Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Cermin yang Retak
Adrian berdiri mematung di atas tanah yang rasanya kayak daging kenyal. Napasnya memburu, uap tipis keluar dari mulutnya meski udara di pulau akar itu rasanya gerah banget.
Di depannya, pohon teh raksasa itu menjulang tinggi, dahan-dahannya nutupin langit sampai cahaya fajar yang tadi ungu sekarang berubah jadi remang-remang hijau lumut.
Tapi bukan pohon itu yang bikin dunia Adrian serasa berhenti berputar. Melainkan peti mati kaca yang ada di puncak sana. "Gak mungkin... itu gak mungkin gua," bisik Adrian. Suaranya gemetar, kedengeran asing di telinganya sendiri.
Dia ngelihat ke tangannya yang masih dipenuhi urat-urat hitam menjalar. Dia bisa ngerasain darah ngalir, dia bisa ngerasain sakit di bahunya yang kena serempet peluru tempo hari, dia bisa ngerasain dinginnya air laut yang masih nyisa di bajunya. Semuanya kerasa nyata. Tapi kalau dia yang di sini nyata, terus siapa yang tidur tenang di dalem kaca itu?
Aris, yang tadi tersungkur, mulai ngerangkak bangun. Akar-akar di badannya makin liar, nyelip keluar dari pori-pori kulitnya kayak cacing lapar. Dia ketawa, suaranya parau kayak kayu yang digesek amplas.
"Lu kaget, Adrian? Lu pikir lu itu 'The Shark' dari Jakarta yang hebat? Lu pikir lu itu anak kandung yang berontak sama bokapnya?" Aris meludah, cairan hijau kental keluar dari mulutnya. "Bokap lu itu ilmuwan, Adrian.
Dia bukan cuma mainan energi, dia mainan eksistensi. Raga yang lu pake sekarang itu... itu cuma wadah. Prototype organik yang didesain buat nampung kesadaran lu supaya lu bisa nahan radiasi energi perak di Malabar."
"Diem lu, Ris!" bentak Adrian. Dia nyoba ngepalin tangan, tapi kekuatan cokelat tanah yang tadi dia rasain mendadak jadi labil. "Peti di atas sana itu adalah 'Adrian' yang asli. Tubuh yang lahir dari rahim nyokap lu. Tapi tubuh itu terlalu lemah, terlalu manusiawi.
Bokap lu nggak mau kehilangan karyanya, makanya dia mindahin lu. Lu itu cuma salinan, Adrian. Salinan yang dikasih memori palsu soal masa kecil lu di Jakarta supaya lu ngerasa punya jiwa!"
Adrian ngerasa dunianya runtuh. Bayangan dia main bola di halaman rumah, rasa masakan nyokapnya, wangi parfum bokapnya sebelum berangkat kerja... apa itu semua cuma data yang di-download ke otaknya? Apa semua emosinya selama ini cuma sekadar kode pemrograman yang dibikin supaya dia kelihatan "hidup"?
"Adrian! Jangan dengerin dia!" Suara itu datang dari bawah. Sekar. Dia masih terlilit akar di kaki pohon raksasa itu, tapi dia belum nyerah. Dia nendang-nendang akar yang mulai ngerambat ke pinggangnya. "Lu ngerasa sakit, kan? Lu ngerasa takut, kan? Kalau lu ngerasa, berarti lu nyata! Jangan biarin omongan dia ngerusak diri lu!"
Adrian noleh ke arah Sekar. Di tengah keputusasaan ini, cuma Sekar yang masih ngelihat dia sebagai "Adrian", bukan sebagai eksperimen laboratorium. Tiba-tiba, Jatmiko yang tadi juga terikat, mulai komat-kamit.
Dia nggak panik kayak kru yang lain. Dia malah merem, tangannya yang keriput itu nyentuh akar yang melilitnya. Anehnya, akar itu pelan-pelan melonggar, seolah-olah tunduk sama sentuhan pria tua itu.
"Tuan Muda Adrian!" teriak Jatmiko. "Jangan liat ke atas! Liat ke dalem diri kamu! Tanah di tangan kamu itu... dia nggak peduli kamu itu salinan atau asli. Tanah cuma peduli sama niat. Kalau kamu ngerasa kamu adalah pelindung Malabar, maka tanah itu bakal jadi milik kamu!"
Adrian narik napas dalem-dalam. Dia nyoba buat nggak peduli sama krisis identitasnya. Mau dia robot, mau dia salinan, mau dia hantu digital, faktanya sekarang Sekar lagi dalam bahaya dan warga desanya dijadiin baterai hidup sama pohon gila ini.
Adrian lari nerjang Aris. Dia nggak pake taktik bisnis, dia cuma pake insting murni. Dia tonjok wajah Aris yang udah separuh berubah jadi kayu. BUGH! Aris terpental, tapi dia nggak ngerasa sakit. Akar-akar di punggungnya langsung nangkap dia supaya nggak jatuh. "Lu mau main kasar? Oke."
Aris ngangkat tangannya, dan tiba-tiba tanah di bawah kaki Adrian meledak. Akar-akar tajam kayak tombak muncul dari dalem tanah, nyoba buat nusuk Adrian. Adrian guling-guling di tanah, ngehindar dengan lincah. Dia ngerasa badannya jauh lebih enteng dari biasanya. Apa ini karena raga gua emang didesain buat bertarung? batinnya.
Dia nyentuh tanah dengan kedua telapak tangannya. "Kalau lu bilang gua ini penguasa tanah ini... buktiin!" Seketika, urat-urat hitam di tangan Adrian berubah warna jadi cokelat keemasan.
Energi hangat yang tadi dia rasain meledak keluar. Bukan lewat kabel, tapi lewat getaran tanah. Adrian bisa ngerasain struktur pulau ini. Pulau ini sebenernya hidup. Ini bukan daratan, ini adalah satu organisme raksasa yang lagi lapar.
Dan Sang Pemangsa yang dibilang Jatmiko tadi... dia bukan di dalem botol. Dia adalah pohon raksasa ini sendiri. Botol tanah itu cuma "obat penenang" yang udah abis masa berlakunya.
"Gua bakal cabut lu sampai ke akar-akarnya!" teriak Adrian.
Dia fokus ke arah kaki Sekar. Dia merintahin tanah buat ngelepasin Sekar. Dan ajaibnya, akar-akar yang melilit Sekar mendadak layu dan rontok jadi abu. Sekar langsung lari nyamperin Adrian, dia ngambil sebuah pisau kecil dari sabuk selamnya yang masih nyangkut.
"Adrian, kita harus naik ke atas. Kita harus ancurin peti itu," ucap Sekar dengan napas tersenggal. "Maksud lu? Gua harus ancurin diri gua yang asli?" Adrian ragu.
"Itu bukan diri lu! Itu adalah jangkar yang bikin pohon ini tetep stabil.
Aris pake tubuh itu sebagai pusat kontrol. Kalau kita ancurin jangkarnya, sistem organik ini bakal runtuh dan warga desa bisa lepas!" Adrian ngelihat ke atas. Jaraknya jauh banget, sekitar lima puluh meter naik lewat batang pohon yang licin dan penuh duri. Di sekitar mereka, Aris udah mulai manggil "pasukan" akar yang bentuknya mirip serigala kelaparan.
"Gua bakal tahan mereka di sini!" Jatmiko tiba-tiba berdiri di depan mereka. Dia megang sebuah tongkat kayu tua yang dia ambil dari reruntuhan palka kapal selam. "Kalian naik! Ini adalah tugas kalian. Biar orang tua ini yang ngurusin hama-hama ini."
"Tapi Pak Jatmiko..." "Pergi, Adrian! Jangan buang waktu!" Jatmiko ngehentakin tongkatnya ke tanah, dan sebuah pagar dari duri-duri tajam muncul melingkar, ngelindungin area bawah pohon.
Adrian dan Sekar mulai manjat. Rasanya kayak manjat tebing tapi tebingnya bisa gerak-gerak. Tiap kali Adrian nancepin tangannya ke kulit pohon, dia denger suara jeritan ribuan nyawa yang energinya lagi disedot. Itu bikin kepalanya sakit, tapi dia terus maksa naik.
"Kar, pegangan yang kenceng!" Adrian ngebantu narik Sekar tiap kali ada dahan yang patah. Pas mereka udah nyampe di ketinggian tiga puluh meter, udara makin tipis dan baunya makin busuk.
Mereka ngelewatin warga desa yang tergantung. Adrian liat Wak Haji. Wajah pria tua itu kelihatan tenang banget, kayak lagi mimpi indah, tapi badannya makin kurus kering.
"Tahan ya, Wak. Sebentar lagi selesai," bisik Adrian. Akhirnya, mereka nyampe di dahan paling atas yang nampung peti mati kaca itu. Peti itu bersinar dengan cahaya perak yang sangat terang. Di dalemnya, sosok "Adrian Asli" itu kelihatan sempurna.
Nggak ada luka, nggak ada noda. Benar-benar kayak karya seni yang diawetkan. Adrian berdiri di depan peti itu. Dia ngelihat wajahnya sendiri yang lagi tidur. Rasanya aneh banget, kayak lagi ngelihat foto masa lalu yang tiba-tiba jadi 3D. "Lakuin, Adrian," kata Sekar. Dia udah siap dengan pisaunya buat nyongkel segel petinya.
Tapi pas Adrian mau mukul kacanya, sebuah proyeksi hologram muncul lagi. Kali ini bukan anak kecil, tapi sosok pria yang sangat berwibawa. Bukan bokapnya, tapi kakek buyutnya—sosok yang tadi dia liat di memori botol tanah.
"Hentikan, Nak. Kalau kau hancurkan peti ini, kau juga akan hancur," ucap sang kakek buyut dengan suara yang berat. Adrian berhenti. "Apa maksudnya?"
"Kesadaranmu dan tubuh ini terhubung lewat benang perak digital yang sangat halus. Jika jangkarnya patah, jiwamu nggak punya tempat buat pulang. Kau bakal menguap jadi data sampah di udara. Kau harus memilih... membiarkan pohon ini tumbuh dan menyelamatkan dirimu, atau menghancurkan semuanya dan hilang selamanya."
Adrian nunduk. Dia ngelihat ke arah tangannya yang mulai transparan. Ternyata Aris bener, dia emang cuma proyeksi yang "diberi daging". "Adrian... apa yang dia bilang?" Sekar nanya, dia nggak bisa denger suara hologram itu karena cuma Adrian yang punya akses jaringan.
"Dia bilang... kalau gua ancurin ini, gua bakal ilang, Kar. Selamanya." Sekar terdiam. Tangannya yang megang pisau gemeteran. Dia ngelihat ke bawah, ke arah warga desa yang sekarat, lalu ngelihat ke arah Adrian yang udah banyak berkorban buat dia.
"Jangan lakuin kalau gitu," bisik Sekar. "Kita cari cara lain. Pasti ada cara lain!" "Nggak ada cara lain, Kar. Waktunya nggak cukup. Liat tuh..." Adrian nunjuk ke bawah. Aris udah berhasil nembus pagar duri Jatmiko dan mulai merayap naik dengan kecepatan tinggi. Aris kelihatan kayak monster laba-laba kayu yang mengerikan.
Adrian senyum tipis. Dia ngambil botol tanah yang sisa-sisanya masih ada di saku jasnya. Dia numpahin sisa tanah itu ke atas kaca peti mati. "Gua emang salinan, Kar. Tapi rasa sayang gua ke Malabar... itu asli. Rasa peduli gua ke lu... itu juga asli. Dan itu sesuatu yang nggak bisa dibuat sama bokap gua di lab mana pun."
Adrian ngangkat tangannya tinggi-tinggi. Dia ngumpulin semua energi cokelat tanah yang dia punya ke dalem tinjunya. Seluruh pulau itu mulai bergetar hebat, kayak ada gempa bumi skala besar.
"ADRIAAAAAN! JANGAN!" Aris teriak dari bawah, dia nyoba buat loncat nyerang Adrian. Tapi telat. PYAAAARRRR! Adrian mukul kaca itu dengan kekuatan penuh. Kaca yang katanya gak bisa hancur itu pecah berkeping-keping. Begitu kacanya pecah, cahaya perak yang menyilaukan meledak keluar, nembus langit sampai ngebentuk pilar cahaya yang bisa kelihatan dari jarak ratusan kilometer.
Adrian ngerasa badannya mendadak ringan banget. Dia bisa ngerasain partikel-partikel tubuhnya mulai buyar ditiup angin. Rasa sakitnya ilang, diganti sama rasa hampa yang tenang. Dia ngelihat Sekar yang teriak manggil namanya, tapi suaranya makin jauh... makin jauh...
Pohon raksasa itu mulai layu seketika. Akar-akarnya menciut, warga desa Malabar yang tadinya tergantung mulai jatuh dengan lembut ke tanah karena ditangkap sama sisa-sisa energi cokelat yang ditinggalin Adrian. Aris teriak histeris pas badannya ikut hancur jadi serbuk kayu karena kehilangan sumber energinya.
Dunia mendadak jadi putih bersih di mata Adrian. Tapi, pas dia pikir semuanya udah berakhir, dia ngerasa ada tangan yang sangat hangat megang tangannya. Sangat kuat, seolah-olah nggak mau ngelepasin dia ke alam baka.
"Belum waktunya, Adrian. Kau sudah membayar hutang ragamu. Sekarang, saatnya menerima hadiah atas jiwamu. "Adrian ngebuka matanya sedikit. Dia nggak di alam putih. Dia lagi melayang di tengah-tengah reruntuhan pulau akar yang mulai tenggelam lagi ke laut. Tapi dia nggak sendirian.
Ada sebuah kapsul kecil yang tadinya tersembunyi di bawah peti mati kaca itu. Kapsul itu kebuka, dan di dalemnya ada sebuah jantung mekanis yang berdetak dengan warna emas terang. Jantung itu tiba-tiba melesat masuk ke dalem dada Adrian yang transparan.
Seketika, tubuh Adrian memadat lagi. Tapi kali ini beda. Nggak ada urat hitam, nggak ada cahaya perak. Kulitnya kerasa kayak kulit manusia biasa, tapi dia punya detak jantung yang suaranya kayak dentuman drum yang sangat kuat.
Dia jatuh ke pelukan Sekar yang nangis sesenggukan. "Adrian? Lu... lu masih di sini?" Sekar megang pipi Adrian, nyoba mastiin kalau ini bukan hantu. Adrian batuk, terus narik napas dalem-dalam. "Gua... gua laper banget, Kar. Kayaknya gua pengen kopi tubruk Wak Haji."
Sekar ketawa sambil nangis, dia meluk Adrian kenceng banget. Mereka berdua duduk di dahan pohon yang udah mati itu, ngelihat matahari yang bener-bener terbit di cakrawala. Pulau akar itu perlahan tenggelam, tapi mereka udah aman karena kapal selam kelompok 'Akar' udah nunggu di bawah.
Tapi, pas mereka lagi nunggu jemputan, Adrian ngelihat sesuatu di permukaan air yang tenang. Sebuah botol kaca kecil botol tanah yang tadi dia pake ngambang di dekat mereka. Tapi botol itu nggak kosong lagi. Di dalemnya, sekarang ada setangkai bunga teh kecil yang warnanya emas murni, dan bunga itu mekar dengan sangat indah.
Adrian ngambil botol itu. Pas dia nyentuh botolnya, dia dapet satu penglihatan terakhir. Bokapnya. Tapi kali ini bukan hologram atau rekaman. Bokapnya lagi duduk di sebuah ruangan yang gelap, dikelilingi banyak monitor. Dia ngelihat ke arah kamera, wajahnya kelihatan sangat tua dan sedih.
"Selamat, Adrian. Kau sudah melewati fase 'Kematian Ego'. Tapi ingat satu hal... bunga emas itu bukan cuma hiasan. Itu adalah benih dari sesuatu yang jauh lebih besar. Aris hanyalah permulaan. Pemilik Malabar yang sebenarnya... baru saja bangun karena ledakan energimu tadi."
Tiba-tiba, dari arah cakrawala, air laut mendadak surut dengan sangat cepat. Sebuah gelombang tsunami raksasa, jauh lebih besar dari yang pernah dibayangkan manusia, mulai nampak di kejauhan, menuju ke arah mereka. Dan di puncak gelombang itu, berdiri ribuan sosok yang badannya bersinar perak murni.
Siapa sebenarnya "Pemilik Malabar" yang dimaksud oleh bokap Adrian? Jika seluruh kejadian gila ini hanyalah permulaan, seberapa besar ancaman yang dibawa oleh ribuan sosok perak di puncak gelombang tsunami tersebut?
Dengan tubuh barunya yang masih asing dan energi pulau yang sudah hancur, bagaimana Adrian dan Sekar akan menghadapi serangan besar-besaran yang tampaknya datang untuk menjemput "Benih Emas" yang baru saja mekar?
semangat update terus tor..