NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / Psikopat itu cintaku / Mafia / Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 23

Bradley melangkah maju, menyilangkan kakinya saat duduk di lengan sofa, memancarkan aura dominasi yang yang kuat. "Saya suami dari Megan Ford. Tidak perlu menyiapkan dua kamar. Kami akan tidur di ruangan yang sama."

Paman Sam tertegun, menoleh pada kedua orang di hadapannya dengan bingung. Namun, melihat tatapan Bradley yang dingin dan memerintah, ia akhirnya hanya bisa mengangguk patuh.

"Baiklah, Nona Megan. Jika Nona tetap ingin berada di kamar Tuan Alex, saya akan siapkan sekarang."

Megan berdiri, menatap Bradley dengan tatapan menusuk. "Kita bukan suami istri, Brad!" desisnya tajam.

"Begitu kau sembuh dan urusan ziarahmu selesai, kita akan kembali ke London dan menikah secara resmi. Tidak ada bantahan, Nora," balas Bradley dengan suara rendah yang mematikan.

Megan yang sudah kehilangan kata-kata karena emosi, memilih berbalik dan meninggalkan Bradley. Ia melangkah menuju lantai atas, menuju kamar 'Alex', meninggalkan Bradley yang kini justru terpaku sendirian di ruang tamu.

***

Malam merayap masuk melalui jendela-jendela tinggi di rumah Alexandria, membawa hawa dingin yang menusuk. Bradley melangkah perlahan menuju lantai atas, setiap derit lantai kayu seperti bisikan dari sesuatu yang tak bisa ia pahami.

Di ambang pintu kamar itu, langkahnya terhenti. Ia melihat Megan sedang bersimpuh di tepi ranjang, mendekap bingkai foto perak itu dengan bahu yang bergetar.

Isak tangis Megan yang tertahan terdengar begitu pilu di tengah kesunyian rumah tua ini. Bradley merasakan perih yang menjalar hingga ke ulu hatinya; ia benci melihat Megan yang begitu rapuh saat sendirian, sementara wanita itu selalu memasang tameng ledakan amarah setiap kali berhadapan dengannya.

"Meg... jika kau terus stres seperti ini, kau akan membahayakan janin itu. Tolong, jangan memancing amarahku malam ini," ucap Bradley, suaranya parau menahan emosi yang mulai bergejolak.

Megan sama sekali tidak menoleh. Ia seolah menganggap Bradley hanyalah bayangan yang tak kasat mata. "Kau bisa tidur di kamar lain, Brown. Aku ingin sendiri," desisnya tanpa tenaga.

"Baiklah. Tapi berhenti meratapi semua yang sudah terjadi, Meg. Itu tidak akan merubah apa pun," Bradley mendekat, jemarinya sempat mengusap puncak kepala Megan sejenak sebuah sentuhan yang penuh keraguan sebelum akhirnya ia memilih mengalah.

Ia tidak ingin ledakan emosinya memicu kecurigaan Paman Sam jika mendengar keributan. Akhirnya ia berbalik dan melangkah masuk ke kamar di ujung koridor. Begitu pintu tertutup, suasana berubah mencekam. Bradley duduk di tepi ranjang besar yang masih tertutup kain putih.

Pandangannya jatuh pada sebuah bingkai foto di atas nakas; sepasang pengantin yang nampak tertawa bahagia di hari pernikahan mereka.

Kepala Bradley mendadak terasa berat, sebuah denyutan hebat menghantam saraf-sarafnya. Rasa sakit yang sudah lama tak pernah ia rasakan kini muncul kembali.

Bradley meremas rambutnya dengan kedua tangan, giginya berkerit menahan teriakan yang hampir meledak. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Punggungnya yang terluka terasa seperti disiram air keras.

Foto pernikahan itu seolah sedang mengingatkannya pada sesuatu. Dengan mata yang memerah karena rasa sakit dan kemurkaan yang tak terbendung, Bradley menyambar vas porselen di sampingnya.

PRAAAKKKK!

Benda itu hancur berkeping-keping menghantam dinding, suaranya menggelegar memecah keheningan Alexandria.

Suara benda pecah yang menghantam dinding membuat Megan tersentak. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia segera memanggil Peter

"Kau memanggilku, Nona?" Peter muncul di ambang pintu dalam hitungan detik.

"Pet, antar aku mencari sumber suara itu. Paman Sam tidur di bangunan terpisah, aku takut terjadi sesuatu," Megan bangkit dengan kaki yang masih sedikit lemas.

Peter tak punya pilihan selain memapah Megan. Hingga langkah mereka terhenti saat mendengar suara erangan tertahan dari kamar utama di ujung koridor.

"Pet, aku rasa suaranya dari sana."

Keduanya membuka pintu dan mendapati Bradley dalam kondisi yang sangat berantakan. Ia meringkuk di tepi ranjang, meremas rambutnya sendiri dengan wajah yang pucat pasi. Megan menatap pemandangan itu dengan ngeri.

"Apa yang terjadi dengannya, Pet?"

"Sepertinya serangan PTSD-nya kambuh. Nona, jangan mendekat, biar saya yang mengurusnya. Sebaiknya Anda istirahat," ucap Peter protektif.

Megan menyapu pandangannya ke sekeliling kamar utama itu. "Tapi Pet, sepertinya dia salah masuk kamar. Bawa dia ke kamar lain. Seharusnya ini bukan kamar yang ia masuki."

Peter terdiam cukup lama, menatap Bradley yang sedang berjuang melawan traumanya. "Baik, Nona."

Namun, saat Peter hendak memapah Bradley, Megan menahan langkahnya. "Atau... bawa ke kamarku saja, Pet."

"Ini terlalu berbahaya untuk Anda, Nona," protes Peter cepat.

"Kau tenang saja. Aku hanya tidak ingin bajingan ini merusak barang-barang di rumah ini. Ini bukan rumahku, aku tak ingin ada kerusuhan di tempat yang penuh kenangan ini," kilah Megan, menyembunyikan sisi empatinya.

Bradley tak menjawab, ia hanya mengikuti tarikan tangan Peter menuju kamar Megan.

Begitu Bradley terduduk di sofa kamar Megan, Megan mendengus ketus. "Kau sungguh merepotkan, Brown."

"Apa dia sering begini, Pet? Seberapa sering dia mengonsumsi obat penenang?" tanya Megan sambil memperhatikan Peter yang sibuk menyiapkan dosis obat.

"Sudah sepuluh tahun terakhir, Nona."

"Apa?" Megan terkejut. Sosok 'Hantu London' yang selama ini ia anggap tak terkalahkan ternyata menyimpan kerapuhan yang begitu dalam.

"Berikan obatnya, Pet." Megan mengambil alih.

Peter menyerahkan botol obat itu. Ia tahu tuannya sedang berusaha meredam iblis di dalam dirinya agar tidak meledak.

Bradley yang biasanya akan mengamuk liar setiap kali trauma itu datang, kini terlihat seperti seorang prajurit yang menyerah demi tidak menakuti Megan.

Susah payah Bradley menelan obat itu. Napasnya masih memburu. Anehnya, rasa sakit di kepalanya perlahan mereda hanya dengan mencium aroma tubuh Megan di dekatnya. Megan yang masih lemas perlahan membuka satu per satu kancing kemeja Bradley yang sudah basah kuyup oleh keringat dingin.

Ia menyeka punggung Bradley dengan air hangat, gerakannya terhenti cukup lama saat melihat luka lebar di punggung pria itu yang masih terbalut perban tipis.

"Bangsat... apa kau sudah lebih baik?" desis Megan. Tak ada jawaban, hanya deru napas Bradley yang tersengal.

"Pet, bantu dia ke ranjang."

Peter mengangguk patuh. Setelah memastikan Bradley berbaring dengan nyaman, Peter pamit. "Nona, saya ada di bawah. Panggil jika terjadi sesuatu."

Megan hanya mengangguk. Ia kemudian ikut naik ke atas ranjang, duduk bersandar sambil memperhatikan wajah Bradley yang perlahan mulai rileks seiring bekerjanya efek obat penenang.

Di kamar milik Alex itu, mereka berdua terjebak dalam keheningan yang menyesakkan, di mana garis antara musuh dan pelindung mulai mengabur.

Tak lama Megan akhirnya menyerah pada kelelahannya. Ia merebahkan diri di sisi ranjang, memunggungi Bradley yang masih dalam pengaruh obat penenang. Namun, baru saja ia memejamkan mata, sebuah gerakan tiba-tiba dari samping membuatnya tersentak.

Bradley memutar tubuhnya, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Megan dari belakang. Ia membenamkan wajahnya di antara helai rambut Megan, menghirup aromanya seolah aroma itu adalah obat penenang untuknya.

Megan membeku, namun kali ini ia tidak meronta. Ada kehangatan yang asing yang perlahan meluluhkan dinding pertahanannya. Keduanya akhirnya terlelap dalam pelukan yang penuh luka.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan sekejap. Di tengah pengaruh obat penenang yang berat, napas Bradley tiba-tiba memburu. Tubuhnya menegang di bawah selimut, dan cengkeramannya di pinggang Megan mengerat hingga membuat wanita itu terjaga.

Megan membuka matanya perlahan, baru saja ia hendak memprotes, saat ia mendengar suara geraman parau yang penuh kepedihan meluncur dari bibir Bradley.

"Aku akan menuntut balas... untuk setiap darah yang menetes..." gumam Bradley, suaranya terdengar seperti janji kematian yang menggema di kesunyian kamar. "...Tidak akan ada yang tersisa... Sampai kau membayar lunas untuk setiap pesakitan yang aku rasakan."

Megan membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Kata-kata itu bukan sekadar igauan; itu adalah sumpah yang lahir dari luka yang sangat dalam.

Megan menatap wajah Bradley yang masih terlelap namun nampak begitu tersiksa. "Siapa yang dia maksud? Pada siapa dia akan menuntut balas?”

1
Senja
eh kali ini bener kata Bradley
Senja
sekarang aja udah stress mala jadi ibu dari anak2, katanya 😔 bener kata Matthew& Clara, emang gila Bradley 😭
Senja
Aduh😭😭😭😭
Bintang Kejora
wah gila sih Arthur Ford... beneran megan menyelamatkam kehormatan ayahnya dengan memgorbankan dirinya
😔
Bintang Kejora
kayak nonton film action hollywood 🤭
Bintang Kejora
Tuh kan bener jadi begini kan? Bradley ga tau megan mempertaruhkan nyawanya demi mencari jawaban tapi bradley tetap ga mau kasih tahu. teka teki banget sih thor
Bintang Kejora
Nekat amat Megan. memilih nyelamitin bradley dari pada Bayinya 😪
Senja
Astaga... Megan benar2 benci sama Bradley sampe2 dia ga mikirin nyawanya sendiri. lebih baik mati 😭
Senja
Apalah Bradley selalu punya cara buat ngikat Megan...😔
Senja
ya ampun ini dari drama ngidam mangga muda sampe ngidam rawon... rawon go international 🤭😄 Anaknya Brad emang agak lain..
Senja
😄😄😄 Hantu London takluk sama mangga muda...
Senja
Ayo kesempatan kabur Megan 😄
Senja
Jadi gadis yang ada di bayangan Bradley itu, Alice kah? Tadi Alice nangis juga di rumah Arthur... benangnya kusut banget. Aku beneran ga bisa nebak. 🤭
Mawar Berduri
kamu itu sebenarnya siapa nya Megan sih Brad? kadang kalem kadang garang🤔🤔
Mawar Berduri
Megan mati❎
Megan hamil ✅
🤭🤭
Bintang Kejora
Ihh Bradley ini siapa sih? misterius banget. kamu kenal megan?
SarSari_
baca juga ceritaku ya kak, suamiku ternyata janji masa kecilku.🙏
Mawar Berduri
Wah ada apa dengan Bradley? kenapa mendadak berubah setelah mendengar cerita Megan?
Senja
Alpha Male si Bradley, bagus aku suka novel dengan genre mafia psikopat. Semoga ke depan lebih menantang.
Mawar Berduri
Bagus untuk openingnya, melibatkan Agen dan Mafia. Lanjut author untuk aksi menegangkan di next chapter. Semangat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!