"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: MEMAKAI TOPENG
Pintu apartemen Julian tertutup dengan dentuman logam yang berat, meninggalkan kami di koridor remang-remang yang berbau pembersih lantai murahan. Julian berjalan di depanku, tangannya tetap berada di saku jaket—posisi siaga yang menunjukkan bahwa dia siap mencabut senjata kapan saja. Aku mengikutinya dengan langkah yang dipaksakan tegak. Raga Zura ini sedang berada di ambang kolaps; setiap saraf di tubuhku terasa seperti kabel telanjang yang memercikkan api. Sakau bukan lagi sekadar teori medis bagiku; itu adalah siksaan fisik yang nyata.
"Kau terlihat mengerikan," gumam Julian tanpa menoleh saat kami menuruni tangga darurat yang berkarat. "Jika kau pingsan di lobi rumah sakit, aku tidak akan menggendongmu. Aku akan meninggalkanmu di tempat sampah terdekat."
"Simpan simpatimu, Julian. Aku hanya butuh kau membawaku masuk tanpa menarik perhatian," balasku. Suaraku terdengar lebih stabil daripada perasaanku yang sebenarnya.
Aku harus melakukan sesuatu pada penampilan ini. Zura adalah sosok yang terlalu mencolok. Rambut pirang platinumnya yang berantakan dan gaun hitam ketat ini adalah suar bagi siapa pun yang mencarinya. Kami berhenti di depan mobil SUV hitam yang kini tampak seperti satu-satunya tempat persembunyianku. Sebelum masuk, aku melihat sebuah toko barang bekas di seberang jalan yang baru saja membuka pintunya.
"Berhenti," perintahku. "Aku butuh pakaian baru. Dan gunting."
Julian menatapku seolah aku sudah benar-benar gila. "Kita tidak punya waktu untuk berbelanja, Zura."
"Jika aku masuk ke rumah sakit pusat dengan penampilan seperti bintang porno yang sedang sakau, kita akan tertangkap dalam lima menit. Aku harus menjadi tak terlihat. Dan aku tahu persis caranya."
Sepuluh menit kemudian, aku kembali ke mobil. Gaun hitam itu sudah dibuang ke tempat sampah. Kini aku mengenakan hoodie abu-abu kebesaran, celana kain longgar, dan topi bisbol tua. Namun, perubahan paling drastis ada di wajahku. Menggunakan gunting tumpul yang kubeli, aku memotong rambut pirang panjang Zura menjadi potongan bob yang kasar dan tidak rata. Aku menghapus sisa maskara hingga wajahku tampak pucat, polos, dan lelah—seperti ribuan wanita kelas pekerja lainnya yang tidak akan dilirik dua kali di jalanan.
"Diagnosa visual," bisikku pada pantulan di jendela mobil. "Subjek kini anonim. Ancaman terdeteksi: rendah."
Julian menatapku dengan ekspresi aneh. "Kau benar-benar tahu cara menghilang, ya? Tapi kau tetap tidak bisa menghilangkan getaran di tanganmu itu."
"Abaikan tanganku. Fokus pada kemudi."
Rumah Sakit Saint Jude tampak seperti benteng kaca di bawah cahaya matahari pagi yang pucat. Ini adalah wilayah kekuasaanku dulu. Aku mengenal setiap lorong, setiap jadwal rotasi perawat, dan setiap celah keamanan di sini. Sebagai konsultan forensik kepolisian, aku punya akses tingkat tinggi—atau setidaknya, diriku yang dulu punya.
Saat mobil memasuki area parkir, aku melihat kerumunan wartawan di depan pintu masuk utama. Mereka menunggu pernyataan dari "Dr. Valerie" yang baru saja bangun secara ajaib dari koma.
"Lihat itu," Julian menunjuk ke arah kerumunan. "Kau ingin masuk ke sana? Itu bunuh diri."
"Kita masuk lewat dermaga ambulans di basement," kataku. "Pukul 07.15, petugas sanitasi akan mengganti shift. Ada jendela waktu tiga menit saat pintu sensor terbuka tanpa pengawasan ketat. Kau harus menungguku di zona drop-off."
Julian mendengus, tapi ia mengikuti instruksiku. Ia mulai menyadari bahwa pengetahuanku tentang tempat ini bukan sekadar gertakan. Saat pintu ambulans terbuka dan para paramedis sibuk menurunkan pasien, aku menyelinap keluar dari mobil, menundukkan kepala, dan berjalan masuk dengan langkah yang cepat namun tidak terburu-buru.
Bau rumah sakit—alkohol, disinfektan, dan kematian yang tertunda—menghantamku. Biasanya, bau ini menenangkanku karena ini adalah bau kendali. Tapi sekarang, ia memicu mual yang hebat di perut Zura. Aku harus berpegangan pada dinding koridor sesaat, membiarkan gelombang pening berlalu.
Jangan sekarang, Zura. Jangan hancurkan ini.
Aku menuju lift servis dan menekan lantai lima: Sayap VIP. Di sanalah tubuh asliku berada. Dan di lantai yang sama, di ujung lorong sebelah kiri, terdapat kantorku.
Pintu lift terbuka. Aku melangkah keluar dan langsung berhadapan dengan seorang perawat muda yang membawa nampan obat. Ia menatapku sejenak. Jantungku berpacu. Apakah dia mengenaliku sebagai Zura?
"Maaf, area ini terbatas untuk pengunjung," katanya sopan.
Aku mengubah suaraku menjadi lebih lembut, sedikit gemetar, meniru nada suara asisten lab yang kelelahan. "Maaf, Suster. Saya disuruh Dr. Aris untuk mengambil berkas penelitian di kantor Dr. Valerie. Ini kuncinya."
Aku menunjukkan kartu akses yang kusambar dari laci Julian tadi pagi—sebuah kartu lama milik seorang informan yang sudah kadaluwarsa, tapi bentuknya cukup meyakinkan. Perawat itu hanya melirik sekilas, lalu mengangguk. "Cepat ya, pengamanan di sini sedang ketat karena insiden Dr. Valerie."
Aku berjalan melewati kamar 502. Pintunya sedikit terbuka.
Aku berhenti. Aku tidak bisa menahan diri. Aku menoleh ke dalam.
Di sana, di atas tempat tidur dengan peralatan medis yang masih terpasang, duduk seorang wanita. Dia memakai gaun pasien sutra. Wajahnya—wajahku—tampak bersinar, tenang, dan sangat cantik. Rambut hitamnya tergerai rapi. Dia sedang memegang cangkir teh, berbicara dengan seorang pria berpakaian rapi yang membelakangiku.
"Aku merasa jauh lebih baik, Pak Walikota," suara itu keluar dari bibirku. Suara yang tenang, berwibawa, namun kali ini ada nada kemanjaan yang tersembunyi yang hanya bisa kudeteksi karena aku adalah pemilik asli suara itu. "Hanya saja, ingatanku tentang malam itu masih sedikit kabur. Yang kuingat hanyalah wajah wanita malang itu... Zura."
Wanita di tempat tidur itu—jiwa Zura yang asli—tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Matanya bertemu dengan mataku melalui celah sempit itu.
Duniaku seolah membeku.
Zura tidak terkejut. Ia tidak berteriak. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sangat mengerikan. Ia mengangkat cangkir tehnya sedikit ke arahku, sebuah gestur "bersulang" yang hanya diketahui oleh kami berdua. Ia tahu aku ada di sana. Ia tahu aku sedang menatap kehancuranku sendiri.
"Dokter? Ada yang salah?" tanya pria di depannya.
"Tidak ada," jawab Zura dengan nada manis. "Hanya merasa seperti ada bayangan yang lewat. Mungkin aku hanya butuh lebih banyak istirahat."
Aku segera membuang muka dan berjalan cepat menuju kantorku. Amarah membakar dadaku, lebih panas dari rasa sakit sakau. Dia menghina hidupku. Dia menggunakan statusku untuk berbicara dengan walikota—salah satu pilar Klub 0,1%.
Aku sampai di pintu kantorku. Menggunakan trik sederhana dengan klip kertas yang selalu kubawa (karena kunci fisik di ruangan ini belum sempat diganti ke sistem digital terbaru), aku membuka pintunya dalam waktu kurang dari tiga puluh detik.
Ruangan itu gelap dan sunyi. Aku langsung menuju lemari buku di sudut ruangan. Di balik barisan buku teks psikiatri, terdapat sebuah brankas kecil yang tertanam di dinding. Aku menekan kode angka yang hanya diketahui olehku: tanggal kematian ibuku.
Klik.
Pintu brankas terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam. Ini bukan buku catatan medis resmi. Ini adalah "Log Hitam"—catatan pribadiku tentang setiap pejabat, pengusaha, dan polisi yang pernah datang kepadaku untuk sesi terapi pribadi, yang tanpa sengaja membocorkan afiliasi mereka dengan Klub 0,1%.
Ini adalah asuransi jiwaku. Dan sekarang, ini adalah senjataku untuk menyerang balik.
Aku menyembunyikan buku itu di dalam hoodie-ku. Saat aku hendak keluar, mataku tertuju pada sebuah foto di atas meja kerja: foto aku (Valerie) yang sedang tersenyum bangga saat menerima penghargaan dari kepolisian. Aku meraih foto itu dan menghancurkan kacanya ke lantai.
"Nikmatilah selagi bisa, Zura," bisikku pada kegelapan kantor itu. "Karena aku baru saja mengambil kembali kendali atas permainan ini."
Aku keluar dari kantor, menyelinap kembali melalui jalur yang sama. Saat aku sampai di parkiran dan masuk ke mobil Julian, aku tidak lagi gemetar. Rasa sakit sakau itu masih ada, tapi kini ia kalah oleh hasrat untuk membalas dendam.
"Kau dapat apa yang kau cari?" tanya Julian sambil menyalakan mesin.
Aku mengeluarkan buku hitam itu dan menunjukkannya padanya. "Aku mendapatkan kunci untuk membakar seluruh kota ini, Julian. Sekarang, bawa aku ke tempat di mana aku bisa mempelajari isi buku ini tanpa gangguan."
Julian menatap buku itu, lalu menatapku. "Kau benar-benar bukan Zura, ya?"
"Zura sudah mati di kamar hotel itu, Julian," kataku sambil menatap lurus ke depan. "Namaku Valerie. Dan aku baru saja mulai bekerja."
SUV itu melaju meninggalkan rumah sakit, sementara di lantai lima, seorang wanita dengan wajahku sedang merencanakan langkah selanjutnya untuk memastikan "bayangannya" tidak akan pernah kembali lagi.