Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Hujan baru saja reda ketika malam merambat perlahan ke langit mess karyawan. Udara dingin membawa aroma tanah basah yang menusuk lembut ke hidung. Lampu neon di ruang tamu kecil menyala redup, membuat bayangan benda-benda tampak memanjang dan sunyi.
Kayla duduk di tepi ranjang Nayla, menyelipkan selimut dengan hati-hati agar adiknya tidak kedinginan. Jari-jarinya masih gemetar, bukan karena lelah, tetapi karena kalimat yang belum lama ini terpatri di kepalanya.
“Aku cemburu, Kayla. Aku tidak suka membayangkan kamu bersama pria lain, berbicara dengan Kak Dalfa.”
“Aku tidak ingin kehilanganmu, bahkan kepada kakakku sendiri.”
“Kalau kamu pergi terlalu jauh, aku takut tidak bisa menjangkau kamu lagi.”
Itu bukan kalimat cinta yang gamblang.
Bukan “aku mencintaimu.”
Bukan “aku menyukaimu.”
Namun, cara Ashabi mengatakannya dengan suara rendahnya, tatapan matanya yang tertahan, napasnya yang sedikit tertunda, membuat dada Kayla bergetar hebat.
Kayla tidak bodoh. Ia tahu arti di balik kata-kata itu. Ashabi memiliki perasaan padanya. Kesadaran itu membuat napas Kayla tercekat.
Pelan-pelan, Kayla bangkit dari sisi Nayla. Ia berjalan menuju dapur kecil, menuangkan segelas air, tetapi tangannya gemetar hingga air hampir tumpah.
Gelas itu ia pegang dengan dua tangan, menempel di dadanya seolah ingin menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan.
“Aku tidak pantas untuknya,” bisik Kayla lirih kepada dirinya sendiri.
Wajah Ashabi terbayang di pelupuk matanya, senyum tipisnya, caranya menunduk sopan, cara dia selalu berhati-hati saat berbicara dengannya, seolah Kayla adalah sesuatu yang rapuh dan berharga.
Namun, di saat yang sama, bayangan lain muncul.
Zahira berdiri anggun di ruang tamu rumah Pak Ramlan. Tatapannya tajam, senyumnya tipis penuh sindiran.
“Kamu pikir kamu pantas untuk Abi?”
“Kamu dan Abi berbeda dunia. Dia pria terhormat dari keluarga terpandang. Sedangkan kamu? Wanita miskin yang beruntung bisa jadi pembantu di rumah ini.”
Kalimat itu terngiang kembali, lebih tajam dari pisau. Kayla menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil di dinding dapur. Wajahnya pucat, mata ambernya tampak lebih gelap di bawah cahaya redup. Kayla menarik napas panjang, tetapi dadanya terasa sesak.
“Aku bukan siapa-siapa,” batin Kayla berteriak.
“Aku mantan pelacur. Aku perempuan yang pernah dibayar untuk disentuh, dicium, dimiliki.”
Tangan Kayla perlahan mengepal di sisi tubuhnya. Kenangan yang ingin ia kubur kembali menyeruak. Bau alkohol, tangan kasar, tubuh yang dipaksa, rasa sakit yang membakar, dan tatapan pria-pria yang memandangnya bukan sebagai manusia, tetapi sebagai barang. Air mata mulai menggenang di matanya.
Di kepala Kayla kembali mengingat di rumah bordir dahulu. Lampu temaram, musik pelan, parfum menyengat bercampur bau rokok. Suara tawa palsu, desahan dibuat-buat, dan tatapan lapar para pria.
Kayla berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun pendek yang membuatnya ingin muntah. Tubuhnya terasa telanjang meski terbalut kain.
“Kamu sangat cantik, Queen,” kata salah satu pelanggan malam itu.
Kayla ingat bagaimana ia tersenyum kaku, padahal di dalam hatinya ia ingin berteriak. Tidak pernah sekalipun ia menikmati apa yang terjadi di ranjang itu. Yang ada hanya rasa jijik pada mereka, pada keadaan, dan paling menyakitkan pada dirinya sendiri.
Setiap malam setelah bekerja, ia akan mandi berulang kali, menggosok kulitnya sampai perih, seolah ingin menghapus semua sentuhan yang menempel. Namun, rasa kotor itu tidak pernah hilang.
Kayla tersentak ketika ponselnya bergetar di atas meja membuyarkan lamunannya. Nama Ashabi yang tertera di layar membuat dadanya kembali berdegup kencang.
Kayla memandangi ponsel itu lama. Dia ragu dan takut untuk menerima panggilan itu.
Akhirnya, dengan tangan gemetar, ia menggeser tombol hijau.
“Assalammualaikum, Mas Abi?” Suara Kayla pelan.
Di seberang sana, Ashabi terdiam beberapa detik. “Waalaikumsalam. Kayla, apa kamu sudah tidur?” tanyanya lembut.
Kayla menatap jam dinding. Hampir pukul sepuluh malam. “Belum,” jawabnya singkat.
Hening sejenak. Kayla bisa mendengar tarikan napas Ashabi.
“Aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja,” katanya akhirnya. “Bagaiaman keadaan Nayla sekarang?”
Dada Kayla mencelos. Kebaikan dan perhatian dari Ashabi.
“Alhamdulillah, Nayla sudah jauh lebih baik,” jawab Kayla, berusaha terdengar tenang. “Pengobatannya berjalan lancar.”
Ashabi mengangguk meski Kayla tidak bisa melihatnya.
“Aku minta maaf. Tadi, aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman,” lanjutnya pelan.
Kayla menutup mata. “Aku tahu,” katanya lirih.
“Aku hanya ingin jujur,” tambah Ashabi. “Bukan untuk membebanimu. Bukan untuk menekanmu.”
Air mata Kayla menetes tanpa bisa ia tahan. “Mas Abi ....” Suaranya bergetar. “Kamu orang baik. Terlalu baik untuk perempuan seperti aku.”
Ashabi terdiam. Nada suara Kayla membuat jantungnya sakit. “Perempuan seperti apa?” tanyanya pelan.
Kayla menggigit bibir, menahan tangis. “Perempuan yang punya masa lalu kelam seperti aku,” jawabnya dengan suara hampir tak terdengar.
Di ujung sana, Ashabi mengepalkan tangannya.
“Kayla, dengarkan aku—”
Kayla memotongnya. “Aku tahu banyak orang memandang rendah perempuan seperti aku,” lanjutnya, suaranya pecah. “Mereka jijik. Mereka menganggap kami kotor, tidak bermoral, tidak pantas hidup normal.”
Air matanya mengalir deras. “Padahal, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bagaimana rasanya dipaksa, terdesak, dan tidak punya pilihan.”
Ashabi terdiam, napasnya tertahan.
Kayla terisak pelan. “Aku tidak pernah menikmati satu pun dari semua itu,” katanya lirih. “Setiap malam aku juga merasa ingin muntah. Aku juga merasa jijik pada diriku sendiri.”
Keheningan menggantung di antara mereka, hanya disela suara napas tertahan dan isak tangis Kayla.
Ashabi menutup matanya rapat-rapat. “Kayla ....” Suaranya rendah, hampir bergetar. “Masa lalumu tidak membuatmu lebih rendah dari siapa pun.”
Kayla menggeleng meski Ashabi tidak melihatnya.
“Tapi dunia tidak melihat seperti itu,” jawabnya getir. “Dan aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku tidak takut.”
tp apa iya ya
tahan dlu dong
aduh gimna ini
dan ahh masih bikin bgg