Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Ruang kerja pribadi Kaisar biasanya merupakan tempat yang paling tenang dan penuh wibawa di seluruh istana. Namun, sore ini, atmosfer di dalamnya begitu tegang hingga suara detak jam dinding pun terdengar seperti dentuman drum perang. Di tengah ruangan, Kholid dan Putri Sherena berdiri mematung. Wajah mereka pucat pasi, tak berani menatap layar monitor besar yang sedang menampilkan rekaman CCTV—memperlihatkan dengan sangat jelas aksi mereka menyiramkan minyak ke lantai.
Kaisar berdiri di balik meja besarnya, kedua tangannya bertumpu di atas permukaan kayu jati yang dingin. Matanya yang tajam menatap kedua saudaranya itu dengan kilat kemarahan yang tertahan.
Tepat saat Kaisar hendak membuka suara, pintu ruangan terbuka dengan sentakan keras.
BRAK!
"Ayo, Than! Dorongnya lebih kenceng sedikit! Kita udah telat nih buat nonton drama!"
Pangeran Ethan muncul dengan wajah serba salah, kedua tangannya memegang pegangan kursi roda. Di atas kursi roda itu, duduklah Freya dengan kaki kanan yang dibalut gips putih tebal dan disangga bantal. Meski terluka, ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penderitaan. Ia justru terlihat seperti seorang jenderal yang siap memenangkan peperangan.
"Freya? Kenapa kamu di sini? Seharusnya kamu istirahat," ujar Kaisar, suaranya melembut seketika melihat tunangannya.
"Duh, Kai! Masa acara seru begini aku lewatkan? Lagian, luka begini doang nggak bakal bikin mulut aku bisu buat nyemprot orang," sahut Freya santai. Ia menepuk tangan Ethan. "Berhenti di sini, Than. Pas di depan dua cecunguk ini."
Ethan menuruti perintah kakaknya, mendorong kursi roda itu tepat di hadapan Kholid dan Sherena yang kini tampak makin ciut.
Freya menyandarkan punggungnya di kursi roda, melipat tangan di dada, dan menatap Sherena dengan pandangan meremehkan.
"Ohhh... jadi ini dua cecunguk yang berani main api?" cetus Freya, suaranya memenuhi ruangan. "Gue pikir kalian pinter, ternyata cara kalian licik bin norak. Minyak di lantai? Serius? Itu trik antagonis sinetron tahun 90-an, tahu nggak! Nggak estetis banget!"
"Freya, jaga bicaramu!" Sherena mencoba membela diri dengan suara gemetar. "Kami hanya..."
"Hanya apa? Hanya mau liat gue mati gaya?" potong Freya cepat. "Liat nih kaki gue! Gara-gara minyak murah kalian, gue nggak bisa jalan ke studio selama seminggu. Kalian tahu nggak berapa harga waktu gue buat berkarya? Nggak bakal kebeli sama gengsi kalian yang setinggi langit tapi otaknya nol!"
Kaisar melangkah mendekat, berdiri di samping kursi roda Freya. "Aku sudah memutuskan hukuman kalian. Kholid akan dicabut hak fasilitasnya selama—"
"Tunggu, Kai!" sela Freya sambil mengangkat tangannya. "Hukumannya biar aku yang nentuin. Sebagai korban, aku punya hak veto, kan?"
Kaisar menatap Freya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Apapun yang kamu inginkan, Freya."
Hukuman Gila: Budak dan Pelayan Dapur
Freya tersenyum licik, sebuah senyuman yang membuat Ethan di belakangnya bergidik ngeri.
"Oke, dengerin baik-baik. Kholid, lo tetep jadi Aspri gue. Tapi sekarang tugas lo nambah: lo harus cuci semua kuas dan palet gue pake tangan sendiri sampe kinclong, dan lo harus dorong gue ke mana pun gue mau di kampus. Tanpa pengawal."
Kholid memejamkan mata, membayangkan betapa malunya dia harus mendorong kursi roda Freya di depan ribuan mahasiswa.
"Dan buat lo, Tuan Putri Sherena..." Freya menunjuk Sherena dengan jari telunjuknya. "Gue tahu lo nggak pernah nyentuh dapur kecuali buat minta minum. Mulai besok pagi, dan setiap sore, lo yang harus nyiapin makan buat gue. Sendiri. Tanpa bantuan koki istana."
Mata Sherena membelalak. "Apa?! Aku harus memasak untukmu? Itu penghinaan!"
"Bukan memasak, tapi melayani," ralat Freya dengan nada manis yang berbisa. "Lo harus nganterin nampan makanannya ke kamar gue, nungguin sampe gue selesai makan, baru lo boleh pergi. Dan kalau rasa makanannya nggak enak atau lo telat semenit aja... gue bakal aduin ke Buyut kalau lo nggak becus jalanin tugas 'penebusan dosa' ini."
"Kaisar! Tolong, ini keterlaluan!" Sherena memohon pada kakaknya.
Namun, Kaisar hanya menatap adiknya dengan dingin. "Itu hukuman yang adil. Jika kamu bisa melumuri minyak, seharusnya kamu bisa memegang sudip dapur. Mulailah besok pagi jam 6 tepat. Jika tidak, aku akan meminta Buyut membekukan seluruh rekening pribadimu."
Sherena dan Kholid akhirnya diusir keluar ruangan dengan wajah tertunduk lesu. Begitu pintu tertutup, Ethan meledak dalam tawa.
"Gila! Kak Freya, lo bener-bener jenius! Gue nggak sabar liat Sherena pake celemek sambil bawa nampan bubur pagi-pagi," ujar Ethan sambil terpingkal-pingkal.
Kaisar berlutut di depan kursi roda Freya, memeriksa bungkusan es di pergelangan kakinya. "Kamu yakin dengan hukuman itu? Aku bisa memberikan yang lebih berat, Freya."
Freya meraih dagu Kaisar, memaksa pria kaku itu menatapnya. "Kai, hukuman fisik atau kurungan itu biasa buat mereka. Tapi bikin harga diri mereka jatuh karena harus melayani orang yang mereka benci? Itu jauh lebih menyakitkan. Lagian, aku pengen liat seberapa tahan Sherena di dapur."
Kaisar menghela napas, lalu menggenggam tangan Freya. "Kamu benar-benar tidak terduga. Tapi sekarang, kembali ke kamar. Kamu butuh istirahat."
"Gendong..." rengek Freya tiba-tiba, membuat Ethan tersedak udaranya sendiri.
"Hah?" Kaisar tertegun.
"Kaki aku sakit banget kalau di kursi roda terus, Kai. Gendong ke kamar, ya? Sebagai kompensasi karena lo punya sepupu dan adek yang nggak ada adab," ujar Freya dengan mata yang dibuat sayu, namun sebenarnya ia hanya ingin menggoda sang Pangeran Robot.
Kaisar tidak memprotes. Ia berdiri, lalu dengan sangat lembut mengangkat Freya dari kursi roda. Ethan yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Dunia beneran udah kebolak-balik. Singa betina jadi kucing manja, Pangeran Robot jadi budak cinta. Gue pamit dulu deh sebelum kena diabetes!" seru Ethan sambil berlari keluar ruangan.
Sambil berjalan menuju kamar Freya, Kaisar berbisik pelan, "Lain kali, jangan bertindak gegabah tanpa asistenmu, meskipun dia sepupuku sendiri."
"Iya, Pangeran Posesif... yang penting sekarang, besok pagi aku mau menu sarapan yang mewah buatan Putri Sherena!" sahut Freya sambil tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Kaisar yang terasa begitu nyaman.
Sembilan hari lagi menuju batas waktu tiga puluh hari, dan Freya menyadari bahwa ia mulai menikmati setiap detik 'drama' di istana ini, selama Kaisar tetap menjadi orang yang menggendongnya pulang.