NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 - Batas yang Tidak Bisa Ditawar

Tubuh Nadira tidak lagi memberi peringatan. Dia hanya... berhenti. Bukan pingsan. Bukan dramatis. Sekadar gagal menjalankan perintah. Dia duduk di tepi ranjang klinik, mencoba berdiri. Kakinya menyentuh lantai. Lututnya goyah.

"Aku bisa." Katanya cepat, seperti mengucapkan mantra.

Langkah pertama membuat pandangannya menggelap. Langkah kedua tidak pernah selesai. Arvin sudah di sana, menahannya sebelum jatuh.

"Lepasin." Bentak Nadira.

"Kamu mau jatuh?" Suara Arvin rendah, tegang.

"Lebih baik jatuh daripada..." Napasnya terputus. Dadanya sesak. "...daripada dikurung begini."

Arvin tidak menjawab. Dia menurunkan Nadira kembali ke ranjang. Nadira meronta, tapi tubuhnya kalah.

"Ini bukan penjara." Lata Arvin.

"Bohong." Balas Nadira. "Kamu mengambil semua pilihanku."

Arvin menatapnya lama. "Tidak." Katanya akhirnya. "Aku mengambil satu yang membuatmu tetap hidup."

Nadira tertawa pendek. Suara itu patah. "Hidup yang bagaimana?" Tanyanya. "Hidup tanpa kendali? Tanpa suara?"

"Kamu masih punya suara." Jawab Arvin. "Tapi tubuhmu tidak sanggup lagi jadi alatnya."

Kalimat itu menusuk tepat di titik paling sensitif... identitas Nadira dibangun di atas ketahanan.

Dia menoleh ke dinding. "Aku tidak pernah berhenti." Bisiknya. "Aku tidak boleh berhenti."

Arvin duduk di kursi, sejajar dengannya. "Siapa yang bilang?"

Nadira menutup mata. "Semua orang." Katanya lirih. "Dan aku."

Malam turun tanpa seremoni. Nadira terbangun oleh keringat dingin. Tangan gemetar. Jantungnya berdegup terlalu cepat. Dia mencoba bernapas. Gagal. Udara terasa sempit.

"Arvin." Panggilnya, nyaris tak bersuara.

Arvin sudah bangun sebelum namanya selesai. "Tarik napas." Katanya. "Ikuti aku."

Nadira mencoba. Napasnya tersendat. "Aku... aku tidak bisa." Katanya panik.

"Kamu bisa." Arvin mendekat. "Satu detik saja. Jangan mikir. Tubuhmu tahu caranya."

"Aku tidak percaya tubuhku." Bentak Nadira. "Dia mengkhianatiku."

Arvin memegang tangannya. Hangat. Tegas. "Tidak." Katanya. "Tubuhmu berhenti karena kamu tidak mau mendengarnya."

Air mata Nadira mengalir tanpa izin. "Aku tidak punya waktu untuk mendengar," Katanya. "Kalau aku berhenti, mereka menang."

"Siapa mereka?" Tanya Arvin.

Nadira terdiam. Media... Lawan... Masa lalu... Dan bayangan dirinya sendiri yang pernah mati sendirian.

"Aku." Jawabnya akhirnya. "Aku yang lama."

Arvin mengangguk pelan.

"Dan kamu masih bertarung dengannya." Katanya. "Sampai tubuhmu habis."

Nadira memejamkan mata, terisak. "Aku capek." Bisiknya.

Kata itu terasa asing di lidahnya. Seperti pengakuan dosa.

***

Raka berdiri di depan gedung klinik, tapi tidak masuk. Dia menatap pintu otomatis itu lama. Langkah ke dalam berarti banyak hal. Kembali ke peran lama. Kembali menjadi penyangga. Dia menurunkan tas dari bahu, menghela napas.

Ponselnya bergetar, Sinta mengirim pesan.

[Kamu di mana?]

[Di luar. Aku tidak masuk.]

[Kenapa?]

Raka menatap lantai.

[Karena aku tidak mau jadi alasan dia bertahan lebih lama dari yang bisa dia tanggung.]

Sinta tidak langsung membalas.

Raka duduk di bangku taman kecil di depan klinik. Dia membuka botol air, minum perlahan. Tangannya masih gemetar tapi sekarang dia membiarkannya. Ini juga pemulihan, pikirnya. Menahan diri saat naluri lama yang berteriak.

Ponselnya berbunyi lagi, Sinta kembali mengirim pesan.

[Dia aman. Arvin pegang kendali.]

Raka mengangguk sendiri.

[Bagus.]

Dia bangkit dan pergi. Tidak heroik. Tidak terlihat. Tapi kali ini, dia pulang dengan rasa lega pada dirinya sendiri.

***

Ruang konferensi itu terang. Terlalu terang. Kamera berjajar. Mikrofon menyala. Aluna duduk di tengah, punggung tegak. Dia mengenakan pakaian sederhana. Tidak ada riasan berlebihan. Tangannya diletakkan di atas meja. Gemetar.

Moderator memberi isyarat. "Kita mulai."

Aluna menatap kamera. Detik itu terasa seperti berdiri di tepi jurang.

"Aku akan bicara tanpa pembelaan." Katanya. Suaranya serak tapi jelas. "Tanpa menyebutkan siapa pun sebagai alasan."

Ruangan hening.

"Aku memilih diam saat seharusnya bicara. Aku menggunakan posisiku untuk menutup kebenaran."

Dia menelan ludah.

"Ada orang yang terluka karena itu. Dan lukanya bukan kesalahpahaman."

Seseorang berdeham. Kilatan kamera.

"Aku tidak meminta pengampunan." Lanjut Aluna. "Aku tahu ini tidak menghapus apa pun."

Seorang jurnalis mengangkat tangan. "Apakah ini berarti Anda mengakui..."

"Aku mengakui perbuatanku." Potong Aluna. "Bukan framing. Bukan tekanan. Keputusan."

Dadanya terasa sesak, kepalanya ringan. Dia melanjutkan, meski suaranya bergetar.

"Aku akan menghadapi konsekuensi hukum dan sosialnya."

Di barisan belakang, Maya duduk diam. Wajahnya tidak berubah. Aluna melihatnya. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak mencari persetujuan. Dia hanya menerima kebencian itu sebagai bagian dari hutang.

***

"Ini rencana medisnya." Kata dokter, menyerahkan berkas ke Arvin.

"Rawat jalan?" Tanya Arvin.

"Tidak." Jawab dokter. "Rawat intensif. Psikiatri dan fisik."

Arvin mengangguk. "Kami setuju." Katanya.

Dokter menatapnya. "Pasien?"

Arvin menarik napas. "Pasien akan menolak." Katanya jujur.

"Dan Anda?"

"Akan tetap lanjut."

Dokter menepuk berkas itu. "Pastikan dia tidak merasa dikurung."

Arvin tersenyum pahit. "Dia akan tetap merasa dikurung." Katanya. "Tapi saya akan ada."

Saat Arvin kembali ke kamar, Nadira menatapnya tajam. "Kamu tanda tangan apa?" Tanyanya.

"Rencana perawatan."

"Kamu tidak punya hak."

"Aku punya tanggung jawab."

"Sebagai siapa?" Suara Nadira meninggi. "Dokter? Wali? Tuhan?"

"Sebagai seseorang yang tidak mau melihatmu mati lagi."

Kata lagi menggantung di udara. Nadira membeku. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang kematianku." Katanya dingin.

"Aku tahu cukup." Balas Arvin. "Dan aku tidak akan membiarkannya terulang."

Nadira tertawa getir. "Kamu menyelamatkanku dengan merampas diriku."

Arvin mendekat. "Aku menyelamatkanmu dari keyakinan bahwa kamu hanya berharga kalau hancur." Katanya pelan.

Air mata Nadira jatuh lagi, kali ini penuh amarah. "Aku benci kamu." Katanya.

"Aku tahu." Jawab Arvin. "Aku tetap di sini."

Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Nadira kehilangan berat badan. Rambutnya rontok lebih banyak dari biasanya. Tangannya sering gemetar. Dia tidak diizinkan membuka ponsel tanpa pendamping.

"Ini penyiksaan." Katanya.

"Ini stabilisasi." Jawab perawat.

Nadira memejamkan mata, menahan muntah. Di kamar mandi, ia menatap pantulan wajahnya. Pucat dengan mata cekung. Bukan sosok yang ia kenal.

"Aku tidak kenal kamu." Bisiknya pada bayangan itu.

Bayangan itu tidak menjawab, hanya terlihat jujur.

***

Raka duduk di ruang wawancara kecil.

"Kenapa kamu keluar dari posisi sebelumnya?" Tanya pewawancara.

Raka tidak menjawab cepat. "Aku terlalu lama hidup dari menyelamatkan orang lain." Katanya akhirnya. "Dan melupakan diriku sendiri."

Pewawancara mengangguk. "Dan sekarang?"

"Aku ingin bekerja tanpa menjadikan diriku alat penebusan."

Kejujuran itu membuat ruangan sunyi.

"Baik." Kata pewawancara. "Kami akan hubungi kamu lagi nanti bagaimana hasilnya.

Saat keluar, Raka menarik napas panjang.

Dia tidak tahu hasilnya. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak menjadikan Nadira sebagai alasan.

***

Setelah konferensi, Aluna muntah di kamar mandi. Tangannya gemetar. Kakinya hampir tidak kuat berdiri. Dia menatap dirinya di cermin.

"Ini baru mulai." Katanya lirih.

Ponselnya bergetar. Pesan dari pengacara.

[Kita akan hadapi ini satu per satu.]

Aluna mengangguk pada pantulan dirinya sendiri.

"Tidak ada lagi jalan pintas." Katanya.

Dan untuk pertama kalinya, dia tidak merasa ingin lari.

***

Di titik ini...

Nadira dipaksa mengakui bahwa tubuhnya bukan alat perang, melainkan batas yang harus dihormati.

Raka belajar bahwa menolong juga berarti tahu kapan berhenti.

Aluna memilih bicara dan runtuh di depan publik, tanpa jaring pengaman.

Arvin melangkah ke wilayah intervensi, sadar bahwa cinta tanpa batas bisa berubah menjadi kontrol namun tetap memilih bertahan.

Tidak ada yang lega, tidak ada yang selesai. Yang ada hanya kejujuran yang menyakitkan dan harga yang harus dibayar karenanya.

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!