“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#4
Semua orang di desa tau, bahwa Ayunda adalah cegil nya Zayan. Sejak kecil Ayunda sudah mengklaim bahwa Zayan adalah kekasihnya. Dia bahkan tanpa malu mengejar laki-laki tersebut.
Akhirnya kedua orang tua mereka sepakat menjodohkan keduanya.
Pak Mul dan Herman memang berteman baik, Ratna pun menyukai Ayunda karena dia tidak memiliki anak perempuan. Ayunda sudah dianggap sebagai anak sendiri.
Di kecamatan yang bernama Kalapadua itu ada tiga orang yang memang secara ekonom jauh di atas masyarakat lainnya. Salah satunya adalah Pak Mul. Dia punya usaha di bidang makanan yaitu sebuah pabrik kerupuk di lima kota besar.
Sementara Herman dia bergerak di bidang pertanian. Selain dia yang mengelola semua pupuk untuk pertanian, dia juga pengepul padi dan berbagai sayuran di daerah tersebut.
Ada satu lagi keluarga yang mungkin bisa dikatakan sebagai orang kaya nomor satu di sana. Keluarga Pak Aceng. Kekayaan Pak Aceng berasal dari anak-anak nya yang sukses di kota.
Dari ketiga keluarga tersebut, hanya Pak Mul yang memiliki anak perempuan. Pak Aceng dan Herman semua anaknya laki-laki. Wajar kedua kepala tersebut mengincar Ayunda untuk menjadi menantunya.
Bukan karena mereka ingin mendapatkan menantu dari keluar yang setara. Tapi Ayunda sendiri memang terkenal sebagai gadis yang baik hati, periang dan humble.
“Mak irah, mau ke sawah?” Tanya Ayunda saat melihat perempuan yang sebenernya sudah tidak layak untuk pergi bekerja apalagi ke sawah. Sayangnya Mak irah hanya hidup dengan suaminya yang sudah tidak bisa bekerja karena sakit. Sementara anaknya pergi ke luar nege sebagai tki dan tidak pernah ada kabar.
“Iya, neng. Neng mau ke mana? Itu kenapa lagi jidatnya?”
“Heheh, bisa Mak.”
“Jangan suka naik-naik, takut jatuh lagi.”
“Sini Mak, aku bawain barangnya.” Ayunda mengambil jinjingan tas yang terbuat dari anyaman yang sudah terlihat rapuh. Isinya makanan yang mungkin hanya nasi dan kerupuk.
Mak irah tertawa. Sepanjang jalan mereka banyak mengobrol ini dan itu.
“Mak kok ke kebun bukan ke sawah?”
“Iya, Mak mau ambil singkong.”
“Ini kan kebun wa hasim.”
“Emak sudah ijin tadi. Di rumah udah kehabisan beras. Jadi Mak minta singkong ke pak hasim untuk makan bapak di rumah.”
Gadis itu tersenyum miris mendengar ucapan Mak irah.
Tangan tua renta itu mulai menggali untuk mempermudah nanti mencabut singkongnya. Dengan cekatan Amelia membantu Mak irah. Tanpa menggali, Amelia langsung mencabut singkong tersebut.
“Tuh Mak. Biar aku aja yang ambil singkongnya.”
Selain tenaga Amelia memang besar, tanah di kebun Pak hasim memang gembur dan basah bekas hujan tadi subuh. Jadi bagi Amelia sangat mudah mencabut pohon singkong tersebut.
Selain singkongnya, Mak irah juga mengambil pucuk daun nya untuk nanti dimasak.
Setelah singkong terkumpul, daun nya pun sudah diikat, Amelia termenung. Bagaimana cara nenek itu membawa singkong yang sangat berat.
Amelia mengikat singkong dengan pelepah pisang, lalu menggendongnya. Dia bahkan tidak peduli meski bajunya kotor.
“Neng, jangan. Biar Mak aja. Itu bajunya kotor.”
“Gak apa-apa lah, Mak. Nanti bisa dicuci. Ayu, Mak. Udah siang kayaknya.”
Mak irah tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dalam perjalanan pulang mereka bertemu dengan beberapa orang yang sedang beraktivitas di sawah.
Melihat apa yang dilakukan Ayunda, semua orang yang melihatnya berdecak kagum. Mereka memuji kebaikan Ayunda.
“Udah ya, Mak. Aku pulang dulu mau mandi.”
“Makasih ya, Neng.”
“Iya, Mak. Aku pamit ya.” Ayunda mencium punggung tangan yang kulitnya sudah sangat keriput itu.
Gadis itu berlari kecil sambil melompat-lompat seperti kelinci. Ya, Ayunda memang seceria itu. Bahkan dia suka bersenandung gak karuan saat sedang berjalan.
“Masya Allah, Yundaaa. Kamu jatuh di mana lagi?” Teriak Nunung saat melihat baju anaknya kotor.
“Nggak jatuh kok. Ini tadi habis bantuin Mak irah ngambil singkong. Aku mandi dulu ya, Mah.”
Nunung menatap anaknya kagum juga kesal karena bajunya kotor.
“Cuci sendiri bajunya.”
“Iya,” jawab ayunda sedikit teriak dari dalam kamar mandi.
Selesai mandi dan menjemur bajunya yang baru dicuci, Amelia membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil memainkan ponsel.
Sebuah chat masuk. Seseorang mengirimkan gambar.
[Nyolong lagi?]
Amelia membelalakkan mata saat melihat dirinya sedang mencabut singkong di kebun Pak Hasim.
[Mas El ih. Aku gak nyolong. Itu Mak irah udah ijin sama yang punya kebun. Aku cuma bantuin. Eh, kok mas ada di kampung?]
[Hahaha. Saya tau. Becanda aja kok.]
[Kok aku gak lihat mas ada di kebun tadi?]
[Iya, soalnya aku lagi ke wujud asliku tadi, jadi kamu gak lihat]
[Lagi jadi babi ngepet kesiangan ya, Mas.]
[iya, aku mau ngepet ke rumah kamu tapi gak berhasil]
[ya gak akan lah, duitnya banyakan di rumah Mas Elang kok]
[Bisa aja]
Ayunda menyimpan ponselnya saat Nunung memanggilnya.
“Kenapa, Mah?”
“Anterin ini ke rumah Mak irah.”
Sebuah rantang makanan diserahkan pada Ayunda untuk dia bawa ke rumah Mak irah.
Dengan senang hati Ayunda membawa rantang tersebut. Seperti biasa dia berjalan dengan lompat kecil.
“Hey, kelinci!”
Ayunda menghentikan langkahnya, dia menoleh dan melihat Elang berdiri di belakang nya.
“Mas?” Ayunda kembali berjalan ke belakang untuk menemui Elang.
“Kapan datang?” Tanya Ayunda antusias.
“Udah ada tiga hari sih. Mau ke mana?”
“Ini mau nganter makanan buat Mak irah. Mau ikut?”
“Boleh. Sini Mas yang bawa, berat.”
Ayunda memberikan rantang tersebut pada Elang. Mereka berjalan menuju rumah Mak irah.
“Mak irah, Mak. Neng bawa makanan.”
Tidak ada suara.
“Mak, ini neng. Mak, neng masuk ya.”
Ayunda membuka pintu rumah Mak irah yang masih panggung. Terbuat dari kayu dan anyaman bambu.
Gelap.
“Gak ada listrik apa gimana? Perasaan Bapak udah bayarin listriknya tiap bulan. Kok masih mati.”
Ayunda masuk lebih dalam diikuti Elang. Bau rumah itu sangat tidak nyaman untuk hidung. Bau pesing, apek dan bau segala macam bercampur jadi satu.
Ayunda terpaku saat melihat Mak irah tergeletak di samping suaminya.
“Mak.” Elang menyimpan rantang makanan dan langsung menghampiri Mak irah. Dia memeriksa kondisi Mak irah.
“Masih hidup, kayaknya Mak irah pingsan.”
Ayunda masih diam mematung.
“Kamu cepat cari bantuan. Kita harus bawa Mak irah ke Puskesmas.”
Gadis itu baru tersadar. Dia langsung keluar sambil teriak minta tolong. Teriakan Ayunda didengar oleh orang-orang yang kebetulan ada di rumah.
Orang-orang berkumpul di rumah Mak Irah. Pak Rt pun hadir. Mereka bergotong royong membantu Mak irah pergi ke Puskesmas.
Semua orang fokus sama Mak irah, dan lupa jika di sana ada suaminya juga.
Ayunda memperhatikan suami Mak irah yang sedang terlentang di atas kasur lepek.
Kok, dadanya gak gerak ya.