Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Di Antara Dua Dunia
Hari ke-1.552.
Aryo bangun dengan punggung pegal. Semalam ia tidur di kursi bambu depan rumah. Masih mikirin utang 8 juta. Masih mikirin cara bayar. Masih mikirin Pak Rahmat yang bilang, "Ini bisa panjang, Pak."
Jam 4 subuh. Masih gelap. Lampu minyak di dalam masih menyala redup. Aryo duduk termenung. Rokok murah di tangan. Asapnya naik ke langit yang mulai cerah.
Dari dalam, suara Mbah Kar. "Mas, kopi."
Aryo tersenyum. Mbah Kar selalu tahu. Selalu ada. Meski kadang diam, kehadirannya cukup buat Aryo ingat: aku nggak sendiri.
Mbah Kar duduk di sampingnya. Beri kopi hitam. Pahit. Hangat.
"Mas, tidur di sini?"
"Iya, Mbah. Pikiran nggak karuan."
Mbah Kar menghela napas. "Mas, aku tahu ini berat. Tapi Mas jangan lupa. Di dalam sana, ada Dewi. Ada Risma. Ada Budi. Mereka butuh Mas."
Aryo menunduk. "Aku tahu, Mbah. Tapi kadang... capek."
"Capek itu manusiawi, Mas. Tapi menyerah? Itu pilihan."
Mereka diam. Menikmati pagi yang sunyi. Hanya suara ayam tetangga berkokok sahut-sahutan.
---
Pukul 6 pagi, Budi keluar. Rambutnya masih berantakan. Matanya masih belekan. Tapi senyumnya sudah full.
"Pa! Mbah! Aku mimpi!"
Aryo menepuk pahanya. "Mimpi apa, Nak?"
"Budi mimpi naik kuda! Kuda besar! Warna coklat!"
Mbah Kar tertawa. "Wah, keren dong. Terus Budi ke mana naik kuda?"
Budi mikir keras. Lalu jawab, "Ke pasar! Beli permen!"
Aryo dan Mbah Kar tertawa. Tawa pagi yang sederhana. Tapi cukup buat mengurangi beban.
Dewi keluar. Mendorong Risma di kursi. Risma pakai baju kuning favoritnya. Warna kesukaannya. Yang selalu bikin dia tersenyum.
"Pagi, Mas. Mbah."
"Pagi, Ri." Aryo bangun. Hampiri Risma. Cium keningnya.
"Pagi, Nak. Udah mimpi apa?"
Risma diam. Tak bisa jawab. Tapi matanya... matanya berbinar. Seperti bilang, "Aku mimpi Bapak, Pa. Bapak lagi main sama aku."
Aryo pegang tangannya. Hangat.
---
Hari itu, Aryo harus ke kantor Pak Rahmat lagi. Ada berkas yang harus ditandatangani. Laporan polisi. Surat kuasa. Semua urusan hukum yang bikin pusing.
Dewi menyiapkan sarapan. Nasi goreng sisa kemarin. Telor ceplok satu buat Budi. Sisanya buat Aryo.
"Mas, makan dulu."
Aryo duduk. Makan pelan. Budi di sampingnya, makan lahap. Berantakan. Nasinya belepotan di pipi.
"Pa, nanti Pa ke mana?"
"Ke kantor Pak Rahmat, Nak."
"Pak Rahmat itu siapa? Temen Pa?"
"Iya. Temen Bapak. Orang baik."
Budi manggut. "Budi mau ikut."
"Nggak bisa, Nak. Kamu di rumah bantu Ibu."
Budi cemberut. Tapi cuma sebentar. Lalu lihat Risma. Risma lagi disuapi Dewi. Makan pelan. Susah sekali menelan.
"Kak, kok susah makan?"
Risma tak jawab. Tapi matanya ke Budi. Senyum tipis.
Budi mendekat. "Kak, nanti Budi temenin, ya. Budi bacain buku."
Risma matanya berbinar. Tangannya bergerak. Refleks. Tak terkontrol. Tapi seolah bilang, "Iya, Di. Aku tunggu."
Aryo lihat itu. Hatinya hangat. Tapi juga perih.
---
Pukul 8 pagi, Aryo berangkat. Naik angkot ke kota. Di dalam angkot, ia mikir. Mikir banyak hal.
Utang 8 juta. Pak Rahmat. Polisi. Pengadilan mungkin.
Lalu tiba-tiba ingat Risma.
Kenapa anak itu bisa sekecil itu? Kenapa ia tak bisa bicara? Kenapa tubuhnya kaku? Kenapa Tuhan kasih dia cobaan seberat itu?
Tak ada jawaban.
Hanya angkot yang terus berjalan. Hanya jalanan yang terus berlalu.
---
Di kantor Pak Rahmat, Aryo disambut hangat.
"Pak Aryo, silakan duduk."
Aryo duduk. Gugup. Tangan dingin.
"Pak, saya sudah siapkan berkasnya. Laporan polisi sudah kita buat. Sekarang tinggal tanda tangan."
Aryo baca berkas itu. Kata-kata hukum. Sulit dimengerti. Tapi ia percaya Pak Rahmat.
"Pak Rahmat, kira-kira... ini bisa selesai?"
Pak Rahmat menghela napas. "Saya tak bisa janji, Pak. Tapi kita usahakan maksimal."
"Dan utangnya? 8 juta itu?"
"Untuk sementara, jangan dibayar dulu. Kita lihat perkembangan polisi. Kalau terbukti KTP Bapak dipakai tanpa sepengetahuan, Bapak tak wajib bayar."
Aryo lega. Tapi belum sepenuhnya.
"Tapi Pak, mereka bilang waktu 2 minggu."
"Iya. Makanya kita kerja cepat. Saya akan hubungi penyidik hari ini."
Aryo tanda tangan. Rapikan berkas.
"Pak Rahmat... makasih banyak. Saya nggak tahu harus bilang apa."
Pak Rahmat tersenyum. "Pak Aryo, saya bantu karena saya lihat Bapak berjuang. Bapak nggak menyerah. Itu luar biasa."
Aryo terharu. Matanya berkaca-kaca.
"Pak, saya cuma orang biasa. Nggak punya apa-apa."
"Tapi Bapak punya hati. Itu lebih berharga dari apa pun."
---
Pulang, Aryo mampir ke pasar. Beli pisang goreng buat Budi. Dan jajan pasar buat Risma. Kue lapis. Kesukaannya.
Sampai rumah, Budi sambut lompat-lompat.
"Pa! Pa! Bawa apa?"
"Pisang goreng, Nak."
Budi senang. Langsung ambil. Makan di teras. Berantakan. Gula halus belepotan di baju.
Aryo masuk. Risma di kursi. Lagi dengerin radio. Radio tua peninggalan Mbah Kar. Suaranya berisik. Tapi Risma suka.
"Nak, Bapak bawa kue lapis."
Risma matanya berbinar. Tangan kanannya bergerak. Refleks. Aryo ambil tangan itu. Usap pelan.
"Nanti Bapak suapin, ya. Sekarang Bapak istirahat dulu."
Aryo duduk di kursi. Dewi datang. Bawa air putih.
"Mas, capek?"
"Capek, Ri. Tapi lega. Berkas udah ditandatangan."
"Alhamdulillah. Pak Rahmat baik banget."
"Iya. Kita harus bayar kebaikannya suatu hari."
Mereka diam. Menikmati sore yang tenang. Di luar, Budi main tanah. Mbah Kar duduk di sampingnya. Ngawasin. Kadang-kadang ketawa lihat tingkah Budi.
---
Malam tiba. Mereka makan bersama. Sederhana. Nasi, sayur lodeh, tempe goreng.
Budi makan lahap. Berantakan. Risma disuapi Dewi. Makan pelan. Susah sekali menelan.
Tiba-tiba, Risma batuk. Batuk keras. Kencang. Wajahnya merah. Napasnya sesak.
Dewi panik. "Mas! Risma!"
Aryo bangun. Angkat Risma dari kursi. Tepuk punggungnya pelan.
"Batukin, Nak. Batukin."
Risma batuk terus. Muntah sedikit. Makanan yang tadi disuapi keluar. Sedikit. Bercampur lendir.
Budi nangis. "Kak! Kak!"
Mbah Kar datang. "Minta air hangat, Dewi."
Dewi ambil air hangat. Mbah Kar bantu bersihkan Risma. Wajahnya tenang. Berpengalaman.
"Udah, udah. Tenang."
Risma batuknya reda. Napasnya masih berat. Tapi mulai tenang.
Aryo gendong dia. Keluarkan ke teras. Udara malam sedikit dingin. Risma di pangkuannya. Aryo usap kepalanya pelan.
"Napas, Nak. Napas perlahan."
Risma di dadanya. Napasnya perlahan normal. Tapi Aryo dengar... ada bunyi di dadanya. Grok... grok... Seperti ada cairan.
Dadanya berdebar.
Ini cuma batuk biasa, kan? pikirnya. Anak kecil batuk itu wajar. Besok juga sembuh.
Tapi di lubuk hatinya, ada rasa takut. Rasa aneh. Seperti ada yang bilang, "Periksa dia, Yo. Periksa."
Tapi Aryo tak dengar. Atau pura-pura tak dengar.
Karena besok ia harus urus utang. Urus polisi. Urus Pak Rahmat. Urus semuanya.
Ia lupa. Risma tak bisa bilang sakit.
Risma tak bisa bilang, "Pa, punggungku perih."
Risma tak bisa bilang, "Pa, aku sakit kalau tidur."
Risma cuma bisa diam. Menahan. Sendirian.
---
Malam itu, Aryo tidur di samping Risma. Budi di sisi lain. Tangan Budi memegang tangan Risma. Seperti biasa.
Aryo pegang tangan Risma juga. Tangan kanannya. Kecil. Kurus. Tapi hangat.
"Nak, Bapak sayang kamu."
Risma tidur. Napasnya pelan. Kadang terdengar grok... grok... kecil. Tapi Aryo anggap biasa.
Besok juga sembuh, pikirnya lagi. Besok.
Lalu ia terlelap.
---
Hari ke-1.553.
Pagi datang. Aryo bangun dengan perasaan aneh. Ada yang tak beres. Tapi ia tak tahu apa.
Dilihatnya Risma. Masih tidur. Tenang. Wajahnya pucat. Tapi biasa.
Budi udah bangun. Main di teras sama Mbah Kar.
Dewi di dapur. Masak.
Semua normal. Semua biasa.
Tapi perasaan aneh itu tak hilang.
Aryo hampiri Risma. Cium keningnya. Hangat. Sedikit panas. Tapi tak demam.
"Nak, bangun. Mau mandi."
Risma buka mata. Samar. Tapi langsung senyum. Senyum tipis itu. Yang selalu bikin Aryo lupa semua.
"Pagi, Nak."
Risma diam. Tapi matanya... matanya sayu. Capek. Lelah.
Aryo tak sadar.
Ia gendong Risma. Bawa ke kamar mandi. Mandiin. Gosok badan. Pakaikan baju.
Saat membalikkan Risma untuk memakaikan baju, Aryo lihat punggungnya. Hitam-hitam kecil di sarung.
Jamuran, pikirnya. Sarung lembab.
Ia ganti sarung. Bersihkan. Lupa.
Lalu hari berjalan. Seperti biasa.
Utang. Pak Rahmat. Polisi. Laporan.
Risma di rumah. Tidur. Terbaring. Diam.
Tak ada yang tahu. Tak ada yang curiga.
Di punggungnya, luka mulai tumbuh. Diam-diam. Perlahan. Seperti racun yang merambat.
Dan belatung, menunggu waktu.
---
Malam itu, Aryo pulang dari kantor Pak Rahmat. Berkas sudah lengkap. Tinggal menunggu panggilan polisi.
Ia lelah. Tapi lega.
Sampai rumah, Dewi sambut di pintu. Wajahnya tegang.
"Mas, Risma panas."
Aryo masuk. Lihat Risma di dipan. Wajahnya merah. Napasnya cepat. Keringat dingin di dahi.
Ia pegang kening Risma. Panas. Panas sekali.
"Minum obat belum?"
"Udah. Tapi nggak turun-turun."
Aryo duduk di samping Risma. Pegang tangannya.
"Nak, Bapak pulang. Bapak di sini."
Risma buka mata. Samar. Lihat Aryo. Lalu tersenyum. Senyum tipis itu. Meski sakit, ia tetap tersenyum.
Aryo nangis.
"Maafin Bapak, Nak. Bapak sibuk terus. Bapak nggak perhatian."
Risma diam. Tangannya bergerak. Meraih jari Aryo. Erat.
Seperti bilang, "Nggak apa-apa, Pa. Aku ngerti."
Tapi di punggungnya, luka itu makin dalam. Merambat. Membusuk.
Dan makin malam, Risma makin lemah.
Aryo tak tahu.
Ia hanya duduk di sampingnya. Pegang tangannya. Berdoa dalam hati.
Tuhan, jangan ambil dia. Aku belum siap.
Tapi Tuhan punya rencana lain.
Malam itu, di tengah keheningan, luka di punggung Risma mulai menganga. Nanah dan darah merembes perlahan. Membasahi kasur. Membasahi sarung.
Dan saat Aryo terbangun nanti, dunia akan berhenti berputar.
---
[BERSAMBUNG KE BAB 22: LUKA DI PUNGGUNG RISMA]
---