"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. rencana merebut hati Mirza
Mirza dan Ribka ke rumah sakit, keesokan harinya. Tanpa membawa sarapan untuk ibu mertuanya. Karena mereka datang menjenguk sudah menjelang tengah hari. Baru sepuluh menit mereka tiba, Raymond dan Khaty juga datang.
Raymond terkejut! Dan salah tingkah melihat ada Mirza. Mirza yang sudah kenal Khaty lewat vidio yang dikirim temannya itu. Menjadi geram. Karena papanya seberani itu membawa selingkuhannya menjenguk neneknya.
Bu Nora juga merasa tidak enak hati. Sebaliknya Ribka acuh saja. Seolah tidak melihat keberadaan Khaty.
"Mirza, kenalkan Tante Khaty." Raymond mau tidak mau harus memperkenalkan Khaty kepada Mirza.
Mirza cuma melirik sekilas. Tidak menyambut uluran tangan Khaty serta senyum yang mengembang di bibirnya.
"Hem ...." tangan Khaty melayang di udara beberapa detik, hingga akhirnya luruh saat Mirza menolak. Mirza pura-pura membetulkan selimut neneknya.
Raymond mengatupkan rahangnya. Sikap Mirza sungguh keterlaluan dan kekanakan.
"Dia siapa Nek? Kok datang bareng Papa." bisik Mirza ke Bu Nora. Wajah Bu Nora memerah. Tidak tau harus menjawab apa. Khaty dan Raymond juga mendengarnya, meskipun Mirza berucap lirih.
"Mirza, tidak usahlah berpura-pura begitu. Kamu bukan anak-anak lagi." Mirza mendengus.
"Dan Papa juga sudah tua bangkotan. Mestinya sadar diri dengan umur." sahut Mirza seraya mengepalkan tangannya.
"Raymond, pergilah. Bawa dia!" bentak Bu Nora. Dia melotot ke arah putranya. Khaty shock ! Kedatangannya adalah untuk melihat Mirza secara dekat. Anak yang sudah dia terlantarkan delapan belas tahun lalu.
Dia tidak menyangka kalau Mirza akan menolaknya sefrontal itu. Sorot matanya yang tajam itu, membuat Khaty membeku. Raymond tadi bilang Mirza ada di rumah sakit. Tidak taunya ada Ribka juga.
"Tidak perlu Nek. Biar Mirza dan Mama yang pergi. Ayo, Ma." Mirza merengkuh bahu ibunya.
"Tapi, Mir. Nenek masih kangen kamu. Baru juga kamu datang, sudah mau pergi." protes Bu Nora kecewa.
"Nafas Mirza mendadak sesak Nek. Mirza gak tahan lagi." sindir Mirza. Ditariknya lengan ibunya. Ribka hanya bisa menurut. Mengikuti langkah besar Mirza.
"Mirza, kamu kenapa?"
"Apa? Mama masih bertanya Mirza kenapa. Hati Mama terbuat dari apa sih. Bisa-bisanya Mama hanya diam. Jadi penonton?" sambar Mirza kesal.
"Trus apa kamu ingin Mama ngamuk begitu? Merobek mulut wanita itu? Hah! Itu hanya akan mengotori tangan Mama." Decak Ribka menahan geram.
"Lantas membiarkan perempuan itu menginjak-injak harga diri Mama?" seru Mirza lantang.
"Mama sudah memutuskan mau bercerai. Mama sudah tidak peduli dengan semua ulah mereka. Mama hanya ingin dengar jawabanmu, kalau Mama dan Papa bercerai, kamu memilih siapa?" tatap Ribka pada Mirza lekat.
"Haruskah Mama pertanyakan lagi hal itu. Mirza bukan anak kecil lagi. Atau Mama sendiri yang menolak Mirza karena Mirza bukan anak kandung Mama?" gantian Mirza yang ajukan pertanyaan.
"Anak nakal! Kamu meragukan kasih sayang Mama sama kamu?"
"Tentu tidak, Ma. Oh ya, Ma. Kita balik lagi ke kamar Nenek."
"Mau ngapain lagi?" Mirza tidak menjawab. Ribka kembali mengikuti langkah Mirza kembali ke ruang rawat inap mertuanya.
Raymond dan Bu Nora kaget melihat Mirza muncul kembali. Begitu juga dengan Khaty.
"Ada yang tertinggal, Mir?" sapa Bu Nora kaget melihat cucu dan menantunya muncul kembali.
"Gak Nek. Mirza cuma mau duit sama Papa. Besok Mirza mau balik lagi ke Jakarta." Mirza menghampiri papanya.
"Oh, kok cepat balik Mir, kamu bilang liburannya satu minggu." sela Ribka heran.
"Mirza gak betah Ma. Udara disini membuat Mirza sesak." sindir Mirza. Raymond merasa serba salah mendengar sindiran putranya. Semua rencananya gagal. Mirza sangat marah dan membenci pernikahan keduanya. Padahal dalam pikirannya Mirza akan bersikap sebaliknya.
Mirza pasti melunak nanti setelah mendengar penjelasannya. Tapi jangankan mendengar, kesempatan untuk berbicara saja pun Mirza tidak sudi. Raymond mau jujur siapa sebenarnya ibu kandungnya. Supaya Mirza mau menerima pernikahan papanya.
"Mir, Papa akan beri uang. Bahkan apapun yang kamu minta akan Papa kabulkan. Asalkan kamu merestui pernikahan Papa dengan Tante Khaty."
"Oh, ya bukankah bulan depan ultah kamu. Papa mau ngasih hadiah ultah ke kamu. Bagaimana dengan moge yang yang kamu idamkan selama ini?"
"Papa akan belikan itu sebagai hadiah ultah mu." Raymond mengeluarkan sebuah kartu dan menyerahkannya kepada Mirza dan menyebut pin ATM tersebut. Mirza menatap kartu itu. Tersenyum sinis kepada papanya.
"Tante juga mau ngasih hadiah. Di dalam kartu itu ada sejumlah uang. Kamu bebas menggunakannya untuk apa saja." Khaty melirik ke arah Ribka.
"Baik." Mirza menyambar kedua kartu itu.
"Bang Ray, jangan menyuap Mirza jika hanya untuk meminta restu Mirza. Memangnya Abang peduli dengannya. Toh kalian sudah membohongi kami selama dua tahun ini. Kenapa masih mau minta restu?" teriak Ribka.
Semua mata yang ada dalam ruangan menoleh ke arah Ribka. Mirza tersentak mendengar ucapan ibunya. "Selama dua tahun Ma? Jadi Mama sudah tau selama ini Papa menghianati Mama. Kenapa Mama diam?"
"Tidak! Mama tidak tau sama sekali. Mama baru mengetahuinya dan mengira kecurigaan Mama salah. Sudahlah Ray, urus saja perceraian kita. Supaya kamu bisa bersama dengan perempuan jalangmu itu." Ribka memandang Khaty tajam.
"Baik, kalau memang itu kemauanmu. Minggu depan kita bertemu di catatan sipil." sahut Raymond menuruti keinginan Ribka.
"Raymond!" sentak Bu Nora tidak setuju.
"Baik, hari ini juga aku pergi dari rumah." Ribka melangkah tenang keluar dari kamar rumah sakit. Tidak ada rasa sakit atau kesedihan. Diikuti langkah Mirza.
"Raymond, jangan ceraikan Ribka. Siapa yang akan mengurus Ibu kalau dia pergi?"
"Ibu tidak usah khawatir. Ribka tidak akan kemana-mana. Semua itu hanya gertakan, Bu." Raymond menenangkan hati ibunya.
"Tapi Ibu punya firasat, Ribka tidak main-main. Dia serius mau pergi. Apakah kamu buta, hah!"
"Ibu tenang saja. Aku akan sewa perawat untuk merawat Ibu. Jadi Ibu tidak usah khawatir." bujuk Khaty.
"Tapi, kenapa kalian memberikan uang yang banyak kepada Mirza. Bagaimana kalau uang itu dimintain Ribka? Mirza pun pasti menyerahkannya pada ibunya.
"Tidak apa, Bu. Mirza itu kan anak saya. Sayalah ibu kandungnya. Kalau uang itu diberikan Mirza kepada Ribka. Aku anggap saja itu bayaran dia selama ini telah merawat Mirza. Jadi kami impas."
"Tapi, Mirza kan tidak tau kalau kamu adalah ibunya. Apakah kamu akan memberitahukannya? Apakah kalian yakin Mirza mau menerima? Jangan-jangan sebaliknya. Mirza semakin membenci kalian berdua." ucap Bu Nora.
Raymond dan Khaty saling pandang. Ada juga benarnya ucapan ibunya. Mengingat betapa Mirza sangat dekat kepada Ribka. Apakah semudah itu mengalihkan hati Mirza? Ketika mereka jujur kepadanya. Jangan-jangan malah membuatnya semakin jauh tak terjangkau.
Lantas, bagaimana caranya menjauhkan Mirza dari Ribka?***