Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahta di Balik Asap Mesiu
Malam di pegunungan itu terasa lebih pekat dari biasanya. Di dalam ruang strategi yang terletak di rubanah mansion, cahaya biru dari monitor raksasa memantul di wajah Rebecca yang dingin. Di hadapannya, Vargo, Erica, dan Liam berdiri dalam posisi istirahat sempurna. Mereka tidak lagi menatapnya sebagai gadis yang harus dijaga; ada rasa hormat baru di mata mereka setelah insiden penembakan Bianca d'Angelo di pusat kota.
Maximilian berdiri di sudut ruangan, bayangannya memanjang di dinding beton. Ia memegang segelas wiski, namun matanya tidak lepas dari Rebecca. Malam ini, Max melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya: ia menyerahkan tablet komando kepada Rebecca.
"Sisa-sisa kekuatan Valenti bersembunyi di gudang logistik sektor tujuh, dekat perbatasan dermaga tua," suara Maximilian rendah, namun mengisi setiap sudut ruangan. "Mereka adalah dalang di balik serangan terhadap Bianca, bertujuan untuk memicu perang antara Moretti dan d'Angelo. Aku bisa saja meratakannya dalam sepuluh menit dengan tim taktis utama."
Max melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Rebecca, meletakkan tangannya di bahu gadis itu. "Tapi malam ini, mereka bukan milikku. Mereka adalah milikmu. Balaskan setiap hinaan yang Bianca lemparkan padamu dengan menghancurkan orang-orang yang membuat Bianca terlihat lemah. Tunjukkan pada mereka siapa yang sebenarnya memimpin tim ini."
Rebecca menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena ketakutan. Ini adalah adrenalin murni. Ia menatap Vargo. "Vargo, siapkan tim Alpha. Kita masuk lewat jalur udara. Erica, kau pimpin tim penembak jitu di atap gudang. Liam, kau bersamaku di garis depan."
"Siap, Nona!" sahut mereka serempak.
Helikopter hitam tanpa lampu navigasi meluncur rendah di atas pelabuhan yang gelap. Rebecca duduk di pintu terbuka, angin malam menerpa wajahnya, mengacak-acak rambutnya yang diikat kencang. Ia mengenakan rompi antipeluru di balik jaket taktisnya. Di tangannya, ia menggenggam senapan serbu ringan yang kini terasa sangat ringan berkat latihan berbulan-bulan.
"Tiga menit menuju titik jatuh!" teriak Vargo melalui interkom.
Rebecca menoleh ke arah Maximilian yang ikut terbang bersamanya, namun Max hanya duduk diam sebagai pengamat. Ini adalah ujian terakhir bagi Rebecca untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi dalam hirarki Moretti.
"Ingat, Rebecca," suara Maximilian terdengar di telinganya melalui earpiece. "Seorang penguasa tidak hanya butuh keberanian untuk menarik pelatuk, tapi juga ketenangan untuk memerintah. Jadilah ratu yang mereka takuti."
Begitu helikopter mencapai posisi, tali fast-rope dilemparkan. Rebecca adalah orang pertama yang meluncur turun, mendarat dengan mulus di aspal gudang yang basah. Liam menyusul di belakangnya.
"Erica, posisi?" bisik Rebecca ke mikrofon di kerahnya.
"Sudah di posisi, Nona. Dua penjaga di pintu barat sudah dilumpuhkan. Jalan bersih," suara Erica terdengar datar dan profesional.
"Masuk," perintah Rebecca.
Mereka bergerak seperti bayangan. Rebecca memimpin formasi, bergerak dari balik kontainer ke kontainer lainnya. Saat mereka mencapai pintu masuk utama gudang, sekelompok pria bersenjata keluar dengan panik.
RAT-TAT-TAT-TAT!
"Liam, sisi kanan! Vargo, lindungi belakang!" teriak Rebecca sambil melepaskan serangkaian tembakan presisi yang menjatuhkan dua musuh di depannya.
Ia tidak ragu. Setiap gerakannya mencerminkan hasil tempaan keras yang ia lalui. Ia melihat seorang anggota Valenti mencoba melempar granat ke arah Liam. Tanpa menunggu, Rebecca berlari keluar dari perlindungannya, menembak lengan pria itu hingga granatnya jatuh sebelum pinnya tercabut, lalu memberikan satu tembakan penyelesaian tepat di dada.
"Area satu bersih!" lapor Rebecca, napasnya sedikit memburu namun matanya tetap tajam mencari target berikutnya.
Pertempuran berlangsung sengit selama lima belas menit di dalam labirin gudang. Rebecca memimpin timnya melewati barikade, mengambil keputusan cepat di bawah tekanan tembakan balasan. Ia tidak lagi menunggu instruksi Maximilian; ia menciptakan jalannya sendiri.
Saat musuh terakhir menyerah dan berlutut di bawah todongan senjata tim Moretti, suasana mendadak sunyi. Bau mesiu yang menyengat memenuhi ruangan. Rebecca berdiri di tengah gudang, senjatanya masih terkokang, menatap sisa-sisa keluarga Valenti yang kini gemetar ketakutan.
Maximilian melangkah masuk dari kegelapan pintu belakang. Ia berjalan perlahan, melewati mayat-mayat musuh, menuju ke arah Rebecca. Ia melihat gadis itu berdiri tegak, wajahnya sedikit terkena noda jelaga, namun auranya begitu agung dan mematikan.
"Misi selesai, Om," ucap Rebecca, suaranya mantap tanpa ada getaran sedikit pun.
Maximilian berhenti di depan Rebecca. Ia tidak memedulikan para pengawal yang masih berjaga. Ia mengambil senapan dari tangan Rebecca dan menyerahkannya kepada Vargo, lalu ia menangkup wajah Rebecca dengan kedua tangannya yang besar.
"Kau luar biasa," bisik Maximilian, matanya berkilat penuh kebanggaan yang belum pernah Rebecca lihat sebelumnya. "Malam ini, kau bukan hanya membuktikan keberanianmu pada Bianca atau dunia. Kau membuktikan bahwa kau adalah satu-satunya orang yang pantas memegang kendali bersamaku."
Maximilian berlutut di atas lantai gudang yang dingin, di antara puing-puing pertempuran dan di depan anak buah kepercayaannya yang paling setia. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru berwarna biru tua—warna yang sama dengan safir di leher Rebecca.
"Rebecca Moretti," suara Maximilian menggema di dalam gudang yang luas itu. "Dunia ini mengenalmu sebagai milikku. Tapi aku ingin dunia tahu bahwa aku adalah milikmu. Aku tidak ingin kau hanya menjadi bayanganku. Aku ingin kau menjadi ratuku, istrimu yang sah, penguasa sah di sampingku hingga detak jantung terakhirku."
Maximilian membuka kotak itu, menyingkapkan sebuah cincin berlian hitam yang dikelilingi berlian putih kecil—sebuah perhiasan yang melambangkan keindahan sekaligus kekerasan dunia mereka.
"Maukah kau berhenti menjadi 'sampah' yang Bianca katakan, dan menjadi mahkota paling berharga dalam hidupku? Maukah kau menikah denganku, Rebecca?"
Rebecca terpaku. Seluruh galau dan konflik batin yang menyiksanya selama beberapa hari terakhir seolah menguap begitu saja. Ia melihat ke sekeliling; Vargo, Erica, dan Liam semuanya menundukkan kepala sebagai tanda hormat—bukan hanya kepada Max, tapi juga kepadanya.
Air mata haru mengalir di pipi Rebecca, menghapus sedikit jelaga di wajahnya. Ia menyadari bahwa Max bukan menunda karena tidak menganggapnya berharga, tapi karena Max ingin Rebecca merebut posisinya sendiri agar tidak ada satu pun orang di dunia ini yang berani mempertanyakan mengapa ia berada di puncak.
"Ya, Om," bisik Rebecca, namun kemudian ia memperkeras suaranya agar terdengar oleh semua orang di ruangan itu. "Ya, aku akan menikah denganmu. Bukan untuk dilindungi, tapi untuk menghancurkan musuh-musuhmu bersamamu."
"Jangan panggil aku Om lagi. Panggil aku dengan namaku," ucap Max.
"Baiklah, Max."
Maximilian menyematkan cincin itu di jari manis Rebecca. Saat ia berdiri, ia menarik Rebecca ke dalam ciuman yang penuh kemenangan di tengah sisa-sisa pertempuran.
Malam itu, di dalam gudang yang hancur, status Rebecca telah dipatri secara permanen. Ia bukan lagi sekadar gadis yang diselamatkan. Ia adalah penguasa baru yang lahir dari api dan darah. Dan bagi siapapun yang berani menghinanya lagi, mereka tidak akan hanya menghadapi Maximilian Moretti, tapi mereka akan menghadapi murka sang Ratu yang baru saja mendapatkan mahkotanya.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣