Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Lima
Ruang tamu itu mendadak terasa lebih sempit.
Ghania menatap Fahmi lekat-lekat. Senyumnya yang tadi ringan perlahan memudar. Ada sesuatu dalam cara Fahmi menyebut nama itu, terlalu hati-hati, dan terlalu terukur.
“Kenapa kamu tanya tentang Hanin, Mas?” tanya Ghania akhirnya.
Nada suaranya lembut, tapi jelas menyimpan rasa penasaran. Ia merapikan ujung kerudungnya yang sedikit bergeser, gerakan kecil yang biasa ia lakukan ketika merasa gugup.
Fahmi tidak langsung menjawab. Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi. “Nggak kenapa-kenapa,” ucapnya pelan. “Cuma penasaran saja.”
“Penasaran?” Ghania mengulang, keningnya berkerut.
Ia lalu bertanya lagi, lebih hati-hati, “Apa kamu kenal Hanin, Mas?”
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.
Fahmi sadar, ini momen yang menentukan. Ia teringat kata-kata Hanin di terminal tadi pagi. Kita harus saling asing. Jangan dekati aku. Jangan sampai jadi fitnah.
Ia tahu, seharusnya ia diam saja. Mengangguk, menggeleng, atau mengalihkan pembicaraan. Tapi ada sesuatu yang membuatnya tak ingin berbohong. Bukan untuk membuka masa lalu. Hanya untuk tahu bagaimana Hanin menjalani dua tahun terakhir tanpa dirinya.
“Ya,” jawab Fahmi akhirnya, suaranya rendah. “Aku kenal.”
Ghania terdiam. Matanya membesar sedikit. “Kenal … bagaimana?”
“Kami dulu dikenalkan teman,” lanjut Fahmi. “Sudah lama. Tapi sudah dua tahun kami tidak bertemu.”
Ia memilih kata-katanya hati-hati. Tidak menyebut kata “hubungan”. Tidak menyebut kata “cinta”.
Ghania masih menatapnya, mencoba membaca sesuatu di wajah lelaki di hadapannya. “Apa kamu dekat dengan Hanin, Mas?” Pertanyaan itu lebih tajam.
Fahmi menghela napas pelan. Ingatannya melayang pada Hanin di dalam bus, wajahnya yang berusaha tegar, tapi matanya menyimpan luka.
Ia tak ingin melanggar permintaan Hanin. Tapi ia juga tak ingin menipu Ghania.
“Tidak begitu dekat,” jawab Fahmi akhirnya. “Kami hanya sekedar teman. Dan itu sudah lama sekali.”
Jawaban itu setengah benar. Setengahnya lagi ia telan sendiri.
“Aku cuma ingin tahu saja,” lanjut Fahmi cepat, sebelum Ghania bertanya lebih jauh. “Kenapa dia sampai masuk pesantren? Setahuku dulu dia sekolah umum.”
Ghania terdiam beberapa detik. Wajahnya berubah serius.
“Mas benar,” ucapnya pelan. “Dulu Hanin memang sekolah umum.”
Fahmi menunggu ucapan Ghania selanjutnya. Ingin tahu alasan dari semua itu.
Ghania menarik napas panjang, lalu melanjutkan, “Dia masuk pesantren karena ketahuan pacaran. Sedangkan abinya seorang ustad. Jadi mungkin itu tabu.”
Kalimat itu seperti pukulan pelan yang langsung mengenai dada Fahmi. Jantungnya berdegup lebih keras.
Ghania tidak tahu, bahwa lelaki yang duduk di hadapannya adalah orang yang berpacaran dengan Hanin dua tahun lalu.
“Orang tuanya sangat terpukul,” lanjut Ghania. “Keluarganya memang cukup keras soal itu. Jadi waktu ketahuan, mereka langsung memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren.”
Fahmi menelan ludah.
Ghania menunduk sedikit, suaranya melembut. “Dan saat kedua orang tuanya mengantarnya ke pesantren .…” Ia berhenti sebentar.
Fahmi merasa dadanya mulai sesak, seolah sudah tahu arah cerita ini akan menuju ke mana.
“Mereka kecelakaan,” lanjut Ghania lirih. "Keduanya meninggal di tempat.”
Ruangan itu mendadak terasa sunyi. Fahmi seperti membeku.
“Apa?” suaranya hampir tak terdengar.
Ghania mengangguk pelan. “Iya. Itu yang membuat Hanin benar-benar berubah. Dia merasa semua itu karena kesalahannya. Karena pacaran.”
Dunia Fahmi seperti berhenti sesaat. Ia tak pernah tahu.
Selama dua tahun ia mengutuk keadaan. Mengutuk orang tuanya yang memisahkannya dari Hanin. Mengutuk dirinya yang tak bisa menghubungi. Ia pikir Hanin mungkin marah. Mungkin membencinya. Mungkin sudah bahagia dengan orang lain.
Ia tak pernah membayangkan bahwa di saat yang sama, Hanin kehilangan dua orang paling penting dalam hidupnya. Dan ia … tidak ada di sana.
Fahmi menunduk. Tangannya mengepal di atas lutut. Dadanya terasa penuh, seperti ada sesuatu yang menekan keras dari dalam. Ia merasa semua juga karena kesalahannya.
Pesantren yang orang-orang sebut sebagai “penjara suci”. Tempat ia juga dikirim karena ketahuan pacaran.
Takdir mereka ternyata berputar di lingkaran yang sama. Bedanya, Hanin kehilangan orang tua. Fahmi hanya kehilangan kebebasan.
“Mas?” suara Ghania membuyarkan lamunannya.
“Iya,” jawabnya cepat, berusaha menormalkan nada suara.
“Kok diam saja?”
“Tidak apa-apa,” ujarnya pelan. “Aku cuma … kaget.”
“Banyak yang kaget waktu dengar ceritanya,” kata Ghania. “Hanin nggak pernah banyak cerita. Tapi waktu awal masuk pesantren, dia sering sakit. Mungkin karena stres. Mungkin karena merasa bersalah.”
Fahmi menutup mata sejenak. Bayangan Hanin yang menangis di bus kembali muncul di kepalanya. Kalimatnya yang dewasa. Semua ini takdirku.
Ia pikir itu hanya bentuk penerimaan. Ternyata itu luka yang sudah terlalu dalam.
“Sekarang dia sudah jauh lebih baik,” lanjut Ghania, tersenyum tipis. “Dia jadi salah satu santri yang paling rajin. Dia jadi guru mengaji. Hafalannya cepat. Sikapnya juga berubah. Lebih tenang.”
Fahmi mengangguk pelan. Ia tidak berani bertanya lagi. Tidak berani menggali lebih dalam.
Ia takut, semakin banyak ia tahu, semakin berat rasa bersalah itu.
Tak lama kemudian, Ustaz Hamid kembali ke ruang tamu. Suasana percakapan berubah. Ghania ikut bangkit mengambilkan minum. Topik pun berganti pada rencana pernikahan dan kegiatan pondok.
Fahmi menjawab seperlunya. Wajahnya tetap tenang, sopan, seperti biasa.
Tak ada yang tahu bahwa di dalam dirinya, ada badai kecil yang sedang berputar.
Sementara itu, bus yang membawa Hanin sudah memasuki jalan desa.
Hamparan sawah terbentang luas di kanan kiri. Pagi sudah benar-benar terang. Matahari memantul di permukaan air irigasi.
Bus berhenti di pertigaan kecil dekat warung kelontong. Hanin turun perlahan. Tas kecilnya digendong di bahu. Udara desa menyambutnya dengan aroma tanah dan rumput basah.
Ia berjalan kaki menuju rumah. Rumah sederhana dengan dinding yang mulai kusam, tapi halaman depannya masih ditanami bunga-bunga yang dulu dirawat ibunya.
Pintu kayu itu masih sama. Ia berhenti sejenak di depan teras. Sunyi terasa.
Sudah dua tahun ia terbiasa dengan kesunyian ini. Tapi tetap saja, setiap kali kembali, hatinya seperti ditarik ke masa lalu.
Hanin membuka pintu dengan kunci yang selalu ia simpan di tas. Engselnya berbunyi pelan.
Rumah itu rapi. Sepupunya yang sesekali datang membersihkan memang menjaga agar rumah tak benar-benar terbengkalai.
Ia langsung masuk ke kamar.
Kamar yang dulu penuh dengan suara ibunya memanggil untuk makan. Dengan suara ayahnya yang tertawa ketika menonton berita di ruang tengah.
Kini hanya ada angin yang masuk lewat jendela setengah terbuka. Hanin meletakkan tasnya di sudut ruangan. Lalu duduk di tepi ranjang.
Sunyi itu kembali memeluknya. Dan seperti biasa, kenangan datang tanpa diundang.
Wajah ibunya yang tersenyum ketika mengantarnya membeli seragam baru. Suara ayahnya yang menasihatinya agar menjaga diri.
Tangis ibunya ketika tahu ia berpacaran. Wajah kecewa ayahnya.
Dan teringat saat ayah dan ibu mengantarnya ke pondok. Hari terakhir ia melihat keduanya hidup. Air mata Hanin kembali jatuh.
Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis itu. Menatap langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas.
“Maafkan Hanin, Abi, Umi,” bisiknya pelan.
Ia masih sering merasa semua itu salahnya. Kalau saja ia tidak pacaran. Kalau saja ia tidak membuat orang tuanya marah. Kalau saja hari itu mereka tidak mengantarnya ke pesantren.
Kalau saja .…
Tapi hidup tidak mengenal kata kalau.
Hanin menutup mata. Tubuhnya lelah. Bukan hanya karena perjalanan, tapi karena pertemuan tak terduga pagi tadi.
Wajah Fahmi kembali terbayang. Tatapan itu. Nada suaranya. Penjelasan yang terlambat dua tahun. Ia menggigit bibirnya pelan.
“Kenapa kamu datang lagi?” gumamnya lirih.
Ia sudah berusaha menata hidupnya. Menerima semuanya sebagai takdir. Menjadikan pesantren sebagai tempat memperbaiki diri, bukan hukuman.
Ia bahkan sudah mulai merasa kuat.
Tapi melihat Fahmi lagi seperti membuka kembali pintu yang sudah susah payah ia tutup.
Hanin memiringkan tubuhnya. Menghadap dinding. Air matanya masih terus mengalir.
"Ya Allah, aku ingin mencium tangan Abi dan Umi. Aku ingin memeluk mereka, bukan hanya memeluk batu nisannya saja."
**
Selamat Pagi. Mama mau rekomendasi novel teman. Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini. Terima kasih.
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??