Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Ingatan
Flores datang dengan senyum paling yakin sedunia. Baru kemarin dia mengusulkan ke Ravindra ide lokasi pertemuan berikutnya.
“Kita ke kebun binatang,” katanya, seolah baru saja mengusulkan makan siang di kafe hits.
Pagi itu, di tengah rimbun kebun binatang, Tafana bersidekap sambil menoleh pelan. “Kayaknya cuma lo yang ngajak cewek ngedate ke kebun binatang.”
Flores mengangkat bahu. “Kenapa nggak? Asri, sejuk, edukatif.”
“Dan aromanya sungguh natural,” Tafana menimpali manis. “Bau prengus campur pupuk kompos. Romantis banget.”
Mereka tertawa. Bukan tawa canggung. Bukan tawa basa-basi. Tawa yang langsung klik, seperti dua orang yang sudah hafal nada ejek masing-masing.
Di belakang mereka, Ravindra berdiri dengan kemeja rapi disetrika sempurna, celana bahan formal, sepatu pantofel mengilap—tampak seperti salah alamat di antara pengunjung berkaus dan sneakers. Ia melirik sekitar, lalu bergumam lirih, “Ini… kebun binatang, ya.”
Mereka mulai berjalan. Flores dan Tafana berdampingan, langkahnya seirama. Ravindra tertinggal setengah meter—cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh untuk tak diajak bicara.
“Liat itu,” Flores menunjuk kandang unta. “Mukanya kayak guru killer kita dulu.”
Tafana terbahak. “Guru yang sering ngasih soal jebakan.”
“Yang bilang, soalnya gampang kok.”
“Padahal satu kelas nangis.”
Ravindra berdeham, mencoba masuk. “Secara biologis, unta memang—”
“Oke, kita lanjut,” Tafana memotong sambil menarik lengan Flores ke arah kandang berikutnya.
Suara Ravindra menggantung, mati sebelum sempat menemukan tempat. Ia tersenyum kecil, refleks lama yang biasa dipakai saat rapat—senyum aman, senyum profesional—padahal ini bukan ruang rapat, dan ia bukan siapa-siapa di sini.
Mereka menertawakan jerapah yang menjulurkan leher, monyet yang mencuri camilan pengunjung, sampai seorang bapak yang terpeleset kulit pisang, semua jadi bahan ledek internal yang hanya mereka pahami.
Ravindra sesekali tersenyum sendiri, mencoba menyusup dengan komentar netral, tapi selalu kalah cepat. Ia ada di sana, berjalan, bernapas, namun seperti transparan.
Jika Flores dan Tafana adalah satu lingkaran tertutup, Ravindra hanyalah titik yang mengorbit, tak pernah benar-benar masuk, tak pernah sepenuhnya pergi.
-oOo-
Bangku kayu itu tersembunyi di bawah pohon besar yang daunnya rimbun, menyaring cahaya matahari menjadi bayangan-bayangan lembut di tanah. Suara kebun binatang masih ada—teriakan anak kecil, langkah kaki, sesekali suara hewan—tapi di sudut taman itu, semuanya terdengar lebih jauh, seperti dikecilkan volumenya.
Tafana duduk sambil memandangi kolam kecil di depan mereka. Airnya keruh, daun kering mengapung malas. Flores duduk di sebelahnya, kali ini tidak bercanda, tidak sibuk menunjuk apa pun. Untuk pertama kalinya sejak datang, mereka diam cukup lama.
“Emang mungkin ya,” Tafana akhirnya bersuara, pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri, “kita jadi pasangan?”
Flores menoleh. Tidak langsung menjawab. Ada jeda sepersekian detik yang terasa jujur—bukan dibuat-buat.
“Mungkin aja,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, tanpa senyum. “Soalnya gue belum move on dari lo, Taf.”
Tafana menoleh cepat. Jantungnya seperti tersandung. Flores yang ini terasa asing: tidak tengil, tidak sarkastik, tidak berlindung di balik lelucon. Wajahnya lebih matang, lebih lelah, dan entah kenapa—lebih rapuh.
“Lo boleh tanya siapa aja,” lanjut Flores, pandangannya lurus ke depan. “Gue nggak pernah pacaran lagi sejak kita putus. Bukan karena nggak ada yang mau. Tapi karena gue capek mulai dari nol,” katanya, suaranya serak di akhir. “Gue nggak bisa pura-pura jatuh cinta sama orang yang bukan lo.”
Sunyi kembali turun. Tafana menelan ludah. Selama ini, dalam ingatannya, Flores adalah bab lama yang sudah ditutup rapi. Ternyata, bagi Flores, buku itu tidak pernah benar-benar selesai dibaca.
“Lo ingat nggak,” Flores melanjutkan, “kenapa kita putus waktu SMA?”
Tafana mendengus kecil. “Ingat lah. Lo kan selingkuh.”
Flores tersenyum tipis, pahit. “Lo bakal percaya nggak kalau gue bilang… gue dijebak?”
Tafana mengernyit. Refleks ingin menolak langsung muncul. “Waktu itu ada fotonya, Flo. Bukti otentik. Sierra yang ngirim.”
“Nah,” Flores menghela napas panjang, “masalahnya yang ada di foto itu Sierra.”
Tafana menoleh tajam. “Maksud lo?”
“Coba lo ingat lagi,” kata Flores hati-hati, seolah sedang memegang benda rapuh. “Itu tangan siapa. Rambut siapa. Jaket yang dipakai siapa. Emang nggak ada muka, Taf. Tapi semuanya… Sierra banget.”
Kata-kata itu seperti batu kecil yang dijatuhkan ke danau tenang—riaknya pelan, tapi menyebar ke mana-mana.
Tafana ingin menyela, menyangkal, tertawa—apa pun. Tapi namanya sudah terlanjur jatuh di antara mereka. Sierra.
Dadanya mengeras, seperti ada sesuatu yang menutup rapat dari dalam. “Jadi… lo selingkuh sama dia?” suaranya nyaris bergetar.
Flores menggeleng cepat. “Nggak. Gue dijebak. Gue juga dibohongin. Makanya waktu itu gue nggak bisa jelasin ke lo. Gue takut kalian berantem, gue takut nambah rusak.” Ia menunduk. “Dan pas lo langsung percaya sama foto itu… gue ngerasa nggak dipercaya sama sekali.”
Tafana terdiam. Kenangan lama berkelebat—marahnya, kecewanya, caranya memutuskan pergi tanpa mau dengar penjelasan panjang. Dulu rasanya tegas. Sekarang terasa… tergesa-gesa.
“Makanya gue jauhin kalian setelah putus,” lanjut Flores. “Karena gue ngerasa dipermainkan. Sama keadaan, sama orang-orang yang gue percaya.”
“Tapi Sierra sahabat gue,” Tafana bersuara lirih. “Nggak mungkin dia sejahat itu.”
Flores tidak menyela. Tidak memotong. Hanya menatapnya dengan mata yang tenang. “Sahabat bukan berarti nggak punya sisi licik. Iri itu halus, Taf. Kadang datang dari orang yang paling dekat.” Ia menarik napas. “Gue nggak maksa lo percaya. Gue cuma… minta lo hati-hati.”
Kepala Tafana terlalu penuh. Semua yang ia yakini selama ini mendadak bergeser, tapi belum cukup jelas untuk runtuh. Perasaannya campur aduk, antara marah, bingung, bersalah, takut.
“Gue… gue bingung,” katanya akhirnya, berdiri. “Maaf. Gue nggak bisa cerna sekarang.”
Ia melangkah menjauh, napasnya cepat. “Gue mau pulang.”
Dari kejauhan, Ravindra yang sejak tadi duduk kaku langsung berdiri. Tanpa banyak tanya, ia mengangguk dan mengantar Tafana pergi.
-oOo-
Mobil melaju tanpa musik. Hanya suara mesin yang halus dan lampu kota yang lewat seperti kilatan ingatan yang tak sempat ditangkap.
Tafana duduk di kursi penumpang, tubuhnya tegak tapi jiwanya entah di mana. Tangannya bertumpu di paha, jemarinya kaku. Pandangannya menempel di kaca, mengikuti bayangan pohon dan pagar yang berlarian mundur. Tidak ada satu kata pun keluar sejak ia masuk mobil.
Ravindra menyetir dengan kedua tangan mantap di setir, tapi rahangnya mengeras. Ia tahu kapan harus bicara, dan ini bukan saatnya.
Potongan-potongan percakapan tadi masih terngiang di kepalanya. Nama Sierra, foto, dijebak. Kata-kata yang tidak ditujukan padanya, tapi terlanjur masuk ke telinga yang salah.
Ia merasa bersalah, dengan cara yang tidak heroik. Bukan karena melakukan sesuatu, tapi karena mengetahui sesuatu. Menjadi saksi tanpa diminta. Menyimpan informasi yang mungkin akan mengubah banyak hal, termasuk cara Tafana memandang masa lalunya sendiri.
Ravindra tiba-tiba sadar: jika semua ini benar, maka Tafana tidak hanya kehilangan masa lalu. Ia mungkin harus mengubur ulang seluruh kepercayaannya pada orang-orang terdekat.
Lampu merah. Mobil berhenti.
Ravindra melirik sekilas. Tafana tetap diam. Bahunya tidak bergetar, tidak ada air mata. Justru itu yang membuat dadanya terasa berat. Ia mengenal Tafana cukup lama untuk tahu: diam seperti ini berarti pikirannya sedang berlari terlalu jauh.
“Ehm… kalau kamu mau berhenti sebentar, bilang aja,” ucap Ravindra akhirnya, suaranya rendah, hati-hati. Bukan pertanyaan, bukan dorongan.
Tafana menggeleng pelan. “Nggak. Langsung pulang aja.”
Lampu hijau menyala. Mobil kembali bergerak. Sunyi menutup mereka lagi, rapat dan dewasa.
-oOo-
Butik Sierra telah populer di banyak feed dan headline kecil.
Sierra berdiri di tengah ruangan, senyum terlatih menghiasi wajahnya. Kamera diarahkan padanya dari berbagai sudut. “Ini koleksi terbaru kami,” katanya lancar, penuh percaya diri. “Terinspirasi dari perempuan urban *yang kuat, tapi tetap elegan.”
Orang-orang mengangguk, mencatat, memotret. Nama Sierra disebut-sebut. Tagar namanya beredar.
Di sudut ruangan, sketsa desain terpajang rapi. Garis-garisnya khas. Detailnya tajam. Itu tangan Tafana. Tapi tidak ada Tafana di sana. Tidak ada wawancara. Tidak ada sorotan.
Sierra menerima pujian dengan anggun. Ia tidak berbohong. Tidak mencuri kredit secara terang-terangan. Ia hanya berdiri di depan, sementara yang lain memilih di belakang.
Tidak ada bukti ia jahat. Tapi ada motif. Dan ada keuntungan.
Sorotan kamera menyala lagi. Sierra tersenyum, dan di balik kilau itu, ada kebenaran yang selama ini aman, karena belum pernah benar-benar ditanyakan.
semangat ravindra,dapatkan kembali hati dan cintanya tafana
ternyata adiknya flores yg meninggal,hadir hanya utk menyelamatkan kakakknya.
ravindra tetap setia menemani tafana.
ravindra selalu gercep dgn tafana.
yunika dan reon semoga berjodoh