NovelToon NovelToon
Kupinjam Waktu Untuk Membalasmu

Kupinjam Waktu Untuk Membalasmu

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Berondong / Ketos / Reinkarnasi / Obsesi / Pembaca Pikiran / Tamat
Popularitas:458
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dermaga Keberangkatan Changi

Gavin tidak pernah menyangka bahwa perjalanannya menuju "medan perang" di London akan diantar oleh dua orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya saat ini: wanita yang ia puja dan pria yang menjadi saingan beratnya.

Suasana Terminal 3 Bandara Changi pagi itu terasa sangat dingin. Odelyn berdiri di antara dua pria tinggi yang memiliki aura kontras. Di sebelah kanannya, Hediva dengan gaya aristokratnya yang tenang, dan di kirinya, Gavin yang sudah siap dengan jaket trench coat gelapnya.

​Saat pengumuman keberangkatan bergema, dinding pertahanan Odelyn runtuh lagi. Persetan dengan profesionalisme. Di depan mata Hediva, Odelyn menabrakkan tubuhnya ke dada Gavin. Ia memeluk pria itu begitu erat, seolah-olah tangannya adalah borgol yang bisa menahan Gavin agar tidak pergi.

​Isak tangis Odelyn pecah di bahu Gavin.

"Lo harus balik, Vin... lo harus balik," bisiknya parau.

​Gavin tidak peduli lagi pada harga dirinya di depan Hediva.

Ia membalas pelukan itu dengan sangat hangat, melingkarkan lengannya di pinggang Odelyn dan menciumi puncak kepalanya berkali-kali.

​"Dengerin gue, Lyn," Gavin menjauhkan sedikit tubuh Odelyn, menangkup wajahnya yang sembab dan menatap matanya dengan ketenangan yang luar biasa.

"Gue bukan Gavin yang dulu. Kali ini, maut pun harus antre kalau mau jemput gue sebelum gue balik ke pelukan lo. Gue janji."

​Gavin kemudian berbalik menatap Hediva. Untuk pertama kalinya, tidak ada kebencian di mata Gavin, melainkan sebuah permohonan antar lelaki.

​"Hediva," ucap Gavin berat. "Gue titip Odelyn. Jaga dia selama gue di London. Kalau ada satu helai rambutnya yang hilang karena paman lo, gue bakal tagih itu ke lo saat gue balik nanti."

​Hediva hanya mengangguk tipis, tangannya masuk ke saku celana. "Pergi saja, Gavin. Fokus pada misimu. Dia akan aman bersama Vandermere yang ini."Begitu pesawat Gavin lepas landas, Odelyn segera menghapus air matanya.

Dalam hitungan detik, ia kembali menjadi wanita dingin yang tak tersentuh. Ia masuk ke dalam mobil mewah Hediva, membuka laptopnya, dan langsung mengaktifkan sistem The Hidden Monitor.

​Layar laptopnya menampilkan titik merah kecil—pelacak yang ia tanam di jam tangan pemberiannya kepada Gavin semalam. Ia juga bisa mengakses mikrofon tersembunyi di kancing jaket Gavin.

​"Sangat efisien," suara Hediva memecah keheningan di dalam mobil yang melaju menuju pusat kota. "Menangis seperti kehilangan separuh nyawa di bandara, tapi lima menit kemudian sudah memantau pergerakannya seperti predator."

​Odelyn tidak menoleh.

"Gue nggak suka variabel yang nggak terukur, Hediva."

​Hediva terdiam sejenak, menatap profil samping wajah Odelyn yang sangat cantik namun misterius. Rasa penasaran yang ia tahan sejak di kapal pesiar akhirnya meluap.

​"Lyn, jujur sama gue. Apa hubungan lo yang sebenernya sama Gavin?" tanya Hediva dengan nada yang tidak lagi provokatif, melainkan penuh rasa ingin tahu yang tulus. "Gue liat lo benci dia sampai ke tulang, tapi cara lo meluk dia tadi... itu bukan pelukan partner bisnis. Itu pelukan seseorang yang jiwanya sudah terikat."

​Odelyn menutup laptopnya perlahan. Ia menatap keluar jendela, ke arah gedung-gedung pencakar langit yang mulai menjauh.

​"Dia adalah luka paling dalam yang pernah gue punya, Hediva," jawab Odelyn pelan. "Dia orang yang menghancurkan hidup gue, sekaligus satu-satunya alasan kenapa gue masih mau hidup sampai sekarang. Gue benci mengakui ini, tapi dia adalah rumah yang udah gue bakar sendiri, tapi gue tetep pengen pulang ke sana."

​Hediva tersenyum pahit. "Jadi, nggak ada ruang buat orang baru, ya? Bahkan kalau orang itu menawarkan dunia yang lebih aman dari rumah yang terbakar itu?"

​Odelyn menoleh, menatap Hediva dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dunia lo terlalu luas, Hediva. Gue cuma mau satu sudut kecil di mana gue nggak perlu lagi merasa takut. Dan saat ini, cuma Gavin yang punya kunci sudut itu."

...

Mobil Rolls-Royce itu berhenti tepat di depan lobi apartemen mewah Odelyn. Hediva turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Odelyn dengan gestur yang sangat chivalrous.

​"Lyn, malam ini ada pembukaan pameran seni di National Gallery. Banyak relasi Vandermere yang mau ketemu lo," Hediva menahan pintu mobil, matanya menatap Odelyn penuh harap. "Gue rasa lo butuh udara segar daripada cuma ngeliatin titik merah di layar laptop seharian. Ayo pergi sama gue."

​Odelyn keluar dari mobil, membetulkan letak tasnya tanpa sedikit pun melirik ke arah Hediva.

​"Terima kasih tawarannya, Hediva. Tapi gue lagi nggak dalam mood buat basa-basi sama kolega lo," jawab Odelyn dingin. "Gue punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."

​"Pekerjaan? Atau lo cuma mau nungguin kabar dari dia?" Hediva sedikit meninggikan suaranya, rasa cemburunya mulai tak tertahan.

"Lo itu wanita paling cerdas yang pernah gue temui, Lyn. Jangan biarin diri lo terjebak di masa lalu cuma karena rasa bersalah pria itu!"

​Odelyn berhenti melangkah, berbalik dan menatap Hediva dengan tatapan yang sangat datar.

"Masa lalu gue adalah urusan gue, Hediva. Dan tugas lo adalah jaga gue, bukan ngatur hidup gue. Selamat malam."

​Odelyn berjalan masuk, meninggalkan Hediva yang berdiri mematung di pinggir jalan, meremas kunci mobilnya dengan perasaan campur aduk antara kagum dan sakit hati.Begitu sampai di dalam penthouse, Odelyn bahkan tidak menyalakan lampu ruang tamu. Ia langsung menuju kamarnya, mengunci pintu, dan duduk di meja kerjanya. Satu-satunya cahaya di ruangan itu berasal dari monitor laptopnya.

​Ia memasang headphone berkualitas tinggi. Sunyi. Hanya ada suara statis kecil dari alat penyadap di kancing baju Gavin.

​Odelyn merebahkan kepalanya di atas meja, menutup matanya. Ia mencoba membayangkan suasana di London. Dinginnya udara, aroma aspal yang basah, dan bahaya yang mengintai di setiap sudut.

​"Vin... jangan mati," bisiknya lirih ke arah layar yang masih menunjukkan status Online.

​Tiba-tiba, suara gesekan kain terdengar. Lalu suara napas yang terengah-engah. Odelyn langsung tegak, menaikkan volume suaranya.

​"Cek... satu... Lyn? Lo denger gue?" suara Gavin terdengar sangat pelan, hampir seperti bisikan hantu.

​Odelyn tidak bisa membalas secara langsung karena alat itu hanya satu arah untuk keamanan, tapi ia menempelkan tangannya ke layar, tepat di titik merah yang melambangkan posisi Gavin.

​"Gue udah sampe di hotel deket markas Baron. Udaranya dingin banget di sini, Lyn. Mirip kayak hati lo kalau lagi marah," Gavin tertawa kecil, suara tawa yang getir.

"Gue bakal mulai masuk ke klub malam mereka sejam lagi. Gue bakal pake identitas pengusaha nakal yang lo buatin. Doain gue ya... Gue sayang sama lo. Selalu."

​Suara itu menghilang, digantikan oleh suara bising jalanan London.

Odelyn memeluk dirinya sendiri. Di dalam kamar mewah itu, ia merasa sangat kecil. Ia baru sadar, selama ini dia bukan cuma menghukum Gavin, tapi dia juga menghukum dirinya sendiri dengan rasa sepi yang luar biasa.

Gavin benar-benar membuktikan bahwa dia bukan lagi anak manja yang hanya bisa mengandalkan harta orang tuanya. Dia belajar dari cara odelyn bekerja: tenang, taktis, dan penuh kamuflase.

Di London, Gavin tampil sangat meyakinkan sebagai seorang investor arogan dari Asia Tenggara yang mencari tempat untuk mencuci uang panas. Dengan bantuan identitas palsu yang gue buat, dia berhasil masuk ke Vandermere Exclusive Lounge tanpa memicu alarm kecurigaan sedikit pun.

​Malam itu, jam 2 pagi waktu London (jam 10 pagi waktu Singapura), sebuah notifikasi muncul di ponsel rahasia lo.

​Gavin: "The Eagle has landed. Gue udah di dalam lingkaran mereka. Baron belum muncul, tapi orang kepercayaannya udah mulai 'gigit' umpan gue. It’s a green light, Lyn."

​Odelyn mengembuskan napas lega yang sudah tertahan selama berjam-jam. Ia baru saja hendak membalas saat ponselnya bergetar. Panggilan Video Masuk.

Odelyn segera menyambar ponselnya, memastikan tirai kamarnya tertutup rapat sebelum menekan tombol terima. Wajah Gavin muncul di layar. Dia masih mengenakan jas formal, tapi dasinya sudah ditarik lepas. Wajahnya terlihat sangat lelah, tapi matanya bersinar dengan semangat yang belum pernah Odelyn lihat sebelumnya.

​"Hey," bisik Gavin. Suaranya terdengar sangat dekat, seolah dia berada di samping Odelyn, bukan di seberang benua.

​Odelyn menatap layar itu lama, jarinya tanpa sadar mengusap bayangan wajah Gavin di ponsel. "Lo... lo nggak apa-apa? Ada yang luka?"

​Gavin tertawa kecil, suara tawa yang berusaha menenangkan. "Gue aman, Lyn. Cuma sedikit pusing dengerin musik techno mereka yang berisik. Lo harus liat muka orang-orang di sini, mereka pikir gue mangsa empuk, padahal mereka nggak tahu siapa yang ada di belakang gue."

​"Jangan sombong dulu, Vin. Baron itu licin," potong Odelyn, berusaha mengembalikan nada dinginnya meskipun matanya masih berkaca-kaca.

​"Gue tahu. Tapi gue punya motivasi paling kuat di dunia buat nggak bikin kesalahan,"

Gavin mendekatkan ponselnya ke wajahnya, menatap lurus ke kamera seolah sedang menembus jiwa Odelyn.

"Lyn, dengerin gue. Kita bakal berhasil. Gue bakal dapet semua data itu, gue bakal hancurin mereka, dan gue bakal pulang buat lo. Gue nggak bakal biarin apa pun—termasuk maut—misahin kita lagi."

​Odelyn terdiam, setetes air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

"Gue butuh lo balik, Vin. Gue... gue belum siap kalau harus kehilangan lagi."

​"Gue pasti balik. Tidur ya, Lyn? Ini udah malem di sana. Pas lo bangun besok, gue udah punya berita bagus lagi buat lo. I love you, always."

​Video itu mati. Odelyn memeluk ponselnya di atas dada. Di Singapura yang terang benderang, dia merasa sedikit lebih berani menghadapi hari esok.

Namun, tepat setelah panggilan berakhir, laptop Odelyn yang masih terhubung ke The Hidden Monitor menangkap sesuatu yang janggal. Alat penyadap di kancing baju Gavin menangkap suara langkah kaki mendekat ke pintu kamar hotel Gavin di London.

​Tok... tok... tok...

​Suara seorang wanita terdengar dari balik pintu. "Mr. Gavin? Ini dari layanan kamar. Kami membawakan minuman botol yang tadi Anda pesan."

​Odelyn mengerutkan kening. Gavin tidak memesan minuman apa pun. Dia segera mengetik pesan darurat, tapi belum sempat terkirim, pintu hotel Gavin terdengar terbuka.

​"Oh, sori, gue nggak pesen—" suara Gavin terputus.

​"Tentu saja Anda tidak pesan, Mr. Gavin. Atau harus saya panggil Mr. G-Corp?" suara wanita itu terdengar dingin dan sangat familiar.

​Odelyn membeku di depan monitor. Itu bukan orang suruhan Baron. Itu adalah suara asisten pribadi Hediva yang selama ini bertugas di London.

Odelyn berdiri mematung di depan monitornya. Napasnya memburu. Suara asisten Hediva di speaker laptopnya bagaikan lonceng kematian. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Odelyn menyambar kunci mobil dan senjata setrum listrik yang selalu ia simpan di laci meja.

​Odelyn tidak menelepon. Ia tidak mengirim pesan. Ia langsung memacu mobilnya menuju kediaman pribadi Hediva di kawasan Sentosa Cove. Sepanjang jalan, pikiran Odelyn berkecamuk antara rasa benci karena dikhianati dan ketakutan luar biasa akan keselamatan Gavin.Odelyn sampai di depan gerbang besar rumah Hediva. Tanpa menunggu penjaga membukanya, Odelyn terus menekan klakson hingga Hediva sendiri keluar dengan jubah tidur sutranya, tampak terkejut namun tetap terlihat elegan.

​"Odelyn? Ada apa malam-malam begini—"

​PLAK!

​Satu tamparan keras mendarat di pipi Hediva. Odelyn menatap pria itu dengan mata yang berkilat penuh amarah.

​"Jangan main-main sama saya, Hediva!" desis Odelyn. Suaranya rendah tapi mematikan.

"Saya tahu asisten kamu ada di kamar hotel Gavin di London sekarang. Kamu bilang kamu bakal jagain saya, tapi kamu malah kirim orang buat mata-matai Gavin? Atau kamu mau habisi dia di sana supaya jalan kamu mulus?"

​Hediva memegang pipinya yang memerah, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat pahit.

"Kamu bener-bener nggak bisa lepas dari dia ya, Odelyn? Bahkan setelah semua yang dia lakuin ke kamu?"

​"Itu bukan urusan kamu!" Odelyn menodongkan ponselnya yang masih terhubung ke alat penyadap.

"Suruh asisten kamu mundur sekarang, atau semua kontrak kerja sama kita saya batalkan malam ini juga. Saya nggak peduli kalau saya harus hancur bareng G-Corp, asal kamu nggak dapet apa-apa!

"Hediva menghela napas panjang. Ia menatap Odelyn dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara cemburu dan kekaguman.

​"Odelyn, dengerin saya dulu," ucap Hediva tenang. "Saya kirim asisten saya bukan buat bunuh Gavin. Saya kirim dia karena Baron Vandermere sudah tahu ada orang asing yang masuk ke klubnya. Baron sudah kirim pembunuh bayaran ke hotel itu sepuluh menit yang lalu."

​Odelyn membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak.

​"Asisten saya di sana buat evakuasi Gavin, bukan buat celakain dia," lanjut Hediva sambil mengeluarkan ponselnya sendiri. "Saya tahu saya kalah saing sama masa lalu kamu, tapi saya bukan pengecut yang main bunuh orang buat dapetin hati wanita. Saya cuma mau kamu aman, dan cara paling aman adalah memastikan Gavin menyelesaikan tugasnya tanpa mati di hari pertama."

​Tepat saat itu, suara dari laptop Odelyn yang ia bawa di dalam tas kembali terdengar.

​"Mr. Gavin, jangan banyak tanya! Ikut saya lewat pintu darurat sekarang kalau Anda masih mau lihat Ms. Odelyn lagi! Mereka sudah di lift!" suara asisten Hediva terdengar mendesak.

​Suara tembakan terdengar satu kali, disusul suara pintu yang didobrak paksa. Odelyn jatuh terduduk di depan teras rumah Hediva, lemas.

​"Vin..." gumam Odelyn pelan.

​Hediva berlutut di depan Odelyn, memegang bahunya. "Dia bakal selamat, Odelyn. Asisten saya adalah mantan agen lapangan. Sekarang, kamu harus mutusin: Tetap di sini dan benci saya, atau masuk ke dalam dan kita pantau pergerakan mereka bareng-bareng lewat satelit Vandermere yang jauh lebih akurat dari alat penyadap kamu."

1
Anonymous
Keren banyak banget plot twisnya😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!