🩸 HEI YING TUN TIAN(Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)⚠️ Han Xuan Sang Penelan Takdir Itu Sendiri
Sinopsis:
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah monster yang ditakuti dunia dan Dao itu sendiri.
Ia mencapai Law Devouring Realm, melahap Dao para genius, menghancurkan sekte besar, dan hampir menantang Langit itu sendiri.
Namun Langit tidak membunuhnya.
Langit menghukumnya.
Jiwanya dipecah dan dilempar kembali ke masa lalu, terlahir sebagai anak klan kecil dengan meridian retak dan akar spiritual cacat. Di mata dunia, ia hanyalah sampah kultivasi yang tak akan pernah melangkah jauh.
Mereka salah.
Tubuh barunya menyimpan Void Devouring Constitution, konstitusi terkutuk yang hanya bangkit setelah kehancuran total. Dengan ingatan penuh dari kehidupan sebelumnya, ia memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih kejam.
Ia tidak lagi membantai secara terang terangan.
Ia membangun bayangan nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Nilai Sebuah Pion
...Bab 7: Nilai Sebuah Pion...
Wanita dari Sekte Pedang Awan itu melangkah maju. Namanya adalah Lin Xi, putri seorang tetua penting di sekte menengah yang menguasai wilayah Azure. Ia tidak memandang Han Xuan. Baginya, pemuda berpakaian murid luar klan kecil itu tidak lebih dari udara kosong.
"Wei, kau tahu aku tidak punya waktu untuk leluconmu" suara Lin Xi tajam, bergetar dengan otoritas yang lahir dari kekuasaan. "Mana pusaka 'Cermin Penahan Jiwa' yang kau janjikan itu? Ayahku membutuhkannya untuk menekan retakan di perbatasan."
Wei, sang pemilik toko, melirik Han Xuan sejenak sebelum membungkuk pada Lin Xi. "Nona Lin, barang itu sedang dalam perjalanan. Namun, ada masalah kecil di jalur distribusi karena munculnya Shadow Beast di Lembah Kabut."
Han Xuan berdiri diam di sudut, namun monolog batinnya bekerja dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Sekte Pedang Awan sedang panik. Mereka butuh alat penekan jiwa. Artinya, kebocoran energi di makam klan Han bukan satu-satunya. Dunia sedang mulai retak di berbagai titik.
Han Xuan bisa saja pergi sekarang. Namun, ia melihat "benang takdir" yang sangat menarik di sini. Lin Xi adalah tipe karakter yang dalam buku sejarah disebut sebagai "Anak Keberuntungan" sekunder dia memiliki bakat, latar belakang, dan ambisi.
Dia adalah pion yang sempurna untuk memulai permainan politikku.
"Tuan Wei" Han Xuan akhirnya bersuara. Suaranya rendah, namun memiliki frekuensi yang secara alami memotong ketegangan di ruangan. "Mengapa tidak menawarkan Nona Lin sesuatu yang lebih efektif daripada cermin tua yang sudah retak itu?"
Lin Xi menoleh. Matanya menyipit, dipenuhi penghinaan. "Berani sekali seorang murid rendahan ikut campur dalam urusan Sekte Pedang Awan."
Han Xuan tidak membalas hinaan itu dengan kemarahan. Ia justru mengambil satu butir batu roh yang telah ia sisipi Hukum Devour tadi dari atas meja. "Bukan bermaksud lancang, Nona. Tapi jika retakan yang kalian hadapi adalah jenis yang melahap energi, maka Cermin Penahan Jiwa hanya akan menjadi makanan bagi retakan itu. Kalian butuh sesuatu yang bisa menelan balik kegelapan tersebut."
Han Xuan melemparkan batu itu ke arah Lin Xi.
Salah satu pengawal Lin Xi hendak menangkapnya dengan kasar, namun Han Xuan memperingatkan, "Jangan sentuh dengan tangan telanjang jika kau masih ingin menggunakan tanganmu besok pagi."
Lin Xi memberi isyarat agar pengawalnya berhenti. Ia menggunakan selembar kain sutra khusus untuk mengambil batu itu. Begitu ia merasakan daya hisap dingin dari batu tersebut, wajahnya berubah dari marah menjadi terkejut, lalu menjadi sangat waspada.
"Apa ini?" bisik Lin Xi.
"Sampel" jawab Han Xuan datar. "Aku tahu di mana menemukan lebih banyak lagi. Tapi, aku punya satu syarat kecil yang melibatkan posisi klan Han di Kota Azure."
Han Xuan sedang menerapkan taktik dari buku The Art Of War karya Sun Tcu. Ia tidak menjual barangnya, ia menjual solusi atas ketakutan lawan. Dengan memberikan "umpan" berupa batu yang telah terkontaminasi Hukum Devour, ia secara tidak langsung mulai meracuni persepsi Sekte Pedang Awan.
"Siapa kau sebenarnya?" Lin Xi bertanya, suaranya kini kehilangan sedikit keangkuhannya.
"Hanya seorang pelayan yang tahu cara membersihkan kekacauan" jawab Han Xuan. "Temui aku di kediaman klan Han tiga hari lagi jika kau ingin mendiskusikan harga aslinya. Dan saran saya, jangan ceritakan tentang batu ini pada siapa pun di luar lingkaran kepercayaanmu, atau kau akan melihat betapa cepatnya kawan menjadi pemangsa."
Tanpa menunggu jawaban, Han Xuan melangkah keluar dari toko HKBKAL(HENING KELABU BALON KU ADA LIMA). Ia membiarkan Lin Xi berdiri di sana dengan kebingungan dan rasa ingin tahu yang besar.
Saat ia berjalan di gang sempit, Han Xuan merasakan sebuah keberadaan mengikutinya dari bayangan. Bukan pengawal Lin Xi, melainkan sesuatu yang lebih gelap.
Hukum Bayangan mulai bereaksi batin Han Xuan.
Ia berhenti di sebuah sudut yang sama sekali tidak terkena cahaya matahari. "Keluar. Kau membuang-buang umurmu dengan mengikutiku."
Dari kegelapan tembok, sesosok pria bertopeng muncul. Pria itu tidak memiliki kaki yang menyentuh tanah. Ia adalah seorang Shadow Guard dari faksi rahasia yang mungkin sudah mengawasi klan Han selama bertahun-tahun.
"Kau mengambil sesuatu yang bukan milikmu, anak muda" suara pria itu terdengar seperti gesekan kertas pasir.
Han Xuan tersenyum tipis. Sebuah senyum yang mengingatkan pada orang bernama L##yd dari buku real estate of fantasy saat sedang merencanakan kehancuran musuhnya. "Milik siapa? Langit? Aku sudah pernah membunuh utusan Langit sebelumnya. Apa kau pikir seorang hantu kecil sepertimu bisa menghentikanku?"
Han Xuan melepaskan sedikit aura Void Devouring Constitution. Kegelapan di sekitar mereka mendadak membeku. Bayangan pria bertopeng itu mulai tersedot masuk ke arah Han Xuan, seolah-olah Han Xuan adalah pusat gravitasi bagi segala sesuatu yang tidak bercahaya.
Ini adalah pertama kalinya Han Xuan menunjukkan taringnya secara sadar. Bukan karena marah, tapi karena ia butuh "pesan" dikirim ke faksi di belakang pria ini.
"Kembalilah dan katakan pada tuanmu" ucap Han Xuan sambil mendekat ke wajah pria bertopeng itu. "Dunia ini sedang lapar. Dan aku adalah satu-satunya orang yang tahu cara memberi makan kegelapan ini sebelum ia menelan kalian semua."
Han Xuan membiarkan pria itu melarikan diri. Ia tidak membunuhnya. Seekor burung yang ketakutan akan selalu terbang kembali ke sarangnya, dan Han Xuan butuh tahu di mana sarang itu berada.
Harga yang dibayar Han Xuan untuk gertakan ini? Ia merasakan telinganya mulai berdenging dan sebagian kecil dari ingatannya tentang nama-nama teknik lamanya kembali memudar. Namun, baginya, itu adalah harga operasional yang sepadan.
Malam itu, saat Han Xuan kembali ke gerbang kota untuk bertemu regunya, ia melihat Han Feng sedang berdiri dengan ekspresi yang sangat buruk. Han Feng tampak lebih kurus daripada saat pagi hari, dan ada aura kematian yang menggantung di kepalanya.
"Kau terlambat, Xuan" desis Han Feng.
"Aku hanya sedang melihat-lihat barang antik, Tuan Muda" sahut Han Xuan tenang.
Ia tahu, permainan yang sebenarnya baru saja dimulai. Antara Lin Xi, si hantu bayangan, dan Han Feng yang sedang membusuk, Han Xuan telah menanam benih konflik di setiap sudut.
Sekarang, ia hanya perlu duduk diam dan menunggu sampai pohon kekacauan itu berbuah.
Han Xuan menatap punggung Han Feng yang menjauh dengan langkah kaku. Sepupunya itu kini bukan lagi manusia, melainkan sebuah wadah yang dipaksakan untuk menampung sesuatu yang terlalu besar. Di mata Han Xuan, Han Feng hanyalah sebuah lilin yang sedang membakar sumbunya dari kedua ujung. Cepat atau lambat, lilin itu akan padam dan meninggalkan kegelapan yang pekat.
Tiga hari batin Han Xuan sambil menyusuri jalanan berbatu menuju penginapan klan.
Waktu tiga hari yang ia berikan kepada Lin Xi bukan tanpa alasan. Ia butuh waktu agar rasa penasaran wanita itu berubah menjadi keputusasaan. Strategi manipulasi tidak pernah tentang seberapa banyak informasi yang kau berikan, melainkan tentang seberapa lapar kau membuat lawanmu.
Sesampainya di paviliun sementara regu klan Han, Han Xuan menemukan Xiao Mei sedang duduk di sudut ruangan. Gadis itu tampak pucat, tangannya gemetar hebat saat melihat Han Xuan masuk.
"Tuan Muda Xuan" bisik Xiao Mei. "Tuan Muda Han Feng... dia baru saja memakan sesuatu yang bukan makanan."
Han Xuan berhenti. "Apa yang kau lihat?"
"Dia... dia memanggil salah satu pelayan ke kamarnya. Saat pelayan itu keluar, dia tidak punya warna lagi. Bukan hanya pucat, tapi seolah-olah cahayanya sudah dicuri" Xiao Mei menutup wajahnya. "Dan Tuan Muda Han Feng, dia terlihat lebih segar, tapi bayangannya di dinding... bayangannya memiliki tiga kepala."
Han Xuan duduk bersila di depan Xiao Mei. Informasi ini krusial. Parasit di dalam tubuh Han Feng sudah mulai tahap predasi jiwa. Ini adalah tanda bahwa Hukum Devour yang tidak murni sedang bekerja. Berbeda dengan Han Xuan yang menelan untuk evolusi, Han Feng menelan hanya untuk menunda kehancuran tubuhnya sendiri.
"Tetaplah di dekatku Xiao Mei" ucap Han Xuan. "Jangan menatap matanya secara langsung. Jika kau melihat bayangannya bergerak, segera pergi ke toko HKBKAL dan temui orang bernama Wei."
Han Xuan kemudian memejamkan mata, memasuki ruang meditasinya. Di dalam sana, pusaran hitam Hukum Devour berputar dengan tenang. Namun, di sampingnya, kabut tipis Hukum Bayangan mulai membentuk pola.
Ia mencoba mempraktekkan sedikit dari apa yang ia pelajari dari buku Icha-icha tactics karya jirayai seorang guru dari nartudo shipungen yang ia temukan dahulu. Ia tidak memaksa energinya untuk meledak, melainkan membiarkannya mengendap di dasar meridian. Ia membangun "ruang hampa" di dalam tubuhnya, sebuah teknik isolasi yang akan membuat kultivator tingkat tinggi sekalipun menganggapnya sebagai manusia biasa tanpa dasar kultivasi.
Ini adalah pertahanan terbaiknya saat ini. Menjadi tidak terlihat di tengah keramaian.
Malam itu, Kota Azure tidak tidur dengan tenang. Han Xuan bisa merasakan riak-riak energi dari kejauhan. Sekte Pedang Awan pasti sedang bergerak setelah Lin Xi melaporkan tentang batu yang ia berikan.
Benar saja, fajar belum juga menyingsing saat pintu paviliun mereka diketuk dengan keras. Bukan oleh pengawal kota, melainkan oleh utusan resmi dari kediaman penguasa kota.
"Perintah mendesak dari Tuan Penguasa Kota!" teriak utusan itu. "Seluruh anggota klan Han yang berada di kota harus segera menghadap untuk laporan keamanan terkait insiden Lembah Kabut!"
Han Feng keluar dari kamarnya dengan jubah merah yang terlihat semakin gelap. Wajahnya tampak penuh dengan rasa percaya diri yang gila. Ia memandang Han Xuan dengan hina.
"Kau dengar itu sampahh? Penguasa kota ingin bertemu denganku, sang jenius klan Han ini" ucap Han Feng sombong. "Kau ikut sebagai pembawa barang saja. Jangan sampai kau mempermalukanku di depan para pejabat kota nantinya."
Han Xuan bangkit dengan tenang, membersihkan debu dari bajunya. "Tentu saja Tuan Muda."
Di dalam hatinya, Han Xuan tersenyum dingin. Ia tahu betul siapa yang sebenarnya memanggil mereka. Penguasa kota hanyalah panggung. Pemain utamanya adalah Lin Xi dan faksi di belakangnya yang sudah tidak sabar untuk menagih "solusi" yang ia janjikan.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman penguasa kota, Han Xuan memperhatikan bagaimana ekonomi kota ini sedang berada di ambang kolaps. Harga batu roh melonjak tajam dalam semalam, dan toko-toko persenjataan kehabisan stok. Ketakutan adalah penggerak ekonomi terbaik, dan Han Xuan adalah orang yang menyalakan api tersebut.
Saat mereka memasuki aula besar, suasana terasa mencekam. Di sana tidak hanya ada penguasa kota, tapi juga Lin Xi yang duduk dengan tenang di samping ayahnya, Penatua Lin dari Sekte Pedang Awan.
Penatua Lin adalah seorang pria tua dengan aura pedang yang tajam. Saat Han Feng masuk, Penatua Lin hanya melirik sekilas, namun saat Han Xuan melangkah di belakangnya, mata tua itu menyipit.
"Jadi ini jenius klan Han yang dibicarakan orang-orang?" tanya Penatua Lin, suaranya menggetarkan udara.
Han Feng membungkuk hormat, mencoba menunjukkan auranya yang merah pekat. "Benar Tuan Penatua. Saya Han Feng, pembasmi Shadow Beast di Lembah Kabut."
Penatua Lin mendengus. "Bukan kau. Aku berbicara tentang pemuda di belakangmu yang membawa kotak itu."
Han Feng membeku. Wajahnya berubah dari merah menjadi pucat keputihan. Ia menoleh ke belakang, menatap Han Xuan dengan tatapan yang bisa membunuh.
Han Xuan melangkah maju perlahan, meletakkan kotak barang di lantai. Ia tidak membungkuk serendah Han Feng. Ia hanya menatap Penatua Lin dengan pandangan yang membuat pria tua itu merasa seolah-olah sedang berdiri di depan sebuah jurang yang tak berdasar.
"Saran saya Nona Lin" ucap Han Xuan tiba-tiba tanpa mempedulikan protokol. "Anda seharusnya tidak membawa ayah Anda yang sedang terluka mental ke sini. Aroma Hukum Devour pada batu kemarin akan sangat mengiritasi luka jiwanya."
Seluruh ruangan menjadi sunyi. Penatua Lin membelalakkan mata, tangannya tanpa sadar mencengkeram pegangan kursi hingga hancur menjadi serbuk.
Rahasia tentang luka jiwa Penatua Lin adalah rahasia paling dijaga di Sekte Pedang Awan. Bagaimana mungkin seorang murid luar klan kecil mengetahuinya hanya dengan sekali lirik?
Han Feng yang merasa otoritasnya dilewati, berteriak marah. "Xuan! Beraninya kau bicara lancang pada Penatua Lin!"
Han Feng mengayunkan tangannya, mencoba menampar Han Xuan dengan kekuatan penuh tingkat Mortal Tempering level lima puncak miliknya.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi.
Tangan Han Feng berhenti beberapa inci di depan wajah Han Xuan. Bukan karena Han Xuan menangkisnya, tapi karena bayangan Han Feng sendiri di lantai tiba-tiba melilit kaki dan tangannya sendiri.
"Feng" bisik Han Xuan dengan nada yang sangat rendah sehingga hanya Han Feng yang bisa mendengarnya. "Pion biasa tidak boleh memukul pemainnya."
Di depan para petinggi kota, Han Feng terjatuh dengan posisi yang sangat memalukan, seolah-olah ia sedang bersujud di depan Han Xuan.
Akankah Penatua Lin melihat ini sebagai ancaman atau sebagai kesempatan untuk mendapatkan obat bagi jiwanya?