tidak lagi terdengar dari luar, melainkan berdenyut langsung di lobus parietalku. “Rasa sakitnya berbeda dengan raga lamaku. Ini bukan sakit yang melemahkan, ini adalah rasa sakit yang menuntut untuk dipadamkan.”
“Diam,” bisikku. Suaraku terdengar asing. Ini adalah suara asli Valerie—lembut, terdidik, berwibawa—namun ada getaran liar di dalamnya yang bukan milikku. Aku mencoba melakukan teknik pernapasan untuk menstabilkan detak jantungku, namun otot-otot dadaku menolak untuk patuh.
“Kenapa kau menekannya? Kau merasakannya juga, kan? Adrenalin dari ledakan tadi... itu membakar kita. Kau ingin merasa hidup, Dokter. Selama sepuluh tahun kau hidup seperti mesin, mengubur gairahmu di balik laporan forensik yang membosankan. Tapi sekarang? Sekarang kau punya aku di sini untuk membantumu membakar semuanya.”
Tiba-tiba, aku merasakan gelombang panas yang aneh menjalar dari pangkal tulang belakangku. Itu bukan sakau narkoba yang menyiksa seperti saat aku di raga Zura. Ini adalah sesuatu yang lebih primitif, lebih purba. Zura tidak lagi menyerang memoriku; dia menyerang sistem limbikku—pusat dari segala nafsu, insting, dan gairah manusia.
Dia sedang memanipulasi kelenjar adrenal dan hormon-hormonku. Sebagai psikolog, aku tahu persis apa yang dia lakukan. Dia membanjiri otakku dengan dopamin dan oksitosin secara paksa, memanfaatkan raga Valerie yang masih murni dan sensitif terhadap rangsangan. Raga yang sudah lama tidak disentuh, kini menjadi instrumen yang dimainkan oleh tangan-tangan kotor Zura.
Aku terengah, menyandarkan kepala ke kursi kemudi yang dingin. Keringat dingin mulai membasahi leher dan celah di antara dadaku. Pikiranku yang biasanya logis dan penuh dengan kutipan jurnal medis mulai mengabur, digantikan oleh bayangan-bayangan yang membuat napas kian memburu.
“Valerie...” sebuah suara parau memanggilku dari kegelapan di sampingku.
Julian terbangun. Matanya yang sayu dan kemerahan menatapku dalam keremangan cahaya dasbor yang berkedip-kedip merah. Ia mencoba bergerak, namun mengerang karena luka tembak di lengannya kembali merembeskan darah segar ke kemejanya yang sudah koyak.
“Kita... kita aman?” tanya Julian, suaranya berat dan penuh penderitaan.
Aku menoleh ke arahnya. Dan saat itulah, kendali logikaku goyah. Di mata Zura, Julian bukan lagi rekan kerja yang terluka atau detektif korup yang membantu pelarianku. Di mata Zura, dia adalah objek. Dia adalah simbol dari kejantanan yang penuh luka, aroma keringat, dan bau bubuk mesiu—kombinasi yang selalu menjadi candu bagi jiwa jalanan seperti Zura.
“Lihat dia, Valerie,” Zura berbisik, kali ini suaranya penuh gairah yang menular ke seluruh sarafku. “Dia sudah mengorbankan nyawanya untukmu. Dia berdarah untuk raga ini. Tidakkah kau ingin memberinya imbalan? Tidakkah kau ingin merasakan kulit raga aslimu bersentuhan dengan miliknya? Rasakan betapa kuatnya otot-otot itu di bawah kemeja yang kotor itu.”
“Julian,” suaraku keluar lebih rendah, lebih serak dari biasanya. Aku tidak bisa menghentikan tanganku saat jari-jariku bergerak sendiri, menyentuh pipi Julian yang kasar karena jambang dan sisa abu ledakan.
Julian tersentak, namun ia tidak menjauh. Matanya yang tadinya dipenuhi kewaspadaan kini berubah menjadi bingung, lalu perlahan menggelap saat ia menatap mataku—mata yang kini memancarkan kilatan predator yang belum pernah ia lihat sebelumnya pada diri Valerie.
“Valerie? Ada apa denganmu? Kau terlihat... aneh,” Julian tergagap, namun ia bisa merasakan panas yang memancar dari kulitku.
“Terlalu banyak yang terjadi, Julian,” kataku, dan kali ini Zura yang memegang kendali atas ekspresi wajahku. Aku bisa merasakannya menarik sudut bibirku menjadi senyum yang provokatif dan penuh rahasia. “Aku hanya ingin memastikan kau masih di sini. Masih nyata. Masih milikku.”
Aku merangkak melewati konsol tengah ambulans yang sempit, mengabaikan rasa sakit dan memar pada tubuhku sendiri. Gerakanku luwes, berbahaya, dan dipenuhi oleh gairah yang tidak pernah dimiliki oleh seorang Dr. Valerie yang kaku dan profesional. Aku duduk di pangkuannya, mengangkang di atas kakinya, membuat Julian mendesis karena luka di lengannya tergeser, namun rasa sakit itu segera terkubur oleh keterkejutan yang amat sangat.
“V-Valerie, kau tidak sadar apa yang kau lakukan... kau sedang terguncang,” Julian mencoba memprotes, namun tangannya secara instingtif mendarat di pinggangku, mencengkeram lekukan tubuhku yang kini hanya tertutup sisa gaun merah yang koyak di bagian paha.
“Aku sangat sadar, Julian,” bisikku tepat di telinganya. Aku bisa merasakan napas panas Zura di tenggorokanku sendiri, memerintahkan lidahku untuk menjilat daun telinganya dengan lembut. “Dan aku tahu persis apa yang bisa membuat kita berdua melupakan neraka di Blackwood malam ini.”
Di dalam kepalaku, aku berteriak sekuat tenaga. Hentikan! Ini bukan aku! Zura, jangan gunakan raga dan kehormatanku untuk ini!
Namun Zura tertawa, sebuah tawa yang penuh kemenangan dan rasa haus. “Ini memang ragamu, Valerie, tapi ini adalah nafsuku yang menggerakkannya. Kau terlalu lama hidup dalam keheningan yang membosankan dan suci. Rasakan ini! Rasakan bagaimana jantungmu berdegup kencang hingga terasa ingin melompat keluar saat kulitnya menyentuh kulitmu yang sensitif!”
Zura memaksa tanganku untuk merobek kancing kemeja Julian yang sudah berlumuran darah. Aku bisa merasakan panas tubuhnya yang luar biasa, aroma maskulin yang bercampur dengan bau bahaya yang membangkitkan insting liar yang selama ini kupendam jauh di bawah lapisan-lapisan integritas profesiku.
Julian tidak lagi menolak. Gairah yang terpancar dari raga Valerie—yang kini dirasuki jiwa liar Zura—terlalu kuat dan terlalu nyata untuk dilawan oleh pria mana pun, terutama pria yang sudah lama memendam obsesi tersembunyi pada wanita ini. Ia mencengkeram rambut pirangku, menarik kepalaku ke belakang hingga leherku terekspos, dan menciumku dengan kemarahan, kerinduan, dan rasa lapar yang meledak-ledak.
Itu adalah ciuman yang menghancurkan segala bentuk logika. Aku bisa merasakan lidahnya, rasa besi dari darah di bibirnya, dan tuntutan yang begitu besar dari setiap hisapannya. Di dalam pikiranku, dinding pertahananku runtuh berkeping-keping. Aku mulai kehilangan batas di mana Valerie berakhir dan Zura dimulai. Gairah itu menjadi satu arus listrik yang besar. Aku tidak lagi tahu apakah aku membenci sensasi ini atau aku sangat menginginkannya hingga tulang-tulangku terasa ngilu.
Setiap sentuhan Julian pada pinggulku terasa seperti sengatan listrik di raga asliku yang selama ini dijaga dengan begitu ketat. Zura benar; raga ini adalah wadah yang sempurna untuk merasakan kenikmatan, dan dia menggunakannya seolah-olah dia sedang memainkan instrumen musik yang sudah lama tidak disetem namun memiliki potensi nada yang luar biasa.
“Julian...” aku mengerang, suaraku kini sepenuhnya adalah perpaduan antara keputusasaan Valerie yang memohon untuk berhenti dan kelaparan Zura yang memohon untuk lebih.
Tangan Julian yang besar merayap ke paha dalamku, menarik sisa kain gaunku lebih tinggi, hingga jemarinya menyentuh kulit yang paling pribadi. Di dalam ambulans yang sempit, gelap, dan pengap itu, suhu udara terasa meningkat secara drastis hingga setiap tarikan napas terasa seperti uap panas. Kami tidak peduli dengan sirine polisi yang mungkin mendekat di kejauhan. Saat ini, hanya ada gesekan kulit, napas yang memburu, dan keinginan purba untuk saling memiliki di tengah kehancuran.
Namun, tepat saat situasi mencapai titik didih yang tak bisa kembali, sebuah memori muncul di permukaan pikiranku secara mendadak. Bukan memori Zura, melainkan memori Valerie.
Aku melihat kilasan wajah pasien-pasienku yang menatapku dengan penuh kepercayaan. Aku melihat wajah ayahku yang menanamkan nilai tentang martabat. Dan aku melihat wajah Adrian Vane yang menatapku dengan tatapan yang sama persis dengan yang kulihat di mata Julian saat ini—tatapan kepemilikan.
Ketakutan akan kehilangan kendali secara permanen, ketakutan menjadi "budak" dari nafsuku sendiri, menghantamku seperti air es yang disiramkan ke seluruh tubuhku.
“TIDAK!” aku berteriak di dalam batin dengan segala kekuatan ego yang tersisa.
Aku menarik diriku menjauh dari Julian secara paksa, meskipun otot-ototku meronta ingin tetap dalam dekapannya. Napasku tersengal-sengal, mataku melotot liar, menatap Julian yang tampak bingung, frustrasi, dan masih dikuasai gairah yang menggantung. Raga Valerie bergetar hebat—bukan lagi karena gairah, tapi karena perang internal yang kini berada pada puncaknya.
“Keluar... Keluar dari kepalaku, Zura!” aku memukul dahiku sendiri dengan telapak tangan, berusaha mengusir kehadiran yang menyesakkan itu.
“Valerie! Hentikan! Kau menyakiti dirimu sendiri!” Julian mencoba menangkap tanganku, wajahnya penuh kekhawatiran yang tulus.
“Kenapa kau berhenti, Dokter?” Zura mengejek, suaranya kini terdengar penuh kebencian dan penghinaan karena kenikmatannya terinterupsi. “Kau menikmatinya, bukan? Kau menyukai betapa kasarnya dia mencengkerammu. Kau hanya seorang munafik yang bersembunyi di balik gelar doktermul!”
“Aku bukan kau, Zura!” teriakku dengan suara asli Valerie yang kini penuh dengan air mata kemarahan. “Aku bukan alat pemuas nafsu bagi siapa pun!”
Aku membuka pintu samping ambulans dengan kasar dan jatuh tersungkur ke aspal yang basah dan dingin. Hujan yang turun dengan deras menyentuh kulitku yang panas, membantuku memadamkan api gairah buatan yang disuntikkan Zura ke sistem sarafku. Aku merangkak di bawah rintik hujan, memuntahkan rasa mual yang luar biasa ke saluran air gang itu. Rasanya sangat kotor. Bukan karena Julian, tapi karena betapa mudahnya Zura memanipulasi biologi raga asliku untuk tujuannya sendiri.
Julian turun dari mobil dengan susah payah, memegangi lengannya yang kembali berdarah deras. Ia berdiri di bawah hujan, menatapku dengan tatapan yang sangat sulit diartikan—campuran antara kasihan, frustrasi, dan kengerian melihat wanita yang ia kagumi hancur di depannya.
“Siapa kau sebenarnya sekarang?” tanya Julian dengan suara rendah yang ditelan suara hujan. “Apakah kau wanita yang baru saja menciumku seolah-olah dunia akan kiamat, atau kau dokter yang selalu memandangku seperti subjek interogasi?”
Aku menoleh padanya, rambut pirangku yang basah menempel di wajah, menutupi sebagian mataku yang kini dipenuhi bayangan kegelapan.
“Aku adalah keduanya, Julian,” jawabku, suaraku bergetar karena kedinginan dan syok. “Dan itulah masalahnya. Inversi yang gagal itu tidak hanya memindahkan jiwa, tapi juga mencampurkan kotoran Zura ke dalam darahku. Aku tidak bisa memercayai instingku sendiri sekarang.”
Zura terdiam sejenak di sudut pikiranku, namun aku bisa merasakannya sedang tersenyum. Dia tahu sekarang bahwa dia memiliki pintu masuk permanen ke dalam diriku: melalui nafsuku. Dia tidak perlu menyerang logikaku jika dia bisa menyerang hormonku.
Aku berdiri perlahan, mencoba memulihkan martabat Dr. Valerie yang tersisa, meskipun gaunku robek dan tubuhku basah kuyup. Aku harus menemukan cara untuk melakukan pemisahan ini secara medis, atau Zura akan benar-benar menelan jiwaku melalui gairah yang tidak bisa kutolak.
“Kita harus bergerak, Julian,” kataku, kembali ke mode bertahan hidup yang dingin. “Adrian Vane sedang memburu kita. Dan aku... aku tidak akan membiarkan Zura menang dengan cara ini.”
Kami berdiri di tengah gang gelap itu, dua jiwa yang rusak di bawah satu rintik hujan yang sama. Perang ini bukan lagi soal peluru; ini adalah perang tentang siapa yang berhak menguasai napas dan keinginan di dalam raga Dr. Valerie.
Zura berbisik untuk terakhir kalinya malam itu, sebuah janji yang mengerikan. “Tidurlah, Valerie. Tapi saat kau bermimpi nanti, aku yang akan memegang kendali atas mimpimu. Dan di sana, kau tidak akan punya kekuatan untuk menolak apa pun yang kuinginkan.”