NovelToon NovelToon
Apex Of The Red Tower

Apex Of The Red Tower

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Cicilia_.

Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23# Bunga Dari Masalalu

Keheningan di bawah naungan batu raksasa itu terasa sangat menyesakkan. Suara angin yang menderu itu terdengar seperti bisikan kematian yang sedang menunggu waktu. Di dalam tempat perlindungan itu, kondisi Rayden semakin memburuk. Wajahnya yang semula pucat kini berubah menjadi merah padam karena panas yang membakar tubuhnya. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya, dan rintihan absurdnya kini berganti menjadi igauan yang tidak jelas.

Naya terus mengganti kompres di dahi Rayden dengan tangan gemetar. Ia baru saja selesai memeriksa kedalaman luka di pundak Rayden menggunakan peralatan medis seadanya.

"Arlo, demamnya tidak wajar," ucap Naya dengan nada panik yang tertahan. "Infeksinya menyebar terlalu cepat. Jika kita berada di rumah sakit sungguhan, aku akan meminta antibiotik dosis tinggi dan cairan infus. Tapi di sini... obat-obat medis seperti itu tidak ada. Persediaan dari Dokter Luz sudah hampir habis."

Lira yang masih menggenggam tangan Rayden menatap Naya dengan mata yang memerah. "Lalu kita harus bagaimana? Dia terus mengigau tentang ibunya dan... dan tentang sup ayam. Kita tidak bisa membiarkannya mati begitu saja!"

Naya menghela napas panjang, menoleh ke arah Dokter Luz yang sedang memeriksa sisa-sisa botol kecil di tasnya. "Ada satu pilihan. Di dalam catatan lama yang pernah kubaca tentang ekosistem buatan ini, ada satu tanaman hibrida yang dirancang untuk menetralkan racun dari organisme perak. Namanya Floris Aeterna Bunga Abadi. Kelopaknya berwarna biru pucat dan berpendar saat malam, akarnya mengandung zat penetral yang sangat kuat."

Tom mendengus putus asa. "Bunga? Kita berada di lembah batu yang gersang, Naya. Bagaimana mungkin ada bunga yang bisa tumbuh di neraka ini?"

Tiba-tiba, Harry yang sejak tadi terdiam sambil mengasah pisaunya, mengangkat wajahnya. Matanya yang tua tampak menerawang jauh ke masa sembilan tahun yang lalu. "Tunggu... bunga itu... Aku pernah melihatnya. Jauh sebelum kalian jatuh ke sini, saat aku pertama kali terdampar dan mencoba mencari ujung dari wilayah ini. Ada sebuah ceruk kecil yang disebut Lembah Air Mata Merah di sisi barat lembah ini. Di sana ada mata air yang mengandung mineral tinggi. Aku ingat melihat bunga biru di sekitar sana, tapi aku tidak pernah tahu itu adalah obat."

Dokter Luz mengangguk cepat. "Harry benar. Secara biologis, bunga itu hanya tumbuh di dekat sumber mineral murni. Itu adalah satu-satunya harapan kita untuk menurunkan demam Rayden sebelum racunnya menyerang jantung."

Mendengar itu, Zephyr langsung berdiri. Ia mengencangkan ikat pinggang senjatanya dengan ekspresi dingin. "Aku akan pergi mencarinya. Rayden sudah terlalu banyak menderita demi kita."

Rony dari tim Dasha juga ikut berdiri. "Aku ikut. Aku tahu cara melacak jejak di medan berbatu agar kita tidak terjebak oleh predator lainnya."

Harry bangkit dengan susah payah, memanggul tasnya. "Kalian butuh pemandu. Tempat itu tersembunyi di balik labirin batu. Jika kalian pergi sendiri, kalian hanya akan berputar-putar sampai pagi."

Saat ketiga pria itu bersiap untuk berangkat, Dasha melangkah maju. Ia mengambil busur panahnya dan menatap Arlo. "Aku harus ikut. Aku tahu wilayah barat lebih baik dari siapa pun di sini selama sembilan bulan terakhir. Rony butuh tambahan mata untuk mengawasi dunia ini."

Namun, sebelum Dasha bisa melangkah lebih jauh, Arlo memegang bahunya dengan tegas. "Tidak, Dasha. Kau tetap di sini."

"Tapi Arlo, ini tentang nyawa Rayden!" protes Dasha.

"Justru karena itu," suara Arlo merendah namun penuh otoritas. "Wilayah barat adalah sarang utama bagi predator yang lebih besar dari Argentum Arachne. Terlalu berbahaya jika kau ikut. Kami sudah kehilangan Becca, aku tidak mau kehilangan anggota tim lagi. Biarkan Harry, Zephyr, dan Rony yang pergi. Mereka adalah kombinasi pelacak, petarung, dan pemandu yang paling efisien saat ini. Kami butuh kau di sini untuk membantu menjaga perimeter batu ini kalau-kalau monster tadi kembali."

Dasha tampak ingin membantah, namun ia melihat kesungguhan di mata Arlo. Ia akhirnya mengangguk pelan dan menurunkan busurnya. "Baiklah. Tapi pastikan mereka kembali sebelum tengah malam."

Arlo menoleh ke arah Harry, Zephyr, dan Rony. "Cari bunga itu, dan kembali secepat mungkin. Rayden tidak punya banyak waktu."

Zephyr hanya mengangguk singkat, melirik Naya sekilas seolah memberikan janji tanpa kata bahwa ia akan kembali, lalu mereka bertiga melesat keluar dari lindungan batu raksasa, menghilang di balik kabut merah lembah.

POV: ARLO

Setelah keberangkatan ketiga pria itu, suasana di bawah batu raksasa menjadi sangat sunyi. Arlo berjalan tidak jauh, menatap cakrawala di mana Menara Merah berdiri angkuh. Ia merasa sangat tidak berdaya. Sebagai pemimpin, ia harus membuat keputusan sulit, termasuk membiarkan teman-temannya pergi ke wilayah berbahaya sementara ia sendiri harus tetap tinggal untuk menjaga mereka yang terluka.

Arlo pun kembali dan melihat pemandangan yang menyayat hati. Rick sedang duduk di sudut sambil membersihkan darah di tombaknya, wajahnya tampak sangat lelah. Cicilia dan Lily sedang membantu Becca... ah, Arlo tersadar sejenak. Becca sudah tidak ada. Kini Lily yang mencoba meniru apa yang biasa Becca lakukan: mengatur tempat tidur bagi yang terluka.

Arlo mendekati tempat Rayden berbaring. Lira masih di sana, tidak bergeming. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran Arlo.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Arlo pelan.

"Dia baru saja mengigau lagi," jawab Lira dengan suara serak. "Dia bilang dia ingin makan cokelat... lalu dia tertawa sendiri. Itu lebih menakutkan daripada saat dia menjerit, Arlo. Dia terdengar seperti orang yang sudah menyerah."

Arlo berlutut di samping Lira. "Rayden adalah orang yang paling keras kepala yang pernah kukenal. Dia tidak akan menyerah hanya karena tusukan di pundak. Dia terlalu takut untuk mati, Lira. Dan ketakutannya itu yang akan membuatnya tetap hidup."

Tiba-tiba, Rayden bergerak gelisah. "Lira... Lira..." gumamnya dalam demam.

Lira langsung mendekatkan wajahnya. "Ya, Ray? Aku di sini."

"Jangan... jangan biarkan Finn makan... bagian dagingku... dia... dia rakus..." igau Rayden, masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan makanan di tengah maut.

Lira tersenyum getir, air mata jatuh di pipinya. "Dasar bodoh. Bahkan saat sekarat pun kau masih memikirkan perutmu."

Arlo berdiri dan berjalan menuju Dokter Luz yang sedang duduk di dekat Naya. Mereka berdua sedang mempelajari peta digital yang layarnya sudah retak.

"Dokter, jujur padaku," bisik Arlo. "Seberapa besar peluang bunga itu benar-benar ada dan bisa menyelamatkannya?"

Luz menatap Arlo dengan tatapan yang sulit diartikan. "Secara sains, Floris Aeterna adalah keajaiban biokimia. Jika mereka menemukannya dalam waktu empat jam, peluangnya enam puluh persen. Jika lebih dari itu... infeksi racun perak akan mencapai sistem saraf pusatnya. Kita hanya bisa berdoa Harry benar tentang tempat itu."

Naya mendongak, matanya yang sembab menatap Arlo. "Arlo, terima kasih sudah membiarkan Zephyr pergi. Aku tahu kau khawatir, tapi dia... dia adalah orang paling gigih yang kita punya."

Arlo mengangguk, lalu ia berjalan lagi tidak jauh dari yang lainnya. Ia mencengkeram gagang pedangnya. Di luar sana, kegelapan mulai merayap naik. Ia tahu, di suatu tempat di labirin batu itu, Harry, Zephyr, dan Rony sedang bertarung melawan waktu dan mungkin melawan sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari yang bisa mereka bayangkan.

"Kembalilah dengan selamat," bisik Arlo pada angin malam. "Jangan biarkan Rayden menjadi makam kedua di lembah ini."

Malam semakin larut, dan di bawah perlindungan batu besar itu, dua belas jiwa yang tersisa hanya bisa menunggu dalam kecemasan yang mencekam, sementara detak jantung Rayden terdengar semakin lemah di antara hembusan angin dingin.

1
only siskaa
cmngtt KK jngn lupa mmpir di karya aku yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!