NovelToon NovelToon
Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Aku menatap wajah Kaelen yang mengeras. Rahangnya yang tegas tampak kaku, dan tatapannya begitu mengintimidasi hingga suasana laboratorium terasa seperti ruang pengadilan. Senior itu benar-benar ketakutan; tangannya yang memegang tas kuliah bergetar hebat.

"Kael, tunggu," bisikku sambil meraih lengan kemejanya, menariknya sedikit agar ia menoleh padaku.

Kaelen menatapku, matanya masih memancarkan kilatan emosi. "Dia menyakitimu, Kazumi. Aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja setelah apa yang dia lakukan pada rambutmu."

Aku menggeleng pelan, mencoba tersenyum selembut mungkin untuk mencairkan gunung es di depannya. "Aku tahu kamu marah karena peduli padaku, dan aku sangat menghargainya. Tapi, ini hari pertamaku di kampus. Aku tidak ingin namamu dan namaku jadi buruk karena drama di hari pertama. Lagipula, dia sudah cukup ketakutan, kan?"

Aku melirik ke arah senior itu, lalu kembali menatap Kaelen. "Maafkan dia ya, Sayang? Demi aku. Aku cuma ingin kita pulang dan istirahat. Aku benar-benar capek."

Mendengar kata 'Sayang' dan permintaanku yang tulus, bahu Kaelen yang tegang perlahan mulai rileks. Ia menghela napas panjang, lalu menatap senior itu dengan nada yang masih dingin namun tidak semengerikan tadi.

"Kau dengar itu?" tanya Kaelen pada senior tersebut. "Pacarku jauh lebih baik hati daripada aku. Berterima kasihlah padanya. Tapi ingat, ini adalah kesempatan pertama sekaligus terakhirmu. Jika kau atau teman-temanmu mendekatinya lagi dengan niat buruk, aku tidak akan mendengarkan permintaannya untuk memaafkanmu."

"I-iya, Kak Kael... Maaf, Kazumi... Aku janji nggak akan ganggu lagi," ucap senior itu terbata-bata sebelum akhirnya lari keluar laboratorium secepat kilat.

Kaelen berbalik ke arahku sepenuhnya. Ia merapikan rambutku yang berantakan dengan jemarinya yang hangat. "Kamu terlalu baik, Kazumi. Di dunia kita yang dulu, orang seperti dia tidak akan dibiarkan lolos begitu saja."

"Tapi ini bukan dunia kita yang dulu, Kael," balasku sambil tersenyum manis. "Di sini, aku cuma mahasiswi botani yang punya pacar asisten dosen yang super posesif."

Kaelen terkekeh, lalu mengecup keningku cukup lama. "Baiklah, asisten pribadiku. Ayo pulang. Aku akan mengantarmu sampai depan pintu kamar asrama."

"Tapi aku ingin jalan-jalan, Kael. Katanya di seberang kota ini ada pantai yang bagus," ucapku sambil menatapnya dengan mata berbinar, mencoba merayunya agar mau membawaku pergi sejenak dari suasana laboratorium yang kaku ini.

Kaelen sempat terdiam, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan sebelum akhirnya ia menghela napas panjang. "Pantai? Di tengah kelelahanmu ini?" tanyanya, namun tangannya sudah bergerak merapikan jas laboratoriumnya dan mengambil kunci mobilnya dari atas meja.

"Ya sudah. Kalau itu bisa membuatmu berhenti merajuk dan melupakan kejadian tadi, kita berangkat sekarang. Ada Pantai Agel yang tidak terlalu jauh dari sini, atau Pantai Firdaus Banongan jika kamu ingin tempat yang sedikit lebih tenang," ucap Kaelen sambil menarik tanganku lembut, membawaku keluar dari laboratorium.

Salsa yang melihat kami bersiap pergi langsung berseru dari kejauhan, "Ciee, yang mau kencan ke pantai! Jangan pulang kemalaman ya, Kazumi! Ingat asrama tutup jam sepuluh!"

Kaelen hanya melambaikan tangan tanpa menoleh, fokusnya sepenuhnya tertuju padaku. Begitu sampai di parkiran, ia membukakan pintu mobil untukku dengan sangat sopan.

"Kael, kamu beneran nggak apa-apa bolos dari sisa pekerjaan lab?" tanyaku saat mobil mulai bergerak meninggalkan area kampus.

"Pekerjaan lab bisa menunggu, tapi kebahagiaanmu tidak, Sayang," jawabnya datar namun sukses membuat jantungku berdegup kencang lagi. "Dan mengenai panggilan 'Sayang' tadi... aku akan sering menggunakannya mulai sekarang agar kamu terbiasa."

Aku hanya bisa tersenyum lebar sambil menatap pemandangan kota yang perlahan berubah menjadi deretan pohon kelapa dan aroma air laut yang asin. Sepertinya, sore ini akan menjadi kencan pertama kami yang tak terlupakan di dunia baru ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!