Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
runtuhnya kepercayaan sang naga
Aula perjamuan yang megah itu mendadak berubah menjadi ruang pengadilan yang mencekam. Lin Hua, dengan akting yang begitu sempurna, melangkah maju hingga tepat di hadapan singgasana. Matanya yang basah menatap Jian Feng dengan tatapan penuh keprihatinan palsu.
"Yang Mulia Kaisar yang Agung," suara Lin Hua bergetar, "tidakkah Anda merasa aneh? Bagaimana mungkin seorang penguasa sekuat Anda bisa begitu tergila-gila pada seorang pelayan rendahan dalam waktu sesingkat itu? Tidakkah Anda sadar bahwa setiap kali aroma jasmine itu menguar, akal sehat Anda seolah menghilang? Itu bukan cinta, Yang Mulia. Itu adalah jerat sihir hitam yang ia tanam di setiap helai rambut dan kulitnya agar ia bisa berdiri di samping Anda dan menguasai negeri ini dari balik bayangan!"
Jian Feng terdiam. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang tak kenal takut itu merasa goyah. Di dalam pikirannya, memori tentang pertemuan pertama mereka di pinggir sungai kembali berputar. Ia ingat betapa kuatnya tarikan aroma jasmine itu, betapa ia merasa terobsesi sejak pandangan pertama hingga ia sanggup menghancurkan sebuah hutan hanya untuk menemukannya. Benarkah itu semua hanya karena sihir? Keraguan mulai merayap di hatinya seperti racun yang lambat namun mematikan.
Ibu Suri Aurora melihat keraguan di mata putranya dan segera mengambil kendali. "Cukup! Buktinya sudah jelas. Pengawal! Tangkap penyihir ini sekarang juga! Kita tidak bisa membiarkan seorang tukang sihir hitam menodai darah suci kekaisaran lebih lama lagi!"
Di antara kerumunan tamu, Pangeran Alaric dari Negeri Barat yang hadir dengan identitas diplomatik, menatap pemandangan itu dengan napas tertahan. Ia mengenali wajah itu—wanita yang ia tolong di pasar. Hatinya teriris melihat Mei Lin gemetar ketakutan, namun ia tidak bisa bergerak. Jika ia melangkah maju sekarang, ia tidak hanya akan membongkar identitasnya sendiri, tetapi juga akan membenarkan fitnah bahwa Mei Lin memiliki hubungan dengan pria asing. “Benarkah kecantikan surgawi itu berasal dari kegelapan?” batin Alaric penuh tanya.
Mei Lin menggelengkan kepalanya dengan kuat, air mata mengalir deras membasahi pipinya. "Tidak... itu tidak benar! Hamba tidak pernah menyentuh sihir apa pun! Yang Mulia, lihatlah hamba... hamba tidak bersalah!" jeritnya pilu, matanya mencari perlindungan di mata Jian Feng.
Namun, Jian Feng hanya terdiam, tatapannya kosong dan dingin. Kekecewaan karena merasa "dikendalikan" oleh sihir membuatnya membeku.
Ibu Suri Aurora mendengus kasar. Ia memberi isyarat kepada Yue Ying, pelayan pribadinya yang kejam. "Beri dia pelajaran agar mulut kotornya berhenti berbohong di hadapan leluhur!"
Yue Ying melangkah maju dan dengan seluruh kekuatannya, ia mengayunkan tangan. PLAK! PLAK! Dua tamparan keras mendarat di pipi Mei Lin hingga kepalanya tersentak ke samping. Darah segar merembes dari sudut bibirnya yang pecah, dan memar keunguan segera muncul di kulitnya yang pucat. Mei Lin tersungkur ke lantai, merintih kesakitan di bawah tatapan rendah ribuan bangsawan.
Melihat darah itu, kesadaran Jian Feng seolah tersentak kembali. Naluri pelindungnya bangkit, dan ia baru saja akan berdiri dari singgasananya untuk menerjang Yue Ying, namun Ibu Suri Aurora mencengkeram lengannya dengan sangat kuat.
"Jika kau bergerak selangkah saja untuk membelanya, Jian Feng," bisik Ibu Suri dengan nada mengancam yang hanya bisa didengar mereka berdua, "aku akan memerintahkan seluruh pasukan untuk mengeksekusi keluarganya di rumah baru mereka detik ini juga. Pilihannya ada padamu: wanita penyihir ini, atau takhtamu dan nyawa orang-orang di desa itu."
Jian Feng mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Ia terpaksa duduk kembali, membiarkan kemarahan membakar dadanya dari dalam. Ia harus bermain dengan waktu.
"Bawa dia ke penjara bawah tanah terdalam!" perintah Ibu Suri dengan lantang. "Biarkan dia membusuk di sana sampai sihirnya luntur oleh kegelapan!"
Mei Lin diseret dengan kasar oleh para pengawal, kakinya terseret di atas lantai marmer yang dingin. Ia menoleh sekali lagi ke arah Jian Feng, berharap pria itu akan melakukan sesuatu, namun yang ia lihat hanyalah sang Kaisar yang memalingkan wajahnya. Lin Hua tersenyum puas di balik bahu Jenderal Gao, merasa kemenangan sudah berada di depan mata.
Malam itu, "Harta Karun Langit" dilemparkan ke dalam sel yang gelap dan lembap, di mana suara tetesan air terdengar seperti hitungan mundur menuju ajalnya. Mei Lin meringkuk di sudut sel yang dingin, memegangi pipinya yang lebam, menyadari bahwa di istana ini, cinta yang paling besar pun bisa hancur oleh satu kata fitnah yang diucapkan oleh orang terdekatnya.
Bersambung