NovelToon NovelToon
Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kehidupan di Kantor / POV Pelakor / Office Romance / Romantis / Tamat
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author:

Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran

Najma dan Hidupnya yang Menarik

Sore hari yang cerah. Kampus tampak lebih indah daripada biasanya. Semua umbul-umbul dan beberapa sarnavil berlogo “I’m Cool” untuk AMD Sambung menghiasi lapangan yang cukup besar itu. Di lapangan kampus sudah berkumpul semua mahasiswa yang tidak hanya ikut serta untuk acara permainan-permainan AMD sedari pagi, tapi juga para mahasiswa yang bergabung dan menikmati acara dengan menonton dan mendukung teman-temannya.

Di panggung yang tidak terlalu besar itu, sudah ada MC yang akan mengumumkan juara dari tiga kandidat yang memiliki nilai tertinggi. Total nilai mereka akan diakumulasi dari semua nilai permainan yang sudah mereka lakukan, juga jumlah pin yang terpasang di kaos mereka. Mengenai jumlah pin yang tertempel, hal tersebut menunjukkan seberapa kreatif mereka meminta tolong teman-temannya di kampus untuk mau mendukungnya. Setiap peserta harus berkeliling kampus dan mencari siapapun untuk menempelkan pin yang mereka bawa sebanyak satu kantong penuh. Jumlahnya kira-kira seratus buah. Satu pin untuk satu mahasiswa dan mereka harus kembali ke area permainan selama lima menit saja. Nilai dari pengumpulan pin di kaos mereka di akhir segmen menjadi penentu kemenangan mereka. Dan penilaian yang dilakukan bersifat rahasia yang artinya, masing-masing dari mereka tidak tahu jumlah yang diperoleh oleh pesaing mereka.

Setelah hampir 4 jam bergelut di arena permainan, akhirnya MC sudah mengantongi nama juara untuk proyek AMD “I’m Cool” ini. Aku selalu ikut tegang seperti para mahasiswa lainnya yang bersiap mendengar salah satu nama temannya disebut. Terdapat dua lelaki dengan wajah yang tampak seperti angkatan akhir dan satu perempuan yang terlihat masih sangat imut karena wujudnya seperti anak remaja tanggung dari Jepang yang tidak terlalu tinggi dan berperawakan kurus.

“Oke, semuanya bersiap ya? Gue bakal umumin siapa orang paling keren di kampus ini dan berhak menjadi bagian dari duta AMD Sambung tahun ini. Coba dong kasih tepuk tangan yang paling meriah buat temen-temen lo semua yang udah berdiri di panggung ini!”

Riuh tepuk tangan pun bergema cukup lama. Aku rindu masa-masa ini, di mana jam empat sore yang sudah terbias sinar matahari yang hangat menyiram semua wajah-wajah berseri tanpa kecemasan yang berarti. Masa di mana tak ada kekhawatiran yang berlebih karena kami merasa kami punya banyak teman yang saling menjaga punggung kami.

“The one and only girl in here. Congrats, Gempi! You’re the coolest winner ever! Silakan maju ke depan untuk menyampaikan pidato terpenting abad ini! Ahaha.”

Gempi pun tersenyum sehingga kedua lesung pipinya terlihat jelas. Ia meraih trofi kristal bertuliskan “Cool” yang menyerupai kacamata itu. Lalu, ia memakai kacamata kemenangan AMD dengan sinar bling-bling di setiap tepi lensa. Ia pun menghampiri mikrofon yang sudah terpasang di tempatnya.

“Thankyou! Saya sudah tahu saya akan menang, hehe. Karena saya tahu kerja keras dan tekad nggak akan pernah berkhianat.”

“ASEEK GEMPI!” seru seseorang begitu keras di kerumunan. Gempi hanya tertawa.

“Selain rasa terima kasih dan pengakuan bahwa saya bangga banget bisa jadi pemenang di antara kakak-kakak senior saya yang paling eksis ini, saya juga bangga telah menjadi duta perasaan untuk seseorang yang begitu butuh pertolongan. Katanya, saya adalah penyelamat bagi dia karena cuma saya satu-satunya yang bisa menolongnya.”

Semuanya diam dalam kebingungan.

“Pesan ini akan ditujukan untuk Kak Fedi. Jadi, bagi yang namanya Fedi Lazuardi silakan naik ke atas panggung. Ini penting, saya minta tolong.”

Masih dalam keadaan bingung dan hening, semua orang yang ada di lapangan pun menengok kesana kemari bermaksud mencari siapakah yang dimaksud oleh Gempi. Semua orang mencari Fedi dan menyimpulkan bahwa laki-laki yang memakai jaket parka warna biru dongker dengan dalaman kaos panitia adalah orang yang dicari Gempi. Semua pun bertepuk tangan diiringi oleh riuh dominasi suara para mahasiswi yang terdengar kagum dengan bentuk fisik dan wajah Fedi yang menyenangkan untuk dipandang.

“Kak Fedi…” ujar Gempi sambil membuka secari kertas dari kantong celananya. Ia pun menghadap Fedi yang sudah bersiap mendengarkan pidato dari Gempi.

“Perempuan ini ingin bilang bahwa ia nggak pernah menyukai Kak Fedi sebelumnya. Setiap melihat Kak Fedi di sekitarnya, ia akan tegang dan segera ingin menghilang dari muka bumi. Perempuan ini ingin segera menendang Kak Fedi ke udara setiap kamu berusaha mendekatkan wajah ke arahnya dan menatapnya seperti ingin mengulitinya. Ia tak pernah tahan dipandangi wajahnya oleh lelaki yang menarik seperti Kak Fedi.”

“Cieeeee…” respon dari para mahasiswa. Fedi hanya tersenyum kecil ke arah mereka, namun semua mahasiswi malah riuh rusuh, seperti habis disenyumi semua anggota One Direction.

“Ketika perempuan ini koma, ia tak ingat apa-apa kecuali pernah memimpikan pria masa lalunya. Di situ ia mengakhiri kisahnya bersama pria tersebut. Ia tahu bahwa pria ini tak pantas untuknya. Ia tahu bahwa hidupnya tak layak dihabiskan hanya untuk mengenangnya. Lalu, perempuan ini terbangun dan melihat Kak Fedi yang menangis. Pertama kalinya ia sangat ingin berlari ke arah Kak Fedi dan berkata bahwa ia masih hidup dan baik-baik saja.”

Kulihat Fedi mulai mencari keberadaan seseorang di setiap kerumunan mahasiswa dan para panitia di belakang mereka.

“Kak Fedi, perempuan ini ingin mengatakan bahwa ia tak pernah merasa bahwa kamu adalah orang yang membuatnya celaka. Malah, Kak Fedilah satu-satunya orang yang selalu menyenangkan hatinya setiap saat. Memang, cuma Kak Fedi yang terus melihatnya menangis, tapi di setiap malamnya, perempuan ini selalu tersenyum sebelum tidur karena bersyukur telah mengenal Kak Fedi.”

Fedi terus mencari keberadaan orang yang diceritakan Gempi dalam pidatonya.

“Kak Fedi…”

Fedi pun menoleh dan tersenyum pada Gempi.

“Orangnya di sana. Tuh.” Ujar Gempi menunjuk ke arahku yang sudah berada di tengah kerumunan para mahasiswa. Aku mengacungkan tangan setinggi-tingginya dengan bantuan balon tepuk AMD yang kupinjam dari seorang mahasiswa di sebelahku.

“Hai, Fedi!!! Gue di sini!” teriakku memecah kerumunan menjadi dua bagian. Semua menatapku diam dan langsung kembali melihat ke arah panggung. Kulihat Fedi hanya tersenyum dan menunduk, lalu sejenak kembali melihat ke arahku dengan senyum gigi kikirnya yang khas. Senyum yang selalu kurindukan dan membuatku tersiksa jika tak bisa melihatnya.

“Fedi! Eat my kiss!” teriakku lagi dan memberikan ciuman jauh yang kulempar pada Fedi. Semua ikut riuh dan berteriak heboh atas tingkahku. Lebih heboh lagi setelah melihat Fedi yang merespon ciuman jauhku dengan menangkapnya dan memakannya lahap. Seolah-olah aku dan Fedi telah melakukan penampilan yang luar biasa.

Aku dan Fedi terus bertatapan, dan tanpa sadar aku terus tersenyum menatapnya.

Kulihat Fedi seperti akan turun panggung setelah berbincang sebentar dan memeluk Gempi. Riuh kehebohan makin terdengar keras seiring turunnya Fedi dari panggung dan berjalan memecah kerumunan yang padat berada di sekitarku. Dengan mudahnya Fedi menembus padatnya mahasiswa yang ada di sekitarku untuk menyelamatkanku di kerumunan tersebut.

“Hai, Najma!” serunya ceria, seperti dulu.

“I love you to the moon and never back.” Bisikku di telinganya. Tapi beberapa mahasiswa yang begitu dekat dengan kami sontak berteriak kegirangan setelah tak sengaja mendengarnya.

“Let’s go to the moon.” Ujar Fedi tak memedulikan siapapun di sekitar kami. Ia menarik tanganku dan mencoba menembus kerumunan yang masih padat menutupi jalan di depan kami berdua.

“Gue baru tahu arti nama Lazuardi.” Ujarku sambil terus berjalan dalam iringan tangannya.

“Apa coba?”

“Ada yang bilang langit biru, ada yang bilang langit senja. Tapi, poinnya adalah lo itu langit, Fedi. Jadi, kita memang saling mengisi. Hebat, ya?”

Fedi sekali lagi tersenyum padaku, lalu merangkul pundakku.

“Now I know, you love me too.”

“Yea, supaya lo nggak pergi aja ninggalin gue sih.”

“What?”

“Ahahaha. Fedi, Bagaimana mungkin lo ninggalin gue? Gue aja satu-satunya teman yang lo punya.”

“Yes, Madam. You’re the one.”

Langit sore itu menjadi cuaca paling favorit selama aku hidup dua puluh empat tahun lamanya di muka bumi ini. Tangan yang memenggenggam tanganku saat ini menjadi tangan favorit yang pernah aku tahu. Wajah yang terbias matahari sore ini adalah wajah paling favorit sepanjang hidupku. Bersama Fedi, aku tahu hidupku akan selalu baik-baik saja.

Terlebih, sejak mengenalnya hidupku jadi lebih berwarna. Buktinya, hidupku sangat menarik, bukan?

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!