Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.
Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lahirnya Pendekar Langit
Sha Nuo melangkah keluar dari ambang pintu kamarnya. Aliran petir yang semula melingkar liar di sekelilingnya perlahan mereda, menyusut masuk kembali ke dalam pori-pori tubuhnya. Namun tekanan auranya tetap terasa berat, seperti gunung yang baru saja terangkat dari dasar bumi.
Tiba-tiba, pria itu menundukkan kepala dalam-dalam. Lalu ia bergerak hendak berlutut di depan Boqin Changing. Tubuhnya yang tinggi dan kokoh itu benar-benar merendahkan diri, kedua lututnya hampir menyentuh lantai kayu rumah sederhana itu.
Boqin Changing terkejut.
“Paman, apa yang Paman lakukan?!” serunya cepat.
Dalam satu langkah ringan, ia sudah berada di depan Sha Nuo dan menahan kedua bahunya sebelum lutut pria itu benar-benar menyentuh tanah.
Sha Nuo menatapnya dengan mata yang kini jauh lebih jernih, namun penuh emosi.
“Jika bukan karena arahanmu… jika bukan karena pemahaman yang kau berikan… aku takkan pernah mampu menembus ranah pendekar langit.” Suaranya bergetar tipis. “Aku mungkin akan selamanya terjebak di ranah pendekar bumi. Menunggu ajal datang dengan penyesalan.”
Boqin Changing menggeleng pelan, senyum tipis terukir di wajahnya.
“Paman terlalu membesar-besarkan. Aku hanya menunjukkan jalan. Yang melangkah tetap Paman sendiri.”
Sha Nuo menggeleng keras.
“Tidak. Tanpa arahan itu, aku takkan pernah tahu ke mana harus melangkah.”
Boqin Changing menepuk bahu pria itu dengan ringan.
“Sudahlah. Jangan mempermasalahkan itu lagi. Kita bukan orang asing.” Ia tersenyum tipis. “Lagipula, sekarang mengapa tidak mencoba kekuatan barumu di luar?”
Sha Nuo terdiam sesaat, lalu sudut bibirnya terangkat.
“Mencobanya…?” ulangnya pelan.
Boqin Changing mengangguk.
“Bukankah Paman sendiri yang penasaran seperti apa aura pendekar langit yang sesungguhnya?”
Mata Sha Nuo berkilat. Tanpa ragu ia mengangguk mantap.
Keduanya pun berjalan keluar rumah menuju halaman depan.
Anehnya, begitu mereka melangkah keluar, cuaca telah berubah total. Langit yang tadi hitam pekat kini kembali cerah. Awan badai telah sirna tanpa jejak, menyisakan langit biru yang bersih dan udara segar setelah hujan. Tanah masih lembap, dedaunan berkilau oleh sisa air.
Sha Nuo berdiri di tengah halaman. Tubuhnya kini sepenuhnya normal, tak ada lagi petir liar yang menyambar tanpa kendali. Nafasnya stabil. Tatapannya lurus ke depan.
Ia menarik napas panjang.
Boqin Changing berdiri beberapa langkah di belakangnya, memperhatikan dengan mata tajam.
Sha Nuo memejamkan mata sesaat, lalu,
Boommmm!
Aura pendekar langit meledak keluar dari tubuhnya. Tanah di bawah kakinya retak seketika. Getaran hebat menjalar ke segala arah, membelah halaman menjadi garis-garis panjang seperti luka di bumi. Batu-batu kecil terangkat ke udara oleh tekanan energi yang tak kasat mata.
Langit yang baru saja cerah berubah drastis. Awan gelap kemerahan berkumpul dengan kecepatan mencengangkan. Kilatan cahaya menyambar dari balik awan, petir bergulung-gulung seperti naga marah. Suara gemuruh menggetarkan udara.
Angin kencang berputar di sekitar Sha Nuo, menciptakan pusaran yang membuat pakaian dan rambutnya berkibar liar.
Di sekeliling tubuhnya, aliran petir kini muncul kembali, namun berbeda dari sebelumnya. Bukan liar dan tak terkendali, melainkan berputar rapi, mengelilinginya. Petir itu tidak menyentuh tanah. Tidak merusak rumah. Semuanya terkendali dalam radius tertentu, seolah tunduk pada kehendaknya.
Sha Nuo membuka mata. Matanya kini memancarkan kilau keperakan samar.
Ia tertawa.
“Hahahaha…!”
Tawanya menggema di antara petir dan angin.
“Jadi… jadi inikah aura pendekar langit yang sesungguhnya?!” serunya lantang, suaranya bercampur gemuruh langit.
Setiap kata yang ia ucapkan bergetar di udara. Boqin Changing menyipitkan mata, merasakan tekanan luar biasa itu menghantam dadanya. Bahkan dengan ranah pendekar bumi puncak setengah langkah menuju langit, ia tetap bisa merasakan jurang perbedaan yang nyata.
Namun bukan ketakutan yang muncul di wajahnya. Melainkan senyum tipis.
“Selamat, Paman…” gumamnya pelan.
Langit kemerahan terus berputar di atas mereka, dan di tengah pusaran petir itu, Sha Nuo berdiri tegak, seorang pendekar langit sejati, lahir di bawah gemuruh dunia kecil ini.
Sha Nuo berdiri lama di tengah halaman, merasakan setiap helaan napasnya kini berbeda. Udara seakan lebih ringan, dunia terasa lebih kecil di bawah telapak kakinya.
Hari itu, Boqin Changing tidak banyak bicara. Ia hanya berdiri di bawah bayang-bayang pohon tua di sudut halaman, memperhatikan setiap gerakan pria itu dengan mata yang tak pernah lengah.
Sha Nuo mengangkat tangan kanannya perlahan.
Zzzttt!
Aliran petir tipis muncul di antara jari-jarinya. Bukan lagi semburan liar seperti sebelumnya, melainkan arus halus yang patuh. Ia menggenggamnya, lalu melepaskannya. Petir itu melesat lurus ke arah batu besar di tepi halaman.
Boom!
Batu itu pecah menjadi serpihan halus, bukan hancur berantakan tak terkendali, melainkan terbelah rapi oleh tekanan energi yang terfokus.
Sha Nuo terdiam sejenak. Lalu ia menutup mata dan menekan auranya. Aura pendekar langit yang tadi terasa seperti badai kini menyusut perlahan, ditekan masuk kembali ke dalam dantiannya. Tanah yang retak berhenti bergetar. Angin mereda.
Boqin Changing mengangguk tipis.
“Kontrolnya bagus… jauh lebih stabil dari perkiraanku.”
Ia bisa merasakan dengan jelas bahwa kekuatan Sha Nuo kini meningkat jauh dari sebelumnya. Jika dahulu pria itu masih memiliki celah dan ketidakseimbangan dalam sirkulasi qi-nya, kini alirannya halus dan kuat, seperti sungai besar yang mengalir tenang namun mampu menelan apa pun di jalurnya.
Ia sangat puas. Bukan hanya karena keberhasilan Sha Nuo, tetapi karena rencananya berjalan sesuai perhitungan.
...*******...
Malam pun tiba. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dapur rumah kecil itu kembali dipenuhi aroma masakan.
Boqin Changing berdiri di depan tungku, bergerak dengancekatan. Ia memasak jauh lebih banyak dari biasanya. Daging panggang berbumbu, sup herbal hangat, tumisan sayur, hingga nasi putih mengepul memenuhi meja kayu sederhana itu.
Sha Nuo duduk di kursinya, menatap hidangan dengan ekspresi yang jarang terlihat di wajahnya, senyum tulus.
“Sudah lama sekali kita tidak makan seperti ini,” gumamnya.
Boqin Changing tersenyum samar.
“Hari ini berbeda. Paman sudah menjadi pendekar langit. Tentu harus dirayakan.”
Sha Nuo terkekeh pelan.
Mereka mulai makan. Tidak ada basa-basi. Tidak ada kesopanan berlebihan. Sendok dan sumpit bergerak cepat. Setelah sekian lama menjalani pelatihan tertutup yang melelahkan, makanan hangat terasa seperti berkah.
Sha Nuo menghela napas puas setelah meneguk sup terakhirnya.
“Tuan Muda,” panggilnya pelan.
Boqin Changing mengangkat wajahnya.
“Bagaimana dengan pelatihan tertutupmu?” tanya Sha Nuo. “Apakah kau sudah menembus ranah pendekar langit juga?”
Boqin Changing terdiam sejenak. Lalu ia menggeleng.
“Belum,” jawabnya jujur. “Aku masih belum sampai di titik itu.”
Sha Nuo tidak menunjukkan kekecewaan, hanya sedikit mengangguk.
Boqin Changing melanjutkan,
“Aku memang masih menyisakan beberapa sumber daya untuk meningkatkan qi-ku.”
Ia menyandarkan punggungnya ringan.
“Hanya saja… aku tidak yakin apakah itu cukup untuk membantuku menembus ranah pendekar langit.”
Itulah satu-satunya hal yang tidak bisa ia pastikan, bahkan dengan pengalaman kehidupan sebelumnya.
Sha Nuo terdiam sesaat, lalu berkata pelan,
“Aku tidak memiliki banyak sumber daya peningkat qi. Namun jika kau mau… aku bisa memberikannya padamu.”
Ucapan itu tulus. Tidak ada sedikit pun keraguan.
Boqin Changing tersenyum tipis.
“Tidak perlu,” jawabnya tenang. “Paman simpan saja untuk diri sendiri.”
Ia menatap Sha Nuo dengan serius.
“Ranah pendekar langit bukan sekadar tentang kekuatan. Tubuh Paman baru saja mengalami lonjakan besar. Paman perlu menstabilkannya terlebih dahulu.”
Sha Nuo mengangguk perlahan. Ia memang bisa merasakan bahwa meski auranya stabil, fondasi tubuhnya masih perlu waktu untuk benar-benar menyatu dengan kekuatan barunya.
“Aku mengerti,” katanya. “Waktu ini akan kugunakan untuk itu.”
Hening sesaat menyelimuti meja makan. Lalu Sha Nuo kembali bertanya, suaranya sedikit lebih rendah.
“Kapan kita akan menuju ke dunia lain itu?”
Tatapannya tajam.
“Dunia yang memiliki pedang yang kau cari.”
Boqin Changing berhenti menggerakkan sumpitnya. Cahaya samar melintas di matanya. Dunia lain dan pedang itu. Tujuan sebenarnya dari perjalanan panjang ini.
“Setelah aku menyerap semua sumber dayaku,” jawabnya perlahan. “Kita akan pergi.”
Nada suaranya tidak ragu. Ia berdiri dari kursinya.
“Aku akan melakukan pelatihan tertutup kembali.”
Sha Nuo menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk.
“Baik.”
Boqin Changing berjalan menuju kamarnya. Langkahnya tenang, namun pikirannya bergerak cepat.
“Pendekar langit… Jika kali ini aku gagal menembusnya sebelum pergi ke dunia itu… segalanya akan jauh lebih berbahaya.”
Ia membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk.
Di luar, malam terasa sunyi. Di dalam rumah kecil itu, dua pendekar, satu telah menyentuh ranah pendekar langit, satu lagi berdiri di ambang batas, bersiap untuk perjalanan yang bahkan dunia kecil ini belum pernah saksikan.