Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.
Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah
"Makanan sudah siap!" seru Dewi dengan riang sambil membawa beberapa hidangan dari dapur, diikuti oleh Anya yang membawa sisa menu yang tadi mereka masak bersama.
Arga yang tengah asyik menonton TV langsung menoleh ke arah sumber suara. "Wah, baunya harum sekali, Ibu! Arga jadi lapar," ucapnya dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.
"Arga cuci tangan dulu sana, nanti kita makan siang bersama-sama. Sebentar lagi Ayah juga pulang kok," jelas Dewi dengan nada lembut.
Arga mengangguk dengan semangat dan segera berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Sementara itu, Anya masih sibuk menata makanan di meja makan, berusaha mengabaikan perasaan tidak nyamannya.
Dalam hatinya, sebenarnya ia tidak ingin bertemu dengan ayahnya. Rasa benci dan kecewa masih menyelimuti hatinya, membuatnya enggan untuk bertegur sapa dengan pria yang sudah menghancurkan hidupnya itu.
Belum selesai Anya menata piring di meja makan, suara mobil berhenti di depan rumah terdengar. "Itu pasti Ayahmu," ucap Dewi, memecah keheningan. Sesaat, tubuh Anya menegang, jantungnya berdebar kencang tak terkendali. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan diri, namun rasa cemas dan amarah terus bergejolak dalam hatinya.
Arga yang sudah selesai mencuci tangan berlari menghampiri Dewi dan Anya, dengan wajah memelas ia merengek, "Anya, Arga sudah lapar sekali!"
Namun, Anya seolah tuli dengan rengekan Arga. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa waktu lalu, saat ayahnya dengan tega memaksanya untuk menerima perjodohan ini. Ia sudah mencoba membantah dan memohon, namun ayahnya tetap tidak bergeming, seolah ia tidak memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Tanpa sadar, air mata mulai menetes membasahi pipinya.
"Anya menangis? Apa Arga salah bicara? Kalau begitu Arga tidak mau makan," ucap Arga dengan nada khawatir sambil mengusap air mata yang membasahi wajah Anya dengan lembut.
Sentuhan lembut Arga menyentakkan Anya dari lamunannya. Ia segera menggenggam tangan Arga dengan erat dan berkata, "Tidak, kamu tidak salah apa-apa, Arga. Ayo, duduklah di kursi, sebentar lagi Ayah datang dan kita akan makan bersama," ucap Anya dengan nada lembut.
Dari kejauhan, Dewi memperhatikan interaksi antara Anya dan Arga dengan senyum simpul yang menghiasi wajahnya. Hatinya terenyuh melihat ketulusan Arga dan ketegaran Anya. "Anya, Ibu tahu kamu pasti sangat terbebani dengan semua ini," gumam Dewi dalam hati, tanpa bermaksud untuk didengar oleh siapapun.
Tepat pada saat itu, Bram memasuki rumah dengan langkah lelah. Tas kerja ia tenteng di tangan kanan dan jas ia sampirkan di tangan kirinya. Pandangannya langsung tertuju pada ruang makan, di mana ia melihat istrinya telah menunggunya bersama putri dan menantunya.
Bram tersenyum tipis dan berjalan mendekat ke meja makan, berusaha mencairkan suasana yang terasa kaku. "Maaf, Ayah terlambat pulang," ucapnya dengan nada menyesal. Namun, Anya hanya menatapnya datar tanpa ekspresi, sama sekali tidak membalas senyumnya. Arga, yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi, hanya menatap Bram dengan tatapan polos dan penuh rasa ingin tahu.
"Anya, Arga, kalian sudah lama menunggu?" tanya Bram kepada keduanya, mencoba memulai percakapan.
Anya hanya mengangguk singkat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, menunjukkan ketidaksukaannya. Sementara Arga, yang tidak menyadari ketegangan yang ada, menjawab dengan riang, "Iya, Ayah. Anya dan Arga sudah lama di sini, menunggu Ayah pulang!"
Bram menatap putrinya dengan tatapan sendu, merasa bersalah karena Anya masih enggan untuk menatapnya atau sekadar menyapanya dengan ramah. Ia jadi teringat kembali akan kejadian beberapa waktu lalu, saat ia dengan tega memaksa Anya untuk menikah dengan Arga demi kepentingan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut. Ia tahu betul bahwa ia telah menyakiti hati putrinya, tetapi ia merasa tidak memiliki pilihan lain saat itu. Dalam hatinya, ia berharap suatu hari nanti Anya bisa memaafkan semua kesalahannya.
Merasakan aura dingin yang menyelimuti Anya dan Bram, Dewi berinisiatif untuk memecah keheningan. Dengan senyum lembut, ia berkata dengan nada penuh keibuan, "Sudah, Ayah sudah datang, mari kita mulai makan. Kasihan Arga sudah kelaparan dari tadi." Ia dengan cekatan menarik kursi untuk Bram dan mempersilakannya duduk di meja makan.
Bram menerima tawaran Dewi dan duduk di kursinya, lalu menatap Anya dengan tatapan penuh kasih sayang. "Anya, bagaimana kabarmu, Nak? Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir. Namun, Anya tetap diam membisu, tidak menjawab pertanyaan ayahnya sedikit pun.
Arga yang melihat Anya mengabaikan pertanyaan Bram merasa bingung. Dengan polos, ia bertanya kepada Anya, "Anya, Ayah sedang bertanya pada Anya. Kenapa Anya tidak menjawab pertanyaan Ayah?"
Dengan nada ketus, Anya menjawab, "Sudah, kau jangan banyak bicara. Cepat makan saja, katanya tadi sudah lapar." Ia sengaja mengabaikan keberadaan ayahnya dan fokus pada makanannya.
Mendengar ucapan Anya, Arga hanya mengangguk patuh dan berkata, "Baiklah, Anya," lalu mulai menyantap makanannya dengan tenang.
Suasana makan siang terasa begitu hening dan canggung, seolah ada dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka. Hanya suara denting sendok dan garpu yang sesekali memecah keheningan.
Bram beberapa kali mencoba mengajak Anya berbicara dan mencairkan suasana, namun Anya tetap membisu dan mengabaikannya. Dewi hanya bisa menghela napas dalam hati, merasa sedih melihat hubungan ayah dan anak yang begitu renggang dan dingin. Sementara Arga, yang tidak menyadari ketegangan yang ada di sekitarnya, terus makan dengan lahap seolah tidak terjadi apa-apa.
Setelah selesai makan, Anya segera membantu ibunya mencuci piring dan membersihkan meja makan, berusaha menghindari interaksi dengan ayahnya. Sementara itu, Arga tampak asyik berbincang dengan Bram di ruang tamu.
Dengan nada hati-hati, Bram bertanya kepada Arga, "Arga, bagaimana sikap Anya selama ini terhadapmu? Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"
Arga tersenyum polos dan menjawab dengan jujur, "Anya baik kok, Ayah. Anya sayang sama Arga."
Mendengar jawaban Arga, Bram merasa sedikit lega. Ia kemudian berkata dengan nada serius, "Arga, Ayah mohon jangan pernah membuat Anya menangis, ya? Jangan sampai kamu menjadi seperti Ayah yang sudah pernah membuat Anya menderita dan menangis karena keputusan Ayah."
Arga menggelengkan kepalanya dengan penuh keyakinan. "Arga janji tidak akan pernah membuat Anya menangis, Ayah. Arga akan selalu menjaga Anya," jawabnya dengan tulus.
Sementara Arga dan Bram tengah larut dalam percakapan hangat di ruang tamu, Anya dan Dewi menyelesaikan tugas mereka di dapur dengan suasana yang lebih tenang. "Ibu mengerti, ini bukanlah hal yang mudah untukmu, Nak," kata Dewi dengan lembut sambil membelai bahu Anya, mencoba memberikan kekuatan. "Namun, Ibu yakin kamu adalah wanita yang tangguh. Jangan biarkan rasa benci itu menguasai hatimu dan menghancurkanmu dari dalam." Anya hanya membisu, terus mencuci piring dengan gerakan lambat dan tatapan kosong, seolah pikirannya berada di tempat lain.
Tiba-tiba, Anya mendongak dan menatap ibunya dengan sorot mata yang penuh kesedihan dan kekecewaan. "Bu, mereka bilang cinta pertama seorang anak perempuan adalah sosok ayahnya, tetapi mengapa Ayah begitu tega menghancurkan semua cinta dan kekaguman yang kumiliki untuknya?" ucap Anya dengan suara bergetar dan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Aku tahu Ibu sangat paham bahwa saat itu kondisi keluarga kita sedang terpuruk, tetapi mengapa di saat-saat sulit seperti itu Ayah justru berubah menjadi orang lain yang tidak kukenal? Ayah yang dulunya selalu berbicara lembut dan penuh perhatian kepadaku, mendadak berubah menjadi kasar dan sering membentakku tanpa alasan yang jelas," ungkap Anya dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.
"Ayah yang selalu mendukung impianku dan menyayangiku tanpa syarat, tiba-tiba berubah menjadi Ayah yang menuntutku untuk memenuhi keinginannya dan mencapai tujuannya sendiri, tanpa mempedulikan perasaanku," lanjut Anya dengan nada lirih dan penuh kekecewaan.
Anya terisak hebat, air mata sudah tak terbendung lagi dan terus membasahi wajahnya. "Aku sangat kecewa, Bu... Kecewa dengan sikap Ayah yang berubah begitu drastis. Apa Ayah bisa berubah dalam sekejap hanya karena uang? Apa Ayah tidak memikirkanku, Bu? Putrinya yang dulu selalu ia sayangi dan ia jaga dengan sepenuh hati," ucap Anya di sela tangisnya.
Melihat putrinya yang begitu terpukul, Dewi segera menarik tubuh Anya ke dalam pelukannya. Dewi pun ikut terisak mendengar curahan hati Anya yang penuh dengan kekecewaan dan kesedihan. Ia merasakan sakit yang mendalam saat mendengar keluh kesah putrinya itu. "Nak, maafkan Ibu dan Ayah yang sudah gagal menjadi orang tua yang baik untukmu," ucap Dewi dengan nada penuh penyesalan.
Dewi memeluk Anya erat-erat, mencoba menyalurkan ketenangan dan kekuatan kepada putrinya yang sedang rapuh. "Ibu tahu, ini semua tidak adil untukmu, Sayang. Tapi Ibu mohon, jangan terlalu lama menyimpan kebencian pada Ayahmu, ya? Percayalah, Ayah juga sangat menyesal telah melakukan semua ini. Ayah melakukan semua itu karena terpaksa, Nak," ucap Dewi sambil mengusap lembut punggung putrinya.
Anya masih menangis tersedu-sedu di dalam pelukan ibunya, hatinya masih terlalu terluka untuk bisa memaafkan. "Maafkan Anya, Bu... Anya tidak bisa. Anya masih sangat membenci Ayah," bisiknya dengan suara serak dan penuh kepedihan.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ibu mengerti, mungkin saat ini kamu belum bisa memaafkan Ayahmu. Tapi Ibu yakin, seiring berjalannya waktu, kamu akan bisa memahami situasinya dan memaafkannya," ucap Dewi dengan nada tulus dan penuh harapan.