Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - Batas yang Tidak Bisa Ditawar
Tubuh Nadira tidak lagi memberi peringatan. Dia hanya... berhenti. Bukan pingsan. Bukan dramatis. Sekadar gagal menjalankan perintah. Dia duduk di tepi ranjang klinik, mencoba berdiri. Kakinya menyentuh lantai. Lututnya goyah.
"Aku bisa." Katanya cepat, seperti mengucapkan mantra.
Langkah pertama membuat pandangannya menggelap. Langkah kedua tidak pernah selesai. Arvin sudah di sana, menahannya sebelum jatuh.
"Lepasin." Bentak Nadira.
"Kamu mau jatuh?" Suara Arvin rendah, tegang.
"Lebih baik jatuh daripada..." Napasnya terputus. Dadanya sesak. "...daripada dikurung begini."
Arvin tidak menjawab. Dia menurunkan Nadira kembali ke ranjang. Nadira meronta, tapi tubuhnya kalah.
"Ini bukan penjara." Lata Arvin.
"Bohong." Balas Nadira. "Kamu mengambil semua pilihanku."
Arvin menatapnya lama. "Tidak." Katanya akhirnya. "Aku mengambil satu yang membuatmu tetap hidup."
Nadira tertawa pendek. Suara itu patah. "Hidup yang bagaimana?" Tanyanya. "Hidup tanpa kendali? Tanpa suara?"
"Kamu masih punya suara." Jawab Arvin. "Tapi tubuhmu tidak sanggup lagi jadi alatnya."
Kalimat itu menusuk tepat di titik paling sensitif... identitas Nadira dibangun di atas ketahanan.
Dia menoleh ke dinding. "Aku tidak pernah berhenti." Bisiknya. "Aku tidak boleh berhenti."
Arvin duduk di kursi, sejajar dengannya. "Siapa yang bilang?"
Nadira menutup mata. "Semua orang." Katanya lirih. "Dan aku."
Malam turun tanpa seremoni. Nadira terbangun oleh keringat dingin. Tangan gemetar. Jantungnya berdegup terlalu cepat. Dia mencoba bernapas. Gagal. Udara terasa sempit.
"Arvin." Panggilnya, nyaris tak bersuara.
Arvin sudah bangun sebelum namanya selesai. "Tarik napas." Katanya. "Ikuti aku."
Nadira mencoba. Napasnya tersendat. "Aku... aku tidak bisa." Katanya panik.
"Kamu bisa." Arvin mendekat. "Satu detik saja. Jangan mikir. Tubuhmu tahu caranya."
"Aku tidak percaya tubuhku." Bentak Nadira. "Dia mengkhianatiku."
Arvin memegang tangannya. Hangat. Tegas. "Tidak." Katanya. "Tubuhmu berhenti karena kamu tidak mau mendengarnya."
Air mata Nadira mengalir tanpa izin. "Aku tidak punya waktu untuk mendengar," Katanya. "Kalau aku berhenti, mereka menang."
"Siapa mereka?" Tanya Arvin.
Nadira terdiam. Media... Lawan... Masa lalu... Dan bayangan dirinya sendiri yang pernah mati sendirian.
"Aku." Jawabnya akhirnya. "Aku yang lama."
Arvin mengangguk pelan.
"Dan kamu masih bertarung dengannya." Katanya. "Sampai tubuhmu habis."
Nadira memejamkan mata, terisak. "Aku capek." Bisiknya.
Kata itu terasa asing di lidahnya. Seperti pengakuan dosa.
***
Raka berdiri di depan gedung klinik, tapi tidak masuk. Dia menatap pintu otomatis itu lama. Langkah ke dalam berarti banyak hal. Kembali ke peran lama. Kembali menjadi penyangga. Dia menurunkan tas dari bahu, menghela napas.
Ponselnya bergetar, Sinta mengirim pesan.
[Kamu di mana?]
[Di luar. Aku tidak masuk.]
[Kenapa?]
Raka menatap lantai.
[Karena aku tidak mau jadi alasan dia bertahan lebih lama dari yang bisa dia tanggung.]
Sinta tidak langsung membalas.
Raka duduk di bangku taman kecil di depan klinik. Dia membuka botol air, minum perlahan. Tangannya masih gemetar tapi sekarang dia membiarkannya. Ini juga pemulihan, pikirnya. Menahan diri saat naluri lama yang berteriak.
Ponselnya berbunyi lagi, Sinta kembali mengirim pesan.
[Dia aman. Arvin pegang kendali.]
Raka mengangguk sendiri.
[Bagus.]
Dia bangkit dan pergi. Tidak heroik. Tidak terlihat. Tapi kali ini, dia pulang dengan rasa lega pada dirinya sendiri.
***
Ruang konferensi itu terang. Terlalu terang. Kamera berjajar. Mikrofon menyala. Aluna duduk di tengah, punggung tegak. Dia mengenakan pakaian sederhana. Tidak ada riasan berlebihan. Tangannya diletakkan di atas meja. Gemetar.
Moderator memberi isyarat. "Kita mulai."
Aluna menatap kamera. Detik itu terasa seperti berdiri di tepi jurang.
"Aku akan bicara tanpa pembelaan." Katanya. Suaranya serak tapi jelas. "Tanpa menyebutkan siapa pun sebagai alasan."
Ruangan hening.
"Aku memilih diam saat seharusnya bicara. Aku menggunakan posisiku untuk menutup kebenaran."
Dia menelan ludah.
"Ada orang yang terluka karena itu. Dan lukanya bukan kesalahpahaman."
Seseorang berdeham. Kilatan kamera.
"Aku tidak meminta pengampunan." Lanjut Aluna. "Aku tahu ini tidak menghapus apa pun."
Seorang jurnalis mengangkat tangan. "Apakah ini berarti Anda mengakui..."
"Aku mengakui perbuatanku." Potong Aluna. "Bukan framing. Bukan tekanan. Keputusan."
Dadanya terasa sesak, kepalanya ringan. Dia melanjutkan, meski suaranya bergetar.
"Aku akan menghadapi konsekuensi hukum dan sosialnya."
Di barisan belakang, Maya duduk diam. Wajahnya tidak berubah. Aluna melihatnya. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak mencari persetujuan. Dia hanya menerima kebencian itu sebagai bagian dari hutang.
***
"Ini rencana medisnya." Kata dokter, menyerahkan berkas ke Arvin.
"Rawat jalan?" Tanya Arvin.
"Tidak." Jawab dokter. "Rawat intensif. Psikiatri dan fisik."
Arvin mengangguk. "Kami setuju." Katanya.
Dokter menatapnya. "Pasien?"
Arvin menarik napas. "Pasien akan menolak." Katanya jujur.
"Dan Anda?"
"Akan tetap lanjut."
Dokter menepuk berkas itu. "Pastikan dia tidak merasa dikurung."
Arvin tersenyum pahit. "Dia akan tetap merasa dikurung." Katanya. "Tapi saya akan ada."
Saat Arvin kembali ke kamar, Nadira menatapnya tajam. "Kamu tanda tangan apa?" Tanyanya.
"Rencana perawatan."
"Kamu tidak punya hak."
"Aku punya tanggung jawab."
"Sebagai siapa?" Suara Nadira meninggi. "Dokter? Wali? Tuhan?"
"Sebagai seseorang yang tidak mau melihatmu mati lagi."
Kata lagi menggantung di udara. Nadira membeku. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang kematianku." Katanya dingin.
"Aku tahu cukup." Balas Arvin. "Dan aku tidak akan membiarkannya terulang."
Nadira tertawa getir. "Kamu menyelamatkanku dengan merampas diriku."
Arvin mendekat. "Aku menyelamatkanmu dari keyakinan bahwa kamu hanya berharga kalau hancur." Katanya pelan.
Air mata Nadira jatuh lagi, kali ini penuh amarah. "Aku benci kamu." Katanya.
"Aku tahu." Jawab Arvin. "Aku tetap di sini."
Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Nadira kehilangan berat badan. Rambutnya rontok lebih banyak dari biasanya. Tangannya sering gemetar. Dia tidak diizinkan membuka ponsel tanpa pendamping.
"Ini penyiksaan." Katanya.
"Ini stabilisasi." Jawab perawat.
Nadira memejamkan mata, menahan muntah. Di kamar mandi, ia menatap pantulan wajahnya. Pucat dengan mata cekung. Bukan sosok yang ia kenal.
"Aku tidak kenal kamu." Bisiknya pada bayangan itu.
Bayangan itu tidak menjawab, hanya terlihat jujur.
***
Raka duduk di ruang wawancara kecil.
"Kenapa kamu keluar dari posisi sebelumnya?" Tanya pewawancara.
Raka tidak menjawab cepat. "Aku terlalu lama hidup dari menyelamatkan orang lain." Katanya akhirnya. "Dan melupakan diriku sendiri."
Pewawancara mengangguk. "Dan sekarang?"
"Aku ingin bekerja tanpa menjadikan diriku alat penebusan."
Kejujuran itu membuat ruangan sunyi.
"Baik." Kata pewawancara. "Kami akan hubungi kamu lagi nanti bagaimana hasilnya.
Saat keluar, Raka menarik napas panjang.
Dia tidak tahu hasilnya. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak menjadikan Nadira sebagai alasan.
***
Setelah konferensi, Aluna muntah di kamar mandi. Tangannya gemetar. Kakinya hampir tidak kuat berdiri. Dia menatap dirinya di cermin.
"Ini baru mulai." Katanya lirih.
Ponselnya bergetar. Pesan dari pengacara.
[Kita akan hadapi ini satu per satu.]
Aluna mengangguk pada pantulan dirinya sendiri.
"Tidak ada lagi jalan pintas." Katanya.
Dan untuk pertama kalinya, dia tidak merasa ingin lari.
***
Di titik ini...
Nadira dipaksa mengakui bahwa tubuhnya bukan alat perang, melainkan batas yang harus dihormati.
Raka belajar bahwa menolong juga berarti tahu kapan berhenti.
Aluna memilih bicara dan runtuh di depan publik, tanpa jaring pengaman.
Arvin melangkah ke wilayah intervensi, sadar bahwa cinta tanpa batas bisa berubah menjadi kontrol namun tetap memilih bertahan.
Tidak ada yang lega, tidak ada yang selesai. Yang ada hanya kejujuran yang menyakitkan dan harga yang harus dibayar karenanya.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍