Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Dua
Pagi ini di pesantren masih berjalan seperti biasanya ketika Hanin dan Arsenio keluar dari ruang kerja Ustaz Hamid.
Langkah mereka sama-sama pelan menyusuri koridor yang mengarah ke halaman kecil di samping masjid. Beberapa santri terlihat lalu-lalang membawa kitab atau sekadar berbincang ringan setelah selesai belajar.
Namun bagi Arsenio, suasana pagi itu terasa jauh lebih cerah dari biasanya. Ia bahkan masih sulit mempercayai apa yang baru saja terjadi. Lamarannya diterima.
Beberapa detik mereka berjalan tanpa berbicara. Sampai akhirnya Arsenio menghentikan langkahnya sebentar.
“Hanin.”
Perempuan itu ikut berhenti lalu menoleh. “Iya?”
Arsenio terlihat sedikit ragu, tetapi kemudian tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Hanin tampak sedikit bingung. “Untuk apa?”
Arsenio menghela napas pelan. “Karena sudah bersedia menerima lamaran saya.”
Kalimat itu membuat wajah Hanin langsung memerah sedikit. Ia menunduk sebentar sebelum menjawab pelan.
“Bukankah keputusan itu sudah kita bicarakan dengan Ustaz, Mas?”
Arsenio tertawa kecil. “Iya. Tapi tetap saja … aku ingin mengatakannya langsung.”
Hanin tidak menjawab lagi. Ia hanya tersenyum tipis lalu berkata pelan, “Semoga ini menjadi keputusan yang baik.”
Arsenio mengangguk mantap. “InsyaAllah.”
Tak lama setelah itu mereka berpisah arah. Arsenio menuju gerbang pesantren, sementara Hanin kembali ke asrama putri.
Asrama putri pesantren tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman. Bangunannya sederhana dengan dinding berwarna krem dan jendela-jendela kayu yang selalu terbuka agar udara segar bisa masuk.
Hanin berjalan masuk ke kamar yang ia tempati bersama Ghania. Begitu pintu dibuka, ia langsung melihat sahabatnya itu sedang duduk di atas kasur sambil melipat beberapa pakaian.
Namun begitu melihat Hanin masuk, Ghania langsung mengangkat wajahnya.
Tatapan gadis itu langsung berubah penuh arti. “Hmmm.”
Hanin yang sedang melepas sandal langsung menoleh. “Kenapa?”
Ghania tersenyum lebar. “Sepertinya ada yang tak mau kalah nih.”
Hanin mengerutkan kening. “Maksudnya?”
Ghania bersandar santai di dinding. “Takut ditinggal sendirian.”
Hanin makin bingung. “Apa sih, Nia?”
Ghania menahan tawa kecil sebelum akhirnya berkata dengan santai, “Abah sudah bilang.”
Hanin berhenti bergerak. “Bilang apa?”
Ghania menatapnya dengan senyum yang semakin lebar. “Katanya siang nanti keluarga Arsenio akan datang melamar kamu.”
Beberapa detik Hanin hanya bisa berdiri diam. Pipinya perlahan berubah merah. “Serius?”
Ghania mengangguk mantap. “Serius.”
Ia kemudian tersenyum hangat. “Selamat ya.”
Hanin langsung menunduk malu. Tangannya tanpa sadar merapikan ujung kerudungnya.
“Ah … kamu ini.”
Ghania terkekeh kecil. “Jangan-jangan nanti kamu yang duluan nikah.”
Kalimat itu membuat Hanin semakin salah tingkah. Ia duduk di tepi kasur lalu berkata pelan, “Aku serahkan semua pada keluarga Arsenio saja. Jika mau cepat ya aku setuju saja.”
Ghania mengangkat alis. “Oh ya?”
Hanin menatap sahabatnya sebentar lalu berkata dengan nada yang sedikit menggoda, “Bukankah kamu yang bilang … sesuatu yang baik itu tidak boleh ditunda?”
Ghania langsung tertawa kecil. “Iya juga.”
Ia mengangguk setuju. “Kalau memang sudah waktunya, ya tidak perlu menunggu lama.”
Hanin tersenyum tipis. Namun, di balik senyum itu, hatinya tetap dipenuhi berbagai perasaan yang sulit dijelaskan.
Bahagia, gugup, sekaligus tidak percaya bahwa semuanya berjalan begitu cepat. Ia bahkan masih merasa seperti mimpi.
Belum lama mereka saling mengenal lebih dekat, sekarang keluarga Arsenio sudah datang melamar. Namun anehnya, ia tidak merasa takut atau gugup.
Waktu berjalan begitu cepat. Setelah solat Zuhur, Hanin dan Ghania kembali mengobrol santai dikamar. Saat sedang asyik bercerita tiba-tiba terdengar suara langkah di depan pintu. Tak lama kemudian pintu kamar diketuk ringan.
“Assalamu’alaikum.”
Suara itu langsung dikenali Hanin. Itu suara Aisyah.
Ghania segera menjawab, “Wa’alaikumussalam. Masuk saja.”
Pintu terbuka. Aisyah muncul dengan wajah yang seperti biasa penuh ekspresi ceria.
Begitu melihat Hanin, ia langsung berkata cepat, “Hanin, kamu dipanggil Ustaz Hamid.”
Hanin langsung berdiri. “Sekarang?”
Aisyah mengangguk. “Iya.”
Hanin menghela napas kecil lalu berkata, “Baik.”
Sebelum keluar kamar, ia sempat menoleh ke arah Ghania.
Gadis itu tersenyum hangat. “Semoga semua lancar.” Ghania berhenti sebentar sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih lembut. “Dan ini merupakan pilihan terbaik.”
Hanin mengangguk pelan. “InsyaAllah.”
Setelah itu ia keluar dari kamar bersama Aisyah. Mereka berjalan menyusuri koridor asrama menuju halaman pesantren.
Beberapa santri terlihat sedang membaca kitab di teras, sementara yang lain berjalan menuju kelas.
Aisyah melirik Hanin beberapa kali sebelum akhirnya berkata dengan nada penuh arti. “Pantas saja.”
Hanin menoleh. “Pantas apa?”
Aisyah menyilangkan tangan di depan dada. “Pantas kemarin Mas Arsenio dan kamu sama-sama malu-malu.”
Hanin langsung merasa pipinya memanas lagi. “Apaan sih.”
Aisyah terkekeh. “Tak taunya ada sesuatu.”
Hanin menggeleng kecil sambil tersenyum. “Kamu ini bisa saja.”
Aisyah menyenggol lengannya pelan. “Ya jelaslah. Aku kan pengamat handal.”
Hanin hanya tertawa kecil. Percakapan ringan itu membuat rasa gugupnya sedikit berkurang.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan ruang kerja Ustaz Hamid. Aisyah berhenti di depan pintu.
“Sudah sampai.” Ia kemudian berkata lagi, “Aku harus ke kelas. Ada jadwal mengajar.”
Hanin mengangguk. “Baik. Terima kasih sudah mengantar.”
Aisyah tersenyum lebar. “Semangat ya.”
Ia lalu berjalan pergi menuju ruang kelas.
Hanin menarik napas pelan sebelum mengetuk pintu. “Assalamu’alaikum.”
Beberapa detik kemudian terdengar suara dari dalam. “Wa’alaikumussalam. Silakan masuk.”
Hanin membuka pintu perlahan. Begitu melangkah masuk, langkahnya langsung berhenti sejenak.
Ruangan itu memang sama seperti biasanya. Namun kali ini ada lebih banyak orang di dalamnya.
Di depan meja kayu besar, Ustaz Hamid duduk dengan wajah tenang. Di sisi kanan ruangan, Arsenio sudah duduk dengan sikap yang terlihat sedikit tegang. Di sampingnya duduk dua orang dewasa yang belum pernah Hanin temui sebelumnya.
Seorang pria berwajah tegas namun hangat, dan seorang wanita elegan dengan senyum yang lembut. Hanin langsung mengerti. Mereka pasti kedua orang tua Arsenio.
Hanin segera melangkah masuk dengan tenang. Langkahnya berhenti di depan mereka. Ia menunduk hormat dan lebih dulu menyalami wanita itu.
“Assalamu’alaikum.”
Wanita tersebut langsung membalas dengan senyum hangat. “Wa’alaikumussalam.”
Hanin mencium punggung tangannya dengan sopan. Setelah itu ia menyalami pria di sampingnya. Kemudian ia menyalami Arsenio dengan singkat, tapi salam bukan bersentuhan seperti dengan mamanya. Sebelum akhirnya duduk di kursi yang sudah disediakan.
Beberapa detik ruangan itu terasa hening. Mama Arsenio memperhatikan Hanin dengan tatapan yang penuh kekaguman.
Lalu tanpa sadar ia tersenyum lebar. “MasyaAllah.”
Hanin mengangkat wajahnya sedikit.
Wanita itu berkata dengan suara lembut, “Kamu cantik sekali, Nak.”
Hanin langsung menunduk lagi dengan wajah yang memerah. Mama Arsenio tertawa kecil.
“Pantas saja Arsenio tidak sabar ingin melamarmu.”
Arsenio yang duduk di sampingnya langsung batuk kecil. “Mama .…”
Ustaz Hamid tersenyum tipis melihat reaksi itu. Sementara Hanin hanya bisa tersenyum malu.
Setelah suasana sedikit mencair, papanya Arsenio akhirnya berbicara. Suaranya tenang dan penuh wibawa. “Kami datang ke sini sebagai orang tua dari Arsenio.”
Ia menatap Hanin dengan tatapan yang hangat namun serius. “Kami ingin menyampaikan niat baik keluarga kami.”
Hanin duduk dengan sikap yang sangat sopan. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuannya.
Papanya Arsenio melanjutkan, “Sebagai orang tua dari Arsenio, kami datang ingin melamar kamu sebagai istrinya Arsenio.”
Ruangan itu mendadak terasa sangat hening. Semua mata tertuju pada Hanin. Papanya Arsenio kemudian berkata lagi dengan nada yang lembut, “Apakah kamu bersedia menerima lamaran kami, Nak?”
Hanin menunduk pelan. Pipinya kembali memerah. Namun kali ini ia belum langsung menjawab.
jdi kini giliran kmu bhgia...dn bhgiain gania clon bini mu
semoga bahagia selalu..
masak orang hidup minta do'a sama yg udah almarhum, Pak Ustadz lihat author ini Pak Ustadz... 🤭
GK usah bikin huru hara...
lah.... ribet bgt....