David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 32) Sekretaris pribadi David
Hari itu, atmosfer di ODM Company tampak berbeda. Suasana yang biasanya kaku dan hening, tiba-tiba menjadi keliru ketika para karyawan mendapati sang penguasa disana berjalan masuk bersama seorang wanita.
Pintu kaca otomatis terbuka dengan bunyi lembut, dan saat itulah David Mendoza muncul diantara mereka. Seketika, semua pandangan mengarah ke pintu lobi utama.
David Mendoza, adalah pria yang dikenal sebagai sosok dingin, tegas, dan hampir tidak pernah menunjukkan emosi di hadapan para karyawannya. Setiap langkahnya selalu memancarkan aura dominasi yang membuat siapa pun secara refleks menundukkan kepala saat ia lewat.
Bagi para pegawai ODM Company, David bukan hanya seorang CEO, apalagi dengan identitas lainnya yang merupakan pemimpin organisasi kartel. Ia lebih seperti penguasa yang memegang kendali mutlak atas seluruh sektor bisnis di Sao Paulo.
Tetapi hari ini ada sesuatu yang berbeda. Ketika David melangkah masuk melalui pintu kaca itu, ia tidak sendirian. Di sampingnya berjalan seorang wanita.
Wanita itu langsung menarik perhatian siapa pun yang melihatnya. Parasnya cantik dengan aura elegan yang begitu kuat. Rambut panjangnya tertata rapi, jatuh lembut di bahunya, sementara setelan jas wanita berwarna navy yang ia kenakan membuat penampilannya tampak profesional sekaligus berkarisma.
Dialah Laila. Langkahnya tenang, sejajar dengan David seolah ia sudah terbiasa berjalan di samping pria berpengaruh itu. Sepatu hak tinggi yang ia kenakan berdetak pelan di lantai marmer lobi, menambah kesan anggun pada setiap gerakannya.
Di belakang mereka, Leo berjalan dengan sikap formal seperti biasa. Asisten pribadi David itu menjaga jarak beberapa langkah, namun tetap waspada memperhatikan keadaan sekitar.
Saat ketiganya melangkah masuk lebih jauh ke dalam gedung, suasana lobi yang mulanya tertib mulai dipenuhi bisikan-bisikan kecil.
Para karyawan tidak berani menatap terlalu lama, tapi rasa penasaran mereka terlalu besar untuk diabaikan.
"Hei… lihat itu," bisik seorang karyawan wanita kepada rekannya sambil pura-pura memeriksa tablet di tangannya.
"Siapa wanita itu?" jawab rekannya dengan suara pelan.
"Bukankah itu Tuan David?"
"Ya, tentu saja itu beliau. Tapi… aku belum pernah melihatnya datang bersama seorang wanita sebelumnya."
Segelintir orang mulai melirik diam-diam dari meja resepsionis, ruang tunggu, serta adapun yang mengintip di balik pilar besar lobi. Tidak sedikit yang hampir lupa bekerja hanya karena ingin melihat lebih jelas pemandangan langka itu.
Seorang pria yang berdiri di dekat mesin kopi berbisik pelan.
"Hari ini Tuan David kelihatan… berbeda."
"Benar."
"Dia tidak terlihat sedingin biasanya."
"Iya sih..."
"Lihat saja wajahnya. Sepertinya… dia sedang dalam suasana hati yang baik."
Bisikan-bisikan itu semakin banyak terdengar, seperti riak kecil yang menyebar di permukaan air tenang.
"Ngomong-ngomong," bisik seorang karyawan lain, "siapa wanita cantik di sebelahnya itu?"
"Ehh iya. Tampaknya bukan klien."
"Bukan juga dari direksi."
"Kalau begitu, siapa?"
Laila sebenarnya bisa merasakan tatapan-tatapan yang diarahkan kepada mereka. Ia bukan orang yang bodoh. Sejak mereka memasuki lobi, ia sudah menyadari puluhan pasang mata diam-diam memperhatikan dirinya.
Hal itu membuatnya sedikit gugup. Namun ia berusaha tetap tenang. Menjaga ekspresi wajahnya agar tetap profesional. Ia menegakkan bahunya dan menjaga langkahnya supaya tetap stabil.
David merasakan hal yang sama pula. Pria tersebut bahkan bisa mendengar sebagian dari bisikan para karyawan yang mencoba berbicara pelan-pelan. Namun alih-alih merasa terganggu, sudut bibirnya justru perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang jarang sekali ia perlihatkan didepan semua orang.
Tiba-tiba saja, tanpa peringatan, David mengulurkan tangannya. Tangannya bergerak ke pinggang Laila. Lalu menarik wanita itu mendekat.
Laila terkejut. "Hei..."
Belum sempat ia menyelesaikan protesnya, David sudah merangkulnya dengan santai seakan itu adalah hal yang paling wajar di dunia.
Kemudian, sesuatu yang bahkan lebih mengejutkan terjadi. David menundukkan wajahnya sedikit.
Dan…
Cuuupp.
Sebuah kecupan ringan mendarat di pipi Laila. Waktu seolah berhenti sesaat. Laila langsung membeku di tempatnya. Matanya membesar, wajahnya memerah seketika, dan tubuhnya terasa kaku karena tidak siap dengan tindakan mendadak itu.
Ia cepat-cepat menoleh ke arah David. "Davidddd!!" Suara protesnya terdengar jelas, meskipun tidak terlalu keras.
Tetapi David hanya menatapnya dengan ekspresi santai sambil melebarkan senyum yang sumringah. Ia merasa apa yang baru dilakukannya itu, bukanlah hal aneh. Melainkan kewajiban atau bisa dibilang, suatu keharusan.
Di belakang mereka, Leo yang menyaksikan pemandangan itu hanya mengangkat alis sedikit. Tidak lama kemudian, ujung bibirnya juga ikut melengkung tipis.
Sementara itu, Reaksi para karyawan benar-benar luar biasa.
"ASTAGA!"
"Tuan David… menciumnya!"
"Apa aku tidak salah lihat?!"
Bisikan-bisikan yang tadinya pelan kini berubah menjadi kehebohan kecil yang sulit dikendalikan. Seorang karyawan pria bahkan hampir menjatuhkan cangkir kopinya karena terlalu terkejut.
"Jangan-jangan…"
"Apa?"
"Wanita itu…"
Ia menelan ludah sebelum melanjutkan kalimatnya. "...Nyonya Mendoza?"
Perkataan tersebut bagaikan percikan api yang jatuh ke tumpukan jerami kering. Beberapa orang langsung saling memandang.
"Ah! Ya!"
"Benar juga!"
"Tuan David kan, memang sudah menikah!"
"Kalau begitu, dia pasti Nyonya Mendoza!"
Sorot mata para karyawan terhadap Laila langsung berubah. Jika sebelumnya hanya penuh rasa penasaran, kini tatapan mereka dipenuhi kekaguman.
"Cantik sekali…"
"Benar-benar seperti dewi."
"Tidak heran Tuan David tertarik padanya."
"Tapi kenapa dia datang ke perusahaan?"
Pertanyaan itu menggantung di udara tanpa jawaban. Sedangkan Laila, wajahnya sudah merah padam karena malu. Ia cuman bisa menundukkan sedikit kepalanya. Tidak berani melihat intens ke arah para karyawan yang jelas-jelas sedang memperhatikan mereka.
Lalu David? Tentu saja sebaliknya. Ia tetap berjalan dengan langkah tenang sembari merengkuh Laila. Secara tidak langsung, ia ingin memperjelas kepada semua orang bahwa wanita itu adalah miliknya. Istrinya.
Para karyawan yang berada di jalur mereka secara otomatis menyingkir dan membungkuk memberi hormat.
"Selamat pagi, Tuan."
"Selamat pagi, Nyonya..."
David hanya mengangguk singkat sebagai balasan. Begitupun Laila, walau sambil cengar-cengir gelagapan dan canggung.
Mereka kemudian berjalan menuju lift khusus yang hanya digunakan oleh jajaran eksekutif perusahaan.
Saat pintu lift hampir tertutup, Leo tiba-tiba berhenti melangkah. Ia berbalik menghadap para karyawan yang masih berdiri di lobi dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.
Leo menatap mereka satu per satu. Lalu dengan suara lugas ia berkata, "mulai hari ini, Nyonya Laila akan menjadi sekretaris pribadi Tuan David."
Duarr.
Para karyawan langsung tersentak.
"Apa?!"
"Sekretaris pribadi?"
"Benarkah?"
Salah satu karyawan pria memberanikan diri bertanya. "Tapi… kenapa sekretaris?"
Semua orang langsung menoleh kepadanya. Pria itu melanjutkan dengan hati-hati. "Bukankah jabatan direksi atau kepala bidang lebih layak untuk beliau? Posisi sekretaris hampir setara dengan kami."
Leo terdiam sesaat. Wajahnya tetap datar. Sesudahnya, ia menjawab dengan nada tenang. "Entahlah. Yang jelas, inilah kehendak tuan muda."
Tatapan Leo berubah sedikit lebih tajam. "Jadi, lebih baik anda diam dan lihat saja."
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan kalimat berikutnya. "Jangan terlalu banyak berkomentar."
Aura dingin perlahan memancar dari dirinya. "Atau…" Leo menatap pria itu langsung di mata. "Anda akan saya masukkan ke daftar karyawan yang harus dikeluarkan dari perusahaan ini."
Suasana lobi langsung menjadi sunyi. Bulu kuduk sebagian orang meremang. Tidak ada yang berani berbicara lagi.
Leo tersenyum tipis. Namun itu bukanlah senyum ramah. Kemudian ia berbalik dan berjalan menuju lift, meninggalkan para karyawan yang masih berdiri kaku.
Selang sesaat kemudian, lift khusus eksekutif terbuka di lantai tertinggi gedung ODM Company. Lorong di lantai itu jauh lebih tenang dibandingkan yang lain. Karpet tebal menutupi lantai, sementara dindingnya dihiasi lukisan-lukisan mahal yang memperlihatkan selera tinggi pemilik perusahaan.
Leo berjalan lebih dulu. Ia berhenti di depan sebuah ruangan. "Ini adalah ruangan Anda, Nyonya,” katanya sambil membuka pintu.
Laila melihat ke dalam. Ruangan itu luas dan terang, dengan meja kerja modern, rak dokumen rapi, serta jendela besar yang menghadap langsung ke pemandangan kota.
Leo kemudian menunjuk ke arah ruangan di seberangnya, "dan di sana adalah ruangan Tuan muda."
Laila mengangguk perlahan. "Baik." Ia masih sedikit canggung berada di tempat itu. Terlebih dikala dirinya merasakan tatapan David yang terasa tajam dan menyengat.
Laila menoleh, ia menemukan David masih berdiri di dekatnya dengan tangan di saku celana.
David tersenyum. Lalu berkata dengan nada santai, "Selamat bekerja, sayangku."
Jantung Laila seketika berdegup lebih cepat. Pipinya kembali memerah. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung masuk ke ruangannya.
BRAKK!
Pintu tertutup cukup keras. Di luar ruangan, David langsung tertawa kecil. Ia kelihatan benar-benar terhibur melihat reaksi Laila.
Di dalam, Laila bersandar di balik pintu yang baru saja ia tutup. Tangannya menempel di dada. Jantungnya berdetak sangat cepat.
"Kenapa…" gumamnya pelan. "Lagi-lagi perasaan aneh ini muncul?"
Laila memejamkan mata sejenak. Menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
"Ah sudahlah." Ia menggeleng kecil. "Itu tidaklah penting."
Laila membuka matanya kembali. Tatapannya kini berubah lebih serius.
"Yang jelas…" ia berjalan menuju meja kerjanya. "Aku harus bekerja dengan giat mulai sekarang."
Tekad perlahan menguat di dalam hatinya. Sebab hari pertamanya di ODM Company baru saja dimulai.