NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / CEO / Romantis / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:62.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian yang tak terlihat

​Gedung Fakultas Seni Rupa pagi itu terasa seperti sebuah dunia yang sama sekali baru bagi Gia. Aroma cat minyak yang khas, bau kayu lapis dari rak-rak kanvas, serta aroma kopi yang tajam dari kantin di ujung koridor menciptakan harmoni yang sangat asing namun menenangkan. Bagi Gia, ini bukan sekadar gedung universitas. Ini adalah tempat di mana ia bisa meninggalkan identitasnya sebagai "anak haram" yang malang atau "istri pengganti" yang kaku. Di sini, ia hanya ingin menjadi Gia, seorang mahasiswi yang mencintai warna.

​Ia melangkah masuk ke dalam ruang studio utama yang memiliki langit-langit tinggi. Cahaya matahari pagi menembus jendela-jendela kaca besar, menciptakan garis-garis terang yang jatuh tepat di atas deretan easel atau penyangga kanvas yang berjajar rapi. Gia memilih posisi di sudut yang agak tenang, dekat dengan jendela, agar ia bisa melihat sedikit pemandangan pohon-pohon rindang di luar. Dengan penuh kehati-hatian, ia mulai mengeluarkan peralatan lukisnya, set kuas profesional dengan berbagai ukuran dan tabung-tabung cat kualitas tinggi yang semuanya dipilihkan Ares secara pribadi.

​Saat ia mulai menggoreskan sketsa awal pada kanvas putih bersih di hadapannya, Gia perlahan masuk ke dalam dunianya sendiri. Suara bising dari mahasiswa lain yang mulai sibuk dengan karya mereka perlahan memudar. Ia melupakan sejenak beban nama Ardiansyah yang kini disandangnya. Di sini, ia hanya berdialog dengan kuas dan perasaannya. Ia mulai mencampurkan warna biru kobalt dengan sedikit putih, mencoba menangkap gradasi warna langit yang ia lihat dari balkon semalam.

​Di tengah keasyikannya, seorang pria paruh baya dengan rambut beruban yang diikat ke belakang dan kacamata tebal bertengger di hidungnya. Profesor Handoko berjalan berkeliling. Beliau dikenal sebagai kritikus seni yang sangat pelit pujian. Ia berhenti di belakang beberapa mahasiswa, memberikan komentar singkat yang terkadang terdengar pedas namun membangun. Namun, saat sampai di belakang Gia, langkah kaki Profesor Handoko terhenti.

​Beliau terdiam cukup lama, matanya yang tajam mengamati setiap gerakan tangan Gia. Ia memperhatikan bagaimana Gia memegang kuas tidak kaku seperti pemula, melainkan sangat luwes seolah kuas itu adalah perpanjangan dari jarinya sendiri. Ada keberanian dalam setiap tarikan garisnya, sapuan warnanya tidak ragu-ragu, mencerminkan kejujuran emosi yang meluap.

​"Teknik sapuanmu sangat berani untuk ukuran mahasiswa baru" Suara Profesor Handoko yang berat memecah keheningan di sekitar Gia.

​Gia tersentak, hampir saja menjatuhkan palet warnanya. Ia segera berdiri dan membungkuk hormat.

"E-eh, terima kasih, Prof. Mohon maaf jika teknik saya masih berantakan."

​Profesor Handoko mendekat, menatap sketsa abstrak Gia yang mulai terbentuk, sebuah komposisi warna yang menggambarkan perpaduan antara badai dan ketenangan.

"Berantakan? Tidak. Kamu memiliki apa yang kami sebut sebagai jiwa dalam karyamu. Banyak mahasiswa di sini memiliki teknik yang sempurna, tapi lukisan mereka mati. Milikmu, ini hidup. Kamu tahu kapan harus memberikan tekanan tebal dan kapan harus membiarkan warna itu memudar tipis. Teruskan, jangan biarkan teori-teori di kelas nanti membunuh insting alamimu"

​Pujian itu segera menarik perhatian mahasiswa lain di studio tersebut. Mereka menatap Gia dengan campuran rasa kagum dan penasaran. Beberapa mahasiswi berbisik-bisik, mengagumi peralatan lukis Gia yang tampak sangat mahal, sementara para mahasiswa mulai menyadari kehadiran seorang gadis cantik dengan bakat luar biasa di tengah mereka. Gia hanya bisa mengangguk kecil dengan pipi yang memerah, mencoba kembali fokus pada kanvasnya meski hatinya sedang bersorak gembira.

​Sementara itu, puluhan kilometer dari sana, di lantai paling atas gedung pencakar langit Ardiansyah Group, suasana justru jauh dari kata artistik. Ares duduk di kursi kebesarannya, dikelilingi oleh tumpukan dokumen akuisisi dan laporan pasar modal. Namun, pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana. Sejak ia menurunkan Gia di kampus pagi tadi, ada bagian dari dirinya yang terus bertanya-tanya: Apakah dia baik-baik saja? Apakah ada yang mengganggunya? Apakah dia merasa tertekan dengan lingkungan barunya?

​Ares adalah pria yang protektif secara alami, apalagi terhadap hal-hal yang ia anggap berharga. Namun, ia juga sadar bahwa ia tidak boleh bersikap berlebihan. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk memberikan Gia ruang agar istrinya itu bisa tumbuh mandiri. Ia tidak mengirimkan pengawal yang berdiri kaku di depan pintu kelas, juga tidak memasang alat pelacak di tas Gia. Baginya, proteksi yang sejati adalah kepercayaan, namun tetap dibalut dengan perhatian yang terjaga.

​"Bayu!" Panggil Ares melalui interkom.

​Asisten pribadinya masuk dalam hitungan detik.

"Ya, Tuan Ares?"

​"Apakah paketnya sudah terkirim?" Tanya Ares singkat.

​"Sudah, Tuan. Kurir khusus sudah mengantarkan makan siang dari restoran Le Gourmet ke lobi gedung seni sekitar sepuluh menit yang lalu. Saya juga sudah memastikan kurir itu menyerahkannya langsung pada petugas lobi yang sudah kita kenal untuk disampaikan pada Nyonya Gia," Lapor Bayu dengan tenang.

​Ares mengangguk perlahan. Ia tidak ingin mengirimkan makanan itu langsung ke dalam kelas karena ia tahu hal itu akan membuat Gia merasa risih atau menjadi pusat perhatian yang negatif. Mengirimkannya ke lobi gedung adalah batas wajar dari perhatiannya, sebuah pengingat lembut bahwa ada seseorang di rumah yang memikirkannya.

​Begitu Bayu keluar, Ares menyandarkan punggungnya pada kursi kulitnya. Ia mengambil ponselnya, jarinya ragu-ragu di atas layar. Ia ingin menelepon, hanya untuk mendengar suara Gia, tapi ia menahan diri. Ia tidak ingin mengganggu proses kreatif istrinya. Akhirnya, ia hanya mengetik sebuah pesan singkat yang sangat hati-hati.

​“Gia, jangan terlalu asyik melukis sampai lupa makan. Mas sudah mengirimkan makan siang favoritmu ke lobi gedung seni. Makanlah bersama teman-teman barumu jika kamu mau!"

​Ares menekan tombol kirim, lalu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat langka yang hanya muncul saat ia memikirkan Gia. Rasa protektifnya kali ini tidak terasa seperti penjara, melainkan seperti jaring pengaman yang ia bentangkan di kejauhan. Ia ingin Gia tahu bahwa ia bebas terbang sejauh yang ia mau, namun Ares akan selalu ada untuk menangkapnya jika sayapnya mulai lelah.

​Di studio, ponsel Gia bergetar di saku kemejanya. Ia meletakkan kuasnya sejenak dan membaca pesan dari Ares. Senyum manis seketika merekah di wajahnya, menghapus rasa lelah setelah berdiri berjam-jam di depan kanvas. Perhatian Ares yang tidak berlebihan, yang tidak mengekangnya namun tetap menjaganya, membuat Gia merasa sangat dihargai sebagai seorang individu sekaligus seorang istri.

​Ia menatap kembali ke arah kanvasnya. Pujian dari Profesor Handoko dan perhatian manis dari Ares seolah menjadi bahan bakar baru bagi kreativitasnya. Gia merasa sangat beruntung. Di tengah ketidakpastian dunia luar dan bayang-bayang masa lalunya yang kelam, ia kini memiliki seorang pria yang mau belajar untuk mencintainya dengan cara yang dewasa, memberikan kepercayaan tanpa melepaskan penjagaan.

​Gia kembali menggoreskan warna emas di atas lukisannya, sebuah warna yang kini ia asosiasikan dengan Ares, terang, berwibawa, namun mampu menyinari kegelapan di hatinya.

1
Cindy
lanjut
Esther
Ares cemburu berat sama Satria🤭
astr.id_est 🌻
cieee celembu 🤭😄😄😄
astr.id_est 🌻
romantis bgtt ares 🥰🥰🥰
Shee_👚
gpp di posesif suami sendiri, toh posesif juha kebutuhan dan ke ingin gia terpenuhi jadi nikmati aja di cintain sebegitu besarnya sama suami
Shee_👚
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Shee_👚
ada yang kebakaran tapi bukan karena api🤭
Shee_👚
aduh cilaka ini di pasangin sama satria, bisa-bisa ares berasap 🤣🤣🤣
Hanima
Lanjut Gia
Hanima
👍👍
Esther
Ares bener2 ya😄
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Gia semoga kamu selalu bahagia 🥰🥰
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tahu yang lembut?
Maharani Rani
lanjuttt😍
astr.id_est 🌻
sukaaaaaa
Nar Sih
tuh kan jdi pusat perhatian gia yg yg sdh ketahuan istri ceo ares ardiansyah pasti bnyk mahasiswa yg patah hti nih
Hanima
Lanjut Aress
Shee_👚
gpp lah di posesif selama itu untuk kebaikan, selama tidak mengekang pa pun ke bahagian gia.
merry yuliana
crazy up kak 💪🙏
Shee_👚
satria lngsung kicep dah liat ares, sabar ga satria belum jodoh🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!