NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 33

Megan masih mematung di meja makan, matanya yang tajam menuntut penjelasan atas nama Alice yang baru saja berkedip di layar ponsel Bradley. Namun, Bradley hanya menatapnya dengan pandangan datar yang sulit ditembus.

"Kau kubawa ke sini untuk kujadikan Ratu Obsidian di rumah ini, sebagai istri dan ibu dari anak-anakku, Meg. Bukan untuk ikut campur urusan bisnisku," ucap Bradley dingin sambil merapikan jasnya. "Lupakan rasa penasaranmu tentang apa yang baru saja kau lihat. Simpan energimu untuk hari esok."

Bradley berdiri, namun ia berhenti sejenak di ambang pintu. "Aku tunggu satu jam lagi. Kita akan meninjau lokasi yang akan menjadi tempat pernikahan kita. Jangan terlambat."

Setelah Bradley dan Peter menghilang di balik pintu ruang kerja yang kedap suara, Bradley langsung menekan tombol hijau. Sambungan dengan Alice terhubung.

"Kau sudah sampai?" tanya Bradley tanpa basa-basi.

"Ya. Aku sedang bersiap menuju markas MI6 sebagai utusan resmi Langley," suara Alice terdengar tenang di seberang sana. "Untuk menanyakan keberadaan dua agen terbaik yang hilang secara misterius—putri kesayangan Arthur dan Agen Nathan. Singa tua itu benar-benar sedang frustrasi."

Bradley tertawa menggelegar, suara tawa yang terdengar sangat keji. "Lakukan tugasmu dengan baik, Alice. Besok, Peter akan menjemputmu di Obsidian Mansion untuk menghadiri pernikahanku dengan Megan."

"Aku tidak sabar melihat 'anak tiriku' bersanding denganmu di altar, Brown," sahut Alice dengan nada sarkas.

Seketika, suasana di ruang kerja itu berubah mencekik. Aura membunuh terpancar dari tatapan Bradley. "Ingat satu hal, Alice... Tujuan awalmu mendekati Arthur adalah untuk menghancurkannya dari dalam. Jangan pernah bawa perasaanmu pada pria bau tanah itu, atau aku sendiri yang akan menghabisimu sebagai pengkhianat. Aku tidak mentoleransi pengkhianatan."

Alice terdiam cukup lama di ujung telepon. Ada jeda yang berat sebelum ia akhirnya menjawab. "Aku bisa memastikan semuanya tetap terkendali, Brown. Jangan khawatir. Arthur hanyalah pion bagiku."

Bradley memutus panggilan itu dengan kasar. Ia menoleh pada Peter yang berdiri di sudut ruangan. "Peter."

"Ya, Tuan?"

"Pantau setiap gerak-gerik Alice. Jangan sampai dia benar-benar jatuh cinta pada pria tua itu. Jika dia mulai melunak, kau tahu apa yang harus kau lakukan padanya."

"Siap, Tuan. Segalanya dalam pengawasan," jawab Peter dengan anggukan.

***

Suasana di lobi markas besar MI6 mendadak tegang saat Alice Grace melangkah masuk dengan setelan power suit berwarna abu-abu arang. Auranya sebagai utusan langsung Direktur CIA dari Langley begitu mengintimidasi, membuat para agen operasional di sana tertegun.

Di salah satu sudut ruangan, Ben tersenyum sinis. Ia segera bergegas menuju ruangan Sean Miller yang tampak berantakan oleh tumpukan laporan yang gagal ia selesaikan.

"Sir, apa Anda sudah tahu kedatangan Alecia Grace sebagai utusan dari Langley?" tanya Ben dengan nada pura-pura panik.

Sean Miller menghentikan ketikannya, mendongak dengan mata merah karena kurang tidur. "Alice? Kau serius?"

"Ya. Dan dia baru saja melewati pemeriksaan protokol untuk menuju ruangan Direktur Laurence," lapor Ben.

"Apa?!" Sean menggebrak meja jati di depannya. "Kenapa kau membiarkan dia langsung ke ruangan Direktur tanpa melaluiku?!"

"Maaf, Sir. Laporan dari tim pengamanan baru saja masuk saat dia sudah berada di dalam lift VIP."

Tanpa membuang waktu, Sean menyambar jasnya dan berlari menuju lantai atas, jantungnya berdegup kencang karena ia tahu keberadaan Megan di London sebenarnya adalah lubang hitam yang paling ia takuti.

Di dalam ruangan, Mark Laurence menatap Alice dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kedatanganmu tanpa peringatan, Miss Grace. Langley biasanya lebih suka menggunakan jalur diplomatik resmi," ucap Mark tenang.

"Situasinya sudah darurat, Direktur Laurence," Alice menyilangkan kakinya dengan angkuh, menatap Mark tanpa rasa takut. "Kami menerima laporan berkala dari Agen Miller bahwa Megan Ford sedang menjalankan misi Black Ops. Namun, sudah hampir tiga bulan kami tidak menerima laporan intelijen yang valid. Dan yang membuat Direktur Ford kehilangan kesabarannya, dan... Dua hari ini kami kehilangan kontak total dengan Agen Nathan Clark di London. Ini sangat janggal. Apakah London sudah tidak aman bagi agen-agen kami?"

Tepat saat Mark hendak menjawab, pintu ruangan terbuka kasar. Sean Miller masuk dengan napas tersengal, wajahnya pucat saat melihat Alice duduk dengan tenang di sana.

"Miss Grace! Anda datang tanpa memberi kabar?" potong Sean dengan suara serak.

Direktur Mark Laurence mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar Sean diam. "Duduklah, Sean. Miss Grace sedang mempertanyakan integritas laporanmu. Dia mengklaim ada ketidaksinkronan antara apa yang kau sampaikan ke Langley dengan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan."

Mark menatap Sean dengan dingin. "Miss Grace mengatakan bahwa Agen Nathan sudah dua hari menghilang di wilayah hukum kita, jelaskan padaku... bagaimana mungkin dua agen elit CIA bisa 'menguap' begitu saja di London sementara kau bersikeras semuanya terkendali?"

Sean membeku di tempatnya berdiri. Ia menatap Alice, mencari dukungan, namun yang ia temukan hanyalah tatapan dingin seorang wanita yang diam-diam sedang menusuknya dari belakang.

***

Di tepi danau Surrey yang tenang, di mana lapisan salju mulai mencair menandakan musim akan segera berganti, Bugatti hitam itu berhenti dengan suara rem yang mencit. Bradley menatap hamparan konsep pernikahan yang sedang dikerjakan anak buahnya. Di kejauhan sebuah altar megah di tepi air yang akan menjadi saksi penyatuan mereka.

Namun, Megan tetap bergeming, matanya menatap kosong ke depan seolah pemandangan itu hanyalah tumpukan sampah.

"Jika kau ingin turun, turunlah sendiri. Aku tidak sudi menginjakkan kakiku di sana," ucap Megan dingin.

Bradley tertegun. Genggamannya pada kemudi mengerat. "Sebegitu tidak berminatnya kau padaku, Meg? Sampai-sampai pernikahan ini hanya kau anggap sebagai hukuman mati?" batin Bradley pedih.

Tanpa sepatah kata pun, Bradley kembali menginjak pedal gas dalam-malam. Mesin Bugatti itu menderu liar, melesat membelah jalanan pedesaan Surrey yang sepi, seolah Bradley sedang berusaha lari dari rasa kecewa yang menghimpit dadanya.

"Kenapa tidak jadi turun, Brown? Apa kau berubah pikiran dan ingin membatalkan pernikahan konyol ini?" sindir Megan, suaranya tajam menusuk.

"Diam kau, Meg!" bentak Bradley, suaranya menggelegar di dalam kabin yang sempit.

Megan tersentak. Ini kali kedua Bradley membentaknya, dan entah mengapa, ada sudut hatinya yang terasa nyeri. Ia terbiasa berteriak dan melihat Bradley diam, namun saat sang predator mulai mengeluarkan taringnya melalui suara, Megan merasa dunianya goyah. Ia membuang pandangannya keluar jendela, menahan air mata yang hampir jatuh.

Bradley menyadari kekasarannya. Ia melirik Megan dari sudut matanya. "Bisakah kau sekali saja tidak menyulut emosiku, Meg?"

"Aku akan terus melakukannya sampai kau merasa bosan denganku, Brown!"

Bradley semakin menambah kecepatan mobilnya hingga jarum speedometer menyentuh angka yang tidak masuk akal.

Megan mencengkeram sabuk pengamannya, ketakutan mulai merayap. "Apa kau berniat mengajakku mati bersamamu?!"

"Jika mati adalah satu-satunya cara agar kau tetap bersamaku, maka akan kulakukan, Meg!" sahut Bradley gelap.

Tiba-tiba, Megan merasa perutnya bergejolak hebat. Guncangan dan kecepatan gila itu membuat mualnya memuncak. Ia menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar.

Bradley yang menyadari raut pucat Megan segera menginjak rem dan menepikan mobil di bahu jalan yang sunyi.

"Kau baik-baik saja, Meg?" tanya Bradley, suaranya mendadak melunak, penuh kecemasan.

"Hidupku tidak pernah baik-baik saja sejak bersamamu," rintih Megan.

Bradley turun dari mobil, mengitari kap mesin dan membuka pintu untuk Megan. Ia membantu Megan bersandar, lalu dengan telaten memijat tengkuk wanita itu agar rasa mualnya mereda.

Di bawah langit Surrey yang mendung, Bradley menatap wajah Megan yang rapuh. "Kenapa aku tidak bisa membencimu, Meg? Kenapa justru semakin kau menolakku, aku semakin tidak bisa melepaskanmu?" ingin rasanya Bradley berteriak, namun kata itu hanya terucap di dalam hati.

***

Suasana di dalam ruangan yang kedap suara itu semakin mencekam. Alice Grace berdiri tegak, sorot matanya yang dingin mengunci sosok Sean Miller yang tampak goyah.

"Miller, kau bersikeras melaporkan bahwa Megan Ford sedang dalam misi Black Ops. Namun, faktanya kau sendiri pernah menyerbu markas yang kau curigai dan pulang dengan tangan hampa," suara Alice tenang namun tajam seperti sembilu. "Seharusnya Megan kembali ke Langley, bukan justru menghilang di luar pengawasanmu seperti asap!"

Alice beralih menatap Direktur Mark Laurence dengan tatapan menuntut. "Direktur Laurence, bisakah Anda menjelaskan mengapa agen-agen terbaik kami seolah 'ditelan bumi' saat berada di bawah koordinasi MI6?"

Mark Laurence, yang sama sekali belum menerima laporan tentang hilangnya Nathan, seketika menoleh ke arah Sean dengan urat leher yang menegang. "Miller! Apa benar agen Nathan juga tidak bisa dihubungi?"

Sean tersentak, peluh dingin mulai membasahi pelipisnya. "Soal Agen Nathan... saya... saya sama sekali belum mengetahuinya, Sir. Bahkan saya baru mendengar kabar hilangnya agen Nathan dari keterangan Miss Grace sekarang," ucap Sean terbata.

BRAAAKKKK!

Direktur Laurence menggebrak mejanya hingga cangkir porselen di atasnya berdenting keras. "Apa maksudmu tidak mengetahui kondisi agenmu sendiri, Miller?! Kau di sini sebagai atasan, memegang komando taktis, tapi kau buta terhadap apa yang terjadi di bawah hidungmu sendiri?!"

"Sir, saya sedang fokus pada pelacakan Obsidian—"

"Cukup!" potong Laurence dengan raungan murka. "Kau membiarkan putri Direktur CIA hilang, dan sekarang kau membiarkan agen pendukungnya lenyap tanpa jejak? Kau telah mempermalukan institusi ini di depan Langley!"

Alice hanya diam, menyilangkan tangannya di dada sambil memperhatikan kehancuran Sean dengan kepuasan yang tersembunyi di balik wajah prihatinnya yang palsu.

Di sudut lobi, Ben yang memantau pergerakan dari earpiece cadangannya segera mengetikkan pesan singkat kepada Peter.

[MESSAGE TO: PETER]

"Singa MI6 sedang mengoyak leher Miller. Alice berhasil menyudutkannya hingga ke dinding. Target sudah kehilangan kepercayaan dari Direkturnya. Sean Miller sudah Selesai.”

***

Kesunyian di apartemen Megan terasa mencekam, masih sama seperti saat Megan meninggalkannya tiga bulan lalu. Sean Miller berdiri di tengah ruangan yang mulai berdebu, menatap seragam CIA milik Megan yang masih menggantung kaku di depan lemari.

Apartemen yang hanya Megan huni sebentar saat ia baru tiba di London. Kini tidak ada yang menyentuhnya, tidak ada yang memakainya. Menyisakan kenangan yang membuat Sean di hantui rasa takut, rasa bersalah dan rasa tidak berguna sebagai atasan terlebih sebagai tunangan.

"Kemana kau, Meg?" bisik Sean, suaranya parau. "Ini tidak masuk akal. Kau menghilang seolah bumi telah menelanmu bulat-bulat. Aku merindukanmu, Meg... aku sangat mengkhawatirkanmu. Seharusnya bulan depan kita berdiri di altar, bukan seperti ini."

Sean menatap cincin platinum di jari manisnya, simbol janji yang sudah melingkar selama satu tahun, namun kini terasa seperti borgol yang menyakitkan. Ia meremas rambutnya dengan kedua tangan, frustrasi yang meluap hingga ke ujung sarafnya.

Tiba-tiba, keheningan itu dirobek oleh dering ponsel yang melengking. Sean menyambar ponselnya, melihat nomor yang tak dikenal.

"Halo?!"

"Percuma kau menangisi tunanganmu di apartemen kosong itu, Miller..." suara di seberang sana terdengar sangat beratl. "Kau tidak akan pernah menemukannya, karena dia sudah 'tenggelam' di dasar sungai Thames yang paling gelap."

Darah Sean mendidih seketika. "Bajingan! Beraninya kau bermain di belakangku! Katakan di mana Megan?!"

Suara tawa yang keras dan mengejek meledak di ujung telepon.

"Tidak ada Megan bersamaku, Miller. Kau sungguh menyedihkan. Kau terlihat seperti agen amatir yang bahkan tidak tahu cara mencari jejak di wilayahmu sendiri. Lencanamu itu... tak lebih dari sekadar sampah tak berharga di mataku."

"Siapa kau sebenarnya?! Tunjukkan wajahmu, bajingan!" teriak Sean, urat lehernya menegang.

"Kau tak pernah mengenalku, Miller. Tapi bagiku, kau hanyalah sebutir batu pijakan agar aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan. Tetaplah merangkak di kegelapan, Agen Miller. Karena sebentar lagi, kau bahkan tidak akan punya nama untuk kau banggakan."

PIP.

Sambungan terputus. Sean menatap layar ponselnya yang gelap dengan napas yang memburu liar. Kegilaan mengambil alih kesadarannya. Dengan raungan murka, ia membanting ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping, lalu mulai menghancurkan apa saja yang ada di depannya—kursi, lampu, hingga bingkai foto mereka berdua.

Di apartemen itu, Sean Miller bukan lagi seorang agen elit yang disegani. Ia hanyalah pria hancur yang sedang dipermainkan oleh iblis yang bahkan tidak ia ketahui namanya.

1
🇮🇹 25
kukira plok2 😒
Bintang Kejora
cie cie yg habis dapet durian runtuh🤭
Bintang Kejora
Cie muji/Chuckle/
🇮🇹 25
😒
Riska Memet
Jodoh Meg😄
Azzalea Chanifa
makin penasaran.
axm
alex debenernya suaminya megan ya 🤭
🇮🇹 25
akoh lebih takod otor apdet cuma 2 tiap hari 😭
🇮🇹 25: al menanti apdet banyak2 🌚🌚🌚
total 2 replies
Bintang Kejora
Siapa Ethan?
Bintang Kejora
Kau ini intel yang lemot, menganalisa apapun telat 😪
Bintang Kejora
Kecurigaan lo telat Sean, payah😔
Bintang Kejora
Alice bakal kena masalah sama brown lo
Bintang Kejora
waduh jangan macam2 alice, 🤭
Bintang Kejora
finaly 😀
🇮🇹 25
SERAKAH ADALAH SIFAT UMUM MANUSIA SELAIN IRI 😒
FF
😍Ada visualnya 👍
Je
up nya jangan lama'
Riska Memet
Woy Brown, puasa woy🙈😍🤣🤣
Riska Memet
Bau2 penkhianat sih🤔
Riska Memet
Fix ini Alex 😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!