Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 – AKAR YANG MEMANGGIL
Hujan tidak lagi terasa dingin.
Defit Karamoy berlutut di bawah pohon tua itu, napasnya tersengal, dada naik turun seperti akan pecah. Air hujan membasahi rambutnya, wajahnya, bercampur air mata yang tak lagi ia sembunyikan. Tangannya gemetar saat ia menopang tubuhnya di tanah berlumpur.
Di depannya di sela akar yang terbelah sesuatu berdenyut.
Gelap. Basah. Hidup.
Defit menelan ludah. Logikanya berteriak agar ia menjauh. Lari. Tapi kakinya tak mau bergerak. Ada tarikan halus, bukan dari luar, melainkan dari dalam dadanya sendiri. Seolah sesuatu di dalam dirinya mengenali apa yang tersembunyi di bawah tanah itu.
“Apa… apa ini?” suaranya hampir tidak keluar.
Angin berhenti mendadak.
Hujan tetap turun, tapi terasa seperti jatuh di ruang tertutup. Dunia di sekitarnya menyempit, menyisakan dirinya, pohon tua, dan denyut pelan dari balik tanah.
Lalu suara itu muncul lagi.
Bukan bisikan samar kali ini.
Melainkan suara yang jelas, berat, tua seperti datang dari ratusan tenggorokan yang berbicara serempak.
Sentuhlah.
Defit tersentak. Jantungnya berdetak liar.
“Tidak…” bisiknya. “Aku tidak mau apa-apa lagi. Aku cuma ingin… pergi.”
Tanah di bawah lututnya bergetar. Akar-akar pohon bergerak sedikit, mengencang, seperti otot yang ditegangkan.
Pergi ke mana?
Dunia manusia telah membuangmu.
Kata-kata itu menusuk tepat ke luka yang masih terbuka.
Defit teringat wajah Pak Armand. Tatapan dingin itu. Bu Ratna dengan senyum merendahkan. Dan Maya mata yang menunduk, bibir yang memilih diam.
Dadanya sesak.
“Aku sudah berusaha…” katanya parau. “Aku menahan semuanya. Aku mengalah. Aku… mencintai.”
Hening sesaat.
Lalu suara itu menjawab, lebih pelan. Lebih dekat.
Dan mereka menginjakmu karena itu.
Defit memejamkan mata. Gambar-gambar muncul di kepalanya tanpa ia undang ia berlutut memungut pecahan kaca, darah di lantai putih, tawa orang-orang yang tidak pernah menganggapnya manusia.
Tangannya mengepal.
“Aku tidak kuat lagi,” katanya jujur, seperti pengakuan terakhir. “Kalau ini jebakan… kalau ini gila… biarlah.”
Perlahan sangat perlahan Defit mengulurkan tangannya ke celah akar itu.
Panas menyentuh ujung jarinya.
Bukan panas membakar, melainkan hangat yang menjalar cepat, seperti darah yang kembali mengalir setelah lama mati rasa. Defit terkejut, tapi tidak menarik tangannya.
Begitu kulitnya menyentuh benda berdenyut itu, dunia meledak.
Suara jeritan memenuhi kepalanya. Bukan satu. Ratusan. Tangisan, raungan, doa yang berubah jadi kutukan. Tubuh Defit terangkat sedikit dari tanah, punggungnya melengkung, mulutnya terbuka lebar tanpa suara.
Penglihatan berganti.
Ia melihat pria-pria berlutut di tempat yang sama, berabad-abad lalu. Melihat darah mengalir ke tanah ini. Mendengar sumpah diucapkan dalam bahasa yang tidak ia kenal, tapi ia pahami maknanya.
Pengorbanan.
Penghinaan.
Balas dendam.
Ia melihat seorang lelaki muda wajahnya mirip dirinya diikat, dipermalukan, dibunuh di bawah pohon yang sama.
“Tidak…” air mata mengalir deras dari mata Defit. “Ini bukan aku…”
Ini darahmu.
Suara itu sekarang bukan lagi dari luar. Ia berbicara dari dalam kepalanya.
Garis ini tidak pernah putus. Kami menunggu seseorang yang cukup hancur untuk mendengar.
Defit jatuh tersungkur. Tangannya masih menempel pada sumber denyut itu. Ia merasa sesuatu merayap naik ke lengannya dingin, lalu panas, lalu sakit yang menusuk sampai ke tulang.
Ia berteriak.
Jeritannya tertelan hujan.
Di rumah utama, lampu ruang tamu tiba-tiba berkedip. Bu Ratna terbangun dengan jantung berdebar. Pak Armand terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin. Maya terjaga dengan dada sesak, entah kenapa menatap jendela belakang.
Di bawah pohon tua itu, Defit kejang. Matanya terbuka, tapi tidak melihat hujan lagi.
Ia melihat kegelapan yang luas.
Dan di dalamnya, sosok-sosok tanpa wajah berdiri melingkar.
Kau ingin berhenti menderita?
Kau ingin mereka merasakan apa yang kau rasakan?
Defit terisak. Suaranya pecah. “Aku… aku hanya ingin dihargai.”
Ada jeda.
Lalu jawabannya datang, dingin dan pasti.
Harga diri menuntut darah.
Seketika, rasa sakit itu berhenti.
Defit terkulai. Nafasnya tersengal. Tangannya terlepas dari celah akar. Tanah kembali menutup perlahan, seolah tidak pernah terbelah.
Hujan mereda.
Defit terbaring telentang, menatap langit gelap. Tubuhnya gemetar hebat. Tapi di balik ketakutan itu, ada sesuatu yang berubah.
Dadanya tidak lagi kosong.
Ada berat. Ada gelap. Ada… kekuatan yang belum ia mengerti.
Ia tertawa kecil. Tawa hampa. Tawa orang yang sudah melewati batas.
“Apa yang sudah aku lakukan…” bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Namun di balik kulitnya, jauh di dalam tulangnya, sesuatu telah terbangun.
Dan itu tidak akan membiarkannya kembali menjadi manusia biasa.
terus menarik ceritanya 👍