Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota yang dipaksakan
Siang itu, matahari di atas Jawa Timur seolah sedang bersemangat membakar apa pun yang ada di bawahnya. Sebuah mobil SUV putih mewah melaju membelah jalanan desa yang berdebu, kontras dengan hamparan sawah hijau di kanan-kirinya. Di dalam mobil, Zayna Almeera sedang melakukan "protes bisu" dengan volume musik yang memekakkan telinga melalui headphone-nya.
"Zayna, lepaskan itu. Kita sudah sampai di depan gerbang," suara Ayah terdengar tegas namun ada getar haru yang disembunyikan.
Zayna melepas headphone-nya dengan kasar. "Ayah, ini beneran? Ayah nggak mau kirim aku ke Swiss atau London gitu? Kenapa harus ke tempat yang sinyalnya saja harus pakai bantuan orang dalam?"
"Di sini sinyalnya langsung ke Langit, Zay," jawab Bunda lembut sambil merapikan hijab Zayna yang letaknya berantakan.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah kayu jati yang agung—Ndalem. Zayna turun, kacamata hitamnya tetap terpasang tegak. Ia menarik napas, dan yang terhirup adalah aroma kayu gaharu bercampur tanah basah. Baginya, itu adalah aroma "penjara".
Di teras ndalem, Kyai sepuh dan Ibu Nyai sudah berdiri. Di samping mereka, ada seorang pemuda yang seolah menjadi bagian dari bayangan tiang kayu. Gus Haidar.
Zayna melangkah dengan gaya catwalk yang disengaja, sementara beberapa santriwati yang lewat menunduk dalam-dalam. Ia merasa seperti alien yang mendarat di planet yang salah.
"Assalamualaikum, Kyai, Ibu Nyai," Ayah dan Bunda menyalami dengan takzim.
Zayna ikut menyalami, namun matanya langsung tertuju pada pemuda di sudut teras. Pemuda itu mengenakan sarung samarinda berwarna gelap dan baju koko putih yang sangat rapi—tidak ada satu pun kerutan, seolah setrikanya menggunakan suhu kesabaran yang tinggi.
"Zayna, ini Gus Haidar. Dia yang akan sering memantau perkembanganmu di sini," ujar Kyai sambil tersenyum teduh.
Zayna sengaja melepas kacamata hitamnya dengan gaya dramatis, berharap mata indahnya membuat pemuda itu salah tingkah. "Gus Haidar, ya? Halo. Saya Zayna. Maaf ya kalau nanti saya sering bikin rapat dadakan karena saya nggak betah. Oh ya, di sini ada layanan delivery makanan cepat saji nggak? Atau setidaknya ada kafe yang kopinya nggak pakai ampas?"
Suasana mendadak hening. Ayah berdehem keras, Bunda mencubit pelan lengan Zayna.
Gus Haidar tidak bergerak sedikit pun. Kepalanya tetap tertunduk, matanya menatap fokus pada butiran debu di atas ubin. Namun, jemarinya yang memegang tasbih kayu cendana tampak berhenti sejenak.
"Di sini, ampas kopi adalah pengingat, Mbak Zayna," suara Haidar terdengar pelan, berat, dan tenang—seperti gemericik air di tengah malam. "Bahwa untuk menikmati yang manis, kita harus tahu cara membiarkan yang pahit mengendap di bawah."
Zayna mengerutkan kening. Wah, cowok ini bicara pakai teka-teki silang, pikirnya.
"Wah, puitis banget. Tapi maaf Gus, saya lebih suka kopi tanpa drama," balas Zayna ketus. "Jadi, di mana kamar saya? Saya perlu tahu di mana tempat terbaik untuk merencanakan pelarian... maksud saya, tempat terbaik untuk belajar."
Ibu Nyai tertawa kecil, melihat Zayna seperti melihat seekor kucing kecil yang sedang marah namun menggemaskan. "Mari, Zayna. Ibu antar ke asrama khusus. Di sana sudah ada Zoya yang akan menemanimu."
Saat Zayna berjalan mengikuti Ibu Nyai, ia sengaja berjalan melewati Gus Haidar dengan jarak yang sangat dekat. Ia ingin melihat apakah pria "patung" ini akan goyah. Namun, Gus Haidar justru melangkah mundur satu tindak, memberikan ruang tanpa sekali pun mengangkat pandangannya.
Haidar memejamkan mata sejenak saat aroma parfum Zayna yang tajam dan modern menusuk indranya. Ia tahu, wanita di depannya adalah badai yang akan mengacak-acak ketenangan pesantrennya. Namun jauh di lubuk hatinya, Haidar berbisik pada Sang Pemilik Hati: "Ayah benar, dia sangat berisik. Tapi entah kenapa, kesunyianku selama dua puluh empat tahun ini tiba-tiba terasa lengkap hanya dengan mendengar keluhannya."
Zayna menoleh ke belakang sebelum menghilang di balik pintu, mendapati Gus Haidar masih berdiri di sana, tetap menunduk, seperti sebuah menara yang kokoh menjaga rahasia yang tak akan terungkap sampai bab-bab yang akan datang.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp