Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebahagiaan semu
Steve memperhatikan wajah putranya yang tampak menyeringai, dan ia sudah bisa menebak kalau putranya memiliki rencana gila.
"Bryan, jawab Daddy. Apa yang kau rencanakan? Ingat, kau sedang dalam pantauan polisi. Jangan sampai melakukan sesuatu yang gila, yang justru bisa memberatkan posisimu sebagai terduga."
Namun bukannya khawatir, Bryan hanya tersenyum tipis dan masih tetap santai. bahkan dengan santai pulang, Bryan duduk di sofa tanpa melihat raut wajah ayahnya yang sudah tidak sabar.
"Bryan!!"
"Keep Calm, Dad. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang bisa membuat kita semua rugi. Lagipula, aku sudah memikirkan segalanya dan itu semua sudah di urus. Aku akan menyelesaikan semua ini dengan clear, tanpa meninggalkan jejak buruk untuk keluarga kita. Jadi kalian tenang saja!"
"Apa yang akan kau lakukan?"
Bryan mengangkat wajahnya, dan melirik kearah ibunya yang ikut menatap Bryan dengan sedikit cemas, meski kesan angkuh masih terlihat disana.
"Sudah aku katakan, hal yang akan membuat namaku bersih tanpa harus menghindari persidangan. Bahkan mungkin, teman-temanku juga akan dengan senang hati hadir."
Steve sedikit ragu dengan jawaban yang diberikan Bryan. Ia ingin kembali menyangkal, namun akhirnya ia mengangguk mencoba memberikan kesempatan pada Bryan untuk menyelesaikan masalahnya.
"Baiklah,untuk kali ini daddy percayakan semua ini padamu. Kau harus bisa membuat gadis tidak tahu diri itu sadar, dimana tempatnya dan siapa dia sebenarnya. Dia harus di buat sesadar-sadarnya, keluarga siapa yang dia hadapi sekarang!"
"Itu urusan mudah Dad, aku sudah menyusun rencana secara matang. Tapi, aku perlu sedikit bantuan daddy. Aku minta, daddy membuat Max pergi jauh, selama proses pengadilan nanti! Intinya, aku mau mengurus semuanya asalkan Max tidak pernah hadir disana agar aku bisa menang."
Steve mengangguk, lalu menepuk pelan bahu Bryan.
"Baiklah. Itu urusan mudah, urusan Max itu bisa daddy atur. Daddy yang akan membuat dia tidak bisa hadir dipersidangan dengan alasan apapun yang Daddy mampu. Kalau perlu, jika dia terus menentang seperti saat ini maka daddy tidak akan segan menyingkirkannya sampai tuntas!"
"Thank you dad! Aku tahu, daddy yang terbaik!"
Senyum miring kembali tercetak jelas di bibir Bryan.
**
Keadaan Vello yang semakin terlihat depresi, membuat Maya nyaris ikut kehilangan kewarasan juga. Apalagi saat tak mendapatkan kabar yang memuaskan tentang kasusnya.
Maya mengirimkan vidio serta foto Vello yang tampak kusut masai, pandangan kosong dan juga keadaan yang jauh dari kata baik-baik saja.
"Sebaiknya kita bawa Vello ke psikiater, Maya. Aku khawatir jika terus di biarkan, akibatnya akan semakin fatal!" ucap Max, saat datang ke rumah Maya untuk melihat kondisi Vello yang semakin memburuk.
"Aku juga berpikir begitu Max, tapi aku merasa ragu. Sebab, jangankan dengan orang baru, melihat ayah saja Vello histeris! Dan aku sudah tidak memiliki apapun lagi saat ini Max, aku sudah merasa buntu!"
"Hei, kau jangan putus asa seperti itu. Kau masih memiliki aku Maya, apapun akan aku lakukan untukmu. Bukan hanya untukmu, tapi juga untuk Vello. Meskipun harus melawan keluargaku sendiri, selama mereka di posisi yang salah aku tidak akan pernah mundur!" ucap Max.
"Tapi aku takut Vello semakin histeris, saat dibawa ke psikiater Max. Aku takut dia melakukan hal yang lebih buruk!"
"Itu hal yang wajar, setelah tiba disana aku yakin dokter pasti tahu apa yang harus di lakukannya untuk menangani Vello nanti. Kau tidak perlu khawatir, ok. Sekarang sebaiknya kita segera bawa Vello kesana, karena aku juga membutuhkan rekam medisnya untuk memperkuat kasus ini!" ucap Max, meyakinkan Maya.
"Baiklah, aku ikut saja apa yang menurutmu baik Max. Aku sudah tidak tahu lagi jalan apa yang harus aku tempuh!" ucap Maya lirih.
Max yang sangat memahami keadaan Maya saat ini, membawanya kedalam pelukan dan berusaha membuatnya tenang.
Max telah bersumpah, akan melakukan apapun yang bisa mengembalikan kebahagiaan wanita yang sudah lama dicintainya tersebut.
Setelah menemui psikiater dan mendapatkan rekam medis yang di butuhkan, Max mulai mengumpulkan semua bukti-bukti yag semakin memperkuat pihak Vello.
Bukan tanpa sebab Maxim atau yang sering disebut Max tersebut, berusaha dengan sangat keras dalam menangani kasus Vello, jika yang di hadapinya orang lain mungkin bisa dengan mudah dia mendapatkan kemenangan.
Sebagai sarjana hukum dan lawyer terbaik di kotanya, tentu nama Maxim Lewis memiliki pengaruh besar dalam menangani kasus ini dan kesempatan untuk menangpun sangat besar.
Tapi karena yang di hadapinya masih keluarga Lewis, tentu saja ini akan terasa sangat sulit baginya.
Hingga setelah menghabiskan bebera waktu untuk mengurusi segalanya, usaha Max akhirnya membuahkan hasil dan kasus ini bisa di bawa hingga ke persidangan.
**
Maya yang mengetahui kasus adiknya mendapatkan respon hukum dan di bawa ke pengadilan, merasakan secercah harapan untuk mendapatkan keadilan bagi Vello.
Berkali-kali Maya mengucapkan rasa terima kasihnya pada Max, sebab berkat usaha keras Max kasus ini di tindak lanjuti.
Fernand sang ayah turut bahagia mendengar itu. Tapi di balik rasa bahagianya, Fernand merasakan kekhawatiran yang amat sangat.
Namun karena tidak ingin mematahkan semangat Maya, Fernand haya bisa pasrah dan mendukung apapun yang di lakukan putri tertuanya itu.
Apalagi dia tahu, siapa yang saat ini mereka hadapi. Steven Edward Lewis bukanlah orang yang bisa di sentuh hukum begitu saja, apalagi dengan orang-orang kecil seperti mereka.
"Ayah tenang saja. Maya yakin, kita bisa mendapatkan keadilan untuk Vello!"
"Ayah selalu berdoa untuk itu! Semoga kau berhasil!"
Meskipun hatinya sedikit ragu, tapi dengan adanya Max di samping Maya sedikit membuat Fernand tenang.