Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. SAH
Usai menghadiri arisan, dua wanita dengan perbedaan usia itu kini memasuki sebuah mal. Mereka berbelanja banyak barang. Beberapa paper bag ditenteng oleh sopir yang ikut masuk, sebagian lainnya dibawa oleh Mama Kania. Sementara Aulia sama sekali tidak dibiarkan membawa apa pun—takut bumil itu kelelahan.
Kini, mereka duduk di sebuah restoran di dalam mal. Beragam menu terhidang di meja, semuanya sesuai keinginan Aulia.
Di tengah asyiknya menikmati makanan sambil ditemani obrolan ringan, perhatian Aulia sedikit teralihkan oleh getaran ponselnya yang kembali berbunyi setelah beberapa kali ia abaikan.
“Siapa sih, ganggu saja,” gumamnya malas sambil membuka tas.
“Siapa, Sayang?” tanya Mama Kania, ikut melirik ke arah putrinya.
“Jenar, Ma.”
“Jenar… siapa?” tanyanya lagi, berusaha mengingat.
“Jenar, sahabatnya Arumi, Ma. Masa lupa,” tukas Aulia sambil menekan tombol hijau di layar ponselnya.
Mama Kania mengangguk singkat setelah mengingat nama itu, lalu ikut menyimak pembicaraan putrinya.
“Halo,” sapa Aulia dengan suara lembut.
“Halo, Kak Aulia. Maaf mengganggu,” ujar Jenar dari seberang sana. Suaranya terdengar cemas. “Ini… aku mau menyampaikan sesuatu. Arumi sedang kena masalah, Kak.”
“Apa? Masalah apa?” tanya Aulia dengan raut yang seketika berubah. Wajahnya menegang. Di sisi lain, Mama Kania menggeser duduknya, mendekat ke arah putrinya.
“Arumi digerebek penghuni kos lain, Kak. Katanya tengah melakukan hubungan badan seorang pria—”
“Hah?” pekik Aulia lantang. Ia langsung berdiri, sementara ponselnya terlepas dan jatuh begitu saja ke atas meja.
Mama Kania tak kalah terkejut. Namun wanita paruh baya itu berusaha tetap tenang. Ia meraih ponsel putrinya yang masih tersambung, berniat mengetahui lebih jauh.
“Halo, Jenar. Ini Tante Kania. Tadi kamu bilang apa?” tanyanya menahan gemetar.
“Tante… maaf. Jenar memang harus menghubungi Kak Aulia. Arumi digerebek penghuni kos sedang begituan, sekarang mereka sedang digiring ke rumah ibu kos. Katanya… katanya mereka mau dinikahkan, Tante,” jelas Jenar dari seberang, membuat Mama Kania nyaris limbung di kursinya.
“Saya akan datang ke sana,” ujar Mama Kania dengan suara bergetar. “Tolong sampaikan pada mereka jangan bertindak sendiri. Bilang kalau saya segera tiba.”
Ia menutup sambungan telepon dengan napas berat, telinganya masih menangkap samar suara cacian yang bisa ia tebak tertuju pada Arumi.
Tak lama kemudian, Mama Kania, Aulia, dan sang sopir bergegas meninggalkan mal, langsung menuju bandara.
Arumi Mentari, adik tiri Aulia, yang kini berkuliah di Jakarta. Aulia masih sulit mempercayai kenyataan itu. Sosok adiknya yang selama ini ia kenal begitu polos dan lugu terasa tak mungkin terlibat dalam masalah sebesar ini.
“Sayang, kamu tidak usah ikut, ya. Biar Mama saja yang ke sana,” bujuk Mama Kania sepanjang perjalanan menuju bandara. Ia masih berusaha menenangkan putri sulungnya yang bersikeras ingin ikut ke Jakarta demi memastikan keadaan Arumi secara langsung.
“Aku mau ikut, Ma. Aku mau tahu laki-laki brengsek mana yang sudah menodai adikku!” ujar Aulia dengan nada geram.
“Tapi, Sayang, kondisi kamu—”
“Aku akan baik-baik saja, Mam. Percaya sama Lia,” potong Aulia meyakinkan.
Ketegasan itu akhirnya membuat Mama Kania tak mampu lagi membujuk. Dengan berat hati, ia mengalah.
Terpaksa, keduanya berangkat bersama. Beruntung, mereka mendapatkan tiket pesawat dengan jadwal keberangkatan beberapa menit lagi. Setibanya di bandara, mereka langsung masuk ke dalam pesawat, hanya berbekal pakaian baru yang sempat dibeli di mal, karena mereka tidak sempat pulang ke rumah untuk berkemas.
...****************...
Setelah lebih dari satu jam penerbangan, kini mereka berdua berada di Bandara Soekarno Hatta setelah pesawat mendarat dengan selamat.
Aulia langsung memesan taksi daring menuju kos adiknya. Alamat itu sudah di luar kepala, karena ini bukan kali pertama mereka datang ke sana.
Sepanjang perjalanan yang melelahkan, tak satu pun dari mereka bersuara. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing yang sejak tadi terasa riuh.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan area kos. Di sana, Jenar masih berdiri dengan raut wajah gelisah. Ia mondar-mandir tak menentu. Beberapa orang lain ikut berdiri di sekitar, jumlahnya tidak banyak, namun mulut mereka masih sibuk berbisik.
Tak jauh dari situ, di depan rumah ibu kos, tampak beberapa warga mengintip ke dalam dengan rasa ingin tahu yang tak disembunyikan.
Aulia dan ibunya turun dari mobil, lalu menghampiri Jenar.
“Jenar…” panggil Aulia.
Mata Jenar membola saat menyadari Aulia ikut datang ke sana. Wajah gadis berusia sekitar dua puluh dua tahun itu pucat pasi. Ia menyalami kedua tangan Aulia dengan gemetar.
“Kak Aulia datang…” ucapnya lirih.
“Iya. Ayo kita ke rumah ibu kos. Arumi di sana, kan?” tanya Aulia sambil menarik tangan Jenar.
Namun Jenar tak bergerak. Tubuhnya masih kaku di tempat, matanya menatap Aulia dengan ragu.
“Jenar, ayo.”
“Kak Aulia… Kakak tidak boleh ikut,” ucap Jenar dengan suara kecil. “Biar Tante Kania saja yang ke sana. Bagaimana kalau Kak Aulia ikut Jenar saja?”
Di sekitar mereka, bisik-bisik terus terdengar. Beberapa tatapan sinis diarahkan pada Aulia dan Mama Kania, seolah merekalah sumber dari semua kesalahan itu.
“Aku mau lihat Arumi, Jenar. Ayo antarkan kami ke sana,” titah Aulia tegas, tak memberi ruang bantahan.
Terpaksa, Jenar menurut. Ia melangkah mengikuti mereka menuju rumah ibu kos.
Kedatangan Aulia dan Mama Kania langsung disambut suara gaduh. Ada yang memaki, menyalahkan Mama Kania karena dianggap tak mampu mendidik anaknya dengan baik. Namun ada pula tatapan iba yang terselip di antara kerumunan.
Mama Kania dan Aulia memilih menulikan pendengaran. Keduanya menerobos kerumunan di depan rumah ibu kos, lalu masuk begitu saja.
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Arumi Mentari binti Bagas Pradipta dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”
“Bagaimana para saksi, sah?”
“SAH!!”
“Mas Adrian…”
Suara lantang itu, diucapkan dalam satu tarikan napas oleh mempelai pria, seketika meruntuhkan seorang wanita yang berdiri kaku di ambang pintu rumah ibu kos. Tatapannya kosong. Air mata membanjiri wajahnya.
Di hadapannya, pria itu, suaminya sendiri, duduk berdampingan dengan sang adik sebagai sepasang pengantin.
Deg.
“Aulia…”
“Kakak…”
Tbc...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian